SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Para Penguasa Senja
BAB 32: Sidang Para Penguasa Senja
Langit malam di atas Pegunungan Tianwu tampak tenang.
Namun ketenangan itu hanya ada di permukaan.
Jauh di atas awan, tersembunyi di balik lapisan formasi yang memutar ruang, berdiri sebuah bangunan raksasa dari batu hitam. Pilar-pilar kunonya menjulang menembus kabut, dipenuhi ukiran naga, burung vermilion, dan simbol-simbol Dao yang telah dilupakan dunia modern.
Tempat itu dikenal oleh sangat sedikit orang.
Balairung Senja.
Tempat para penguasa dunia tersembunyi berkumpul ketika keseimbangan dunia mulai terganggu.
Hari ini, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun...
Sidang darurat diadakan.
Satu demi satu sosok muncul dari pusaran cahaya.
Ada lelaki tua berjubah putih membawa tongkat giok.
Seorang wanita berambut merah mengenakan zirah perak.
Pria bertubuh besar dengan mata emas.
Pendeta Tao berjanggut panjang.
Pemimpin keluarga kuno.
Kepala organisasi pemburu iblis.
Perwakilan pemerintah.
Tak seorang pun berbicara.
Mereka menatap kursi utama yang masih kosong.
Tak lama kemudian...
Sebuah pintu hitam terbuka.
Seorang lelaki tua berwajah tenang berjalan masuk.
Tidak ada aura mengerikan.
Namun seluruh ruangan berdiri memberi hormat.
"Salam kepada Ketua Sidang."
Pria tua itu mengangguk pelan.
"Duduk."
Seluruh ruangan kembali sunyi.
Ia mengangkat sebuah batu kristal.
Di dalamnya muncul bayangan langit yang retak.
Lalu...
Kilatan petir hitam.
Kabut laut.
Reruntuhan kuno.
Seekor naga batu.
Dan akhirnya...
Sosok Ethan.
Ruangan mendadak menjadi riuh.
"Itu dia!"
"Pemuda itu lagi."
"Dia muncul di semua kejadian."
Ketua Sidang berbicara perlahan.
"Selama tiga bulan terakhir..."
"...dua belas artefak kuno aktif."
"...empat dunia tersembunyi mulai terbuka."
"...Segel Pertama retak."
"...dan seseorang memasuki Makam Kaisar Bayangan."
Ruangan kembali sunyi.
Salah seorang tetua bertanya pelan,
"Apakah dia pewaris?"
Ketua menggeleng.
"Itulah masalahnya."
"Jejak karmanya... tidak bisa dibaca."
Di sisi lain dunia.
Ethan duduk bersila di dalam gua batu.
Segel Pertama kini berputar perlahan di dalam lautan qi miliknya.
Energi yang dilepaskannya sangat kecil.
Namun kualitasnya jauh melampaui qi biasa.
Ia membuka mata.
"Hanya satu segel saja sudah seperti ini..."
"Kalau seluruhnya terbuka..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Karena ia tahu jawabannya.
Bahkan dirinya pada kehidupan sebelumnya belum pernah melihat seluruh Segel Kaisar terbuka sempurna.
Itu hanyalah legenda.
Ia menghela napas.
Tubuhnya masih berada di Alam Pengumpulan Qi.
Belum cukup kuat.
Memaksakan penggunaan Segel hanya akan menghancurkan meridian.
Ia harus sabar.
Di luar gua.
Liu Xinya sedang berlatih pedang.
Gerakannya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya.
Setelah melewati berbagai ujian bersama Ethan, mentalnya berubah.
Ia tidak lagi hanya mengejar kekuatan.
Ia mulai memahami makna mengendalikan diri.
Setelah menyelesaikan satu rangkaian tebasan, ia menghentikan napas.
"Tidak cukup."
"Terlalu banyak gerakan sia-sia."
Suara Ethan terdengar dari belakang.
Liu Xinya menoleh.
"Kapan kau keluar?"
"Baru saja."
Ethan mengambil sebatang ranting kecil.
"Serang."
Liu Xinya menghela napas.
"Kau selalu begitu."
Namun ia tetap menyerang.
Pedangnya melesat cepat.
Gerakannya tajam.
Akurat.
Namun...
Ranting kecil di tangan Ethan selalu muncul tepat di jalur pedangnya.
Tak pernah lebih cepat.
Tak pernah lebih lambat.
Selalu tepat.
Sepuluh jurus.
Dua puluh.
Empat puluh.
Liu Xinya mulai berkeringat.
"Aku..."
Brak!
Pedangnya terpental.
Ranting Ethan bahkan tidak patah.
"Bukan kekuatanmu yang kurang."
Ethan melempar ranting itu.
"Melainkan keputusanmu."
"Setiap kali menyerang, kau masih menyisakan keraguan."
Liu Xinya terdiam.
Ia tahu Ethan benar.
Sementara itu...
Ribuan kilometer jauhnya.
Di bawah sebuah gedung pencakar langit milik perusahaan teknologi terbesar di Asia.
