NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:94.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Datang bulan pertama

"Kamu kenapa sih, Ra? Baru datang kok mukanya sudah ditekuk begitu?"

Elsa, sahabat sekaligus teman sebangku Tiara, langsung menegur saat melihat wajah temannya itu murung sejak memasuki kelas.

Tiara meletakkan tasnya dengan sedikit kesal.

"Temenin aku ke kantin, yuk."

Elsa mengernyit.

"Memangnya kamu belum sarapan?"

Tiara mendengus.

"Kalau aku sudah sarapan, ngapain ngajak kamu ke kantin? Ayo cepat, nanti keburu masuk."

Tanpa menunggu jawaban, ia menarik lengan Elsa keluar kelas. Begitu tiba di kantin, Tiara langsung memesan semangkuk soto ayam dan segelas teh manis hangat. Ia menyantap makanannya dengan lahap.

Elsa yang duduk di depannya memperhatikan dengan heran.

"Ra, aku dengar ayahmu sudah menikah lagi."

Tiara mengangkat kepala.

"Iya."

"Memangnya Ibu sambungmu nggak nyiapin sarapan?"

Seketika sebuah ide muncul di kepala Tiara. Ini kesempatan bagus untuk membuat Kinanti terlihat buruk di mata orang lain. Ia tidak ingin hanya dirinya yang membenci perempuan itu.

"Boro-boro nyiapin sarapan," ujarnya sambil memutar mata. "Waktu aku berangkat sekolah, dia masih tidur nyenyak."

Padahal kenyataannya, Kinanti sudah bangun sejak subuh dan memasak di dapur. Namun Tiara memilih mengabaikan fakta itu.

Elsa langsung melongo.

"Serius?"

Tiara mengangguk meyakinkan.

"Kasihan banget kamu. Ternyata ibu tiri yang jahat itu bukan cuma ada di dongeng."

Tiara tersenyum tipis. Entah kenapa, mendengar Kinanti dicap buruk membuat hatinya sedikit puas.

Bel masuk berbunyi tepat saat teh manis Tiara habis. Ia dan Elsa segera kembali ke kelas. Pelajaran pertama pagi itu adalah Biologi. Pak Wiguna, guru Biologi yang terkenal disiplin dan jarang tersenyum, berdiri di depan kelas sambil menjelaskan materi tentang cara perkembangbiakan hewan.

"Ovipar adalah hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur. Vivipar melahirkan. Sedangkan ovovivipar bertelur dan melahirkan."

Namun perhatian Tiara sama sekali tidak tertuju pada papan tulis. Ia justru sibuk mengobrol dengan Elsa. Awalnya Pak Wiguna hanya melirik mereka beberapa kali. Hingga akhirnya kesabarannya habis.

"Tiara Maharani."

Suasana kelas langsung hening.

Tiara tersentak.

"Iya, Pak?"

"Sebutkan tiga contoh hewan ovipar."

Mata Tiara langsung membelalak.

Sejak tadi ia sama sekali tidak menyimak penjelasan. Ia menoleh ke arah Elsa.

"Ovipar itu apa?"

Elsa berbisik asal.

"Mungkin hewan berkaki empat."

Tiara langsung mengangguk seolah mendapat ilham.

"Ehm... kuda, sapi, dan kerbau, Pak."

Seisi kelas langsung pecah dalam tawa.Pak Wiguna memejamkan mata sesaat. Sementara Tiara hanya berkedip bingung.

"Sejak kapan sapi bertelur?" celetuk Adit dari bangku belakang.

"Kalau begitu nanti ada telur sapi, dong!"

Tawa kembali meledak.

"Tenang!" seru Pak Wiguna.

Kelas kembali hening. Tiara masih belum mengerti mengapa seisi kelas menertawakannya.

"Tiara Maharani. Maju ke depan."

"Buat apa, Pak?"

"Maju."

Dengan enggan, Tiara melangkah ke depan kelas.

Pak Wiguna menatapnya datar.

"Tadi saya bertanya apa?"

"Tiga contoh hewan ovipar."

