Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Yunche!"
Sebuah suara jernih bergema menembus keheningan Hutan Bambu. Yunche refleks berpaling dan mendapati sosok Gu Qingli sedang berlari terengah-engah menghampirinya. Helaian rambut halus gadis itu tampak sedikit berantakan, dan helaan napasnya naik-turun menahan lelah, tetapi sepasang matanya terpancar cemas yang tak tertutup-tupi.
Yunche mematung di tempatnya. "Qingli?"
Tanpa membuang waktu, Gu Qingli langsung memburu ke depannya. "Kau tidak apa-apa?!"
Yunche menggeleng pelan. "Tidak... aku baik-baik saja."
Gu Qingli memindai seluruh tubuh Yunche dengan cermat. "Ada yang terluka? Katakan padaku!"
"Sungguh, aku tidak apa-apa."
"Jangan berbohong!" cetus Gu Qingli seraya memegang kedua bahu Yunche dengan erat.
Yunche menatap jemari gadis itu yang hinggap di bahunya, lalu perlahan mendongak mengunci pandangannya pada wajah Gu Qingli. "Qingli... kenapa kau bisa ada di sini?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Gu Qingli mendadak bungkam. "Aku..." Dia tertahan, kehilangan kata-kata.
"Kenapa kau mencariku sampai ke sini?" ulang Yunche lembut.
Gu Qingli terburu-buru memalingkan wajahnya yang mendadak terasa hangat. "Aku... cuma khawatir," bisiknya lirih.
Yunche terpaku. Hanya dua kata sederhana, tetapi dampaknya sanggup membuat degup jantung di dadanya berpacu jauh lebih cepat dari biasanya.
"Aku..." Yunche kehilangan kalimat untuk membalas.
Sadar akan tatapan intens Yunche, Gu Qingli menoleh kembali. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Tidak ada apa-apa."
"Jangan bohong lagi."
Yunche mengulas senyum tipis yang hangat. "Aku cuma... merasa senang."
"Senang untuk apa?"
"Karena kau datang mencariku."
Keheningan melingkupi mereka sejenak. Angin malam berembus perlahan, mengayun lembut helai rambut Gu Qingli. Tepat ketika Yunche hendak membuka mulutnya untuk menyambung kata, secara mengejutkan... Gu Qingli justru melangkah maju dan memeluknya.
Yunche membeku total. "Qingli?"
Gu Qingli tak menyahut. Cengkeraman jemarinya pada jubah Yunche makin mengencang. Dari jarak sedekat ini, Yunche dapat merasakan getaran halus dari tubuh gadis itu.
"Jangan..." bisik Gu Qingli lirih, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Jangan pernah mendadak menghilang seperti itu lagi. Jangan pergi ke mana pun tanpa memberitahuku."
Yunche terpaku. "Qingli..."
"Aku... aku sangat tidak menyukainya," aku Gu Qingli pelan seraya memejamkan mata rapat-raptat.
Yunche berdiri mematung hingga lupa cara bernapas untuk beberapa detik. Perlahan, dia mulai mengangkat kedua tangannya, berniat membalas pelukan hangat itu. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh punggung Gu Qingli, gadis itu terperanjat sadar dan buru-buru melepaskan pelukannya seraya mundur beberapa langkah.
Wajah Gu Qingli bersemu merah padam. "Aku..."
Yunche juga salah tingkah, menggaruk belakang kepalanya canggung. "Ya?"
"Tadi itu... aku..." Gu Qingli mencari alasan dengan panik.
"Kenapa?"
Sembari memalingkan wajahnya yang memanas, Gu Qingli mencetuskan alasan absurd, "...Aku tadi cuma terpeleset."
Yunche melongo. "Hah?"
Gu Qingli menunjuk lurus ke permukaan tanah di antara mereka. "Tanahnya licin!"
Yunche menurunkan pandangannya menatap tanah hutan. Kering. Sangat amat kering tanpa secelah pun area berlumpur. "Qingli."
"Apa?!" sergah gadis itu cepat.
"Tanah ini..."
"Aku bilang tanahnya licin, ya licin!" paksanya menatap galak.
"Oh," Yunche mengangguk-angguk paham, tak berani membantah lagi. "Baiklah kalau begitu."
Gu Qingli menatapnya curiga. "Kenapa kau tidak membantah alasanku?"
Yunche menyunggingkan senyum tulus yang manis. "Karena aku percaya padamu."
Jawaban itu seketika membungkam Gu Qingli. Rona merah di pipinya kian menyebar hingga ke ujung telinga. "Idiot..." bisiknya gusar.
Yunche terkekeh pelan. Namun, tawa itu tak bertahan lama. Bayangan rahasia kelam tentang Gu Tianming mendadak berputar kembali di kepalanya. Yunche menatap Gu Qingli, dorongan untuk bertanya atau menuntut penjelasan sempat meletup di dadanya. Namun, dia tak sanggup menyampaikannya—tidak di saat gadis itu baru saja menunjukkan ketulusan dan ketakutannya kehilangan Yunche.
