NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penunggu kuil

Keiko masih terpaku di bawah pohon sakura tua itu. Jimat merah yang tadinya tersangkut di dahan, kini sudah berada di tangan pria asing yang berdiri beberapa anak tangga di atasnya.

Keiko tidak langsung meminta. Ia mengamati pria itu dari ujung kepala hingga kaki.

Rambut pria itu berwarna perak, panjangnya sebatas bahu. Ia mengenakan kimono hitam polos tanpa motif apa pun. Wajahnya begitu tenang, nyaris datar tanpa ekspresi.

Namun, perhatian Keiko terkunci pada matanya.

Keemasan.

Bukan cokelat muda atau hazel, tapi warna emas yang jernih dan tajam. Keiko mengerjap pelan, mengira itu hanya pantulan sinar matahari yang menembus celah pepohonan.

"Maaf... itu jimatku," ucap Keiko akhirnya.

Pria itu tidak segera menyahut. Tatapannya tertuju pada jimat di tangannya, lalu beralih ke wajah Keiko seolah sedang menimbang sesuatu.

Keheningan menggantung selama beberapa detik. Baru setelah itu, ia turun satu anak tangga dan mengulurkan jimat tersebut.

"Jangan hilangkan lagi," suaranya rendah dan datar.

Keiko menerima jimat itu dengan lega. "Terima kasih." Ia memeriksa talinya sekilas. Utuh. Beban yang sejak semalam mengganjal pikirannya akhirnya terangkat.

"Tadi... nemunya di sekitar sini?" tanya Keiko sambil mendongak.

Pria itu hanya mengangguk pelan.

"Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah kena marah ibu habis-habisan." Keiko mencoba mencairkan suasana dengan senyum kecil.

Pria itu tetap diam. Ia menatap Keiko dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah mencoba menerjemahkan maksud kalimat tadi ke dalam bahasa yang ia pahami.

Keiko terkekeh canggung. "Itu cuma bercanda."

"Aku tahu," jawabnya singkat, beberapa saat kemudian.

"Humorku sepertinya tidak lucu, ya," sahut Keiko.

Pria itu tidak membalas. Ia justru mengalihkan pandangannya ke arah hutan di belakang Keiko. Keheningan kembali menyergap, tapi anehnya, suasana kali ini tidak terasa canggung. Justru terasa asing, seperti ada sesuatu yang tidak terlihat sedang mengamati mereka.

Keiko merapikan rambutnya yang tersingkap angin. "Kamu tinggal di kuil?"

"Bukan."

Jawaban yang sangat singkat. Keiko sadar pria ini bukan tipe yang gemar mengobrol. Ia pun memilih diam dan menikmati udara gunung yang dingin.

Seekor kupu-kupu kuning melintas di antara mereka, berputar-putar sejenak sebelum hinggap di bunga liar di tepi anak tangga. Tanpa sadar, mata pria itu mengikuti pergerakan kupu-kupu tersebut dengan saksama, hingga serangga itu terbang jauh ke dalam hutan.

Keiko memperhatikan gerak-gerik pria itu. Aneh, pikirnya. Sorot matanya berubah drastis, jauh lebih fokus hanya karena seekor kupu-kupu. Keiko ingin bertanya, tapi ia mengurungkan niatnya. Mungkin itu hanya kebiasaan aneh seseorang.

Keiko menoleh ke tangga batu yang masih menanjak. "Aku boleh naik?"

Pria itu menoleh ke arah puncak. "Silahkan.."

"Hanya sebentar saja," tambah Keiko. Pria itu mengangguk lagi.

Saat Keiko melangkah melewatinya, samar-samar tercium aroma kayu cendana dari pakaian pria itu. Wanginya ringan, sangat kontras dengan parfum menyengat yang biasa ia temui di Tokyo.

Keiko berhenti sejenak dan menoleh. "Namaku Keiko."

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Keiko lekat-lekat, tatapan yang membuat Keiko merasa seperti sedang ditatap oleh sesuatu yang jauh lebih tua dari usianya.

"Keiko," gumam pria itu pelan. Ia tidak menyebutkan namanya, tidak juga bertanya. Setelah mengulang nama itu, ia langsung memalingkan pandangan.

Tiba-tiba, dentang lonceng kuil terdengar.

Dung...

Dung...

Pria itu segera menoleh ke puncak tangga. Sorot matanya kini berubah tajam. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah pergi menaiki tangga.

"Kau mau ke mana?" seru Keiko spontan.

