Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
"Lakuin sekarang, Pirang! Kosongin kelabnya, balikin duit pengunjung dua kali lipat!" bentak Riyan sekali lagi lewat telepon, suaranya makin serak karena cekikan gaib Sistem yang pelan-pelan mulai merenggang.
[Denting Sistem! Tindakan Penghentian Omzet Berhasil!]
[Log Bisnis: 10 Kelab Malam Vandersen Entertainment resmi ditutup paksa. Pengembalian dana dua kali lipat berhasil memicu kerugian langsung sebesar 160 Miliar Rupiah.]
[Cekikan Leher Dibatalkan! Saldo Anda berhasil dipangkas kembali menjadi 2,37 Triliun Rupiah!]
Riyan langsung mendesah lega, meraup udara segar sebanyak-banyaknya seolah baru saja lepas dari tenggelam di adukan semen.
Di seberang telepon, Valerie berteriak histeris sebelum akhirnya Riyan mematikan sambungan secara sepihak. Sementara di dalam kamar, Kezia menatap suaminya dengan tatapan yang semakin berbinar-binar penuh kekaguman.
"Luar biasa, Suamiku," bisik Kezia sambil mengusap pelipis Riyan yang penuh keringat dingin.
"Taktik Artificial Scarcity yang sangat berani. Dengan merugikan perusahaan 160 miliar malam ini, kamu baru saja membuat citra kelab malam kita menjadi tempat paling eksklusif dan angkuh di Indonesia. Besok, para kolektor dan anak konglomerat pasti akan rela bayar sepuluh kali lipat hanya untuk dapat meja di sana."
Riyan cuma bisa melirik pasrah ke arah Kezia. 'Istri gua yang satu ini otaknya emang udah kecuci sama saham. Orang rugi disangka taktik jenius!'
Besok harinya, Riyan memutuskan bahwa tinggal di kediaman utama Keluarga Zevan terlalu berbahaya bagi kesehatan jiwanya. Setiap kali dia bernapas, mertuanya—Abraham Zevan—pasti menyodorkan berkas saham atau proyek jalan tol baru.
"Aku mau pindah rumah, Kezia. Aku mau beli rumah sendiri," tegas Riyan saat sarapan di meja makan bertatahkan mutiara.
"Oh? Kamu mau membeli mansion di kawasan elit Dago Pakar atau Pondok Indah?" tanya Kezia sambil menyesap teh earl grey-nya.
"Gak! Aku mau beli rumah paling mahal di komplek real estate paling mewah di Bogor!" sahut Riyan mantap. Otak kulinya langsung berputar.
'Rumah mewah harganya pasti ratusan miliar! Ditambah biaya perawatan yang mahal, duit gua pasti kepangkas banyak!
Hanya dalam waktu tiga jam, Riyan resmi memboyong sebuah Mansion Istana Imperial di kawasan elit Bogor seharga 300 Miliar Rupiah. Rumah itu dilengkapi 12 kamar tidur, kolam renang infinity, lapangan helipad pribadi, dan taman seluas dua hektar.
[Denting Sistem! Pembelian Properti Mewah Berhasil!]
[Saldo Terkini: 2,07 Triliun Rupiah!]
"Yes! Tiga ratus miliar melayang!" Riyan mengepalkan tangannya gembira saat berdiri di halaman mansion barunya.
Namun, kegembiraannya mendadak sirna saat melihat mansion seluas itu sangat sepi. Hanya ada dia, Kezia yang ikut pindah untuk mengurus keperluan suaminya, dan beberapa pelayan bawaan Zevan Group.
"Tunggu..." Riyan mengelus dagunya.
"Rumah seluas ini butuh pengamanan super ketat. Kalau gua sewa sekuriti biasa, gajinya cuma tiga sampai empat juta sebulan. Itu gak bakal bikin gua miskin!"
Mata Riyan mendadak berbinar saat mengingat kawan-kawan lamanya. Dia langsung mengambil ponselnya dan menelepon kontak yang sudah lama tidak dia hubungi.
"Halo? Agus? Ini gua, Riyan! Lu lagi di mana? Masih ngaduk semen di proyek?"
"Iya, Yan. Ini jempol gua sampe pecah-pecah kena semen. Kenapa, Yan? Lu mau minjem cangkul?" balas suara di ujung telepon dengan riuh suara ayakan pasir.
"Kumpulin si Ujang, Deden, Asep, sama sepuluh kuli proyekan kita yang lama! Datang ke mansion gua di Bogor sekarang! Gua mau angkat kalian semua jadi Pasukan Pengawal Pribadi Dirut!"
"Hah?! Pengawal? Tapi kami gak bisa silat, Yan! Cuma bisa megang sendok semen sama nembok!"
"Gak peduli! Pokoknya dateng! Gaji kalian masing-masing Rp50 Juta per bulan! Dapet tunjangan beras, udud, sama kopi hitam dua teko sehari!"
Dua jam kemudian, sebuah angkot jurusan Baranangsiang berhenti tepat di depan gerbang megah Mansion Istana Imperial.
Turunlah 12 orang pria bertubuh kekar dengan kulit legam terbakar matahari, hanya memakai kaos kutang berlubang, celana pendek levis belel, dan sandal jepit Swallow yang tipisnya sudah setipis kerupuk kaleng. Mereka menatap bangunan istana di depan mereka dengan mulut melongo lebar.
"Gila... ini rumah apa Istana Bogor, Yan?" bisik Agus sambil meraba pilar marmer Italia di gerbang dengan tangannya yang masih berdebu semen.
"Ini rumah gua, Gus! Dan mulai hari ini, kalian adalah Satpam Utama di sini!" kata Riyan bangga, langsung membagikan seragam setelan jas hitam Hugo Boss yang tadi pagi sempat dia pesan secara ekspres.
