Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.
Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.
Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Di Antara Kewajiban dan Hati
Setelah pertemuan itu usai, Rafael pamit untuk kembali ke Jakarta sore itu juga, dengan alasan masih ada urusan penting yang harus diselesaikannya. Begitu pintu ruangan tertutup dan hanya ada dirinya sendiri, Anindya berjalan perlahan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke luar. Ia menyandarkan kedua tangannya di tepi jendela, lalu menatap ke bawah, ke arah halaman gedung yang mulai sepi seiring berjalannya waktu.
Wajahnya yang tadi tampak tegas dan tenang kini berubah menjadi dipenuhi keraguan dan kelelahan. Angin sore yang masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka menerpa wajahnya, membawa serta udara sejuk khas kota Malang, tapi tidak mampu meredakan gejolak yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.
Selama ini, ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia jalani adalah hal yang benar dan terbaik. Pertunangan dengan Rafael Wijaya bukanlah keputusan yang diambil secara sembarangan. Itu adalah kesepakatan yang telah direncanakan sejak lama, melibatkan dua keluarga besar yang telah menjalin kerja sama bisnis selama lebih dari dua puluh tahun. Bagi dunia bisnis dan lingkungan sosialnya, ini adalah langkah yang masuk akal, bahkan dianggap sebagai jalan yang membawa keuntungan dan kestabilan di masa depan.
Namun, kejadian hari ini seolah menjadi titik yang membuat semua keyakinan itu mulai goyah.
Anindya mengingat kembali percakapan yang pernah ia lakukan dengan ayahnya beberapa bulan yang lalu, saat kesepakatan itu dipertegas.
“Nak, dalam dunia usaha, hubungan yang kokoh tidak hanya dibangun dengan uang dan kontrak, tapi juga dengan ikatan keluarga. Keluarga Wijaya adalah mitra yang kuat dan terpercaya. Kalau kamu bersedia menerima Rafael, maka posisi perusahaan kita akan semakin aman dan berkembang pesat. Ayah tahu ini mungkin terasa berat, tapi ini adalah tanggung jawab yang harus kau emban sebagai pewaris,” kata ayahnya dengan nada yang penuh harap sekaligus tegas.
Saat itu, Anindya hanya mengangguk pasrah. Ia tumbuh dengan didikan bahwa tanggung jawab dan nama baik keluarga harus didahulukan di atas keinginan pribadi. Ia berpikir, mungkin cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Banyak orang di sekitarnya yang menjalani pernikahan semacam ini dan akhirnya hidup bahagia, bukan?
Tapi hari ini, sikap Rafael telah membuka matanya lebih lebar. Ia melihat sisi lain dari pria itu yang selama ini mungkin tersembunyi di balik senyum sopan dan kata-kata manisnya. Sifat angkuhnya, pandangannya yang merendahkan orang lain, serta sikapnya yang ingin memaksakan kehendak tanpa memedulikan aturan atau perasaan orang lain — semua itu membuat Anindya merasa ada tembok tebal yang memisahkan hatinya dari Rafael.
“Apakah aku benar-benar siap menjalani hidup berdampingan dengan seseorang yang tidak bisa menghargai orang lain?” gumamnya pelan, suaranya hanya terdengar di telinganya sendiri.
Matanya masih tertuju ke bawah, dan tanpa sadar pandangannya tertuju pada sosokku yang masih berdiri di pos jaga. Aku sedang memeriksa catatan kedatangan tamu, sesekali melirik ke sekeliling dengan pandangan yang tenang dan waspada. Dari ketinggian lantai sepuluh, sosokku terlihat kecil, tapi entah kenapa, ada ketenangan yang terpancar dari diriku yang membuat hatinya sedikit lebih lega.
Ia teringat kembali kejadian demi kejadian yang melibatkan aku. Saat pertama kali bertemu, ia melihat aku sebagai orang asing yang pendiam, sedikit kaku, tapi sopan dan rajin. Lalu saat pohon besar hampir roboh dan menimpa seorang anak, ia mendengar cerita bahwa aku sendirian menahan beban yang seharusnya membutuhkan tenaga beberapa orang dewasa. Hari ini pun, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana aku menghadapi dua pengawal tangguh tanpa melukai mereka, hanya dengan tenang menjaga posisi dan tidak membalas dengan kekerasan berlebih.
Semua itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati: Siapa sebenarnya dia? Kenapa di balik penampilan sederhana sebagai satpam biasa, terasa ada kekuatan dan ketenangan yang luar biasa besar?
Yang lebih mengganggu pikirannya bukan hanya soal kekuatanku, tapi sikapku. Berbeda dengan Rafael yang merasa berhak mendapatkan segala hal hanya karena status dan kekayaannya, aku justru terlihat rendah hati, tidak pernah meminta perhatian, dan selalu mengerjakan tugas dengan sepenuh hati tanpa pamrih. Ada perbedaan yang sangat mencolok antara dua pria itu, dan tanpa sadar, perbandingan itu terus terlintas di benak Anindya.