"Dan kamu menjawab?"

"Kuda, sapi, kerbau."

"Bagus. Itu artinya kamu sama sekali tidak memperhatikan pelajaran."

Tiara mengernyit.

"Tapi saya ‘kan sudah menjawab."

Pak Wiguna menarik nafas panjang.

Ia lalu menunjuk ke arah bangku Elsa.

"Kamu yang memakai bando merah muda. Maju ke depan."

Elsa langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Saya, Pak?"

"Iya. Cepat."

Dengan wajah pasrah, Elsa maju ke depan kelas lalu berdiri di samping Tiara.

"Sekarang sebutkan tiga contoh hewan ovipar."

Elsa berpikir sejenak, lalu menjawab dengan penuh percaya diri.

"Sapi, kuda, kerbau."

Beberapa siswa langsung menunduk menahan tawa.

Pak Wiguna mengusap pelipisnya.

"Kalian berdua berdiri di depan tiang bendera dengan posisi hormat sampai jam pelajaran saya selesai."

"Hah?" Tiara membelalak. "Di luar panas banget, Pak!"

"Kalau tidak mau, lari keliling lapangan 40 putaran."

Tiara langsung terdiam.Elsa menyenggol lengannya.

"Sudah, jangan protes. Mendingan berdiri daripada lari."

Pak Wiguna menunjuk pintu.

"Silakan keluar."

Beberapa menit kemudian, Tiara dan Elsa berdiri di lapangan upacara dengan tangan memberi hormat ke arah tiang bendera. Matahari pagi mulai terasa menyengat.

"Kita salah apa sih sebenarnya?" tanya Elsa.

Tiara mendecak.

"Aku juga nggak tahu. Sudah jawab malah dihukum."

Waktu berjalan lambat, peluh mulai membasahi dahi keduanya.

“Si botak itu kejam banget!" umpat Tiara.

Bel pergantian jam pelajaran akhirnya berbunyi. Tiara dan Elsa langsung menghembuskan napas lega. Namun baru beberapa langkah hendak meninggalkan lapangan, Pak Wiguna muncul dari arah koridor. Pria berkepala plontos itu menatap mereka berdua.

"Inilah akibatnya jika bermain-main dengan saya.”

Setelah berkata demikian, ia berlalu begitu saja.

Tiara langsung menggerakkan tinjunya ke udara.

"Kalau bukan guru, sudah aku bogem itu kepala botaknya!”

Elsa terkekeh. Namun tawa itu mendadak terhenti saat Tiara meringis.

"Aduh..."

Wajahnya seketika pucat.

Kedua tangannya refleks memegangi perut.

"Tiara?" Elsa langsung panik.

"Kamu kenapa?"

Tiara membungkukkan tubuh sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasa nyeri di perutnya datang begitu tiba-tiba. Mula-mula hanya seperti kram ringan, tetapi dalam hitungan menit berubah menjadi rasa sakit yang membuatnya kesulitan berdiri tegak.

"Perutku sakit banget..." rintihnya.

Elsa mengernyit.

"Habis dijemur yang sakit malah perut? Harusnya kepala, dong."

"Aduh!"

Tiara memejamkan mata. Rasa nyeri itu kembali menyerang.

"Sakit banget, Sa. Aku nggak kuat!"

"Kamu mau BAB, ya?" tebak Elsa. "Ayo, aku temani ke toilet."

Tiara buru-buru menggeleng.

"Bukan. Ini bukan kebelet BAB."

"Kalau begitu, mungkin gara-gara tadi kamu makan terlalu banyak sambal?"

"Elsa..." Tiara hampir menangis. "Ini sakit banget."

Elsa mulai panik.

"Aduh, gimana ini?"

Tepat saat itu, seorang guru perempuan melintas di koridor.

"Tiara? Elsa? Kenapa kalian masih di luar kelas?"

Keduanya menoleh.

"Bu Mila," panggil Elsa lega.

Guru Bahasa Indonesia yang juga wali kelas VIII A itu segera menghampiri mereka.

"Ada apa?"

