NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004: Bagaimana Kalau Aku Menyukainya?

Pipi Galang masih merah ketika Arga berjalan keluar dari ruang keluarga.

Tidak ada yang mengejarnya.

Untuk beberapa detik, seluruh Rumah Anggrek seperti lupa cara bernapas. Televisi masih menyiarkan kabar Kejatuhan Kusuma. Suara pembawa berita terdengar jauh, kalah oleh gema tamparan yang baru saja menempel di dinding marmer.

"Dia menampar Galang..." Ratna berbisik, seperti baru menyadari apa yang terjadi.

Galang menegakkan tubuh dengan wajah terbakar malu. "Aku akan buat dia menyesal."

"Cukup," kata Bu Agung.

Satu kata itu menghentikan semua suara.

Bu Agung Hartono berdiri perlahan dari kursi utama. Tongkatnya menyentuh lantai, satu ketukan pendek. Matanya tidak mengejar Arga. Matanya berhenti pada Kiara.

"Kamu puas?"

Kiara masih berdiri di dekat sofa. "Apa maksud Eyang?"

"Dua hari lalu kamu menandatangani perjanjian perceraian. Semalam kamu menyeret dia kembali ke rumah ini. Pagi ini kamu berdiri di depan dia, melawan seluruh keluarga."

Ratna segera menyambung, "Kiara, kamu jangan bodoh. Orang itu membawa masalah. Hari ini Kusuma jatuh karena urusan mereka sendiri, tanpa campur tangan dia."

Bimo mengangguk cepat. "Betul. Jangan salah membaca keadaan."

Kiara menatap mereka satu per satu.

Ia mengingat suite 1208. Tangan Rendra di pergelangannya. Ponsel yang hampir jatuh dari jarinya. Suara Arga di ujung panggilan, dingin, pendek, tetapi datang seperti garis terakhir antara dirinya dan jurang.

Lalu ia melihat keluarganya.

Orang-orang yang baru menangis karena takut kehilangan bisnis, tetapi tidak satu pun bertanya apakah ia masih takut.

"Bagaimana kalau aku memang salah membaca?" kata Kiara pelan.

Ratna mengerutkan kening. "Apa?"

Kiara mengangkat wajah.

"Bagaimana kalau aku menyukainya? Memangnya tidak boleh?"

Kalimat itu jatuh lebih keras daripada tamparan Arga.

Galang tertawa pendek. "Kamu gila."

Ratna memegang dada. "Kiara! Kamu CEO, kamu pewaris Hartono. Kamu bilang kamu menyukai laki-laki yang bahkan tidak punya pekerjaan?"

"Dia menolong saya."

"Sopir juga bisa menolong kalau disuruh!" Ratna membentak. "Jangan campuradukkan kasihan dengan perasaan."

Bu Agung mengangkat tangan. Ratna langsung diam.

Perempuan tua itu menatap Kiara dengan sorot yang sudah membuat banyak direktur menunduk dalam RUPS.

"Kalau kamu memilih dia," kata Bu Agung, "jangan harap kamu tetap memegang kendali di PT Hartono Group."

Bimo terkejut. "Bu..."

"Diam." Bu Agung tidak menoleh. "Keluarga ini dibangun dengan nama, reputasi, dan disiplin. Cucu Eyang boleh lelah. Boleh marah. Tapi tidak boleh menyeret sampah ke kursi direksi."

Kiara merasakan kalimat itu masuk seperti pisau tumpul.

Ia sudah sering mendengar keluarganya menghina Arga. Kali ini, hinaan itu terasa mengenai dirinya sendiri.

Sebelum Kiara menjawab, suara Arga terdengar dari ambang pintu utama.

"Tidak perlu memilih."

Semua orang menoleh.

Ternyata ia belum benar-benar pergi. Ia berdiri di luar ruang keluarga, ransel tua di satu bahu, wajahnya tenang seperti biasa.

Kiara menatapnya. "Arga..."

"Aku tidak akan tinggal."

Kalimat itu bersih. Tidak keras. Justru terlalu rapi, seperti keputusan yang sudah dipotong sebelum siapa pun bisa menyentuhnya.

Ratna mendengus lega. "Setidaknya dia tahu diri."

Arga tidak melihat Ratna.

Ia hanya melihat Kiara.

Sebentar saja.

"Jaga dirimu," katanya.

Lalu ia berjalan keluar.

Kiara bergerak sebelum ia sadar.

Ia mengejar melewati koridor, melewati pelayan yang menunduk panik, sampai ke teras depan Rumah Anggrek. Udara sore masih menyimpan bau hujan. Arga sudah berada di dekat gerbang.