Lift rahasia turun hingga ratusan meter.
Pintu logam terbuka.
Ruangan luas dipenuhi layar hologram.
Para peneliti mengenakan jas putih.
Namun sebagian besar memiliki aura kultivator.
Di tengah ruangan berdiri seorang pria muda berjas hitam.
CEO perusahaan itu.
Namun identitas sebenarnya...
Pemimpin muda Sekte Langit Astra.
Sekte kuno yang telah menyamar sebagai konglomerat selama lebih dari seratus tahun.
Seorang bawahannya menyerahkan laporan.
"Tuan."
"Kami kehilangan kontak dengan tim Gerbang Hitam."
"Divisi Bayangan mulai bergerak."
"Dan seseorang telah memperoleh Segel Pertama."
Pria itu membaca laporan tanpa ekspresi.
"Ethan Mahendra..."
Ia tersenyum tipis.
"Akhirnya."
"Ternyata kau benar-benar hidup."
Bawahannya membeku.
"Tuan mengenalnya?"
Pria itu menatap layar.
"Belum."
"Tapi seseorang yang ku kenal... memiliki mata seperti itu."
"Mata yang pernah membuat seluruh dunia kultivasi gemetar."
Di Balairung Senja.
Perdebatan semakin memanas.
"Kita harus menangkap Ethan."
"Tidak."
"Kita harus melindunginya."
"Kalau dia jatuh ke tangan Gerbang Hitam, semuanya selesai."
"Kita bahkan tidak tahu siapa dia."
Ketua Sidang tetap diam.
Hingga akhirnya seorang wanita tua berbicara.
"Ada satu cara."
Semua menoleh.
"Gunakan Cermin Karma."
Ruangan langsung hening.
"Itu terlalu berbahaya."
"Cermin itu telah disegel."
"Kalau gagal..."
Wanita tua itu berkata pelan.
"Kalau kita tidak menggunakannya..."
"...mungkin kita akan mengulang tragedi lima ratus tahun lalu."
Ketua Sidang menutup mata.
Beberapa saat kemudian...
"Disetujui."
Malam itu.
Ethan sedang bermeditasi.
Tiba-tiba...
Segel Pertama bergetar.
Matanya langsung terbuka.
"Aneh."
Tak ada musuh.
Tak ada pembunuh.
Namun naluri yang telah diasah selama lima abad tiba-tiba memperingatkannya.
Seseorang...
Sedang mengamatinya.
Bukan dengan mata.
Melainkan melalui hukum karma.
Ia segera membentuk beberapa segel tangan.
Qi memenuhi seluruh tubuhnya.
Teknik penyembunyian jiwa kuno aktif.
Pada saat yang sama...
Di Balairung Senja.
Cermin Karma mulai memancarkan cahaya.
Kabut memenuhi permukaannya.
Bayangan Ethan perlahan muncul.
Seorang tetua berkata pelan.
"Berhasil..."
Namun...
Sesaat kemudian.
Bayangan itu retak.
Retakan kecil berubah menjadi ribuan garis.
CRAAAK!!
Seluruh permukaan cermin pecah.
Gelombang kejut menghantam semua orang.
Beberapa tetua memuntahkan darah.
Wanita tua yang memimpin ritual terlempar hingga menghantam pilar batu.
Mustahil.
Artefak yang telah digunakan selama ribuan tahun...
Hancur.
Di tengah serpihan cermin...
Muncul bayangan hitam.
Sosok itu tidak memiliki wajah.
Hanya sepasang mata keemasan.
Ia memandang seluruh ruangan.
Lalu terdengar satu kalimat yang menggema langsung di dalam jiwa mereka.
"Jangan mencoba mengintip takdir seorang Kaisar."
BOOOM!!
Seluruh Balairung Senja berguncang hebat.
Bayangan itu lenyap.
Tak seorang pun mampu berbicara.
Ketua Sidang menatap serpihan Cermin Karma dengan wajah pucat.
Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun...
Ia merasa takut.
Di dalam gua.
Ethan perlahan membuka mata.
Sedikit darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Masih terlalu lemah..."
Ia berhasil memutus pengintaian itu.
Namun konsekuensinya tetap ada.
Ia menghapus darah itu.
Lalu menatap langit malam.
"Kalau mereka sudah mulai menggunakan hukum karma..."
"...berarti waktuku tidak banyak lagi."
Saat itulah...
Segel Pertama kembali berdenyut.
Namun kali ini bukan karena ancaman.
Melainkan...
Panggilan.
Jauh.
Sangat jauh.
Seolah berasal dari arah utara.
Bersamaan dengan itu, bumi bergetar pelan.
Di ufuk utara, sesaat sebelum fajar...
Muncul seberkas cahaya hitam yang menembus langit.
Di dalam cahaya itu, perlahan terbentuk siluet sebuah gerbang raksasa.
Dan pada permukaannya terukir empat kata kuno yang membuat wajah Ethan berubah serius untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi.
"Makam Para Kaisar Abadi."