"Tiara sakit perut, Bu. Tapi dia bilang bukan mau BAB."

Bu Mila langsung menatap wajah Tiara yang tampak pucat.

"Kamu bisa jalan?"

Tiara mengangguk lemah.

"Elsa, tolong bawakan buku Ibu ke kelas."

"Baik, Bu."

Bu Mila kemudian merangkul bahu Tiara dan membawanya menuju ruang UKS.

Di ruang UKS, Bu Mila membantu Tiara berbaring di atas ranjang periksa. Ia mengoleskan minyak kayu putih ke perut siswinya itu dan memijatnya perlahan. Namun beberapa menit berlalu, rasa sakit itu tak kunjung mereda. Sebaliknya, nyerinya justru semakin menjadi. Tiara sampai harus meringkuk sambil memegangi perutnya.

Bu Mila memperhatikannya dengan saksama.

"Tiara, Ibu mau tanya sesuatu."

Tiara mengangkat wajahnya.

"Kamu sudah pernah menstruasi?"

Tiara menggeleng.

"Belum pernah, Bu."

Bu Mila mengangguk,

"Dari gejalanya, kemungkinan besar kamu sedang mengalami gejala menjelang menstruasi pertama. Beberapa anak perempuan memang merasakan nyeri yang cukup hebat sebelum haid."

Tiara belum sempat menanggapi ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembap di bagian bawah tubuhnya. Perasaan takut tiba-tiba menyergap.

Dengan tangan gemetar, ia melihat rok seragamnya. Ada bercak kemerahan di sana.

Wajah Tiara seketika memucat.

"Bu..."

Suaranya bergetar.

Bu Mila yang melihat ekspresi panik itu langsung memahami apa yang terjadi.

Alih-alih panik, guru itu justru tersenyum lembut.

"Tidak apa-apa, Tiara. Kamu sedang mengalami haid pertamamu."

Tiara terdiam. Perasaannya campur aduk antara takut, bingung, dan malu.

"Semua perempuan normal akan mengalaminya," lanjut Bu Mila menenangkan. "Jadi tidak perlu khawatir."

"Tunggu sebentar, ya."

Tak lama kemudian, Bu Mila kembali dengan membawa sebuah kantong plastik. Di dalamnya terdapat rok pengganti, celana dalam baru, dan sebungkus pembalut.

"Kamu tahu 'kan cara memakainya?"

Tiara mengangguk,

"Iya, Bu."

"Bagus. Ibu harus mengajar sekarang. Kalau sudah selesai, kamu bisa menyusul ke kelas."

"Baik, Bu. Terima kasih."

Setelah pintu tertutup, suasana mendadak sunyi. Tiara memandangi barang-barang yang ditinggalkan Bu Mila di atas kecil di samping ranjang.

Pembalut, celana dalam baru, serta rok pengganti. Entah kenapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Pandangannya mulai kabur oleh air mata. Di saat seperti ini, pikirannya justru melayang kepada satu sosok yang paling ia rindukan….Ratih.

"Ibu..."

Bisiknya lirih. Setetes air mata jatuh ke pipinya.

"Kalau Ibu masih ada, pasti Ibu yang akan menemaniku sekarang."

Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah. Ia menangis sendirian di ruang UKS yang sepi. Bukan karena takut menghadapi haid pertamanya. Melainkan karena untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan kehilangan yang begitu dalam. Ia merindukan pelukan ibunya, Merindukan suara lembut ibunya, merindukan seseorang yang selalu ada setiap kali ia ketakutan.

Tiara mengusap air matanya kasar.

“Nggak! Nggak ada yang bisa menggantikan ibu Ratih.

Karena baginya, seorang ibu hanya ada satu. Dan sebaik apapun Kinanti memperlakukannya, Tiara masih percaya bahwa semua itu hanyalah sebuah sandiwara yang suatu hari akan berakhir.

