Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Pengkhianatan
Ujung telunjuk Keira menggeser tiga bukti di layar ponsel: foto gelas sampanye, tangkapan layar WhatsApp, dan salinan awal laporan keamanan hotel.
Dia meletakkan ponsel itu di atas meja resto, tepat di depan Revan.
"Katakan sekali lagi kalau kamu tidak tahu minuman itu dicampur sesuatu."
Di seberangnya, Revan tidak menyentuh makanan yang mendidih di panci kecil. Asap kuah membatasi wajah mereka seperti dinding tipis.
Siang itu baru dua belas jam berlalu sejak Keira keluar dari rumah sakit. Dokter memastikan kondisinya stabil, tetapi lengan kirinya masih menyisakan bekas jarum infus. Telapak kaki kanannya dibalut perban tipis. Dia datang bukan karena tubuhnya sudah pulih.
Dia datang karena tidak mau memberi Revan kesempatan menyusun kebohongan lebih lama.
"Turunkan suaramu," kata Revan. "Orang-orang melihat."
Keira melirik meja sebelah. Dua pengunjung memang menoleh, lalu pura-pura sibuk memanggang daging.
"Semalam kamu tidak keberatan Pak Teguh melihatku hampir tidak sadar. Sekarang kamu malu dilihat orang?"
Rahang Revan menegang. "Aku tidak tahu Wenny menaruh apa di gelasmu."
"Jadi kamu mengakui Wenny yang melakukannya."
"Aku tidak bilang begitu."
"Kamu baru saja bilang."
Revan mengembuskan napas kasar. "Kamu selalu begini. Semua kata dipelintir sampai aku terlihat jahat."
Keira menekan tombol putar. Suara Revan dari rekaman parkiran memenuhi ruang di antara mereka.
Kalau kamu keluar dari sini sambil membawa masalah ini ke polisi, kariermu di NusAir selesai.
Tangannya bergerak hendak merebut ponsel. Keira lebih cepat menariknya.
"Hapus rekaman itu."
"Tidak."
"Keira, dengarkan dulu. Pak Teguh punya kuasa atas jadwal terbang dan evaluasi. Kamu sedang diskors setelah membuat keributan di acara perusahaan. Kalau masalah ini dibawa keluar, bukan cuma aku yang habis. Kamu juga."
"Aku membuat keributan?"
Sendok di tangan Keira jatuh ke piring. Bunyi logamnya membuat beberapa kepala kembali menoleh.
"Kalian memberiku obat, mendorongku ke kamar seorang atasan, lalu mengejarku sampai parkiran. Bagian mana yang menjadi salahku?"
"Tidak ada yang berniat memperkosamu." Revan merendahkan suara. "Pak Teguh cuma suka perempuan yang tahu cara menyenangkan atasan. Kamu terlalu kaku. Terlalu tidak peka."
Ujung jari Keira mendingin.
Dia pernah membela Revan di depan Meilin. Pernah menukar jadwal terbang agar bisa merayakan ulang tahun pria itu. Pernah percaya ketika Revan berkata kedekatannya dengan Wenny hanya bagian dari urusan kerja.
Semua kenangan itu sekarang berbau seperti sampanye semalam.
"Sudah berapa lama?"
Revan mengerutkan kening. "Apa?"
"Kamu dan Wenny."
Ada jeda. Mata Revan bergeser ke panci yang terus mendidih.
"Itu tidak ada hubungannya dengan kejadian semalam."
"Berapa lama?"
"Jangan mulai drama lain."
Keira mengambil ponsel, membuka sebuah foto yang dikirim akun tak dikenal pagi tadi. Revan dan Wenny keluar dari apartemen yang sama. Tanggalnya tiga bulan lalu.
Wajah Revan berubah.
"Siapa yang mengirim itu?"
"Jadi benar?"
Dia bersandar. Topeng cemasnya akhirnya lepas. "Ya. Benar. Aku bersama Wenny. Puas?"
Asap panas menyentuh wajah Keira, tetapi pipinya terasa kebas.
Revan melanjutkan, kini tanpa rasa bersalah. "Setidaknya dia mengerti caranya mendukung pasangan. Dia tidak sok suci. Dia punya koneksi, ayahnya pemegang saham, dan dia tidak membuat semua hal menjadi pertengkaran."
"Lalu aku?"
"Kamu?" Revan tertawa pendek. "Kamu cuma mengandalkan nilai ujian dan seragam itu. Selalu merasa kemampuanmu cukup. Dunia tidak berjalan seperti kokpit, Keira. Kadang kamu harus tahu kapan tersenyum, kapan diam, dan siapa yang perlu dibuat senang."
Keira menatap pria yang pernah ingin dia ajak membangun masa depan.
Yang duduk di hadapannya adalah orang asing.