Ia berjalan kembali ke meja kerjanya, lalu duduk perlahan. Mengambil sebuah bingkai foto yang tergeletak di sudut meja, berisi foto dirinya dan kedua orang tuanya saat ia masih remaja. Wajah ayahnya terlihat tegas namun penuh kasih sayang. Anindya mengusap permukaan kaca bingkai itu dengan jari-jarinya yang lembut.
“Ayah… aku tahu maksudmu baik. Tapi rasanya semakin lama, hati ini terasa semakin berat. Bagaimana mungkin aku bisa membangun rumah tangga dengan seseorang yang pandangannya terhadap orang lain begitu rendah? Bagaimana kalau suatu saat nanti dia juga bersikap demikian kepadaku atau kepada orang-orang yang aku sayangi?” bisiknya, seolah ayahnya bisa mendengar keluh kesahnya itu.
Pikirannya melayang kembali ke momen tadi, saat aku berdiri teguh menghadapi kemarahan Rafael. Ia mengingat tatapan mataku — tidak ada rasa takut, tidak ada rasa dendam, hanya keteguhan hati untuk menjalankan apa yang benar. Sesuatu yang sama sekali tidak ia temukan pada diri Rafael.
Tiba-tiba, ketukan pintu terdengar lembut, memecah keheningan ruangan itu.
“Masuk saja,” jawab Anindya, berusaha menyembunyikan kesedihannya dan kembali memasang wajah tenang.
Pintu terbuka, dan terlihat sekretaris pribadinya, Sari, melangkah masuk dengan membawa secangkir teh hangat dan selembar kertas catatan. Ia melihat raut wajah Anindya yang tampak lelah, lalu meletakkan teh itu di meja dengan hati-hati.
“Mbak Anin, ini teh hangat seperti yang biasa Anda minum. Dan ada laporan singkat dari bagian keamanan mengenai kejadian di depan tadi,” kata Sari lembut, lalu melirik sekilas ke arah jendela seolah tahu apa yang sedang dipikirkan atasannya itu.
Anindya mengangguk pelan, mengambil cangkir teh itu dan menyesapnya sedikit. Panasnya teh itu merambat ke tenggorokan dan menghangatkan tubuhnya, tapi belum cukup untuk menghangatkan hatinya yang sedang dipenuhi keraguan.
“Terima kasih, Sari. Kamu juga melihat kejadian tadi, bukan?” tanya Anindya tiba-tiba.
Sari berhenti sejenak, lalu menjawab dengan jujur, “Ya, Mbak. Saya sempat melihat dari lantai bawah sebelum naik ke sini. Tuan Rafael memang terlihat sangat marah, dan Pak Kaito hanya diam saja sambil menjalankan tugasnya. Menurut saya… Pak Kaito bersikap sangat benar dan sopan, meski dipukul sekalipun dia tidak membalas dengan kasar.”
Mendengar pendapat orang lain yang sama dengan apa yang ia rasakan, hati Anindya terasa sedikit lebih lega, tapi juga makin bingung. Ia meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas piring, lalu menatap Sari dengan pandangan yang meminta pendapat.
“Sari, kamu sudah lama bekerja bersamaku. Menurutmu… apakah salah jika aku mulai merasa ragu dengan keputusan pertunangan ini?” tanyanya dengan suara rendah, seolah takut didengar orang lain.
Sari tertegun sejenak, lalu melangkah mendekat sedikit, berbicara dengan nada pelan namun tulus.
“Mbak, saya tidak berani memberi nasihat yang melampaui batas. Tapi selama saya mengenal Anda, saya tahu Anda adalah orang yang selalu mengutamakan keadilan dan perasaan orang lain. Kalau di hati Anda sendiri sudah terasa ada yang tidak pas, mungkin itu adalah tanda. Banyak orang bilang pernikahan itu soal kesepakatan, tapi saya pikir, seumur hidup itu terlalu panjang untuk dijalani hanya karena kewajiban semata, bukan karena keinginan hati.”
Kata-kata itu menusuk tepat ke dalam hati Anindya. Ia tahu Sari hanya mengatakan apa yang ada di pikirannya sendiri, tapi mendengarnya diucapkan oleh orang lain membuat keraguan itu terasa semakin nyata.
“Tapi kalau aku membatalkannya, apa kata dunia? Apa kata ayah? Ini bukan hanya soal diriku saja, tapi juga nama baik keluarga dan kelancaran bisnis kita. Membatalkannya bisa menimbulkan masalah besar, bahkan bisa merusak kerja sama yang sudah terjalin bertahun-tahun,” jawab Anindya dengan nada penuh kekhawatiran.