"Arga!"

Ia berhenti.

Kiara menuruni tiga anak tangga. "Kita masih bisa berteman?"

Pertanyaan itu terdengar bodoh begitu keluar dari mulutnya.

Setelah perjanjian perceraian. Setelah pesta Rendra. Setelah ia tidak menahan Arga pergi. Setelah seluruh keluarganya ingin menyerahkan laki-laki itu.

Berteman.

Seolah kata itu cukup untuk menambal semua yang rusak.

Arga tidak berbalik penuh. Hanya sedikit, cukup untuk membuat profil wajahnya terlihat di bawah lampu teras.

"Lebih baik jangan."

Kiara berhenti.

"Kenapa?"

Arga menatap jalan basah di luar gerbang.

Karena kalau ia tetap dekat, keluarga Hartono akan terus menyeretnya.

Karena kalau ia terlalu lama melihat Kiara, ia mungkin lupa bahwa perempuan itu tidak pernah memintanya tinggal.

Karena semua rahasia yang ia simpan bisa menghancurkan lebih banyak orang sebelum waktunya.

Tetapi ia hanya berkata, "Kamu akan lebih tenang."

Lalu ia pergi.

Malam itu, Kiara berdiri di teras sampai mobil hitam yang menjemput Arga menghilang di tikungan.

Keesokan paginya, ruang keluarga Rumah Anggrek berubah menjadi ruang perang.

Kejatuhan Kusuma membuat keluarga Hartono selamat dari ancaman, tetapi juga membuka bau darah di air. Ketika satu konglomerat jatuh, yang lain segera mencari aset murah, proyek tertunda, dan celah baru.

Bu Agung duduk di kursi utama dengan map cokelat di pangkuan.

"Kawasan Rusunawa Harapan masuk tahap akhir revitalisasi," katanya.

Bimo mengangkat wajah. "Yang dekat koridor MRT baru itu?"

"Ya. Dokumen pemerintah daerah belum diumumkan luas, tapi jalurnya sudah jelas. Begitu keputusan keluar, harga lahan dan unit di sana bisa naik dua kali lipat dalam tiga tahun."

Galang yang pipinya masih sedikit bengkak langsung lupa malu. "Kita beli sekarang."

Ratna menyipitkan mata. "Bukankah Kiara punya unit di sana?"

Kiara yang baru turun dari tangga berhenti.

Unit itu apartemen sederhana yang dulu ia beli atas namanya sendiri, jauh sebelum ia sepenuhnya mengendalikan PT Hartono Group. Tempat itu lebih sering kosong, tetapi baginya, itu satu-satunya ruang di Jakarta yang tidak berbau keputusan keluarga.

Bu Agung menatapnya. "Unitmu tidak masalah. Justru itu pintu masuk."

"Eyang mau membeli seluruh blok?" tanya Kiara.

"Kalau kita bergerak cepat, ya."

Bimo sudah membuka kalkulator. "Kita bisa kirim tim akuisisi. Penduduk lama biasanya mau jual kalau diberi uang tunai."

Kiara mengerutkan kening. "Jangan tekan mereka terlalu rendah."

Galang tertawa. "Ini bisnis, Kiara. Kalau mereka tidak tahu harga masa depan, itu bukan salah kita."

Kiara menatapnya dingin. "Itu tetap salah kalau kita sengaja memanfaatkan informasi tertutup."

Bu Agung mengetukkan tongkat. "Kita tidak melanggar hukum. Kita bergerak lebih cepat."

Di Villa Puncak, sore harinya, Arga berdiri di ruang kerja ketika ponselnya bergetar.

Gacrux.

"Bos, ada pergerakan di kawasan Rusunawa Harapan."

"Siapa?"

"Keluarga Hartono. Mereka mulai membeli unit di sekitar apartemen Kiara. Harga yang mereka tawarkan rendah. Beberapa penghuni sudah tertekan untuk tanda tangan."

Arga menatap kota dari balik kaca.

Kusuma baru saja jatuh, tetapi keluarga Hartono sudah menemukan sesuatu yang lain untuk diperas.

"Kirim lokasi dan daftar unit," katanya.

"Siap."

Arga menutup mata sebentar.

Lebih baik jangan, katanya kemarin.

Tetapi ada hal-hal yang tidak bisa ia biarkan hanya karena ia sedang mencoba menjauh.

Ponselnya kembali menyala. Peta kawasan masuk. Titik merah menumpuk di sekitar satu menara.

Menara tempat Kiara tinggal.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!