Lin Yuan hanyalah seorang satpam biasa yang ingin menikmati hidup tenang setelah meninggalkan gelarnya sebagai Raja Tentara Bayaran paling mematikan.
Namun, hari-harinya berubah menjadi kacau ketika ia terjebak kesepakatan menjadi pacar palsu seorang CEO wanita sedingin es bernama Shen Yuxuan demi menggagalkan pertunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam hari di Paviliun Anggrek Biru terasa sangat mewah dan eksklusif.
Restoran kelas atas ini adalah tempat di mana para konglomerat Kota Hai memamerkan kekayaan mereka.
Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru lobi utama.
Shen Yuxuan berdiri di dekat pintu masuk dengan wajah yang terlihat lebih tegang dari biasanya.
Dia mengenakan gaun malam panjang berwarna hitam elegan dengan belahan paha yang cukup tinggi.
Gaun itu memeluk sempurna setiap inci lekuk tubuhnya yang berbentuk seperti jam pasir.
Leher jenjangnya dihiasi kalung berlian yang harganya bisa membeli sebuah rumah mewah.
Namun pesona dinginnya masih tetap mendominasi, membuat para pria hidung belang tidak berani mendekat.
Shen Yuxuan melihat jam tangan mewahnya untuk kesekian kalinya.
"Pria berandalan itu berani membuatku menunggu selama lima belas menit."
Shen Yuxuan menggerutu pelan sambil mengetukkan hak tinggi sepatunya ke lantai marmer.
Dia sudah menyiapkan alasan jika Lin Yuan tidak muncul atau melarikan diri dari kesepakatan mereka.
Namun suara langkah kaki yang mantap terdengar mendekat dari arah pintu kaca utama.
Shen Yuxuan menoleh dan matanya tanpa sadar membelalak sedikit melihat sosok yang datang.
Lin Yuan melangkah masuk ke dalam restoran dengan aura yang benar benar berbeda.
Seragam satpam lusuh yang biasa dia pakai telah menghilang tak berbekas.
Sebagai gantinya, dia mengenakan setelan jas Armani berwarna biru malam yang dijahit khusus.
Jas itu menempel sempurna di tubuhnya yang berotot, menonjolkan dada bidang dan bahu lebarnya.
Rambutnya yang biasanya berantakan kini disisir rapi ke belakang dengan sedikit gaya acak.
Postur tubuhnya tegap dan setiap langkahnya memancarkan ketenangan absolut.
Dia tidak lagi terlihat seperti satpam pemalas, melainkan seperti tuan muda dari keluarga bangsawan militer.
Shen Yuxuan menelan ludah melihat perubahan drastis pada pria yang dibencinya itu.
Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat, sebuah reaksi jujur yang tidak bisa dia sembunyikan.
Lin Yuan berhenti tepat di depan Shen Yuxuan dan memberikan senyuman miring yang khas.
"Maaf aku terlambat, sayang, mobil taksi yang kunaiki kehabisan bensin di jalan."
Alasan konyol itu langsung menghancurkan aura bangsawan yang baru saja dibangun Lin Yuan.
Shen Yuxuan mendengus pelan dan kembali memasang wajah sedingin es.
"Kau terlihat seperti monyet yang dipakaikan baju manusia."
Shen Yuxuan memberikan hinaan pedas untuk menutupi rasa kagumnya sesaat tadi.
"Jas mahal ini jelas tidak cocok dengan mulut kotormu itu."
Lin Yuan tertawa pelan dan langsung mengulurkan tangan kanannya.
Dia merangkul pinggang ramping Shen Yuxuan dengan gerakan yang sangat natural.
"Pelecehan macam apa ini, lepaskan tanganmu."
Shen Yuxuan mendesis tajam dan mencoba melepaskan rangkulan Lin Yuan.
Namun tangan Lin Yuan terasa seperti sabuk besi yang mengikat pinggangnya dengan kuat namun lembut.
"Kita sudah sepakat soal ini, Bosku yang cantik."
Lin Yuan berbisik tepat di telinga Shen Yuxuan, membuat bulu kuduk wanita itu merinding.
"Orang tua dan adikmu sedang berjalan ke arah kita dari ujung lorong sana."
Shen Yuxuan menoleh ke depan dan benar saja, keluarganya sedang berjalan mendekat.
Dia langsung berhenti meronta dan menempelkan tubuhnya lebih dekat ke Lin Yuan dengan kaku.
Pria paruh baya yang berjalan paling depan memiliki aura membunuh yang sangat pekat.
Dia adalah Jenderal Shen Jian, pria yang menghabiskan separuh hidupnya di medan perang.
Langkah kakinya berat dan tatapan matanya tajam seperti elang yang mengincar mangsa.
Di sebelahnya, seorang wanita paruh baya berpakaian sangat glamor berjalan dengan anggun.
Dia adalah Nyonya Shen, ibu dari Shen Yuxuan yang ternyata memiliki lekuk tubuh tidak kalah seksi dari putrinya.
Gaun merah ketat yang dia pakai seolah menantang hukum gravitasi usia.
Di belakang mereka berdua, seorang gadis muda melompat lompat kecil dengan riang.
Dia adalah Shen Mengyao, gadis genit yang mengenakan gaun mini putih yang sangat terbuka di bagian dada.
Wajahnya mirip dengan Shen Yuxuan, namun auranya jauh lebih liar dan menggoda.
"Yuxuan, putriku tersayang, akhirnya kau datang juga."
Nyonya Shen memeluk Shen Yuxuan dengan hangat sebelum melepaskannya.
