NovelToon NovelToon
Rock Lee Kebangkitan Cheat Di Konoha

Rock Lee Kebangkitan Cheat Di Konoha

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Billy Author

Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah

Langkah kaki ketiga anggota Tim Guy hampir tidak mengeluarkan suara sama sekali saat mereka bergerak membelah vegetasi Hutan Kematian yang sangat lebat. Pohon-pohon di tempat ini memiliki ukuran yang tidak masuk akal—beberapa di antaranya memiliki diameter batang hingga lima meter, dengan akar-akar raksasa yang menonjol keluar dari tanah seperti ular-ular raksasa yang membeku. Cahaya matahari sore kesulitan menembus dedaunan yang berlapis-lapis di atas kepala mereka, menciptakan suasana temaram yang abadi di lantai hutan.

Setelah bergerak selama hampir dua jam menuju arah menara pusat, Neji mendadak mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat universal untuk berhenti. Dia mendarat dengan mulus di atas sebuah dahan besar yang tertutup lumut tebal, langsung mengambil posisi jongkok yang rendah.

"Ada apa, Neji?" Tenten bertanya dengan suara setengah berbisik, mendarat di sampingnya sambil memegang sebilah kunai di tangan kanannya.

"Byakugan!" Neji tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan langsung mengaktifkan teknik matanya. Urat-urat di sekitar pelipisnya menonjol seketika, dan pandangannya menembus lapisan kayu serta dedaunan hingga radius satu kilometer. "Tiga ratus meter di depan kita... ada empat tanda chakra. Tidak, tunggu... tiga tanda chakra Genin dari Amegakure, dan satu lagi... seekor kelabang raksasa."

"Mereka sedang bertarung?" Lee ikut bertanya, berdiri dengan santai di dahan yang sama tanpa menunjukkan tanda-tanti ketegangan.

"Tidak. Mereka baru saja menyelesaikan pertarungan dengan monster itu," Neji menjelaskan, matanya bergerak mengikuti pergerakan objek di kejauhan. "Mereka sedang mengobati luka mereka di bawah sebuah ceruk batu. Salah satu dari mereka memegang sebuah gulungan... warnanya cokelat. Itu Gulungan Bumi."

Tenten langsung tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kepuasan. "Keberuntungan yang bagus! Kita memegang Gulungan Langit, dan mereka memiliki Gulungan Bumi yang kita butuhkan. Kita bisa menyelesaikan ujian ini di hari pertama jika kita merebutnya sekarang!"

"Jangan gegabah, Tenten," Neji memperingatkan, wajahnya tetap serius. "Ninja Amegakure terkenal dengan teknik jebakan air dan ilusi yang merepotkan di dalam hutan seperti ini. Kita harus menggunakan rencana penyergapan standar. Aku akan menyerang dari depan untuk memancing perhatian mereka, Tenten berikan dukungan dari atas, dan Lee..." Neji melirik Lee dengan tatapan tajam. "...kamu bertugas memotong jalur pelarian mereka di bagian belakang."

Lee mengangguk setuju. "Rencana yang bagus, Neji. Mari kita bergerak dengan cepat sebelum mereka menyadari kehadiran kita."

Ketiganya melesat kembali, memisahkan diri menjadi tiga jalur yang berbeda untuk mengurung posisi musuh. Lee melompat ke arah kiri, bergerak memutar melewati semak-semak berduri dengan kecepatan yang konstan. Beban dua ratus kilogram di kakinya sama sekali tidak mengurangi kelincahannya—malah, setiap kali dia menapak di dahan pohon, otot-ototnya justru mendapatkan latihan penguatan instan yang terus beregenerasi di balik layar.

Sesampainya di posisi belakang ceruk batu yang dimaksud Neji, Lee menyembunyikan keberadaannya di balik batang pohon pakis raksasa. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat tiga ninja Amegakure tersebut. Mereka mengenakan pakaian tahan air berwarna abu-abu gelap dengan masker gas yang menutupi seluruh wajah. Salah satu dari mereka tampak memiliki luka robek yang cukup besar di lengannya akibat gigitan kelabang raksasa tadi.

"Sialan, hutan ini benar-benar neraka," salah satu ninja Amegakure dengan pelindung kepala yang agak retak mengumpat sambil melilitkan perban di lengan temannya. "Baru dua jam masuk, kita sudah hampir mati karena serangga raksasa. Untung saja kita berhasil mendapatkan Gulungan Bumi ini dari tim lemah asal Kusagakure tadi."