"Jadi semalam kamu menyerahkanku kepada Pak Teguh karena Wenny dan ayahnya bisa membantu kariermu?"
"Jangan pakai kata menyerahkan."
"Sebutkan kata yang lebih bagus."
Revan tidak mampu menjawab.
Keira mengangkat gelas air. Jemarinya sempat gemetar, lalu tenang.
"Hubungan kita selesai."
"Jangan mengancamku."
"Aku tidak mengancam. Aku memutuskan hubungan kita."
Dia membanting gelas ke meja. Air tumpah melewati piring Revan dan membasahi lengan kemejanya. Beberapa orang terkesiap. Keira berdiri, memasukkan ponsel serta amplop laporan rumah sakit ke tas.
Revan ikut bangkit. "Kalau kamu pergi sekarang, jangan pernah minta bantuanku di NusAir."
Keira menahan sakit di kaki kanannya dan menatap lurus ke matanya.
"Aku menjadi pilot sebelum mengenalmu. Aku juga akan tetap terbang setelah melupakanmu."
Dia berbalik dan berjalan keluar.
Udara Jakarta menyambutnya dengan panas trotoar dan suara klakson. Keira bertahan sampai pintu kaca resto menutup di belakangnya. Setelah itu napasnya patah.
Dia berhenti di samping pot tanaman, menekan nomor Vera.
Panggilan dijawab sebelum dering kedua.
"Keira? Kamu di mana? Aku sudah mau pesan ojek ke apartemenmu."
Keira membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
"Keira?"
Satu isakan lolos. Keira menutup wajah dengan telapak tangan.
"Dia mengaku, Ve." Bahunya bergetar. "Tiga bulan. Mungkin lebih. Dan semalam dia benar-benar tahu."
Suara Vera langsung berubah tajam. "Kirim lokasi. Aku datang sekarang. Jangan sendirian."
"Aku cuma mau pulang."
"Kalau begitu tetap di tempat ramai. Pesan mobil, kirim nomor pelatnya ke aku, dan telepon jangan dimatikan. Dengar?"
Keira mengangguk sebelum sadar Vera tidak bisa melihatnya. "Iya."
"Kamu tidak kehilangan orang baik, Keira. Kamu baru saja membuang sampah yang bisa bicara."
Tawa kecil keluar di antara air mata Keira.
"Itu sangat jahat."
"Aku bisa lebih jahat kalau bertemu dia. Sekarang tarik napas."
Keira mengikuti hitungan Vera sampai dadanya tidak lagi sesak. Setelah memastikan mobil pesanannya lima menit lagi tiba, dia mengakhiri panggilan.
Aroma jagung bakar dari warung kecil di tepi trotoar membuatnya menoleh.
Seorang pria duduk di bangku plastik, kemeja hitamnya diganti kaus abu-abu polos. Lengan bajunya digulung. Di satu tangan ada jagung bakar, di tangan lain ponsel dengan layar retak.
Keira mengenali tatapan tenang itu lebih dulu.
Pria dari parkiran.
Dia juga melihat Keira. Pandangannya turun ke perban di kaki, lalu kembali ke wajahnya.
"Kamu tidak pingsan," katanya.
"Kamu terdengar kecewa."
"Justru lega."
Keira mendekat sambil memeluk tas. "Jasmu ada di apartemenku. Sudah dicuci."
"Simpan dulu."
"Aku bukan tempat penitipan barang."
Pria itu menggeser bangku plastik di sampingnya. "Duduk. Wajahmu seperti baru menabrak badai kedua."
"Aku baru putus."
"Selamat."
Keira menatapnya tidak percaya.
"Kalau pria itu yang mengejarmu semalam, selamat adalah kata yang tepat."
Keira duduk. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari resto, napasnya terasa ringan.
"Namaku Keira," katanya. "Kemarin kamu tidak sempat mendapat jawaban."
"Kai."
Hanya Kai. Tidak ada nama keluarga, jabatan, atau penjelasan tentang Rolls-Royce.
Keira melirik jagung di tangannya, kaus sederhana, dan ransel kecil di bawah bangku. Di layar ponselnya terbuka daftar kamar sewa. Beberapa pesan bertuliskan penuh dan belum bisa masuk.
"Kamu belum punya tempat tinggal?"
Kai mengangkat satu alis. "Untuk sementara."
Mobil pesanannya berhenti di depan trotoar. Pengemudi mengirim pesan bahwa dia sudah tiba.
Entah karena pria itu menyelamatkannya, entah karena Keira tidak ingin ada orang lain merasa sendirian malam ini, kalimat itu meluncur lebih cepat daripada akal sehatnya.
"Kamu bisa tinggal di rumahku sementara."
Kai berhenti menggigit jagung.
Keira sendiri membeku.
Apa yang baru saja dia katakan?