Tatapan Nyonya Shen langsung tertuju pada lengan Lin Yuan yang melingkar di pinggang putrinya.
Mata wanita paruh baya itu berbinar penasaran seperti melihat mainan baru yang sangat menarik.
"Oh ya ampun, siapa pria tampan yang berani menyentuh putriku ini?"
Nyonya Shen bertanya dengan nada manja sambil menatap Lin Yuan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Shen Yuxuan berdehem pelan untuk menutupi rasa gugupnya berbohong di depan keluarganya.
"Ibu, Ayah, perkenalkan ini Lin Yuan, dia... dia adalah kekasihku."
Kata kata itu keluar dari mulut Shen Yuxuan dengan sangat berat seolah dia sedang memakan racun.
Jenderal Shen Jian mendengus dingin mendengar perkenalan tersebut.
Dia menatap Lin Yuan dengan pandangan merendahkan yang sangat intimidatif.
"Kekasih? Dari keluarga mana kau berasal, anak muda?"
Suara Jenderal Shen terdengar berat dan bergema di lorong lobi tersebut.
"Apa kau punya prestasi militer atau bisnis yang bisa dibanggakan?"
Ini adalah tekanan mental khas seorang jenderal untuk menguji mental calon menantunya.
Pria biasa akan langsung gemetar ketakutan atau gagap saat ditanya dengan nada seperti itu.
Namun Lin Yuan hanya tersenyum sopan tanpa ada sedikitpun rasa takut di matanya.
Dia menatap lurus ke dalam mata Jenderal Shen Jian, membalas aura membunuh itu dengan ketenangan absolut.
Bagi Lin Yuan, aura pensiunan jenderal ini hanyalah hembusan angin sepoi sepoi dibandingkan dengan neraka yang pernah dia lewati.
"Saya hanya orang miskin biasa, Paman Shen."
Lin Yuan menjawab dengan nada santai dan punggung yang tetap tegak.
"Saya tidak punya prestasi militer apa pun, selain fakta bahwa saya masih hidup sampai hari ini."
Jawaban itu ambigu, namun memiliki makna mendalam bagi mereka yang pernah menginjakkan kaki di medan perang.
Jenderal Shen menyipitkan matanya, merasa ada yang aneh dengan ketenangan pria di depannya ini.
Tidak ada rasa takut, tidak ada kepanikan, hanya sebuah ketenangan yang mematikan.
"Wah, wah, kau ini ternyata cukup percaya diri ya kakak yang tampan."
Shen Mengyao tiba tiba menyela dan menyusup masuk di antara mereka.
Gadis genit itu menempelkan lengan Lin Yuan ke dada besarnya dengan sengaja.
"Aku adalah Shen Mengyao, calon adik iparmu yang paling imut dan menggemaskan."
Mengyao mengedipkan sebelah matanya sambil sengaja menekan belahan dadanya ke lengan Lin Yuan.
Lin Yuan merasakan sensasi empuk yang luar biasa di lengan kirinya.
'Astaga, gen keluarga ini benar benar berbahaya untuk kesehatan mental para pria.'
Lin Yuan membatin sambil melirik ke arah Shen Yuxuan yang wajahnya sudah merah padam.
Shen Yuxuan menatap Lin Yuan dengan tatapan membunuh seolah memperingatkan agar pria itu tidak bereaksi.
Ini adalah ujian berat bagi kesabaran Shen Yuxuan.
"Kau sangat menggemaskan, Mengyao, tapi pelukan ini sepertinya terlalu hangat untuk malam ini."
Lin Yuan melepaskan lengannya dari jepitan dada Mengyao dengan sangat halus dan sopan.
Dia menolak godaan itu namun tetap menjaga perasaan gadis tersebut.
Nyonya Shen tertawa kecil melihat interaksi mereka bertiga.
"Sudah sudah, jangan goda kakak iparmu terus Mengyao, mari kita masuk ke dalam."
Nyonya Shen menepuk bahu Lin Yuan dengan senyum penuh arti.
"Keluarga Zhao pasti sudah menunggu kedatangan kita di ruang VIP."
Penyebutan nama keluarga Zhao langsung merubah suasana menjadi tegang kembali.
Jenderal Shen mendengus kasar sebelum berjalan memimpin di depan.
"Aku ingin melihat seberapa berani pria miskin ini berhadapan dengan Tuan Muda Zhao."
Jenderal Shen berkata dengan nada meremehkan tanpa menoleh ke belakang.
Shen Yuxuan meremas tangan Lin Yuan yang ada di pinggangnya dengan kuat.
"Ingat kesepakatan kita, kau harus mempermalukan Zhao Tian apa pun yang terjadi."
Shen Yuxuan berbisik pelan namun sarat dengan ancaman.
Lin Yuan membalas genggaman tangan Shen Yuxuan dengan usapan lembut di punggung tangan wanita itu.
"Tenang saja sayang, aku itu spesialis dalam menghancurkan pesta orang sombong."
Lin Yuan berjalan memasuki ruang VIP Paviliun Anggrek Biru dengan langkah tegap.
Di dalam ruangan mewah itu, keluarga Zhao sudah duduk manis menanti kedatangan mereka.
Pintu ganda ruang VIP dibuka lebar lebar oleh pelayan restoran.
Semua mata kini tertuju pada sosok pria berpakaian biru malam yang tangannya masih melingkar manis di pinggang Shen Yuxuan.
Pertunjukan utama untuk menghancurkan martabat keluarga Zhao akhirnya resmi dimulai.