Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Dunia Fana – Desa Angin Lembut.
Bulan musim semi biasanya membawa kehangatan yang membuat bunga-bunga bermekaran. Namun malam ini, angin yang turun dari lereng gunung membawa hawa dingin yang tidak wajar. Hawa itu menusuk tulang, membawa partikel debu kelabu sisa dari meteorit Sembilan Nether yang hancur tempo hari.
Bagi warga desa yang bertubuh sehat, angin ini hanya menyebabkan flu ringan atau bersin-bersin. Namun bagi Shi Hao yang tubuh fananya lumpuh sebelah, buta, dan kultivasinya tersegel rapat menyerupai kekosongan mutlak hawa dingin beracun ini adalah bencana fatal.
Di dalam gubuk yang diterangi cahaya lilin temaram, Shi Hao berbaring di atas ranjang kayu. Tubuhnya menggigil hebat di balik tiga lapis selimut tebal. Wajahnya sepucat kertas beras, dan bibirnya membiru. Napasnya pendek dan putus-putus.
Di luar gubuk, di bawah rintik hujan yang membeku, Hitam Satu, Hitam Dua, dan Hitam Tiga melolong pelan. Ketiga anjing neraka itu tahu bahwa "Tuan" mereka sedang diserang oleh sisa-sisa racun dari dimensi asal mereka sendiri. Mereka mondar-mandir dengan cemas, tidak berani masuk karena takut energi Nether di tubuh mereka justru akan memperburuk keadaan Shi Hao.
Di dalam kamar, Gu Qing Yi mondar-mandir dengan wajah panik.
Handuk hangat yang dia kompreskan ke dahi Shi Hao sudah diganti puluhan kali, tapi suhu tubuh pria itu tidak kunjung turun. Obat herbal fana penurun panas sudah direbus dan diminumkan, tapi tidak ada efeknya sama sekali.
"Ini bukan demam biasa," bisik Qing Yi, suaranya bergetar. Matanya yang indah menatap nanar ke arah dada Shi Hao yang naik turun dengan susah payah. "Hawa dingin ini... ini racun dimensi. Tubuh fananya tidak memiliki satu tetes Qi pun untuk melawan."
Qing Yi menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.
Jika dia membiarkannya, Shi Hao dalam wujud fana ini bisa benar-benar mati. Tubuhnya akan mati, dan jiwanya akan kembali terlempar ke dalam Ketiadaan. Qing Yi tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Qing Yi menarik napas panjang. Ekspresi paniknya menghilang, digantikan oleh ketegasan seorang Raja Dewa.
WUSSS!
Qing Yi mengibaskan lengan baju gaun hijaunya. Sembilan teratai cahaya mekar di setiap sudut gubuk, membentuk Formasi Pengedap Aura Mutlak. Tidak ada satu pun dewa, iblis, atau bahkan Hukum Alam Fana yang bisa mengintip ke dalam gubuk ini sekarang.
Setelah formasi terpasang, Qing Yi melepaskan satu lapis segel kultivasinya.
Rambutnya yang diikat sederhana seketika tergerai bebas, memancarkan cahaya hijau keemasan yang menyejukkan. Gaun rami kasarnya berubah wujud menjadi Jubah Dewi Teratai Surgawi yang memancarkan keagungan. Aroma bunga teratai yang sangat pekat memenuhi ruangan, mengusir hawa dingin Sembilan Nether dalam radius gubuk seketika.
Qing Yi membuka telapak tangannya. Dari dalam Cincin Spasial yang selama ini dia sembunyikan di balik jiwanya, sebuah pil bundar berwarna emas seukuran kelereng melayang keluar.
Pil Pemulih Dewa Tingkat Surga.
Obat mujarab yang di Alam Atas bisa digunakan untuk menghidupkan kembali seorang Dewa Sejati yang tinggal tersisa separuh jiwanya.
"Tubuh A-Hao sekarang hanyalah manusia biasa. Jika dia menelan pil ini secara langsung, pembuluh darahnya akan meledak karena kelebihan energi," gumam Qing Yi.
Dia mengambil sebuah baskom besar berisi air sumur. Dengan jentikan jarinya, Pil Surgawi itu dihancurkan menjadi bubuk halus, lalu dia menaburkan hanya sebutir debu dari bubuk itu ke dalam air baskom. Air sumur yang keruh itu seketika berubah menjadi cairan emas yang mendidih dengan energi kehidupan murni.
