Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01. Sisa Waktu di Tanah Kelahiran
Saat hendak keluar dari pesawat, langkah Alden sempat terhuyung pelan.
Kepalanya berputar hebat, sementara pandangannya mendadak berkunang-kunang selama beberapa detik.
Ia buru-buru memegang sandaran kursi penumpang di dekat pintu pesawat sambil menarik napas panjang, berusaha menstabilkan tubuhnya yang tiba-tiba melemah.
"Pak, tidak apa-apa?" Suara seorang pramugari terdengar dari samping.
Alden menoleh.
Pramugari yang sejak tadi berdiri di pintu pesawat kini memperhatikannya dengan wajah khawatir.
"Saya baik-baik saja."
Namun, jawabannya terdengar kurang meyakinkan, bahkan bagi dirinya sendiri.
"Apakah Bapak pusing?" tanya sang pramugari lagi dengan nada profesional.
Alden menggeleng kecil. "Cuma sedikit capek."
Pramugari tidak langsung pergi. Ia memperhatikan wajah Alden yang tampak lebih pucat dibanding penumpang lain yang baru turun.
"Kalau perlu, kami bisa minta petugas menyiapkan kursi roda atau kendaraan bandara."
Alden langsung menggeleng.
"Nggak usah. Saya masih bisa jalan."
Sang pramugari tersenyum tipis, meski raut khawatirnya belum sepenuhnya hilang.
"Baik, Pak. Tapi jangan dipaksakan. Kalau merasa tidak kuat, silakan beri tahu petugas kami di bawah."
Alden mengangguk.
Setelah memastikan kondisinya cukup stabil, pramugari itu akhirnya membiarkannya melanjutkan langkah keluar dari pesawat.
Alden mengira itu hanya efek kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang berjam-jam lamanya.
Setelah beberapa saat, ia kembali melangkah perlahan.
Aldenbashra Gavinda, pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu, akhirnya kembali menapakkan kaki di tanah Jakarta.
Sudah sembilan tahun lamanya ia menetap di Perth, menjalani hidup yang jauh dari tanah kelahirannya sendiri.
Udara Jakarta langsung menyambutnya dengan hawa lembap dan panas yang begitu berbeda dari kota tempat tinggalnya selama ini.
Rasanya asing. Namun anehnya, di saat yang sama juga terasa begitu akrab, seolah perlahan meresap masuk ke dalam dadanya dan membangunkan sesuatu yang selama ini tertidur jauh di dalam dirinya.
Kepulangannya kali ini bukan untuk berlibur ataupun sekadar menjenguk keluarga.
Alden pulang sambil membawa kenyataan pahit yang terus menghantuinya setiap hari.
Waktunya tidak banyak lagi.
Dokter di Perth memperkirakan ia hanya memiliki sekitar satu tahun, bahkan bisa kurang dari satu tahun untuk bertahan, sementara penyakit ganas yang bersarang di tubuhnya perlahan terus merenggut hidupnya sedikit demi sedikit.
Aldenbashra Gavinda mengidap kanker hati.
Ia telah menghabiskan satu bulan lebih di Perth untuk menyelesaikan berbagai urusannya yang masih tertinggal di sana. Kini, setelah semuanya perlahan terselesaikan, ia sadar bahwa waktu yang tersisa untuknya kemungkinan hanya tinggal sepuluh bulan lagi.
Penyakit itu diam-diam telah menggerogoti tubuhnya selama ini, memaksanya kembali ke Indonesia bukan sebagai pria yang menang dalam hidup, melainkan seseorang yang sedang berpacu dengan sisa waktunya sendiri.
Awalnya ia masih berusaha mempertahankan langkah yang terlihat normal saat menyusuri koridor bandara. Namun semakin jauh berjalan, tenaga di tubuhnya terasa terkuras jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Koridor bandara seolah membentang tanpa ujung.
Bahkan sebelum mencapai setengah perjalanan menuju area kedatangan, napasnya mulai memburu. Dada Alden terasa semakin sesak.
Ia mencoba memperlambat langkah, berharap kondisinya membaik setelah beberapa saat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Kakinya terasa semakin berat. Napas yang semula hanya sedikit tidak teratur kini mulai sulit dikendalikan. Langkahnya tidak lagi setegap saat baru turun dari pesawat. Bahunya naik turun mengikuti tarikan napas yang semakin dalam.
Alden terpaksa berhenti dulu sejenak. Ia menundukkan kepala sambil menahan lututnya dengan satu tangan.
Sejak meninggalkan pesawat, ia harus mengakui satu hal yang selama ini terus ia bantah yakni tubuhnya benar-benar tidak sanggup berjalan sejauh ini.
Namun Alden kembali memaksakan langkahnya. Satu, dua, tiga langkah.
