Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Bab 7
Keesokan paginya, Karin datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di depan gerbang sambil sesekali melihat jam tangan.
Pukul tujuh lewat sepuluh menit.
Belasan mahasiswa mulai berdatangan. Beberapa di antaranya menyapanya, tetapi Karin hanya membalas dengan senyum tipis.
Pikirannya sedang kalut.
Hari ini ia harus berbicara lagi dengan Kai. Kalau kembali ditolak, ia benar-benar kehabisan cara.
"Karin!"
Nia datang sambil membawa dua gelas es kopi.
"Nih."
Karin menerima gelas itu.
"Makasih."
"Dari tadi kamu ngelamun terus. Ada masalah?"
Karin menggeleng.
"Cuma kurang tidur."
"Jangan bohong."
Nia menyenggol lengannya pelan.
"Sejak kemarin kamu berubah."
Karin hanya tertawa kecil.
"Kalau nanti ada apa-apa, aku pasti cerita."
"Janji?"
"Janji."
Bel kuliah berbunyi. Mereka segera menuju kelas.
-
-
-
Hari itu, perkuliahan terasa begitu lambat. Karin bahkan beberapa kali tidak mendengar penjelasan dosen. Begitu jam terakhir selesai, ia langsung berpamitan kepada Nia.
"Kamu nggak jadi ke perpustakaan?" tanya Nia.
"Nggak dulu. Aku ada urusan."
"Lagi-lagi urusan." Nia mendesah pasrah. "Ya sudah. Jangan lupa besok tugasnya."
"Iya."
Karin mempercepat langkah menuju lapangan basket. Ia masih ingat, pada kehidupan sebelumnya, Kai hampir selalu menghabiskan waktu sore di sana sebelum berangkat bekerja.
Dan benar saja.
Dari kejauhan, Kai terlihat sedang duduk sendirian di bangku tribun. Di sampingnya terdapat tas hitam dan sebotol air mineral. Tatapannya lurus ke arah lapangan yang kosong.
Karin menarik napas panjang.
"Ayo, Karin. Kamu harus berani." Ucapnya, lirih.
Karin berjalan mendekat.
Kai menyadari kedatangannya, tetapi tidak langsung berbicara.
"Kamu lagi."
"Iya."
Kai bergeser sedikit, memberi ruang di bangku.
"Duduk saja."
Karin duduk dengan canggung. Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Suasana menjadi hening. Hanya suara angin yang menggoyangkan daun-daun di sekitar lapangan.
"Aku sudah bilang jawabannya tetap tidak."
Kai memecah keheningan.
"Aku tahu."
"Terus?"
Karin menatap kedua tangannya.
"Aku cuma ingin menjelaskan sedikit."
Kai tidak menyela.
"Aku memang tidak bisa menceritakan semuanya. Tapi aku benar-benar sedang berusaha melindungi keluargaku." Karin mengatur napas. "Kalau aku gagal...orang yang kusayangi, akan menderita."
Suara Karin terdengar lirih.
Kai menatap wajah gadis itu beberapa saat. Tatapan itu sama seperti kemarin. Penuh ketakutan.
"Apa laki-laki itu pacarmu?" Kai bertanya tiba-tiba.
Karin mengernyit.
"Laki-laki yang kemarin menunggumu di gerbang."
"Oh..., bukan. Namanya Gio. Dia terus mengejarku."
Kai mengangguk pelan.
"Kalau begitu laporkan saja."
"Tidak semudah itu."
"Kenapa?"
Karin menggigit bibir.
Karena semua belum terjadi. Dan tidak ada seorang pun yang akan percaya jika ia berkata Gio akan menghancurkan keluarganya. Namun semua itu tidak mungkin ia jelaskan.
"Ada alasan yang belum bisa kuceritakan."
Kai mengembuskan napas.
"Kamu memang misterius."
Karin tersenyum tipis.
"Mungkin. Tapi aku tidak sedang berbohong."
Kai menatap lapangan lagi.
"Aku percaya."
Jawaban itu membuat Karin menoleh cepat.