Namun, dasar selera kuli, Agus dan kawan-kawan tetap memakai jas mewah Rp100 juta itu dengan gaya nyeleneh: kancing jas dibiarkan terbuka memperlihatkan kaos kutang Swan warna putih, celana jas digulung sampai betis, dan tetap memakai sandal jepit Swallow hijau.
"Riyan... eh, Pak Dirut," Ujang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gaji lima puluh juta sebulan ini beneran? Kita cuma disuruh berdiri di depan pintu gerbang doang?"
"Iya! Berdiri doang, udud, minum kopi! Gak usah pake mikir!" tegas Riyan gembira. Dua belas orang dikali lima puluh juta... berarti Rp600 Juta melayang tiap bulan cuma buat gaji satpam kuli! Ditambah uang makan dan udud, mantap! Duit gua pasti terus berkurang!
[Denting Sistem! Peringatan Sanksi SDM!]
[Mengukur pengeluaran gaji absurd untuk pekerja tak berkualifikasi...]
[Proses Evaluasi Dampak Bisnis sedang berjalan...]
Riyan tersenyum lebar menatap layar sistemnya. 'Kali ini lu gak bisa beralasan kan, Sistem? Mana ada bisnis waras yang nggaji satpam kuli lima puluh juta sebulan?!
Namun, Riyan lupa satu hal: Loyalitas seorang kuli bangunan yang dimuliakan oleh temannya sendiri.
Sore harinya, Agus dan kawan-kawan merasa sangat tidak enak hati menerima gaji 50 juta hanya untuk duduk-duduk di pos satpam.
"Para juragan, kita diposisikan di sini sama si Riyan bukan cuma buat gaya-gayaan," ucap Agus serius di pos satpam sambil membakar rokok kreteknya.
"Riyan udah baek banget sama kita. Rumah seluas ini... liat tuh, tembok kelilingnya ada yang retak alus, catnya kusam, terus drainase tamannya mampet! Kalau dibiarkan, mansion ini bisa turun valuasinya!"
"Bener, Gus!" sahut Deden panik. "Masa kita dapet lima puluh juta cuma leha-leha? Ayo kita bedah ini rumah!"
Tanpa sepengetahuan Riyan yang sedang tertidur lelap di kamar utamanya akibat kelelahan, 12 mantan kuli proyek itu langsung beraksi. Mereka menyingsingkan lengan jas Hugo Boss mereka, mengambil cangkul, semen, dan cat kualitas tertinggi yang ada di gudang.
Dengan keahlian pertukangan tingkat dewa yang sudah teruji belasan tahun di lapangan, Agus dan timnya memperbaiki seluruh struktur drainase mansion, menambal retak rambut di tembok marmer dengan teknik campuran semen khusus, serta menata ulang pondasi taman belakang agar tahan gempa hingga 8 SR!
Malam harinya, Kezia Zevan baru saja pulang dari kantor Zevan Group. Ketika mobil Rolls-Royce-nya memasuki halaman mansion, Kezia terperanjat melihat perubahan dramatis pada properti tersebut.
Taman yang tadinya rawan genangan air kini memiliki sistem irigasi bawah tanah yang sangat rapi. Tembok-tembok luar tampak sangat kokoh dan mengkilap. Dan yang paling mengagumkan, 12 pengawal berjas terbuka berpakaian santai itu berjaga dengan naluri keamanan tingkat tinggi khas pekerja proyek yang biasa mengawasi material mahal dari maling!
Kezia langsung masuk ke kamar Riyan dan membangunkan suaminya dengan mata berbinar-binar penuh ketakjuban.
"Riyan! Kamu bener-bener jenius tak tertandingi!" seru Kezia sambil memeluk Riyan yang baru bangun tidur dengan nyawa belum terkumpul.
"Hah? Jenius apanya lagi sih, Kezia? Aku baru bangun..." gumam Riyan licak.
"Pengawal kuli yang kamu pekerjakan dengan gaji 50 juta itu! Mereka baru saja merenovasi dan memperkuat struktur bangunan mansion ini dalam waktu lima jam!" Kezia menunjukkan tabletnya.
"Inspektur properti independen baru saja menilai ulang mansion kita. Karena efisiensi perbaikan struktur dan keamanan presisi tinggi yang dilakukan tim kulumu, nilai jual Mansion Istana Imperial ini naik dari 300 Miliar menjadi 450 Miliar Rupiah!"
Riyan mendadak terbelalak. "APA?! NAIK SERATUS LIMA PULUH MILIAR?!"
[Denting Sistem! Evaluasi SDM Selesai!]
[Tindakan Inang merekrut 'Teman Kuli' dengan gaji tinggi dinilai sebagai 'Investasi Efisiensi SDM & Manajemen Aset Berkelanjutan'.]
[Loyalitas dan keahlian teknis para karyawan berhasil meningkatkan nilai aset properti Inang secara signifikan!]
[Keuntungan Tersembunyi Diterima: Valuasi Aset Meningkat +150 Miliar!]
[Penalti Hukuman Diaktifkan: Saldo Anda disesuaikan menjadi 2,22 Triliun Rupiah!]
Riyan Sadewa langsung jatuh telentang di atas kasur king size-nya, menatap langit-langit kamar dengan mata hampa. Uangnya bukannya berkurang gara-gara nggaji satpam mahal, malah nambah lagi gara-gara kawan-kawannya kelewatan rajin kerja!
"AGUSSSS! UJANGGGG!" jerit Riyan frustrasi dari dalam kamar. "GUA SURUH KALI BACA KORAN SAMA NGUDUD DOANG, KENAPA MALAH PATUNGAN NEMBOK RUMAH GUA, WOIII?!"