Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : PEMULIHAN
Keesokan paginya, saat Ye Ning bangun, keadaan di dalam gua sudah sepi. Ia lalu pergi keluar mencari Zhilan dan menemukan pria itu sedang berbicara dengan Shao Zu. Syukurlah mereka ditemukan dengan cepat. Mendengar berita pembunuhan kemarin, kakak Ye Ning, Xiao He Ling, mencarinya semalaman dan akhirnya bertemu dengan Shao Zu dini hari untuk mencari mereka bersama.
He Ling menghampirinya dan memeriksa tubuhnya, lalu bertanya apakah ia merasa sakit atau ada luka pada dirinya. Ye Ning menjawab bahwa ia baik-baik saja dan hanya mengalami goresan kecil di tangannya. Setelah mendengar itu, He Ling menghela napas lega dan ingin membawa Ye Ning pergi dari sana secepatnya.
"Gege, tapi aku ingin berbicara dulu dengan Zhilan."
He Ling menjawab,
"TIDAK! Kau tahu betapa khawatirnya Ayah dan Ibu mendengar kabar itu? Dan ini semua gara-gara lelaki itu." Ia menunjuk Zhilan dengan isyarat dagunya.
Ye Ning tetap berlari menuju Zhilan dan membisikkan sesuatu, membuat Zhilan tersenyum kecil. Giok mistik yang kemarin dilempar olehnya diambil kembali dan disimpan di pinggangnya. Kemudian barulah ia kembali menghampiri kakaknya.
Shao Zu yang melihat itu merasa sedikit gelisah dan bertanya kepada tuannya,
"Ehem, kenapa Tuan tidak memberitahu Nona tentang siapa yang sebenarnya menyelamatkan keluarga Xiao?"
Zhilan menoleh ke arah Shao Zu dan menjawab,
"Semakin sedikit yang ia tahu, semakin baik untuknya."
Ia menatap ke arah langit seolah sedang berpikir jauh, lalu bertanya kembali kepada Shao Zu,
"Bagaimana pergerakan Putra Mahkota?"
"Semalaman beberapa penjaga dari kediaman Putra Mahkota ikut mencari keberadaan Tuan dan Nona."
Mendengar itu, Zhilan hanya tersenyum tipis.
"Ayo kita pergi."
Setelah berkata demikian, Zhilan dan rombongannya meninggalkan hutan tersebut dan kembali ke kediaman Adipati Zhao.
Saat telah mencapai gerbang kota, pengawal Putra Mahkota, Wu An, mengucapkan salam dan meminta Zhilan menemui Li Yan. Shao Zu yang awalnya ingin marah dihentikan oleh Zhilan.
"Baiklah, kami akan menemui Yang Mulia," jawab Zhilan.
Kemudian Shao Zu mengemudikan kereta menuju kediaman Putra Mahkota.
**Ruang Kerja Putra Mahkota**
Li Yan melemparkan beberapa surat bukti mengenai keterlibatan paman Putri Mahkota dalam korupsi pajak rakyat ke depan Zhilan. Raut wajahnya terlihat sangat tidak puas.
"Bukti itu belum cukup kuat untuk menyeret Sun Ling dan keluarganya," kata Li Yan.
Zhilan menjawab dengan tenang, "Mohon maaf, Yang Mulia. Permaisuri tidak menyetujui keinginan Yang Mulia untuk melepas keluarga Putri Mahkota."
Li Yan tersenyum dan membalas, "Sebenarnya kau pengikutku atau Ibu Permaisuri?"
Zhilan tidak menjawab. Hal itu membuat Li Yan marah dan melemparkan teko teh ke depan, menyebabkan air teh menciprat sedikit ke wajah Zhilan. Zhilan tidak menghindar dan hanya tetap diam berdiri tanpa bergeming sedikit pun.
"Aku tidak peduli. Kau harus tetap membantuku. Bagaimanapun juga Sun Ling adalah keluarga Ibu Suri."
Zhilan sedikit mengernyit. Bukankah sejak dulu ia tahu bahwa Taizi Fei (Putri Mahkota) adalah kerabat Ibu Suri? Kenapa baru sekarang ia seperti kebakaran jenggot? Memikirkan itu, Zhilan mulai mencurigai bahwa Putra Mahkota telah mengetahui sesuatu.
