Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Barong Kalah
Satu demi satu anak buah Barong bertumbangan di atas tanah berdebu lapangan barat tanpa bisa bangkit kembali. Bumi sama sekali tidak berniat untuk sekadar menjatuhkan mereka lalu membiarkannya berlalu begitu saja. Prinsip Bumi saat itu sudah bulat: ia harus membuat jera semua preman ini dengan memberikan unjuk kekuatan yang nyata, yang tak terbantahkan, agar ia bisa mengambil alih kendali dan menguasai pasar induk ini. Ambisi besar itu harus bisa dicapai hari ini juga kalau ia mau mengamankan lingkungan pasar dari pengaruh buruk serta kebiadaban kelompok Barong.
"Kalau gua gak bersikap tegas sekarang, besok-besok mereka bakal balik lagi buat nindas orang kecil," batin Bumi sambil melepaskan satu pukulan telak ke rahang lawan terakhirnya. "Setidaknya, kalau gua memegang kendali wilayah ini, gua bisa ikut andil dalam berpendapat dan menentukan kebijakan pasar nantinya."
Brak!
Preman terakhir dari barisan depan tumbang dengan suara deburan keras di tanah. Kini, dua puluh orang anak buah Barong yang berbadan kekar itu sudah tidak bisa berdiri lagi. Mereka semua mengerang kesakitan, memegangi tubuh masing-masing yang babak belur.
Melihat pemandangan mengerikan itu, Barong yang berdiri di tengah lapangan langsung bergetar hebat. Wajahnya merah padam, rahangnya mengatup rapat menahan amarah yang luar biasa besar. Belum pernah dalam sejarah hidupnya kelompoknya dipermalukan sekejam ini di depan ribuan mata pedagang pasar.
Keadaan semakin memanas karena dari arah belakang, Rendra terus-menerus berteriak memprovokasi dengan suara melengking panik. "Woy, Bang Barong! Gimana sih itu anak buah lu?! Payah bener, masa dikeroyok dua puluh orang malah tumbang semua?! Gak becus banget! Katanya preman paling ditakuti di wilayah ini, kok lemes semua dilawan sama kuli kemarin sore?!"
Provokasi Rendra itu langsung membakar sisa kesabaran Barong. Selama bertahun-tahun, nama Barong adalah momok yang sangat menakutkan bagi siapa saja di wilayah pasar induk ini. Mendengar nama itu saja sudah cukup membuat para pedagang gemetar. Namun hari ini, nama besarnya dipecundangi habis-habisan oleh seorang pemuda yang statusnya hanyalah kuli panggul baru.
Kemarahan Barong akhirnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Matanya melotot merah, urat-urat di lehernya menonjol keluar. Pikirannya sudah benar-benar kalut akibat rasa malu dan amarah.
Sret!
Barong menarik keluar sebilah golok besar berkilauan yang terselip di pinggangnya. "Bajingan lu, Bumi! Gua gak peduli lagi banyak orang yang melihat hari ini! Gua bakal habisin lu sekarang juga! Lu musti mati di tangan gua!" teriak Barong dengan suara parau penuh hasrat membunuh.
Melihat senjata tajam yang berkilauan di bawah sinar matahari sore, ribuan penonton di pinggir lapangan spontan menjerit ketakutan, beberapa bahkan mulai mundur selangkah karena ngeri. Namun, Bumi yang berdiri tepat beberapa meter di depan Barong sama sekali tidak gentar sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak, kedua tangannya terangkat santai di depan dada dengan raut wajah yang teramat tenang.
"Bang Barong, lu udah kalut," kata Bumi dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan. "Sebelum lu maju melangkah lebih dekat, gua mau bikin penawaran terakhir sama lu di depan semua orang yang nonton di sini."
Barong mendengus kasar, menudingkan ujung goloknya ke dada Bumi. "Penawaran apa, hah?! Gak ada ampunan buat lu, Kuli!"
Bumi tersenyum tipis, sorot matanya menajam menatap langsung ke dalam manik mata sang kepala preman. "Sederhana aja. Kalau dalam pertarungan ini lu kalah di tangan gua, lu dan seluruh anak buah lu harus bersedia jadi anak buah gua. Lu semua harus tunduk, dan patuh pada perintah gua buat ngejaga pasar ini dengan bener ke depannya. Gimana? Berani terima?"
Mendengar tantangan balik yang dianggapnya sangat menghina itu, Barong benar-benar kalap. "Kurang ajar! Lu pikir lu siapa, bocah?! Mati luuu!" teriak Barong membabi buta. Ia langsung melompat maju, mengayunkan golok besarnya ke arah leher Bumi dengan kecepatan penuh dan tenaga maksimal.
Serangan Barong sangat mengerikan dan bertenaga besar, namun di mata Bumi yang telah diperkuat oleh ramuan ajaib, gerakan membabi buta itu penuh dengan celah kosong yang sangat fatal. Bumi dengan tenang memiringkan tubuhnya ke kanan, membiarkan mata golok Barong melesat hanya beberapa milimeter dari bahunya.
Wus!
Sambil menghindar, Bumi langsung melancarkan serangan balasannya. Berbeda dengan saat menghadapi anak buah Barong di mana ia menggunakan pukulan kasar, kali ini Bumi mempraktikkan sebuah teknik kuno yang sangat rumit yang sempat ia pelajari dari buku teks pengobatan dan bela diri di toko buku bekas itu teknik totokan jalur saraf.
