NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Profesor Surya memandang foto yang ada di tangan Zain. Beberapa detik berlalu tanpa suara sebelum akhirnya ia menarik napas panjang.

"Itu... bukan sesuatu yang seharusnya kamu lihat sekarang."

Zain menyerahkan foto itu. "Maaf, Pak."

"Bukan salahmu."

Profesor menerima foto tersebut, lalu meletakkannya kembali ke dalam map. Namun kali ini, ia tidak menutup map itu. Justru ia duduk perlahan di kursi kayu tua.

"Zain."

"Iya, Pak."

"Apa menurutmu penelitian selalu berhasil?"

Zain menggeleng. "Enggak."

"Kalau begitu... menurutmu apa yang terjadi saat penelitian gagal?"

Zain berpikir sejenak. "Ya... alat rusak, data hilang, atau mulai lagi dari awal."

Profesor mengangguk. "Benar. Tapi ada penelitian yang gagal dengan cara yang lebih aneh."

Profesor bangkit, lalu berjalan menuju rak paling belakang. Dari sana ia mengambil sebuah kotak logam kecil yang sudah berkarat di beberapa sisi.

Saat dibuka, di dalamnya terdapat beberapa benda: sebuah kalung identitas hewan, foto kandang, dan buku catatan tipis.

Profesor menyerahkan buku itu kepada Zain. Di halaman pertama tertulis: *Subjek: M-01, Jenis: Mus musculus, Nama: Piko*.

"Tikus?" tanya Zain.

Profesor mengangguk. "Subjek pertama."

"Penelitian Bapak?"

"Iya."

Zain mulai membaca beberapa halaman. Isinya jadwal makan, berat badan, hingga hasil pemeriksaan kesehatan yang dicatat sangat rinci.

"Lucu juga namanya."

"Anak laboratorium yang memberi nama," Profesor tersenyum kecil. "Semua menyayanginya."

"Lalu..." Zain menelan ludah. "Yang enggak kembali itu..."

Profesor memandang jauh ke arah jendela. "Percobaan keempat puluh tujuh. Kami mencoba mengirim benda hidup, seekor tikus."

Ruangan menjadi sangat sunyi.

"Kami menyalakan alat, cuma beberapa detik. Tidak ada ledakan, tidak ada kebakaran, tidak ada kerusakan. Yang terjadi hanya..." Profesor berhenti sejenak. "...tikus itu menghilang."

Zain langsung mengangkat kepala. "Menghilang?"

"Iya."

"Terus?"

"Kami mencari ke seluruh ruangan, tidak ada. Putar rekaman kamera, tidak ada. Semua sensor... kehilangan jejaknya."

Zain merinding. "Terus ketemu?"

Profesor menggeleng perlahan. "Tidak pernah."

Ruangan kembali sunyi.

"Sejak hari itu..." lanjut Profesor. "...penelitian dihentikan selama hampir dua tahun."

"Karena bahaya?"

"Iya. Kami tidak tahu apakah tikus itu mati, hidup, atau berpindah ke tempat lain."

"Jadi tulisan 'tidak kembali'..."

"Itulah yang sebenarnya terjadi."

Zain memandang buku catatan kecil itu. Entah kenapa, ia merasa sedih. Meski hanya seekor tikus, tetap saja itu makhluk hidup.

"Tapi..." kata Zain pelan. "Kalau memang begitu berbahaya... kenapa Bapak lanjut?"

Profesor menatapnya. Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu datang bukan dari ilmuwan, tetapi dari orang biasa.

"Saya berhenti selama dua tahun. Belajar lagi, mengulang semuanya dari nol, memperbaiki teori, memperbaiki alat, dan berjanji... tidak akan pernah lagi menguji benda hidup sebelum benar-benar memahami apa yang terjadi."

Zain mengangguk pelan. Jawaban itu masuk akal—Profesor bukan orang nekat, justru sangat berhati-hati.

Sebelum meninggalkan ruang arsip, Profesor berkata, "Mulai hari ini... kamu boleh tahu satu hal."

"Apa itu, Pak?"

Profesor menutup kotak logam itu perlahan. "Saya tidak sedang mencoba membuat mesin waktu."

Zain mengernyit. "Lho?"

"Saya sedang mencoba..." Profesor menatap cincin kunci di tangannya. "...memahami waktu."

Kalimat itu jauh lebih membingungkan daripada semua penjelasan sebelumnya. Namun Zain tidak bertanya lagi. Ia merasa masih terlalu banyak yang belum ia ketahui—dan mungkin Profesor Surya sendiri pun belum memiliki semua jawabannya.