Setelah berada cukup lama di ruang kerja Li Yan, akhirnya Zhilan keluar dan langsung kembali ke kediamannya.
"Yang Mulia, jika perkataanmu tentang mimpi itu benar, apakah Zhilan tidak akan menuruti perintahmu?" ujar pelayan pribadi Li Yan, Wu An.
"Ia tidak akan menampakkan taringnya begitu cepat," jawab Li Yan yakin, karena ia tahu Zhilan bukan seseorang yang akan bertindak gegabah atau takut pada ancaman.
***Kediaman Menteri Sayap Kiri***
Ye Ning sudah sampai di kediaman bersama kakaknya. Saat mulai masuk ke ruang tamu, ia cukup terkejut karena melihat dua orang yang sedang duduk dan berbincang bersama ayah dan ibunya. Lu Wan mungkin wajar karena mereka adalah sahabat dekat, tetapi Li Wen? Sebelumnya mereka hanya sesekali bertemu dan tidak pernah banyak berinteraksi.
Saat melihat Ye Ning datang, keempat orang tersebut berdiri dan langsung menghampirinya.
"Ibuu..." teriak Ye Ning sambil berlari kecil dan langsung memeluk ibunya.
Wen Shi membalas pelukan putrinya dan menangis karena khawatir akan keselamatan Ye Ning.
Ayah Ye Ning segera memerintahkan tabib untuk memeriksa putrinya. Awalnya Ye Ning menolak, tetapi ayahnya tidak mau mendengar alasan apa pun. Akhirnya Ye Ning diperiksa, dan tabib mengatakan bahwa ia baik-baik saja serta hanya perlu salep untuk luka kecil di tangannya.
Semua orang di ruangan itu menghela napas lega. Kakak Ye Ning kemudian pamit pergi ke Departemen Militer karena masih ada tugas yang harus dikerjakan. Ayah dan ibu Ye Ning pun meninggalkan ruang tamu agar putri mereka bisa berbincang leluasa dengan teman-temannya.
"Aku sangat khawatir mendengar berita itu kemarin, Ah Ning," ucap Lu Wan.
Li Wen yang berada di antara keduanya ikut mengangguk.
"Li Wen? Kamu..."
Li Wen tampak sedikit malu dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku kebetulan bertemu Lu Wan di jalan. Saat tahu dia ingin menjengukmu, ya aku ikut saja."
Ye Ning hanya tersenyum maklum dan mengucapkan terima kasih kepada keduanya karena telah mengkhawatirkannya.
Mereka berbincang selama satu jam hingga akhirnya pamit pulang. Sebelum berpisah, mereka membuat janji untuk bertemu lagi di restoran milik Ye Ning tujuh hari kemudian.
Ye Ning kembali ke kamarnya dan melihat semua pelayannya berlutut menunggu kedatangannya tepat di depan pintu. Terutama Ah Yao, yang bersujud sambil menangis histeris karena merasa jika bukan akibat dirinya pulang lebih dulu, peristiwa itu tidak akan menimpa nona mudanya.
Ye Ning menyuruh mereka berdiri dan memaafkan Ah Yao. Toh, sekarang ia sudah selamat dan sehat. Karena merasa lelah dan tubuhnya kotor, ia meminta disiapkan air untuk segera mandi.
Selesai mandi, Ye Ning berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya, sementara Chun Tang memijat bahu dan kakinya untuk mengurangi rasa pegal. Tak lama kemudian, Ye Ning pun tertidur lelap.
Malam harinya, pelayan Bai Zhilan datang mengantarkan kain sutra yang sebelumnya tertinggal di dalam kereta.
Hari-hari berlalu dengan damai. Ye Ning dapat memulihkan tubuhnya dengan baik. Bahkan Putra Mahkota Li Yan mengirimkan beberapa buah dan tonik herbal untuknya. Sementara itu, Zhilan mengirimkan kue kesukaan Ye Ning setiap hari melalui Shao Zu. Zhilan sendiri tidak bisa keluar karena lukanya masih membutuhkan waktu untuk pulih.
Ye Ning sangat senang karena akhirnya bisa bersantai di rumah sambil menikmati berbagai makanan lezat. Ia selalu berdoa semoga hari-harinya terus damai dan menyenangkan seperti ini.