"Simpan bicaramu, Shigure," ninja yang berdiri di dekat pintu ceruk memperingatkan, matanya waspada menatap ke arah luar. "Kita harus segera menuju menara—Tunggu! Ada serangan!"

Syuuwt! Syuuwt! Syuuwt!

Belasan kunai dan shuriken melesat dari arah kanopi pohon, menghujani posisi ketiga ninja Amegakure tersebut dengan akurasi yang mematikan. Itu adalah serangan pembuka dari Tenten.

"Taktik murahan!" Shigure berteriak, dia langsung melakukan segel tangan dengan cepat. "Ninpo: Joro Senbon! (Teknik Hujan Jarum)"

Dia melemparkan beberapa payung tradisional ke udara, yang kemudian berputar cepat dan melepaskan ratusan jarum besi tajam ke segala arah, menangkis semua kunai Tenten di udara dengan suara dentingan besi yang bising.

Di saat yang sama, Neji melesat keluar dari semak-semak depan dengan kecepatan tinggi, telapak tangannya sudah dipenuhi oleh chakra Juken yang siap merusak. "Kalian sudah terkepung! Serahkan gulungan kalian jika masih ingin melihat matahari esok hari!"

"Sombong sekali kamu, bocah Konoha!" ninja Amegakure ketiga menerjang maju, mengacungkan sebuah sabit kecil yang diikatkan pada rantai besi.

Pertempuran sengit pun pecah di depan ceruk batu. Neji bergerak dengan keanggunan yang luar biasa, menghindari setiap ayunan sabit dengan gerakan memutar tubuh yang fleksibel, sebelum akhirnya mendaratkan satu pukulan telapak tangan terbuka di dada ninja pemegang sabit tersebut.

Plak! "Hakke Rokujuyon Sho... Dua Telapak Tangan!" Neji mulai menutup titik chakra musuhnya.

Sementara itu, Shigure yang menyadari bahwa tim mereka berada dalam posisi tidak menguntungkan akibat serangan mendadak ini, langsung mengambil keputusan cepat. Dia meremas Gulungan Bumi di dalam tas pinggangnya, lalu berbalik ke arah belakang ceruk batu, berniat melarikan diri melalui jalur hutan yang lebat.

"Kalian berdua tahan mereka! Aku akan mengamankan gulungan ini!" Shigure berteriak pada dua rekannya sambil melompat mundur dengan panik.

Namun, begitu kakinya menyentuh tanah di bagian belakang ceruk, langkah Shigure langsung membeku. Di depan jalur pelariannya, seorang remaja laki-laki berpakaian hijau ketat dengan rambut mangkok sedang berdiri menyandar pada sebatang pohon dengan ekspresi yang sangat santai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan matanya yang bulat menatap Shigure dengan pandangan yang hampir terlihat malas.

"Mau pergi ke mana buru-buru begitu, teman dari Amegakure?" Lee bertanya dengan nada yang sangat ramah, seolah-olah dia sedang menyapa seorang tetangga yang mau pergi ke pasar.

Shigure menggertakkan giginya di balik masker gasnya. Rasa panik dan amarah bercampur menjadi satu. "Minggir, bocah bodoh! Jangan menghalangi jalanku atau aku akan merobek tubuhmu menjadi berkeping-keping!"

Shigure melakukan segel tangan dengan sangat cepat, melepaskan teknik andalannya dari jarak dekat. "Suiton: Mizurappa! (Elemen Air: Terompet Air)"

Sebuah gelombang air bertekanan tinggi menyembur deras dari mulutnya, bergerak seperti meriam air yang bisa menghancurkan batu padat langsung ke arah dada Lee. Serangan itu begitu cepat dan bising di tengah kesunyian hutan.

Lee tidak bergeser satu sentimeter pun. Dia bahkan tidak menarik tangannya keluar dari saku celananya. Dia hanya mengalirkan sedikit energi chakranya yang tak terbatas ke otot-otot dadanya, mengencangkan struktur tubuhnya menggunakan logika kekuatan mentah yang dia latih selama ini.

BOOOM!!!