Napasnya semakin sulit diatur. Dada terasa sesak seolah tidak memberi ruang yang cukup bagi paru-parunya untuk bekerja.
Keringat dingin mulai muncul di pelipis meski suhu ruangan terminal terasa sejuk.
Ia terpaksa berhenti kembali di tepi koridor. Satu tangan bertumpu pada pegangan pembatas, sementara tangannya yang lain menekan dada perlahan. Ia menundukkan kepala, berusaha mengatur napas.
Beberapa penumpang yang melintas sempat menoleh sekilas sebelum kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Tak lama kemudian, sebuah buggy cart bandara yang sedang melintas di koridor memperlambat lajunya. Kendaraan listrik kecil itu berhenti beberapa meter dari tempat Alden berdiri. Seorang petugas turun dan menghampirinya.
"Pak, apakah Bapak baik-baik saja?"
Alden mengangkat kepala.
"Saya nggak apa-apa."
Namun napasnya yang masih terdengar berat membuat jawaban itu kurang meyakinkan.
Petugas itu memperhatikan wajahnya yang pucat selama beberapa detik.
"Kalau Bapak merasa kesulitan berjalan, kami bisa bantu mengantar sampai area kedatangan."
Alden sempat hendak menolak secara refleks. Namun saat mencoba menarik napas lebih dalam, dadanya kembali terasa nyeri.
Ia memejamkan mata sejenak.
Untuk beberapa detik, egonya berusaha melawan kenyataan. Hingga akhirnya ia mengembuskan napas pelan.
"...Boleh."
Petugas itu segera mempersilahkannya naik ke buggy cart.
Alden duduk perlahan.
Saat kendaraan kembali bergerak menyusuri koridor terminal, ia memandang lurus ke depan tanpa mengatakan apa-apa.
Di dalam hati, ada perasaan yang jauh lebih berat daripada sesak di dadanya, ketika ia harus menerima bantuan untuk menempuh jarak yang bahkan dulu bisa ia lalui tanpa berpikir dua kali.
Beberapa meter sebelum mencapai area penjemputan, Alden meminta buggy cart berhenti.
"Sampai sini saja, Pak. Terima kasih."
Petugas sempat terlihat ragu.
"Yakin, Pak? Area penjemputan tinggal sedikit lagi."
Alden mengangguk pelan.
"Iya. Saya bisa lanjut sendiri."
Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, ia turun perlahan dari kendaraan itu.
Buggy cart kembali melaju meninggalkannya.
Alden berdiri diam beberapa saat. Jarak menuju area penjemputan memang sudah tidak jauh. Namun bahkan untuk berjalan sejauh itu pun, tubuhnya terasa berat.
Ia menoleh ke arah kerumunan orang yang menunggu kedatangan keluarga mereka masing-masing. Di antara mereka, pasti ada orangtuanya.
Alden mengembuskan napas panjang.
Ia tidak ingin mereka melihatnya turun dari buggy cart.
Tidak ingin kedatangannya langsung menambah kekhawatiran yang selama ini sudah terlalu banyak mereka tanggung.
Ia menundukkan kepala sejenak. Menarik napas perlahan. Lalu mengembuskannya kembali. Sekali, dua kali. Berusaha mengendalikan sesak yang masih tertinggal di dadanya.
Tangannya mengepal pelan di samping tubuh.
"Kuat..." Suaranya nyaris tidak terdengar.
Ia memejamkan mata sesaat. Mengumpulkan sisa tenaga yang masih dimilikinya.
"Kuat, Alden."
Bibirnya kembali bergerak. Kali ini sedikit lebih tegas.
"Kamu harus kuat."
Kalimat sederhana itu terdengar seperti doa sekaligus permohonan.
Bukan kepada siapa pun, melainkan kepada dirinya sendiri.
Setelah merasa napasnya sedikit lebih teratur, Alden mengangkat kepala. Ia merapikan ekspresinya sebaik mungkin, menyembunyikan lelah, menyembunyikan sesak, dan menyembunyikan rasa sakit yang sejak tadi berusaha menjatuhkannya.
Dengan langkah yang berusaha terlihat biasa, seolah tidak terjadi apa-apa, Alden kembali melangkah menuju area penjemputan.
Namun kali ini ia berjalan jauh lebih pelan.
Ia sengaja menjaga ritme langkahnya, berharap napasnya tidak kembali sesak sebelum sampai di tujuan. Setiap tarikan napas terasa harus diatur dengan hati-hati.
Karena itu, jarak yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu singkat untuk ditempuh, kini terasa jauh lebih panjang.
Alden terus melangkah perlahan, menahan tubuhnya agar tetap tegak dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Akibatnya, waktu yang seharusnya hanya beberapa menit berubah menjadi jauh lebih lama hanya untuk mencapai batas area penjemputan.
bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