Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 - Tamu Tengah Malam
Lebam biru kehitaman di pergelangan kaki Maya malam itu mengubah atmosfer rumah mewah tersebut secara permanen.
Kehangatan yang semula dibeli dengan uang miliaran rupiah kini menguap begitu saja, digantikan oleh rasa cekat yang konstan.
Sisa malam itu dilalui tanpa sedetik pun mata terpejam. Aryo hanya bisa duduk di sisi ranjang sambil mendekap Maya yang terus menggigil hingga fajar menyingsing, sementara sisa wangi vanila di kamar mereka terasa hambar, kalah oleh rasa takut yang telanjur menyengat saraf.
Keesokan harinya, malam kembali merayap terlalu cepat. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh malam, namun sunyi yang turun terasa tidak wajar.
Aryo sengaja menyalakan seluruh lampu di dalam rumah—mulai dari lampu taman, ruang tamu, lorong, hingga dapur bersih—menciptakan pendar benderang yang masif untuk mengusir bayangan-bayangan gelap yang mulai bermain di kepala mereka.
Di ruang keluarga lantai bawah, Aryo duduk di sofa beludru sambil memangku laptopnya. Ia mencoba memfokuskan pikiran pada laporan keuangan proyek perumahannya yang mulai menunjukkan grafik janggal sejak dua hari lalu.
Di sampingnya, Maya meringkuk dengan selimut tebal yang membungkus tubuh. Wajahnya yang biasa dihiasi riasan modis kini tampak kusam, matanya sayu dengan kantung mata menghitam.
Tangannya tak pernah lepas dari perutnya, seolah-olah sedang melindungi sang janin dari ancaman yang siap menerkam kapan saja.
"Mas ...," panggil Maya lirih, memecah keheningan yang kaku. "Apa kita tidak sebaiknya pindah ke hotel saja untuk beberapa hari? Rumah ini ... rasanya tidak benar. Aku merasa seperti selalu diawasi dari setiap sudut."
Aryo menghentikan ketikan jemarinya di atas keyboard. Ia menoleh, menatap istrinya dengan tatapan yang lelah namun mencoba tetap tegap.
"Pindah ke hotel bukan solusi, Maya. Ini rumah baru kita, sistem keamanannya nomor satu. Ada satpam kompleks yang patroli setiap jam. Kalau kita lari, kita malah kalah oleh ketakutan kita sendiri. Lagipula, lebam di kakimu itu ... mungkin saja kamu tidak sengaja terbentur pinggiran ranjang waktu merangkak kemarin. Kulit wanita hamil kan sensitif."
Aryo berbohong. Ia tahu betul bentuk lebam itu adalah cetakan lima jari yang sempurna, bukan bekas benturan benda tumpul yang lurus.
Namun, mengakui adanya kekuatan gaib di rumah ini berarti meruntuhkan logika modernitas yang selama ini ia agungkan.
Maya hanya bisa mendesah pasrah, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan selimut. Ia tahu suaminya sedang keras kepala demi menjaga gengsi.
Tepat pada pukul sebelas malam, ketika jarum jam dinding berdetik pelan, keheningan itu mendadak dirobek oleh sebuah suara dari lantai dasar.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan itu terdengar berat, konstan, dan berwibawa. Berasal dari pintu jati besar yang menjadi gerbang utama rumah mewah tersebut.
Aryo dan Maya spontan menegang. Mereka saling melempar pandang. Di kawasan elit seperti Pondok Indah, tidak ada tamu yang bertamu menjelang tengah malam tanpa membuat janji terlebih dahulu melalui telepon atau interkom pos satpam.
"Siapa malam-malam begini?" gumam Aryo, meletakkan laptopnya di atas meja kaca.
"Jangan dibuka, Mas ...," bisik Maya, jemarinya mencengkeram lengan baju Aryo dengan sangat kuat hingga kukunya memutih. "Firasatku tidak enak. Tolong, jangan dibuka."
"Mungkin satpam depan, atau paket kilat yang tertunda, May." Aryo mencoba menenangkan, meski dadanya sendiri mulai berdegup kencang. Ia melepaskan tangan Maya perlahan.
"Kamu tunggu di sini, Sayang. Aku periksa dulu."
Aryo bangkit, melangkah menyusuri lorong tengah yang benderang menuju ruang tamu. Setiap langkah kakinya di atas marmer Italia menghasilkan gema yang terasa terlalu nyaring di dalam rumah yang sepi.
Ia berjalan mendekati pintu utama, lalu melongok melalui jendela kaca kecil yang dilapisi stiker buram di samping pintu.
Di luar, lampu teras setinggi tiga meter memancarkan cahaya putih yang benderang. Area teras yang luas dan anak tangga marmer menuju halaman depan terlihat jelas.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Aryo mengembuskan napas panjang, merutuki dirinya sendiri yang sempat ketakutan.
"Cuma orang iseng, atau mungkin angin," pikirnya. Ia berbalik, bersiap untuk kembali ke ruang keluarga.
Namun, baru dua langkah Aryo menjauh, suara itu kembali terdengar. Kali ini jauh lebih keras dan bertenaga.
TOK! TOK! TOK!
Pintu jati setebal sepuluh sentimeter itu bahkan terlihat sedikit bergetar akibat hantaman dari luar. Suaranya bergema memenuhi ruang tamu yang kosong, menciptakan sensasi seolah-olah ada seseorang yang sedang berdiri di luar dengan kemarahan yang tertahan.
Aryo berbalik dengan cepat. Jantungnya berpacu hebat. Ia kembali mengintip lewat jendela kaca.
Hasilnya sama, teras rumahnya kosong melompong. Kursi taman berbahan besi tempa di sudut teras tidak bergerak, daun-daun pohon hias di pot pun tenang tanpa hembusan angin.