Gelombang air bertekanan tinggi itu menghantam dada Lee dengan telak, menciptakan cipratan air yang masif yang membasahi tanah di sekitarnya. Shigure tersenyum puas di balik maskernya, yakin bahwa tulang dada bocah beralis tebal itu sudah hancur berkeping-keping akibat hantaman airnya.

Namun, begitu air itu surut dan mengalir ke tanah, senyum Shigure langsung runtuh sepenuhnya.

Lee masih berdiri di posisi yang sama. Pakaian hijau ketatnya basah kuyup, rambut mangkoknya tampak lepek tertimpa air, namun wajahnya... sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan. Tidak ada setitik pun darah yang keluar dari mulutnya. Dinding dadanya tetap kokoh, menahan semua tekanan hidrolik dari teknik Suiton tersebut tanpa ada kebocoran energi sedikit pun berkat pemulihan sel instan dari cheat miliknya.

"Teknik air yang menyegarkan," Lee berkata, dia perlahan menarik tangan kanannya keluar dari saku celana. "Terima kasih, kebetulan cuaca hari ini agak gerah. Tapi sekarang... giliran giliranku untuk bergerak."

Syuuwt!

Sebelum Shigure sempat memproses apa yang baru saja terjadi, sosok Lee mendadak menghilang dari pandangannya. Kecepatan dasar Lee—bahkan dengan beban dua ratus kilogram—terlalu tinggi untuk diantisipasi oleh seorang Genin tingkat lanjut dari Amegakure.

BUM!

Tangan kanan Lee yang terkepal rapat melesat maju, menghantam ulu hati Shigure dengan akurasi yang menakutkan. Pukulan itu begitu bersih, menciptakan gelombang tekanan angin kecil di belakang punggung Shigure yang membuat pakaian abu-abunya robek membentuk lingkaran.

"Ugh..." Shigure bahkan tidak sempat berteriak. Matanya membelalak sempurna, seluruh udara di dalam paru-parunya dipaksa keluar secara paksa. Kesadarannya langsung padam seketika, dan tubuhnya jatuh berlutut sebelum akhirnya tersungkur di atas tanah basah dengan posisi tidak berdaya.

Lee membungkuk sedikit, mengambil Gulungan Bumi dari tas pinggang Shigure yang pingsan dengan gerakan yang sangat sopan. Dia memutar-mutar gulungan cokelat itu di jarinya dengan senyum puas.

Di sisi lain ceruk, Neji baru saja menjatuhkan musuh terakhirnya menggunakan teknik pengunci chakra ketika dia menoleh dan melihat Lee sudah memegang gulungan yang mereka butuhkan. Neji berdiri diam, menatap Shigure yang pingsan dalam satu pukulan dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa frustrasi yang terselubung. Sekali lagi, Lee menunjukkan padanya bahwa kekuatan mentah yang dilatih dengan benar bisa menghancurkan teknik ninjutsu dalam sekejap mata.

"Kerja bagus, Lee!" Tenten melompat turun dari pohon dengan wajah gembira, langsung merebut gulungan cokelat itu dari tangan Lee untuk dicocokkan dengan gulungan mereka. "Lengkap! Kita punya sepasang sekarang! Hari pertama dan kita sudah siap menuju menara!"

"Jangan santai dulu, Tenten," Neji menyela sambil berjalan mendekati mereka, meskipun matanya tetap tertuju pada Lee yang sedang memeras ujung jubah hijaunya yang basah. "Jalur menuju menara pusat masih sangat jauh, dan daerah di depan kita adalah wilayah berburu bagi tim-tim paling berbahaya. Kita harus tetap bergerak di bawah bayang-bayang."

"Dimengerti, Kapten Neji," balas Lee dengan nada bercanda yang membuat Tenten tertawa kecil. Tim Guy kembali bergerak, melompat memasuki kegelapan hutan yang semakin pekat seiring dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat.

1
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
The Music
lanjut lagi 🔥🔥🔥
Hadi Hadi
mantap 👍
Andi Akhasay: Mampir kak ke ceritaku.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
goof👍
waktunya comeback
menarik
Hadi Hadi
good 👍
The Music
semangat thor👍🔥🔥
Hadi Hadi
mantap 👍👍
Hadi Hadi
up up up 😍😍
Hadi Hadi
is good 👍👍
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
semangat
Hadi Hadi
good 👍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
mantap 💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
good 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!