NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Pintu kayu tua rumah Ustadz Haris berderit nyaring saat dibuka lebar. Angin siang yang biasanya hangat, kini terasa menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan wangi kemenyan samar-samar dari kejauhan, padahal cuaca di luar tampak cerah berawan.

"Tari, kunci pintu dari dalam begitu kami keluar!" perintah Ustadz Haris tanpa menoleh, langkahnya mantap menuruni anak tangga.

Tari mengangguk cepat, wajahnya pucat pasi. Ia langsung menyambar kantung garam krosok dari tangan Ustadz Haris, lalu mengunci pintu rapat-rapat, disusul bisik-bisik doa ketakutan dari Wulan dan Serra.

Di halaman, sebuah mobil tua milik Ustadz Haris sudah terparkir. Tio membuka pintu tengah, membiarkan Bu Mimi menuntun Anya yang masih limbung untuk masuk terlebih dahulu.

"Ingat pesan saya, Anya," ujar Ustadz Haris. "Tundukkan pandanganmu. Jangan sekali-kali menatap kaca spion atau jendela mobil, jika mulai merasa ada yang aneh. Kain putih berajah ini... pegang erat-erat."

Ustadz Haris menyerahkan selembar kain mori berukuran kecil yang dipenuhi tulisan rajah hitam. Anya menyambutnya dengan tangan bergetar. Kain itu terasa hangat, kontras dengan jemarinya yang sedingin es.

"Bismillah..." gumam Tio seraya memutar kunci kontak.

Mesin mobil meraung pelan, lalu kendaraan itu mulai bergerak membelah jalanan kota yang perlahan meninggalkan kebisingan.

Matahari terus condong ke barat hingga akhirnya tenggelam di balik cakrawala. Langit berubah jingga, lalu perlahan diselimuti semburat ungu kehitaman. Suasana di dalam mobil terikat dalam keheningan yang mencekam. Hanya deru mesin dan hembusan AC yang terdengar.

Anya duduk di baris kedua, diapit Bu Mimi yang tak henti memutar tasbih di jemarinya. Sesuai instruksi, Anya terus menatap pangkuannya sendiri. Namun rasa cemas yang menggerogoti dadanya membuat kepalanya terasa semakin berat.

Tek.

Sebuah suara ketukan pelan terdengar. Anya tersentak. Suara itu terasa sangat dekat. Bukan dari luar mobil, melainkan dari dalam.

Tek... Tek...

"Bu Mimi..." bisik Anya. Suaranya gemetar. "Ibu dengar itu?"

Bu Mimi menghentikan gerakan tasbihnya, lalu mengernyit.

"Dengar apa, Nak? Tidak ada suara apa-apa. Cuma suara jalanan."

Anya menelan ludah. Ia memejamkan mata. Namun di balik kelopak matanya yang tertutup, suara ketukan itu berubah menjadi bisikan halus... suara yang sangat dikenalnya.

"Anya... lihat aku..."

Dadanya semakin sesak.

Secara refleks, matanya terbuka sedikit, lalu tanpa sengaja melirik ke arah jendela di sampingnya.

Kaca jendela yang gelap memantulkan bayangannya. Di luar, pepohonan dan tiang listrik melintas cepat. Namun pantulan Anya... sama sekali tidak bergerak.

Pantulan itu berdiri tegak, menatap langsung ke arah Anya yang asli.nPerlahan, bibirnya membentuk senyum yang semakin lebar... hingga sudut bibirnya nyaris menyentuh telinga. Kemudian, pantulan itu mengangkat tangannya...dan mengetuk permukaan kaca dari dalam.

TEK!

"AAAGH!" Anya menjerit histeris sambil menutupi wajahnya dengan kain berajah.

"Ada apa, Anya?!" Bu Mimi langsung merengkuh bahu gadis itu.

"Di... di kaca! Dia ada di kaca jendela!" gemetar saat Anya menunjuk ke jendela.

Ustadz Haris dengan sigap mengambil sebotol air doa dari dalam tasnya. Tanpa menoleh, ia memercikkan air itu ke arah kaca jendela.