Yunche memilih memendamnya dalam-dalam. Di saat yang sama, Gu Qingli pun menyimpan rahasia tentang percakapan ayahnya sendiri. Mereka berdiri berdampingan di bawah bayang-bayang pohon, sama-sama tak menyadari kebohongan yang terpaksa diikat rapat oleh satu sama lain.
Malam harinya, Yunche kembali ke kediaman Keluarga Shen, sementara Gu Qingli pulang ke kediaman Keluarga Gu. Mereka berpisah tepat di depan gerbang utama kota.
Sebelum memutar langkah, Gu Qingli sempat menoleh. "Yunche."
"Hm?"
"Besok..." Kalimatnya menggantung sejenak. "...jangan pergi ke mana-mana, ya?"
Yunche mengerutkan kening heran. "Memangnya kenapa?"
"Aku ingin..." Gu Qingli berdeham pelan. "...aku ingin kita berlatih bersama lagi."
Yunche menyunggingkan senyum hangat. "Baiklah."
"Kau berjanji?"
"Ya, aku berjanji."
Gu Qingli mengangguk lega, lalu berbalik melangkah pergi. Yunche memperhatikan punggung gadis itu yang perlahan menghilang di balik kegelapan malam. Senyum di wajah Yunche memudar perlahan. Dia tahu, janji itu tak akan pernah ditepatinya. Keputusannya sudah bulat: dia harus menuju Gunung Tianyuan, walau tak tahu apakah dia bisa kembali dengan selamat.
Tiga malam berlalu.
Di dalam kamar yang temaram, Yunche sibuk memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas kainnya. Sebuah pedang, bekal perjalanan secukupnya, dan liontin hitam peninggalan sang ayah terkumpul di atas meja.
Tepat saat dia bersiap mengikat tasnya, sebuah ketukan pelan menyapa pintunya.
"Yunche."
Yunche membeku seketika. Suara itu... Gu Qingli.
Yunche panik setengah mati. Dia terburu-buru menghampiri pintu dan membukanya sedikit, menghalangi pandangan ke dalam kamar dengan tubuhnya. "Qingli? Kenapa datang malam-malam begini?"
"Ada yang ingin kutanyakan padamu," sahut Gu Qingli datar.
"Bisakah kita bicarakan besok pagi saja?"
"Kenapa harus menunggu besok?" Gu Qingli memicingkan mata, menyadari posisi berdiri Yunche yang terkesan janggal. "Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"
"Tentu saja tidak!" tolak Yunche cepat.
"Geser tubuhmu."
"Untuk apa?"
"Aku mau masuk."
"Jangan! Kamarku... kamarku sedang sangat berantakan," alibi Yunche asal.
Gu Qingli menatapnya makin curiga. "Sejak kapan kau peduli kamarmu berantakan atau tidak?"
Yunche terbungkam.
"Shen Yunche," panggil Gu Qingli dengan nada dingin penumpas kebohongan. "Geser."
Yunche tetap bergeming. Kehabisan kesabaran, Gu Qingli mendorong bahu pemuda itu hingga Yunche hilang keseimbangan dan melangkah mundur. Gu Qingli menerobos masuk ke dalam kamar.
Pandangan gadis itu langsung tertuju pada tas kain yang terikat rapuh di atas meja, lengkap dengan pedang, perbekalan, dan liontin hitam di sampingnya. Raut wajah Gu Qingli berubah drastis.
"Kau mau pergi," vonis Gu Qingli dingin.
Yunche mematung, tak mampu mengelak lagi.
"Ke mana kau akan pergi?" tuntut Gu Qingli.
"Aku... aku tidak ke mana-mana."
"Jangan berani-berani berbohong padaku lagi, Yunche!" pangkas Gu Qingli dengan nada meninggi.
Yunche menghela napas panjang. "Qingli, dengarkan aku dulu..."
"Kau mau pergi ke Gunung Tianyuan, kan?!" tembak Gu Qingli tepat sasaran.
Tubuh Yunche menegang seketika. Dari reaksi tersebut, Gu Qingli tahu tebakannya seratus persen tepat.
"Kau benar-benar nekad mau pergi ke tempat berbahaya itu..." bisik Gu Qingli tak percaya.
"Aku memang harus pergi ke sana, Qingli."
"Untuk apa?!"
"Ada urusan penting yang harus kuselesaikan."
"Urusan apa?" cecar Gu Qingli menuntut jawaban pasti.
Yunche mengepalkan tangannya rapat-rapat, memalingkan pandangan. "Ini... ini urusan pribadiku."
Gu Qingli terpaku. Sepasang matanya menatap Yunche dengan raut terluka yang teramat dalam. "Jadi... sekarang kau bahkan sudah tidak sudi memercayai aku lagi?"
Kalimat itu terucap begitu pelan, namun sanggup menghantam dada Yunche jauh lebih menyakitkan daripada pukulan berbobot tinggi mana pun.
apa gk syok tuh thor