1
Rosmazita Imah
ayu selfish.
Arin
Semoga keputusan yang di ambil Ibu Salma, Kinanti dan Kenaan benar. Dengan mengikatkan dulu Mahesa dan Kalila dalam pertunangan. Biar mereka melakukan penjajakan perasaan, apakah akan di lanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak berjodoh.
Dan untuk Ayu lebih baik Mahesa kasih pemahaman kepadanya. Jangan buat Ayu terus berharap kepada nya....
sri hastuti: mahesa hrs tegas ,jngn lemah, jd laki2 hrs tegas ,ada batasan. terangkan , jngn dibiarkan ayu semaunya sendiri, dasar egois .
betul bu salma,disegerakan saja antara mahesa dngn kalila , gak sabar thor , 😡😡😡
total 1 replies
sri hastuti
alaaahhh drama, awas ya thor kl smp mahesa sm Kalila batal, biar dirasakan ayu, aku gak simpati sama sekali, dasar arogan dan egois, kyk ibunya, biar dirasakan, suka kok dipaksakan, 😡😡😡
sri hastuti
bagus thor akhirnya mahesa sm kalila ,aku kasih 👍 buat bu salma yg tegas , jd hrs ada batasan , 👍👍👍
pokoknya mahesa cm cocok sm kalila ,gak ada yg lain 👍👍👍
Arin
Lebih baik sakit pas baru memulai. Daripada sakit terjadi ketika sudah menjalin hubungan tapi di sakiti
My_Sunshine: betul-betul-betul😅
total 1 replies
sri hastuti
ayo thor, segera mahesa sm kalila , biar ayu sadar, dan ternyata sifat ayu jelek spt ibunya , tambah gak cocok sm mahesa 😡😡
Arin
Segerakan perjodohan dengan Kalila dan Mahesa. Biar Ayu segera sadar, kalau memang dari awal Mahesa bukan hanya menghindarimu dan tidak pernah memberi harapan dengan membalas pesan-pesanmu.
Rosmazita Imah
bagus. mahesa tetap jaga jarak. jangan di layan si ayu tu. sama je perangai dgn mak dia
sri hastuti
semoga segera terlaksana ,antara mahesa sm kalila thor, biar mereka berdua bahagia, singkirkan ayu , yg sombong itu 🙏😡😡
sri hastuti
lha gitu mahesa km hrs tegas ,gak usah ragu2, tolak aja ayu, perempuan kok gak punya harga diri , sombong ,gak cocok kl sm mahesa😡😡😡
Rosmazita Imah
ayu eh. kalau org x respone tu. maksudnya, org x berminat la ke awak. malu eh.
sri hastuti
alaaahh emang km sombong bu, sdh aku jugabgak suka kl ayu sm mahesa thor, lbh baik sm kalila aja thor,
dasar ayu juga gakbtau diri sdh gak di respon kok msh kejar2 mahesa 😡😡
sri hastuti
tolak aja ayu, mahesa,jangan mau ,km lebih baik sm kalila aja, buat sm ayu km akan diremehkan nanti ,
ayo thir ,jangan mahesa sm ayu lho ya 😡😡
Rosmazita Imah
terus terang je la mahesa. balik nanti saya akan menikah dgn kalila. biar ayu sedar diri. yg dia x ada makna pun.
Rosmazita Imah
jgn bermimpi la bu elina. mahesa pun x pandang dgn si ayu anak awak.
Arin
/Heart/
sri hastuti
bagus ozi, sdh relakan yg penting km sdh jadi baik, tata kembali masa don mu , 👍
thor ingat lho ,mahesa jangan sm ayu ,gak pas 🙏😡
Rosmazita Imah
bagus la. x nak. mahesa pun x tertarik pun pada anak awak bu elina oi. anak awak yg terhegeh2
ika
bagussss....
emang Mahesa bukan jodoh ayu
Mahesa mau nya ma Khalila
Arin
Bagus Bu Elina jangan sampai merestui hubungan Ayu. Biar Mahesa berjodoh dengan Kalila saja
sri hastuti: sdh betul itu jangan setuju ayu sm mahesa ,aku juga gak setuju,buar mahesa sm kalila aja thor, orng sombong gitu biar dpt karmanya 😡😡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!