Cshhh!

Buih tipis menyerupai uap panas muncul dari permukaan kaca. Pantulan mengerikan itu seketika retak, lalu menghilang, berganti menjadi bayangan normal.

"Jangan terkecoh, Anya!" tegas Ustadz Haris. "Itu baru permulaan. Dia tahu kita sedang menuju pundennya. Dia akan terus mencoba memecahkan fokusmu agar kau menyerahkan sukmamu sebelum kita sampai."

Tio menggenggam setir semakin erat. "Us-Ustadz..." suaranya bergetar. "Di depan... gapura batas wilayah Desa tempat Anya, baru akan menuju desa srandakan."

Tak lama kemudian, mobil melewati sebuah gapura batu bata merah tua yang tampak terasing dari peradaban. Setelah melewatinya, jalan aspal berubah menjadi susunan batu makadam yang sempit, diapit hutan jati yang menjulang rapat di kedua sisi.

Jarum jam di dasbor menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit malam. Meski malam baru saja tiba, suasana di balik gapura terasa jauh lebih pekat. Cahaya lampu mobil seolah ditelan kegelapan hutan.

"Tio!" suara Ustadz Haris terdengar berat. "Ingat pesan saya. Bensin harus penuh, dan jangan pernah matikan mesin mobil, apa pun yang berdiri di tengah jalan."

"B-baik, Ustadz."Tio menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Mesin mobil meraung menembus keheningan hutan jati Srandakan.

Di belakang, Anya mendekap kain berajah erat-erat. Bau tanah kuburan tiba-tiba menyusup melalui ventilasi udara, bercampur aroma melati yang hampir membusuk, seolah hutan itu sedang menyambut kedatangan darah keturunan sang pembuat cermin.

Mobil tua terus berguncang pelan melindas batu-batu makadam yang tidak rata. Batang-batang jati raksasa berdiri seperti deretan penjaga yang mengawasi setiap langkah mereka. Daun-daun kering sesekali menghantam kaca depan, menimbulkan bunyi lirih menyerupai lemparan kerikil.

"Ustadz... AC-nya saya matikan saja?" bisik Tio. "Baunya....makin aneh."

"Jangan," potong Ustadz Haris tegas. "Jangan ubah apa pun di dalam mobil ini. Tetap fokus pada jalan. Apa pun yang kau lihat nanti, jangan sekali-kali menginjak rem sampai kita benar-benar berhenti di halaman rumah orang tua Anya."

Ia terdiam sesaat, lalu melanjutkan dengan suara pelan namun penuh penekanan."Malam ini kita menginap di sana. Kita tidak akan mendatangi Rumah Tua Mbah Broto sebelum waktu yang tepat. Tempat itu jauh lebih berbahaya setelah tengah malam."

Mesin mobil terus meraung membelah gelapnya hutan. Tak seorang pun berani berbicara. Hanya suara batu-batu makadam yang menghantam kolong mobil, berpadu dengan desiran angin yang terdengar seperti bisikan puluhan orang dari balik pepohonan.

Anya memejamkan mata sambil menggenggam kain berajah semakin erat. Bibirnya terus melafalkan istigfar. Hawa dingin di dalam mobil justru semakin menusuk. Embun tipis perlahan memenuhi seluruh kaca, meski AC tetap menyala.

"Kalian merasakan itu?" bisik Bu Mimi.

Belum sempat ada yang menjawab, lampu depan mobil berkedip sekali...Lalu dua kali. Sesaat kemudian, cahaya itu kembali stabil.

"Astaghfirullah..." gumam Tio tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

Ustadz Haris meraih tasbih di sakunya, ia mulai melantunkan ayat-ayat perlindungan dengan suara rendah namun mantap. Bacaan itu membuat dada semua orang sedikit lebih tenang, meski firasat buruk belum juga menghilang.

Di kejauhan, samar-samar terlihat sebuah rumah kayu tua dengan lampu teras yang redup. sekelilingnya dipagari bambu, ada tanaman hias, dan halamannya luas dan bersih.

"Itu rumah orang tua Anya," ujar Ustadz Haris pelan.

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!