Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan yang Merayap
Alya melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri dengan perasaan yang campur aduk. Kunci kuningan kecil di dalam genggamannya terasa seolah memiliki bobot berton-ton. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang, menatap benda mati itu di bawah temaram lampu tidur.
“Di dalam sana ada semua hal tentang masa lalu yang ingin kamu ketahui.”
Kalimat Adrian terus berputar. Bagian dari dirinya sangat mendambakan jawaban. Ia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi Alya yang utuh sebelum benturan keras empat tahun lalu menghapus sebagian lembaran hidupnya. Namun, di sisi lain, ada ketakutan yang merayap. Bagaimana jika masa lalu itu terlalu kelam? Bagaimana jika kebenaran di dalam ruang arsip itu justru akan merusak kedekatan yang baru saja mulai mekar di antara dirinya, Adrian, dan anak-anak?
Alya mengembuskan napas panjang. Ia menyimpan kunci itu dengan hati-hati di dalam laci meja riasnya, lalu merebahkan tubuh. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di griya tawang ini, Alya tertidur tanpa dihantui oleh mimpi buruk tentang suara pecahan kaca dan tangisan bayi di tengah hujan
Keesokan harinya, riak ketenangan kembali terusik oleh sebuah pesan singkat yang masuk ke ponsel Alya dari rumah sakit. Suster mengabarkan bahwa kondisi ibunya menunjukkan kemajuan yang sangat pesat setelah operasi tahap kedua; sang ibu sudah mulai bisa mengucapkan beberapa kata dengan jelas meski masih terbata-bata.
Mendengar kabar tersebut, Alya langsung bergegas bersiap. Saat ia turun ke lantai satu, ia mendapati Adrian sedang duduk di meja kerja ruang tengahnya dengan laptop yang menyala dan beberapa berkas berserakan.
"Adrian, pihak rumah sakit baru saja menelepon," ujar Alya dengan binar bahagia yang tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Ibu saya... Ibu sudah mulai bisa bicara."
Adrian mendongak, menutup laptopnya perlahan. Ekspresi wajahnya ikut melembut melihat binar di mata wanita itu. "Itu kabar baik. Mau aku antar ke rumah sakit sekarang?"
"Tidak usah, kamu kan harus mengurus persiapan rapat umum pemegang saham," tolak Alya halus. "Saya bisa minta antar Pak Joko. Tapi... sebelum saya pergi, bolehkah saya menggunakan kunci yang kamu berikan semalam?"
Adrian terdiam sejenak. Sorot matanya menatap Alya lekat-lekat, mencoba membaca kesiapan mental wanita di hadapannya. Setelah beberapa detik keheningan yang menegangkan, Adrian mengangguk pelan. "Kuncinya ada padamu, Alya. Pintu itu selalu terbuka untukmu sekarang."
Alya membalas dengan anggukan takzim, lalu melangkah menuju ruang kerja pribadi Adrian yang terletak di sudut paling belakang lantai satu.
Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh rak-rak buku kayu jati besar yang menjulang hingga ke langit-langit. Di balik sebuah lemari arsip geser yang tersamarkan, terdapat sebuah pintu besi kecil berwarna abu-abu. Alya merogoh sakunya, memasukkan kunci kuningan tersebut, dan memutarnya.
Klek.
Pintu terbuka dengan sapuan angin dingin yang khas dari ruangan ber-AC yang jarang dimasuki. Di dalam ruangan arsip yang sunyi itu, hanya ada sebuah meja kerja kecil dan satu lemari besi berukuran sedang. Di atas meja, sebuah kotak boks dokumen berwarna hitam bertuliskan nama lengkapnya telah disiapkan: ALYA ADISTIA.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Alya membuka boks tersebut. Di dalamnya terdapat kliping berita kecelakaan empat tahun lalu, salinan rekam medis miliknya dari rumah sakit jiwa tempat ia pertama kali dirawat karena trauma amnesia, serta sebuah buku sketsa tua yang tampak usang dengan ujung-ujung kertas yang menguning.
Alya mengambil buku sketsa tersebut. Saat ia membuka halaman pertama, jemarinya bergetar.