Qing Yi kemudian menyedok satu sendok kecil cairan emas itu, memasukkannya ke dalam mangkuk tanah liat kecil berisi sisa kaldu jamur untuk menyamarkan rasanya.
Dia duduk di tepi ranjang, merengkuh kepala Shi Hao dengan lembut dan menyandarkannya ke dadanya.
"Minumlah, Suamiku," bisik Qing Yi, perlahan menyuapkan kaldu itu ke bibir Shi Hao yang bergetar.
Begitu kaldu itu mengalir melewati tenggorokan Shi Hao, keajaiban terjadi. Cairan emas itu bertindak seperti hujan pertama setelah kemarau panjang seratus tahun.
Di dalam Dantian Shi Hao yang mati, energi kehidupan itu membasahi tanah yang kering. Warna pucat di wajahnya berangsur-angsur menghilang, digantikan oleh rona merah yang sehat. Napasnya menjadi teratur. Suhu tubuhnya kembali normal.
Qing Yi menghela napas lega. Hatinya yang serasa diremas akhirnya bisa bernapas kembali. Dia meletakkan mangkuk itu dan bersiap menidurkan Shi Hao kembali.
Namun, tepat ketika Qing Yi hendak menarik tangannya, tangan kanan Shi Hao yang besar dan kapalan mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat erat. Cengkeraman itu begitu kuat hingga Qing Yi sedikit tersentak.
"Suamiku?" panggil Qing Yi pelan.
Shi Hao tidak membuka matanya. Dia masih berada dalam cengkeraman demam dan mimpi bawah sadar. Obat surgawi itu rupanya tidak hanya menyembuhkan fisiknya, tapi menyentuh riak-riak memori di kedalaman jiwanya.
Dahi Shi Hao berkerut dalam. Keringat dingin kembali menetes. Dia mulai mengigau.
"...Lei Shan... mundur... jangan menahan petir itu sendirian, dasar bodoh..." gumam Shi Hao dengan suara serak yang penuh otoritas dan kekhawatiran.
Hati Qing Yi bergetar hebat mendengar nama itu. Lei Shan... Dewa Petir. Dia... dia memanggil wakilnya.
Shi Hao semakin gelisah dalam tidurnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan seolah sedang melihat pemandangan mengerikan di balik kelopak matanya yang tertutup.
"...Nini... Nana..." Shi Hao memanggil dengan nada yang sangat perih, nada seorang kakak yang berusaha melindungi keluarganya. "...bersembunyilah di belakang Kakak... jangan takut... Gudang harta itu tidak penting... kalian yang penting..."
Mata Qing Yi mulai memanas. Pandangannya mengabur oleh air mata.
Selama seratus tahun di desa ini, Shi Hao selalu tersenyum. Dia selalu bersikap seperti petani lugu yang hanya peduli pada panen gandum dan pahatan kayunya. Dia benar-benar melupakan masa lalunya, gelarnya, bahkan musuh-musuhnya.
Tapi malam ini, di bawah pengaruh obat surgawi, kebenaran itu terungkap.
Kaisar Asura mungkin telah kehilangan kultivasinya, ingatannya, dan matanya. Tapi dia menolak kehilangan perasaannya pada keluarganya. Ingatan tentang orang-orang yang dia lindungi terukir begitu dalam di jiwanya, melampaui kutukan Ketiadaan itu sendiri.
"Hao..." Qing Yi menangis dalam diam. Dia menunduk, memeluk kepala pria itu erat-erat di dadanya, membiarkan air matanya jatuh membasahi rambut Shi Hao.
"Kau bahkan melupakan namamu sendiri... tapi kau tidak melupakan mereka," isak Qing Yi pelan.
Tiba-tiba, igauan Shi Hao berhenti. Tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Qing Yi perlahan mengendur, lalu bergerak naik, meraba punggung Qing Yi dengan lembut.
"...Qing Yi..." bisik Shi Hao dalam tidurnya, nada suaranya berubah menjadi sangat tenang dan damai. "...jangan menangis... bungaku..."
Mendengar namanya disebut sebagai pelabuhan terakhir dalam igauan pria itu, pertahanan hati Qing Yi runtuh sepenuhnya. Dia menangis tersedu-sedu tanpa suara, mendekap suaminya hingga malam berlalu.