"Kamu... percaya?"
"Iya. Kamu memang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu... Tapi bukan tipe orang yang suka mengarang cerita."
Mata Karin mulai berkaca-kaca. Sudah lama sekali tidak ada orang yang mempercayainya.
"Kai..."
"Aku belum selesai."
Kai memotong.
"Aku percaya. Tapi itu bukan alasan untuk menjadi pacar pura-puramu."
Senyum Karin langsung menghilang.
"Tapi..."
"Maaf. Aku tidak suka berbohong."
Hening kembali menyelimuti mereka.
Beberapa menit berlalu.
Karin akhirnya berdiri.
"Maaf. Aku sudah merepotkan mu. Aku tidak akan mengganggumu lagi."
Ia membungkukkan badan singkat, lalu berbalik pergi.
Kai memperhatikan punggung gadis itu yang semakin menjauh. Entah mengapa, langkah Karin terlihat jauh lebih berat dibanding kemarin. Seolah semua harapannya ikut hilang.
-
-
-
Karin berjalan tanpa tujuan. Tanpa sadar ia sudah berada di taman belakang kampus. Ia duduk di bawah pohon besar sambil memeluk lutut.
"Harus bagaimana lagi?"
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia bukan menangis karena ditolak. Melainkan karena waktu yang dimilikinya semakin sedikit.
Kalau Papa mengetahui ia berbohong, pasti beliau akan kecewa. Namun kalau ia mengatakan yang sebenarnya...Papa dan Mamanya tidak akan pernah percaya bahwa ia datang dari masa depan.
"Karin?"
Suara seorang laki-laki membuatnya buru-buru menghapus air mata.
Karin menoleh. Kai berdiri beberapa langkah di depannya.
"Kamu...?! Kok ke sini?"
Kai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Karin memaksakan senyum.
"Aku baik."
"Bohong."
Kai menatap matanya.
"Orang baik tidak menangis sendirian di taman."
Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Karin runtuh.
"Aku capek..." Suara Karin bergetar. "Aku benar-benar capek."
Kai terdiam. Ia tidak bertanya apa pun. Ia hanya berdiri di samping Karin, membiarkan gadis itu menenangkan dirinya.
Beberapa menit kemudian, Karin mengusap air matanya.
"Maaf. Kamu pasti menganggapku aneh."
"Aku memang menganggapmu aneh."
Jawaban jujur itu justru membuat Karin tertawa kecil.
"Tapi..., aku juga merasa kamu sedang meminta tolong."
Karin mengangguk pelan.
"Iya."
Kai menghela napas panjang.
"Aku tidak akan menjadi pacarmu."
Hati Karin kembali jatuh.
"Tapi..., aku bisa berpura-pura menjadi teman dekatmu."
Karin menatap Kai penuh harap.
"Teman dekat?"
"Iya. Kalau setelah itu keluargamu masih memaksamu, baru kita pikirkan jalan lain."
Meski belum sesuai harapannya, setidaknya Kai tidak lagi menolak mentah-mentah.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Kai mengangguk.
"Tapi aku punya syarat."
"Syarat?"
"Kamu harus berhenti menangis sendirian."
Karin tertegun.
"Itu syarat?"
"Iya."
"Karena aku paling tidak suka melihat orang menangis."
Tanpa sadar, senyum tulus menghiasi wajah Karin. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia merasa tidak sedang berjuang sendirian.
Kai ikut berdiri.
"Besok aku libur kerja. Kalau memang perlu, aku bisa menemanimu pulang."
Karin mengangguk.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka berjalan keluar dari taman berdampingan.
Tidak ada yang menyadari bahwa dari balik gedung perpustakaan, sepasang mata sedang mengawasi mereka.
Gio menatap kedua orang itu dengan wajah datar. Tangannya mengepal kuat.
"Teman dekat?" gumamnya pelan. "Kita lihat saja... sampai kapan."
Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
Tanpa disadari Karin dan Kai, ancaman itu kini mulai bergerak lebih cepat dari kehidupan yang pernah Karin alami.
-
-
-
Bersambung...