NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Curhat

Tiga hari setelah arisan, Kartika mengirim pesan pada Nadhira melalui grup warga.

`Mbak, ini Kartika yang duduk dekat tanaman. Kalau tidak merepotkan, boleh minum teh bareng?`

Nadhira membaca pesan itu dua kali. Tidak ada permintaan bantuan, tidak ada cerita panjang, hanya ajakan yang terdengar seperti seseorang sedang menguji apakah pintu yang dilihatnya kemarin benar-benar terbuka.

Mereka bertemu di kafe kecil dekat taman kompleks pada pukul sepuluh pagi. Tempat itu tidak ramai. Musik diputar pelan, meja berjauhan, dan petugas pendamping Nadhira bisa menunggu di teras tanpa mendengar percakapan.

Kartika sudah datang lebih dulu. Ia mengenakan blus krem dan celana panjang, rambutnya diikat sederhana. Di depannya ada secangkir teh yang belum disentuh.

"Maaf menghubungi tiba-tiba, Mbak Dhira."

"Tidak apa-apa. Panggil saya Dhira saja kalau kamu nyaman."

Kartika tersenyum tipis. "Kalau begitu, Mbak Dhira dulu. Saya belum berani langsung akrab."

Nadhira tidak memaksa. Ia memesan teh melati dan roti panggang, lalu mendorong daftar makanan ke arah Kartika.

"Mau pesan sesuatu?"

"Tidak lapar."

"Baik. Kalau berubah pikiran, kita pesan nanti."

Mereka bicara tentang hal ringan lebih dulu. Jadwal arisan, taman yang terlalu banyak nyamuk setelah hujan, dan Bu Wulan yang benar-benar memesan kursi pijat dari uang undian. Kartika tertawa sekali, pendek tetapi nyata.

Setelah itu, diam turun di antara mereka.

Jemari Kartika kembali meremas ujung lengan baju.

"Waktu di arisan, Mbak Dhira tidak tanya kenapa saya kelihatan buruk."

"Saya juga pernah lelah menjawab pertanyaan saat belum siap."

"Orang biasanya bilang saya kurang bersyukur. Rumah bagus, suami mapan, tidak perlu bekerja. Katanya saya cari masalah sendiri."

Nadhira menunggu.

Kartika menatap permukaan teh. "Saya menikah karena semua orang bilang dia pilihan yang benar. Suami saya bukan orang jahat. Dia tidak memukul atau memaki. Tapi kami hidup seperti dua penghuni yang kebetulan berbagi alamat. Dia pergi pagi, pulang malam, dan kalau saya bilang tidak sanggup bangun dari tempat tidur, dia menyuruh saya liburan."

"Kamu pernah mengatakan apa yang kamu butuhkan?"

"Saya tidak tahu apa yang saya butuhkan."

Suaranya retak pada kalimat terakhir.

"Dulu saya dekat dengan Ayah. Setelah masalah keluarganya muncul, semua orang menjauh. Saya pindah mengikuti suami, jauh dari teman. Saya pikir setelah menikah saya akan punya rumah baru. Ternyata saya cuma punya kamar yang lebih besar."

Air mata jatuh ke punggung tangannya. Kartika buru-buru mengambil tisu.

"Maaf."

"Tidak perlu minta maaf karena menangis."

"Saya bahkan tidak tahu kenapa menangis."

"Boleh tidak tahu."

Kartika menutup wajah. Bahunya bergerak tanpa suara. Nadhira tidak menyentuhnya sebelum bertanya.

"Boleh saya pegang tanganmu?"

Kartika mengangguk.

Nadhira meletakkan telapak di atas tangannya. Tidak ada kalimat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak mengenal hidup Kartika cukup dalam untuk menjanjikan itu.

Beberapa menit kemudian, napas Kartika mulai teratur.

"Saya pernah datang ke psikolog," katanya. "Baru dua kali. Waktu itu saya diberi tahu gejala saya mengarah ke depresi dan perlu dinilai lebih lanjut. Saya tidak datang lagi."

"Kenapa?"

"Suami saya tidak melarang. Dia bilang terserah. Tapi setelah itu dia bertanya apakah masalah kami akan diceritakan kepada orang asing. Saya merasa seperti mengkhianatinya."

"Mencari bantuan untuk kesehatanmu bukan pengkhianatan."

Kartika menggigit bibir. "Mbak yakin?"

