NovelToon NovelToon
HIDUPKU

HIDUPKU

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:688.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: ina corlet

Novel ini adalah karya pertama yang saya yakini bikin kepala pusing disebabkan typo, alur membagongkan, hal hal diluar nurul, dan cerita klise yang freak. saya sangat ingin merevisi karya ini tetapi rasa malas ini menguasai tubuh tanpa ampun. jadi maafkan cerita yang memusingkan ini rakyat ku!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ina corlet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana mencekam

Kiara membatu.

Pantulan dirinya di cermin justru membuatnya semakin tak nyaman—wajah pucat, tubuh kaku, dan tatapan yang dipenuhi ketakutan. Tapi yang membuat bulu kuduknya meremang adalah bayangan lain: sosok tinggi besar dengan sorot mata tajam yang seakan mengintai dari balik kegelapan.

Ia ketakutan. Dan ia sendirian.

Beberapa menit sebelumnya,

Kiara masih sempat merasa gembira.

Percakapan singkatnya dengan Nyonya Sill membuatnya sedikit lega—terutama setelah mendengar bahwa bos besar akan menjamin keselamatannya. Apalagi, uang tips yang dijanjikan memang terlalu menggiurkan untuk dilewatkan.

“Tapi… aku takut,” gumamnya lirih. Napasnya berat. “Apa aku pura-pura pingsan saja?”

Ia sempat membayangkan dirinya tumbang di lorong, membuat keributan agar tugas ini batal. Tapi pada akhirnya, langkahnya kembali diarahkan pada satu hal: imbalan.

Dengan hati-hati ia melangkah. Sambil berusaha menyemangati diri, ia fokus pada dentingan pantovel yang dikenakannya. Suara ketukan kecil itu menjadi satu-satunya penenang.

Minuman dan camilan di atas troli terasa semakin berat. Dadanya kian sesak, jantungnya berdetak tak beraturan. Setibanya di depan pintu 107, tubuhnya kembali membatu.

“Tunggu… aku berdebar. Aku tidak bisa,” bisiknya panik.

Di dalam ruangan, suasananya jauh lebih mengerikan.

Lampu tidur terempas hingga pecah berantakan. Kaca berserakan. Kamar mewah itu berubah menjadi arena pertarungan.

Seorang gadis berambut panjang dengan gaun putih tulang mematung di tengah kekacauan. Ia menangis tanpa suara, wajahnya pucat.

“Dasar wanita g i l a. Kau bahkan tak pantas disebut manusia,” geram seorang lelaki. Sorot matanya dipenuhi amarah yang membunuh.

Benda-benda kembali beterbangan. Gadis itu menjerit dalam hati, tapi tubuhnya semakin kaku—tak bergerak sejengkal pun.

“M a t i saja,” ucap lelaki itu ringan, seolah mendoakan hal paling wajar di dunia.

Amarah menguras tenaganya. Tubuh besar itu akhirnya goyah dan terjatuh ke lantai. Napasnya memburu, keringat bercucuran. Ia setengah sadar.

Gadis bergaun putih itu tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Dengan cekatan ia mengambil electronic card dari meja.

“Maafkan aku…” bisiknya gugup, menatap lelaki yang terkapar itu dari kejauhan.

“Aaargh!” Lelaki itu menggeram. Tubuhnya bereaksi aneh, kejang, berusaha meraih gadis itu—namun gagal. Jarak mereka terlalu jauh.

Saat itulah pintu terbuka pelan.

Kiara berdiri mematung di ambang pintu, terkejut karena merasa tidak menekan bel sama sekali.

Gadis bergaun putih itu buru-buru keluar. Tubuhnya gemetar, namun ia berusaha tampil tenang di hadapan Kiara.

“Apa yang terjadi?” tanya Kiara ragu, mencoba melihat isi kamar.

“Tidak apa-apa,” jawabnya cepat—terlalu cepat.

Ia menutup pintu separuh, menahan Kiara agar tidak mengintip lebih jauh.

“Be—begini… aku diminta keluar sebentar untuk menyampaikan pesan pada Nyonya Sill. Ini… mendesak.”

Kiara mengangguk, tak menaruh curiga.

“Kau bisa masuk dulu. Antarkan pesanannya. Tuan Yas menginginkan camilannya sekarang.”