Serangan pertama, Bumi melayangkan dua jarinya, mengetuk keras titik saraf di bawah ketiak kanan Barong yang sedang terangkat memegang golok.
Tuk!
"Hah?!" Barong terkejut karena seketika itu juga tangan kanannya yang memegang golok mendadak kehilangan seluruh tenaganya. Golok besar itu terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di atas tanah.
Belum sempat Barong menyadari apa yang terjadi, Bumi sudah bergeser ke belakang tubuhnya secepat kilat.
Serangan kedua dan ketiga, Dua totokan cepat mendarat di pangkal leher bagian belakang dan belikat kiri Barong. Tuk! Tuk!
"Ugh!" Barong mengerang, penglihatannya mendadak menjadi agak buram dan keseimbangan tubuhnya goyah drastis.
Bumi tidak memberikan kesempatan bagi lawan untuk memulihkan diri. Ia kembali berputar ke depan Barong, menatap sang kepala preman yang kini sudah mulai terengah-engah dengan tubuh gemetar.
Serangan keempat dan kelima, Dengan dua ketukan jari yang sangat presisi, Bumi menotok titik saraf di ulu hati dan paha kanan Barong secara bersamaan.
Tuk! Tuk!
Hanya dalam total lima kali serangan singkat yang sangat akurat itu, Bumi langsung melangkah mundur, kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan santai.
Di hadapannya, Barong tidak lagi berteriak garang. Tubuh raksasa penguasa pasar itu mendadak lemas seketika, seluruh persendiannya terasa seperti kesemutan yang teramat sangat menyiksa dan kaku. Kakinya tidak lagi mampu menopang berat badannya sendiri. Dengan suara deburan yang cukup keras, Barong langsung berlutut di tanah, lalu jatuh terduduk dengan napas memburu, sama sekali tidak berdaya untuk sekadar mengangkat satu jarinya.
Yang paling membuat ribuan penonton melongo adalah kondisi fisik Barong. Sang kepala preman itu takluk dan lumpuh total tanpa adanya luka luar yang kentara sedikit pun di tubuhnya. Kondisi ini berbeda drastis dengan belasan anak buahnya yang terkapar di sekitar lapangan dengan kondisi mengenaskan, banyak yang mengalami patah tangan dan kaki akibat benturan fisik keras dengan Bumi tadi.
Barong menatap Bumi dari bawah dengan sisa tenaganya, matanya tidak lagi memancarkan amarah, melainkan rasa takut yang teramat sangat besar dan mendalam. Teknik berkelahi yang digunakan Bumi menurutnya sangat aneh, mistis, dan berada di luar nalar akal sehat manusia biasa.
"Lu... lu pake ilmu apa, hah? Tubuh gua... gua gak bisa digerakin sama sekali," bisik Barong dengan suara bergetar ketakutan, bibirnya pucat pasrah.
Bumi melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Barong yang sedang berlutut, lalu menundukkan sedikit tubuhnya. "Gua cuma pakai teknik yang bener buat ngelumpuhin orang yang salah jalan, Bang Barong. Sekarang, sesuai kesepakatan kita di awal tadi... gimana keputusan lu?"
Barong menelan ludahnya dengan susah payah. Rasa sombongnya telah runtuh sepenuhnya berganti rasa hormat yang bercampur rasa takut yang mutlak kepada pemuda di depannya ini. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas tanah. "Gua... gua mengaku kalah, Bumi. Gua bersedia... gua bersedia jadi anak buah lu secara sukarela mulai hari ini. Seluruh pasar ini... sekarang ada di bawah kendali lu. Tolong... tolong sembuhin tubuh gua, Bos."
Mendengar ucapan menyerah dari mulut seorang Barong, suasana lapangan yang tadinya hening seketika pecah oleh gemuruh sorak-sorai kemenangan yang luar biasa riuh dari ribuan penonton.
Alya yang sejak tadi menahan napas langsung berlari kencang menerobos barisan penonton, diikuti oleh ibunya yang menangis bahagia. "Mas Bumi!! Ya Allah, kamu selamat! Kamu hebat banget, Mas!" teriak Alya histeris sambil memeluk lengan Bumi dengan sangat erat tanpa memedulikan pandangan orang lain, wajahnya dipenuhi rasa gembira yang luar biasa besar.
Kang Bendot dan Mandor Badrun juga ikut berlari masuk ke tengah lapangan dengan wajah yang memancarkan kegembiraan yang tak terkira. Mereka berdua langsung merangkul pundak Bumi dengan bangga. "Gila lu, Bumi! Lu bener-bener bikin sejarah baru di pasar ini, Tong! Si Barong takluk!" seru Kang Bendot sambil tertawa lepas.
Mandor Badrun menepuk-nepuk dada Bumi. "Hebat kamu, Bum! Sekarang pasar ini bakal aman dari malak-malak gak jelas lagi gara-gara kamu!"
Sementara itu, di sudut lapangan yang lain, Rendra yang melihat pelindung utamanya telah bertekuk lutut menjadi anak buah Bumi langsung bergetar hebat karena ketakutan. Wajah anak juragan kaya itu pucat pasi seperti mayat. Tanpa membuang waktu atau memedulikan anak buah Barong yang tersisa, Rendra langsung berbalik arah dan lari terbirit-birit ketakutan meninggalkan area pasar, takut dirinya akan menjadi sasaran amukan Bumi selanjutnya. Bumi yang melihat pelarian Rendra hanya tersenyum santai, tahu bahwa mulai hari ini, peta kekuasaan di pasar induk telah resmi berubah total di tangannya.