"Saya bukan psikolog, jadi saya tidak akan menilai kondisimu. Tapi saya yakin kamu berhak bicara dengan orang yang terlatih dan menjaga kerahasiaan sesuai profesinya."

Nadhira mengambil ponsel, tetapi tidak langsung mencari nomor.

"Kamu ingin saya membantu menemukan layanan, atau hari ini kamu hanya ingin didengar?"

Kartika menatapnya lama. "Hari ini didengar dulu. Besok mungkin bantu cari."

"Baik."

Jawaban itu membuat Kartika kembali menangis, kali ini tanpa meminta maaf.

Ia bercerita tentang hari-hari ketika mandi terasa terlalu berat, pesan teman yang tidak dibalas berbulan-bulan, dan makanan yang sering tetap utuh sampai malam. Ada hari lain ketika ia bisa tampil rapi di acara, tertawa, lalu pulang dan duduk di lantai kamar tanpa tenaga.

Nadhira mendengarkan tanpa menyebut kurang iman, malas, atau manja. Ketika Kartika mengatakan pernah berharap tidak perlu bangun, Nadhira tidak menganggapnya sekadar ungkapan.

"Apakah kamu pernah berpikir menyakiti diri atau membuat rencana?" tanyanya dengan suara tenang.

Kartika menggeleng. "Tidak ada rencana. Saya cuma ingin tidur dan tidak ditanya apa-apa."

"Kalau pikiran itu berubah menjadi dorongan atau rencana, hubungi layanan darurat, tenaga profesional, atau saya. Jangan tinggal sendiri."

Kartika mengangguk. Mereka menyepakati satu langkah kecil: sore nanti Kartika akan makan bersama seseorang, bukan mengurung diri. Besok, jika ia masih bersedia, Nadhira akan mengirim beberapa pilihan psikolog agar Kartika memilih sendiri.

"Jangan kirim ke suami saya dulu," kata Kartika.

"Saya tidak akan menghubungi siapa pun tanpa izinmu, kecuali ada bahaya langsung."

Ponsel Kartika bergetar. Layar menampilkan panggilan dari suaminya. Ia menatap nama itu sampai panggilan berhenti, lalu mengirim pesan singkat bahwa ia sedang minum teh dan akan pulang setelah makan siang.

"Saya biasanya langsung pulang kalau dia menelepon," katanya.

"Apa kamu takut kepadanya?"

Kartika berpikir. "Tidak. Saya takut dia kecewa. Entah kenapa itu terasa sama beratnya."

Nadhira tidak menyuruhnya bercerai atau bertahan. "Kamu bisa membicarakan pernikahan nanti, setelah tubuhmu punya cukup tenaga untuk memilih."

Kartika akhirnya memesan bubur ayam. Ia makan lambat, hanya beberapa suap, tetapi piringnya tidak lagi utuh.

Nadhira membantu Kartika menyusun daftar orang yang mungkin aman dihubungi. Bukan daftar panjang. Seorang sepupu yang pernah menjemputnya saat sakit, satu teman kuliah yang masih rutin mengirim ucapan ulang tahun, dan dokter keluarga yang mengetahui ia sulit tidur. Kartika memilih mengirim pesan kepada teman kuliahnya lebih dulu.

`Aku lama menghilang. Boleh telepon sebentar malam ini?`

Balasan datang kurang dari semenit.

`Boleh. Aku kangen. Jam berapa?`

Kartika menutup mulut dengan tangan. Matanya kembali basah, tetapi kali ini ia tersenyum.

"Saya kira semua orang sudah bosan menunggu."

"Kamu belum tahu sebelum bertanya," kata Nadhira. "Dan saya juga senang mendengarkan, tapi jangan jadikan saya satu-satunya pintu. Kamu perlu lebih dari satu orang dan bantuan yang memang terlatih."

Kartika mengangguk. Ia menetapkan alarm makan malam dan menyimpan nomor layanan kesehatan di daftar favorit. Langkah-langkah itu kecil, tidak menyembuhkan depresi dalam satu percakapan, tetapi membuat kepulangan hari ini tidak sepenuhnya kosong.

Sebelum berpisah, ia menyimpan nomor Nadhira dengan nama `Mbak Dhira`.

"Ayah saya dulu orang penting," katanya tiba-tiba. "Sebelum skandal itu."

Nadhira berhenti memasukkan ponsel ke tas.

Kartika menatap ke luar jendela, ke arah taman yang basah.

"Itu sebabnya semua orang di keluarga saya lebih takut pada malu daripada pada orang yang sedang tenggelam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!