Kiara tersentak saat menyadari troli masih berada di belakangnya. Makanannya sudah mulai dingin.

“Baik. Aku mengerti.”

“Tolong jangan berisik. Letakkan semuanya dengan hati-hati di atas meja, ya? Itu permintaan Tuan Yas.”

Kiara kembali mengangguk. Ia merasa sedikit tenang karena gadis itu menunjukkan jalan.

“Terima kasih… aku akan segera masuk.”

“Ya, silakan.”

Gadis itu membuka pintu perlahan, memberi ruang agar Kiara cepat melangkah. Kiara masuk tanpa banyak melihat sekeliling—fokusnya hanya meja besar di depan televisi.

Pintu tertutup.

Lalu: klik.

Terkunci.

Kiara menoleh. Kesadarannya langsung kembali. Saat itulah ia melihat segalanya.

Kaca pecah. Buku berserakan. Barang-barang terhempas ke segala arah. Kamar ini seperti habis diterjang badai.

Napas Kiara tercekat ketika matanya menangkap sosok lelaki berjas coklat di sudut ruangan—terengah, pucat, dan menatapnya seperti mangsa.

“Nona… bagaimana bisa kau meninggalkan aku dengan dia seperti ini…?” suaranya lirih, tapi penuh tuduhan.

“Dasar… sampah.”

Suara berat itu membuat Kiara tersentak. Tubuhnya gemetar hebat.

Lelaki itu—Yas—berusaha bangkit. Dengan tertatih, ia meraih apa pun yang bisa dijadikan senjata.

Kiara mundur panik. Jemarinya lepas dari troli. Ia tersungkur, menabrak pintu. Dalam sekejap semua keberanian yang tersisa menghilang.

Prang!

Sebuah benda beling melayang, menghantam lantai tak jauh dari kakinya.

Yas menggila.

Kiara memaksa tubuhnya bangkit. Ia tak ingin mati di kamar orang lain. Tapi apa yang dapat ia lakukan? Ketika sekadar masuk saja ia sudah hampir pingsan?

Langkah Yas mendekat. Botol alkohol berhasil diraihnya. Tatapannya mengatakan satu hal:

Siapa pun yang dekat dengannya… akan dibunuh.

“Kau… mendekatlah,” geramnya.

Kiara menggeleng kuat-kuat. “Ti—tidak… tolong… maafkan aku…”

Yas menarik napas panjang, sorotnya semakin liar.

“KEMARILAH SAAT AKU MEMINTANYA BAIK-BAIK, SIALAN!”

Suara itu menggema, menusuk seluruh ruangan.

Ia mematung sejenak, memicingkan mata. Pandangannya kabur karena obat yang diberikan gadis tadi. Ia mencoba fokus, memaksa ingatannya bekerja.

Dan pada akhirnya… ia sadar.

Bahkan dalam setengah sadar, ia tahu:

Wanita di sudut pintu ini bukan wanita yang tadi bersamanya.

“Siapa… kau?” tanyanya parau, penuh amarah—dan kebingungan.

Bersambung…

1
Aulia Hayalan
satu kata untukmu Tiara" bodoh"
Yusria Mumba
bagus kiara pergi yng jauh, daripada, dsiksa,
Yusria Mumba
ceritanya sedih banget,
Yusria Mumba
puny suami tapi hidup kagura sensarah
Yusria Mumba
kasiang kiara tertekan terus,
Yusria Mumba
semangat kiara,
Yusria Mumba
kasiang kita, ny
Yusria Mumba
yang sabar kiara,
Yusria Mumba
kasiang kiana,
Yusria Mumba
kasiang,
Masri Masri
paling yas termakan oleh kebucinanya sendiri
samara
Luar biasa
Jeankoeh Tuuk
apakah itu Kiara
apa Kiara hilang ingatan
Jeankoeh Tuuk
penasaran....
apa
kelakuan deff
Jeankoeh Tuuk
cinta Yas mulai tumbuh
Jeankoeh Tuuk
Yas mulai sadar ....
Jeankoeh Tuuk
luluhnya suatu kebencian
Jeankoeh Tuuk
begitu cemburunya yas
Jeankoeh Tuuk
ada kemajuan
Jeankoeh Tuuk
hati Yas tersentuh melihat kesedihan Kiara istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!