Pria itu tidak menoleh lagi. Ia terus melangkah tenang menuju gerbang torii merah yang berdiri kokoh di puncak. Kabut tipis mulai turun dari arah gunung, perlahan menelan sosoknya. Sebelum benar-benar menghilang di balik gerbang, pria itu sempat menoleh sekilas ke arah Keiko, lalu ia melangkah masuk menembus kabut.

Keiko masih terpaku di tempatnya. Ia tidak berniat mengejar; rasanya tidak sopan memaksa seseorang yang jelas-jelas ingin mengakhiri percakapan.

Beberapa saat kemudian, Keiko menyusul langkah pria itu.

Semakin dekat ke puncak, kabut mulai menipis. Gerbang torii merah berdiri megah di hadapannya. Halaman kuil itu bersih dan terawat, dengan deretan patung kucing di sisi jalan menuju aula utama. Beberapa patung mengenakan kain merah di lehernya.

Keiko mengedarkan pandangan ke seluruh halaman.

Kosong.

Tidak ada pria berkimono hitam itu. Yang terdengar hanyalah gesekan sapu lidi di atas lantai batu. Seorang pendeta tua sedang membersihkan halaman.

Keiko menghampirinya dengan sopan. "Permisi."

Pendeta itu berhenti menyapu dan membalas hormat. "Ada yang bisa kubantu, Nona?"

"Tadi saya berpapasan dengan pria berkimono hitam di tangga. Rambutnya panjang, usia sekitar dua puluhan. Apa dia masuk ke sini?"

Pendeta itu berpikir sejenak. "Sejak pagi, tidak ada pengunjung lain selain Nona."

Keiko mengernyit. "Mungkin saya yang terlambat melihatnya masuk?"

Pendeta itu menggeleng. "Kalau ada orang menaiki tangga, biasanya saya bisa melihatnya dari sini."

Keiko menoleh ke arah tangga yang baru saja dilewatinya. Logikanya, jika pria itu masuk ke kuil, pendeta ini pasti tahu.

"Mungkin dia sudah turun lagi," gumam Keiko.

"Bisa jadi," jawab si pendeta datar.

Jawaban itu membuat Keiko bingung, tapi ia memilih untuk menyudahi pembicaraan. "Maaf sudah mengganggu."

Saat hendak berbalik, pendeta itu memanggilnya. "Nona."

"Ya?"

"Kalau sudah sampai di sini... tidak ada salahnya memberi salam kepada Dewa Kucing."

Keiko tersenyum canggung. "Saya tidak terlalu percaya hal-hal seperti itu."

Pendeta itu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Berdoa itu bukan cuma soal percaya."

"Lalu?"

"Terkadang, berdoa adalah cara kita menghormati tempat yang sedang kita pijak."

Keiko terdiam. Kalimat itu terasa lebih masuk akal daripada mitos-mitos yang ia dengar sejak tiba di Tsukimori.

"Baiklah, kalau begitu saya permisi."

Keiko berjalan menuju aula utama. Di depan kotak persembahan kayu, ia berdiri ragu. Ia teringat cara neneknya dulu berdoa. Ia memasukkan koin, membungkuk, dan bertepuk tangan.

Tunggu, sekali atau dua kali ya? Ia menggaruk pelipis sambil nyengir sendiri. Ah, sudahlah.

Selesai berdoa, Keiko kembali menghampiri pendeta yang sedang merapikan ember.

"Terima kasih sudah mengizinkan saya masuk."

"Kau bukan orang sini, ya?" tanya pendeta itu ramah.

"Saya lahir di sini, tapi sudah lama tinggal di Tokyo. Nenek saya, Haruka Aoyama, dulu sering mengajak saya ke sini. Saya selalu menolak karena malas mendaki."

Pendeta itu terdiam. Pandangannya berubah dalam, menatap wajah Keiko dengan saksama. "...Jadi kau cucu Haruka-san."

Keiko mengangguk.

Pendeta itu beralih menatap jimat merah di tas Keiko. "Jimat itu... masih kau pakai."

"Ibu yang memaksa," jawab Keiko. "Tadi bahkan sempat hilang."

Pendeta itu mengangguk pelan, raut wajahnya tetap tenang. "Jangan terburu-buru ingin mengetahui semua jawaban."

"Eh?" Keiko tertegun. "...."

Pendeta itu tidak langsung menjawab. Ia menatap aula utama kuil dengan tatapan menerawang.

"Kadang.....yang melindungi kita juga menyimpan alasan yang belum waktunya dipahami."

Keiko terdiam. Ia sama sekali tidak menangkap maksud perkataan pendeta itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!