Aku egois, batin Qing Yi dalam tangisnya. Aku mengurung naga sejatimu di desa ini karena aku takut kehilanganmu lagi. Tapi kau adalah Asura yang melindungi langit. Cepat atau lambat... kau pasti akan kembali pada mereka.
Keesokan Paginya.
Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah jendela bambu.
Shi Hao membuka mata kanannya yang sehat, menggeliat panjang seperti kucing yang baru bangun tidur.
KRETEK! KRETEK!
Tulang-tulangnya berbunyi nyaring. Segala rasa sakit, demam, dan kelemahan fana lenyap tak berbekas. Dia merasa sangat bugar, bahkan kakinya yang lumpuh terasa sedikit kesemutan, seolah ada darah baru yang mengalir di sana.
"Wah, tidur yang luar biasa!" seru Shi Hao sambil duduk di ranjang.
Dia menoleh dan melihat Qing Yi sedang merajut di kursi dekat jendela. Gaun dewanya telah kembali menjadi kain rami kasar. Wajahnya terlihat sedikit lelah, dengan mata yang agak sembab, tapi senyumnya tetap hangat menyambut pagi.
"Pagi, Suamiku. Bagaimana perasaanmu? Semalam demammu sangat tinggi," kata Qing Yi, menyembunyikan semua jejak kesedihan semalam dengan sempurna.
Shi Hao memukul-mukul dadanya yang berotot.
"Aku merasa seperti bisa mengangkat dua kerbau sekaligus, Istriku!" Shi Hao tertawa keras. Dia bangkit berdiri, menggunakan tongkatnya. "Apa yang kau berikan padaku semalam? Di mimpiku rasanya sangat hangat, seperti menelan matahari kecil."
"Itu hanya... sup kaldu jamur liar yang kutambahkan sedikit jahe dan madu hutan," bohong Qing Yi sambil tersenyum manis. "Sepertinya efeknya sangat bagus."
"Sup jamur liar? Astaga, khasiatnya luar biasa! Nanti kau harus mengajarkanku resepnya. Kita bisa menjualnya pada Gou Dan, mungkin itu bisa menyembuhkan otaknya yang miring," canda Shi Hao.
Qing Yi tertawa kecil mendengar lelucon suaminya. "Tentu, Suamiku. Tapi resep ini rahasia keluarga, jadi hanya untukmu."
Shi Hao tersenyum lebar, tidak menyadari bahwa mangkuk sup yang dia minum semalam setara dengan harga separuh kekayaan Sekte Besar di Alam Atas.
Shi Hao berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sejenak. Dia menoleh ke arah Qing Yi dengan sedikit kerutan di dahi.
"Oh ya, Istriku..." kata Shi Hao, mencoba mengingat sesuatu. "Semalam... aku bermimpi aneh. Aku melihat orang bertubuh besar dengan petir, dan dua anak kembar berbaju hitam putih. Apa mereka kerabat kita dari desa seberang?"
Tangan Qing Yi yang sedang merajut terhenti sesaat, sebelum kembali bergerak dengan tempo yang normal.
"Itu hanya bunga tidur, Suamiku," jawab Qing Yi lembut, menekan perasaannya kuat-kuat. "Mungkin itu karakter dari dongeng yang pernah kuceritakan padamu. Tidak usah dipikirkan."
"Hmm, mungkin kau benar," Shi Hao mengangkat bahu. "Yasudahlah, aku mau ke kebun dulu. Hitam Satu! Ayo kita cangkul rumput liar!"
Dari luar, terdengar suara gonggongan gembira ketiga anjing iblis itu yang menyambut tuan mereka yang sudah kembali sehat.
Qing Yi menatap kepergian Shi Hao dari jendela. Angin musim semi kembali berhembus lembut. Namun di balik kedamaian pagi itu, Qing Yi menatap ke arah utara, ke arah langit tempat dimensi mulai retak.
Sebuah kesadaran muncul di benaknya.
Jika musuh Nether menyentuh desa ini, jika mereka mengancam ketenangan Shi Hao...
Gu Qing Yi tidak akan menahan diri lagi. Dia akan membunuh mereka semua, sendirian jika perlu, agar pria itu tidak perlu menghunus tombaknya lagi.