“Memang tidak mudah, Mbak. Tidak ada keputusan besar yang datang tanpa risiko. Tapi pertanyaannya adalah, mana yang lebih berat? Menanggung risiko di depan karena memilih jalan yang sesuai dengan hati, atau menanggung beban di dalam hati selama bertahun-tahun hanya demi menjaga keadaan yang terlihat baik dari luar?”
Pertanyaan itu menggema di kepala Anindya. Ia terdiam lama, membiarkan pikirannya berputar-putar mempertimbangkan segala kemungkinan. Ia membayangkan masa depannya jika ia tetap melanjutkan pertunangan ini: hidup dengan seseorang yang memiliki pandangan hidup yang berbeda jauh, selalu menahan diri, menyesuaikan diri dengan keinginan suaminya, mungkin kehilangan kebebasan untuk bersikap adil dan baik kepada semua orang seperti yang ia inginkan.
Di sisi lain, ia juga membayangkan reaksi ayahnya, kemarahan keluarga Wijaya, bisik-bisik tetangga dan rekan bisnis, serta dampaknya pada perusahaan yang telah dibangun dengan susah payah. Semua itu terasa seperti beban berat yang menekan pundaknya.
Saat ia sedang terbenam dalam pikirannya yang mendalam, matanya kembali terarah ke bawah jendela. Hari sudah mulai menjelang sore, sinar matahari berubah menjadi keemasan yang lembut. Ia melihat aku sedang membantu seorang nenek tua yang kesulitan menyeberang jalan masuk ke halaman gedung. Aku berjalan perlahan, menuntun lengan nenek itu dengan hati-hati, wajahku terlihat sabar dan penuh perhatian. Setelah menuntunnya sampai ke tempat duduk yang nyaman, aku tersenyum dan mengangguk hormat sebelum kembali ke pos jaga.
Pemandangan sederhana itu membuat hati Anindya terasa bergetar. Ia melihat kebaikan yang tulus, tanpa pamrih, tanpa ingin dipuji atau dihormati. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dari sikap Rafael kepadanya atau kepada orang lain.
“Kalau saja seseorang itu memiliki hati seperti dia…” gumamnya tanpa sadar, dan begitu kata-kata itu keluar, ia langsung tersipu malu sendiri, seolah ada yang mendengar pikirannya. Ia menggelengkan kepala cepat, mencoba menepis pikiran itu.
Tidak, Anin. Jangan berpikir seperti itu. Dia hanyalah karyawan, orang asing yang baru datang. Jangan biarkan rasa penasaran atau kekaguman membuatmu melupakan posisi dan tanggung jawabmu. Ini hanya perasaan sesaat, bukan kenyataan, tegurnya pada dirinya sendiri.
Namun, meski ia berusaha mengingatkan dirinya sendiri, benih keraguan itu sudah tertanam dalam-dalam. Ia sadar, mulai hari ini, tidak akan mudah untuk melanjutkan pertunangan itu dengan hati yang tenang. Ada sesuatu yang telah berubah, dan kejadian hari ini hanyalah awal dari perubahan itu.
Ia mengambil selembar kertas kosong, lalu menuliskan beberapa catatan kecil dengan pena yang digenggamnya. Tulisannya tidak rapi seperti biasanya, seolah tangannya masih gemetar memikirkan semuanya.
“Kewajiban memang harus dipenuhi, tapi hati juga tidak bisa dipaksa. Aku harus menemukan jalan tengah, atau setidaknya memastikan apakah keputusan ini benar-benar yang terbaik untuk semua orang,” ucapnya pada dirinya sendiri dengan suara mantap, meski masih ada ketidakpastian di matanya.
Sementara itu, di bawah sana, aku bisa merasakan suasana yang berubah di dalam gedung. Naluri yang tajam memberitahuku bahwa ada gejolak batin yang sedang terjadi, dan aku menduga itu berkaitan dengan Mbak Anin. Aku tidak tahu secara pasti apa yang dipikirkannya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia sedang menghadapi pilihan yang sulit.
Aku hanya bisa berdoa agar dia mendapatkan kejelasan dan kekuatan untuk mengambil keputusan yang tepat. Sementara itu, tugasku tetap sama: menjaga keamanan tempat ini, menyembunyikan kekuatanku, dan berusaha hidup sebaik mungkin di tengah keadaan yang semakin rumit ini.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan warna jingga dan ungu yang indah. Malam akan segera tiba, membawa serta ketenangan, tapi juga menyembunyikan rencana-rencana gelap yang sedang disusun oleh pihak yang tidak menyukai kedamaian ini.
Aku tahu, badai yang sesungguhnya belum lewat. Ia hanya sedang beristirahat sebentar sebelum meledak dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Dan saat itu tiba, aku harus siap berdiri tegak, melindungi semua orang yang berhak mendapatkan keamanan dan kebahagiaan — termasuk wanita yang tanpa sadar telah menjadi alasan baru bagiku untuk tetap bertahan di tanah rantau ini.