Itu adalah sketsa-sketsa wajah ibunya, pemandangan kota, dan di halaman tengah... ada sketsa wajah seorang pria berjas dari tampak samping. Sketsa itu dibuat dengan goresan pensil yang sangat halus dan penuh perasaan. Namun, yang membuat napas Alya tercekat adalah tulisan tangan di bawah sketsa tersebut:
> “Pria dingin yang selalu menolak untuk tersenyum, namun memiliki hati paling hangat yang pernah kutemui. Terima kasih telah membeli lukisan pertamaku.”
>
Alya membalik halaman berikutnya, dan di sana terdapat selembar kuitansi resmi pameran seni empat tahun lalu. Nama pembeli lukisan utama milik ayahnya tertera dengan jelas di sana, ditulis dengan tinta hitam yang tegas: Adrian Vasillo.
Air mata Alya menetes tanpa bisa dibendung, membasahi permukaan kertas sketsa tua itu.
Jadi... empat tahun lalu, sebelum Elena menjebaknya, sebelum kecelakaan mengerikan itu menghancurkan ingatan mereka, Adrian adalah orang yang pertama kali mengapresiasi karya seni keluarganya. Pria itu bukan orang asing yang baru ia temui di restoran secara kebetulan. Mereka pernah bertemu di galeri itu, di bawah pendar lampu pameran yang sama, jauh sebelum konspirasi kejam Elena menyeret mereka ke dalam jurang penderitaan.
"Kamu sudah menemukannya?"
Sebuah suara bariton yang lembut terdengar dari ambang pintu ruangan arsip. Adrian berdiri di sana, menatap Alya dengan pandangan mata yang sarat akan penyesalan sekaligus kelegaan yang mendalam.
Alya berbalik dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, memegangi buku sketsa itu di dadanya. "Kenapa... kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal, Adrian? Kenapa kamu membiarkanku berpikir bahwa kita hanya terikat oleh dosa masa lalu?"
Adrian melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Alya. Ia mengangkat tangannya yang besar, lalu dengan sangat perlahan dan lembut, jemarinya menghapus air mata yang membasahi pipi Alya—sebuah sentuhan yang begitu tulus tanpa ada lagi sekat kontrak di antara mereka.
"Karena saat Malik menemukan datamu kembali beberapa bulan lalu, aku terlalu dibutakan oleh rasa sakit hati akibat pengkhianatan Elena," aku Adrian, suaranya terdengar serak. "Aku lupa bahwa gadis manis yang kutemui di galeri empat tahun lalu... gadis yang membuatku sempat mengagumi keindahan seni lagi setelah sekian lama... adalah orang yang sama yang dipaksa menjadi alat oleh mantan istriku. Aku baru menyadarinya sepenuhnya saat melihat bagaimana kamu memeluk Leon dan Lulu dengan ketulusan yang sama seperti malam kecelakaan itu."
Adrian menggenggam kedua tangan Alya, menatap lurus ke dalam manik mata bulat wanita itu dengan intensitas yang sanggup melelehkan seluruh balok es di hatinya.
"Kontrak itu... aku membuatnya bukan untuk menghukummu, Alya. Aku membuatnya karena aku terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku membutuhkanmu kembali di hidupku, di hidup anak-anakku," lanjut Adrian, sebuah pengakuan jujur yang begitu telanjang, meruntuhkan seluruh keangkuhan sang CEO Vasillo Group.
Alya menatap Adrian, merasakan kehangatan dari genggaman tangan pria itu yang kini menyalurkan kekuatan baru ke dalam jiwanya. Retakan di balik dinding kaca mereka kini telah sepenuhnya pecah, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan takdir mereka yang sempat tercerai-berai.
"Ayo kita ke rumah sakit bersama," ucap Adrian dengan senyum hangat yang paling tulus yang pernah Alya lihat. "Kita temui Ibu... sebagai sebuah keluarga yang utuh."
Alya tersenyum di sela sisa tangis bahagianya, mengangguk cepat. "Ya... mari kita pergi, Adrian."
Lembaran kontrak di antara mereka mungkin awalnya ditulis dengan tinta dingin penuh transaksi bisnis, namun kini, lembaran baru kehidupan mereka telah resmi ditulis ulang dengan tinta komitmen, kasih sayang, dan masa depan yang tak akan lagi bisa digoyahkan oleh bayang-bayang masa lalu.