Dua hari berlalu. Zain tetap menjalani rutinitasnya sebagai pengemudi ojol, namun sekarang setiap kali menunggu orderan, pikirannya melayang ke ruang arsip.

Objek tidak kembali.

Kalimat itu terus terngiang. Meski Profesor sudah menjelaskan bahwa percobaan tersebut terjadi puluhan tahun lalu, rasa penasarannya justru semakin besar.

Hari Kamis, setelah mengantar Profesor Surya ke kampus, Zain memberanikan diri bertanya.

"Boleh saya nanya satu hal lagi?"

Profesor tersenyum. "Silakan."

"Kalau memang bukan mesin waktu... terus cincin besar itu buat apa?"

Profesor tidak langsung menjawab. Ia justru mengajak Zain masuk ke ruang kerjanya. Di atas meja sudah tersedia dua cangkir kopi.

Profesor mengambil selembar kertas kosong, lalu menggambar sebuah garis lurus. "Menurutmu ini apa?"

"Jalan."

"Boleh." Profesor memberi titik di ujung kiri. "Lahir." Lalu memberi titik di ujung kanan. "Meninggal."

"Kalau hidup manusia... biasanya kita menganggap waktunya seperti ini."

Zain mengangguk. "Iya."

Profesor kemudian menggambar sebuah lingkaran yang memotong garis tadi. "Bagaimana kalau... sebenarnya waktu bukan garis, tetapi seperti kain yang bisa dilipat?"

Zain memperhatikan gambar itu. "Kain?"

Profesor mengambil dua ujung kertas, lalu melipatnya hingga kedua titik tadi saling berdekatan. "Kalau titik ini bertemu... jaraknya jadi dekat, padahal tadinya jauh."

Mata Zain mulai berbinar. "Oh... jadi bukan jalan muter, tetapi dilipat."

Profesor tersenyum puas. "Persis. Itulah teori yang saya kejar."

"Tapi..." Zain mengernyit. "Kalau cuma dilipat... berarti bukan pindah waktu."

"Benar," Profesor mengangguk. "Itu sebabnya saya selalu mengatakan bahwa saya tidak membuat mesin waktu. Saya mencoba membuat jalan pintas."

"Jalan pintas?"

"Iya. Kalau teori saya benar, yang berpindah bukan waktunya, tetapi... posisi kita terhadap waktu."

Zain mulai menggaruk-garuk kepala. "Saya mulai pusing."

Profesor tertawa. "Itu normal. Saya juga pusing waktu pertama kali memikirkannya."

Keduanya tertawa. Beberapa saat kemudian, Profesor membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah bola logam kecil sebesar kelereng.

"Lihat." Profesor meletakkan bola itu di tengah meja, lalu menekan sebuah tombol kecil di sampingnya.

Bola logam itu perlahan melayang sekitar lima sentimeter dari permukaan meja.

"Lho!" Zain spontan berdiri. "Itu pakai magnet?"

"Bukan."

"Terus?"

"Masih prototipe." Profesor mematikan alat itu dan bola kembali jatuh ke meja. "Kamu tidak perlu memahami rumusnya, cukup tahu satu hal."

"Apa?"

"Kadang... sesuatu yang terlihat mustahil itu hanya karena kita belum tahu cara kerjanya."

Zain mengangguk pelan. Ia memang tidak mengerti fisika, namun satu hal ia pahami: Profesor Surya bukan sedang bermain-main. Orang tua itu telah menghabiskan hampir tiga puluh tahun mengejar sesuatu yang bahkan belum tentu bisa dibuktikan.

"Saya boleh jujur?"

"Tentu."

"Kalau orang lain yang ngomong begini... saya pasti sudah kabur."

Profesor tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Lalu kenapa kamu tidak kabur sekarang?"

Zain ikut tersenyum. "Soalnya... Bapak enggak pernah maksa saya buat percaya."

Profesor memandang Zain beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Itu jawaban yang bagus."

Saat Zain hendak pulang, Profesor memanggilnya.

"Sabtu nanti."

"Iya, Pak?"

"Saya ingin memperlihatkan sesuatu."

"Apa lagi?"

Profesor tersenyum tipis. "Bukan teori, bukan dokumen, bukan juga motor merah."

"Lalu?"

Profesor melirik ke arah parkiran kampus, tempat motor matik Zain terparkir. "Motor milikmu."

Zain berkedip. "Motor saya kenapa?"

"Sudah waktunya... kita mulai tahap berikutnya."

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!