"Siapa di luar?!" teriak Aryo, suaranya parau, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebagai pemilik rumah.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan malam yang kembali merayap.
Aryo mengatupkan rahangnya. Rasa kesal mulai bercampur dengan rasa takut yang aneh. Ia meraih gagang pintu kuningan yang besar, memutarnya, lalu menarik pintu itu terbuka lebar-lebar dengan sentakan kasar. Ia ingin membuktikan bahwa apa pun yang ada di luar hanyalah lelucon semata.
Udara dingin malam langsung menyergap wajah Aryo. Teras rumahnya benar-benar sepi. Di bawah siraman cahaya lampu yang benderang, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Aryo melangkah keluar, melihat ke arah kiri dan kanan koridor teras, lalu menatap lurus ke arah halaman depan yang dibatasi pagar besi tinggi.
Pagar itu terkunci rapat dengan rantai dan gembok dari dalam. Tidak mungkin ada orang yang bisa masuk dan keluar dari halaman ini tanpa memicu alarm atau menggoyang pagar.
"Sialan, apa aku sudah mulai berhalusinasi juga?" umpat Aryo pada dirinya sendiri.
Ia berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah. Namun, tepat ketika ia membalikkan badan menghadap daun pintu yang terbuka, langkah kakinya membeku total.
Di bagian luar daun pintu jati yang berwarna cokelat gelap itu, tepat di area setinggi dada orang dewasa, terdapat sesuatu yang membuat darah Aryo mendadak terasa berhenti mengalir.
Ada tiga buah bekas ketukan.
Namun, itu bukan bekas benturan tangan biasa. Bekas itu berupa guratan gosong berwarna hitam pekat, berbentuk seperti tiga ujung jari manusia yang terbakar, merusak lapisan pernis kayu yang mahal.
Dari tiga bekas guratan gosong itu, mengalir turun tetesan cairan kental berwarna merah kehitaman yang mengeluarkan aroma sangat busuk—bau daging yang membusuk di bawah terik matahari, bercampur dengan wangi bunga kantil yang pekat.
Bau itu begitu menyengat hingga membuat Aryo terbatuk, refleks mundur dua langkah ke belakang.
Belum sempat Aryo menguasai rasa ngerinya, dari arah dalam rumah—tepatnya dari ruang keluarga tempat ia meninggalkan Maya—terdengar suara jeritan histeris yang membelah malam.
"MAS ARYO!!! TOLONG!!!"
Aryo tidak memedulikan lagi pintu yang terbuka atau bau busuk di terasnya. Ia berlari kencang sekuat tenaga kembali menyusuri lorong menuju ruang keluarga.
Sesampainya di sana, pemandangan yang tersaji membuat lutut Aryo nyaris lolos dari sendinya.
Seluruh lampu di ruang keluarga yang semula menyala benderang kini berkedip-kedip dengan cepat bagai lampu disko yang rusak, sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan ruangan itu dalam temaram cahaya dari luar.
Di tengah kegelapan itu, Maya tidak lagi berada di atas sofa. Wanita itu merangkak di atas lantai marmer dengan posisi tubuh yang aneh, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menarik kedua pergelangan kakinya secara paksa menuju ke arah lorong dapur yang gelap gulita.
"Mas! Tolong aku, Mas! Ada yang menarik kakiku!" teriak Maya, jarinya mencakar-cakar permukaan marmer yang licin, mencoba mencari pegangan, namun tubuhnya terus terseret ke belakang secara perlahan namun pasti.
Aryo menerjang maju, menangkap kedua tangan Maya. Ia menarik tubuh istri mudanya dengan sekuat tenaga, melakukan aksi tarik-tambang melawan kekuatan tak kasat mata yang berada di dalam kegelapan lorong dapur.
Saat Aryo menarik Maya, ia bisa merasakan dengan jelas adanya resistensi yang sangat kuat, seolah-olah yang berada di ujung sana adalah gumpalan otot raksasa yang tak bernyawa.
"Pergi! Jangan ganggu istriku!" teriak Aryo histeris, air matanya mulai menetes karena rasa takut dan frustrasi yang memuncak. Ia merapalkan doa-doa pendek yang ia ingat dari masa kecilnya dengan terbata-bata.
Begitu nama Tuhan disebut dalam sebaris doa yang tidak sempurna itu, kekuatan gaib yang menarik Maya mendadak melepaskan cengkeramannya dengan sentakan mendadak. Aryo dan Maya terjerembap ke depan, jatuh di atas lantai marmer.
Suasana rumah kembali hening secara instan. Lampu-lampu ruangan perlahan menyala kembali, memancarkan cahaya kuningnya yang tenang seolah tidak pernah terjadi badai apa pun sebelumnya.
Maya langsung memeluk Aryo, menangis sejadi-jadinya hingga suaranya serak. Di bawah pendar lampu yang kembali menyala, Aryo melihat ke arah lorong dapur yang kosong.
Di atas lantai marmer yang bersih, terdapat sisa-sisa garis seretan basah berwarna hitam yang mengeluarkan bau anyir bunga kantil—garis yang terbentuk dari tempat Maya diseret hingga berhenti tepat di ambang kegelapan dapur.
Aryo mendekap kepala Maya ke dadanya, namun matanya menatap kosong ke langit-langit rumah mewahnya.
Pagar beton, pintu jati setebal sepuluh senti, dan status sosialnya sebagai miliarder Jakarta sama sekali tidak memiliki arti di hadapan kekuatan yang baru saja mengetuk pintunya.
Di dalam kepalanya, satu nama mendadak muncul dengan sangat jelas, sebuah nama yang selama 15 tahun ini selalu dikaitkan dengan keheningan yang mematikan: Sekar.
Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.
Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?
Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .