Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita yang Terungkap
Nadia mendengarkan dalam diam yang panjang, sementara Arka menceritakan semuanya—14 Maret yang lama, perjalanan pertamanya, Damar yang menghilang, pertemuan dengan Sera, perjalanan keduanya yang membawa Nadia ke dalam hidupnya sejak kecil.
Hujan masih turun, lebih lembut sekarang, seperti latar yang menemani cerita itu mengalir.
Ketika Arka selesai, dia menatap Nadia, mencoba membaca reaksinya—takut, mungkin, bahwa Nadia akan menganggapnya gila, atau lebih buruk, takut bahwa Nadia akan merasa "tidak nyata", hanya hasil dari perubahan yang dia buat.
Tapi Nadia, setelah diam beberapa saat, justru tersenyum—senyum yang basah karena air mata, tapi penuh kehangatan.
"Arka," katanya pelan, "kamu tau... ini menjelaskan banyak hal."
"Apa maksudnya?"
"Inget nggak, waktu kita kecil—hari pertama kita kenalan? Kamu bilang, 'besok main lagi, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi.' Aku selalu mikir itu kalimat yang aneh buat anak kecil bilang ke orang yang baru dikenal. Tapi aku selalu suka kalimat itu. Kayak... kayak ada janji di dalamnya, yang lebih besar dari yang seharusnya dimengerti anak kecil."
Nadia menggenggam tangan Arka lebih erat. "Sekarang aku ngerti. Itu bukan cuma kalimat anak kecil. Itu... itu kamu, yang udah tau apa yang akan terjadi, berjanji ke aku—ke kita—tanpa aku sadari."
Arka merasakan air mata mengalir lagi—tapi kali ini, air mata kelegaan yang begitu besar, karena Nadia tidak hanya menerima ceritanya, tapi juga menemukan makna baru di dalamnya, makna yang memperkuat, bukan mengurangi, apa yang mereka miliki.
"Aku takut," kata Arka, "kalau kamu tau—kamu bakal ngerasa kayak... kayak hubungan kita ini cuma 'hasil rekayasa'. Bukan sesuatu yang alami."
Nadia menggeleng tegas. "Arka, dengar aku. Setiap detik yang kita lewatin bersama—setiap tawa, setiap argumen kecil, setiap momen kita saling dukung—itu semua nyata. Itu semua kita. Cara kita ketemu mungkin... mungkin nggak biasa. Tapi apa yang kita bangun setelah itu? Itu murni kita. Nggak ada 'rekayasa' yang bisa bikin dua puluh tahun cinta itu palsu."
Dia mengusap pipi Arka, menghapus air matanya. "Lagipula," lanjutnya, sedikit tersenyum, "kalau dipikir-pikir, mungkin semua orang punya 'jalan aneh' menuju orang yang mereka cintai. Kita cuma... kita cuma tau jalan kita lebih detail dari orang lain."
Mereka berdiri di balkon itu untuk waktu yang lama, berbicara—Nadia bertanya banyak hal, tentang Sera, tentang dunia-dunia lain, tentang bagaimana rasanya menjadi satu-satunya orang yang mengingat semua versi itu.
"Apakah kamu pernah nyesel?" tanya Nadia akhirnya. "Dengan semua pilihan yang kamu buat?"
Arka berpikir lama sebelum menjawab. "Aku nyesel soal Damar. Selalu akan nyesel, sedikit. Tapi... aku nggak nyesel soal hidup yang aku punya sekarang. Sama kamu. Sama Kirana. Sama Mama yang bisa hidup lebih lama, walaupun cuma tujuh belas tahun."
"Tujuh belas tahun itu nggak 'cuma', Arka," kata Nadia lembut. "Tujuh belas tahun itu termasuk pernikahan kita. Kelahiran Kirana. Semua momen yang Mama dapet liat. Itu bukan 'cuma'—itu segalanya."
Arka mengangguk, merasakan kebenaran dari kata-kata itu meresap lebih dalam.
"Dan tentang Damar," lanjut Nadia, "kamu udah ketemu Bayu. Kamu tau Damar ninggalin jejak. Mungkin... mungkin itu cara semesta kerja. Nggak ada yang benar-benar hilang. Cuma berubah bentuk."
Malam itu, setelah percakapan panjang itu, Arka dan Nadia kembali ke kamar mereka. Sebelum tidur, Arka membuka laci—laci yang sama, tempat album foto Damar dan surat dari ibunya tersimpan.
Dia mengeluarkan album itu, membukanya ke halaman dengan foto Damar dan dirinya kecil.
"Nad," katanya, "menurut kamu... apa yang harus aku lakuin sama album ini? Aku nggak mau nyimpen ini di laci selamanya, kayak rahasia. Tapi aku juga nggak mau... nggak mau ngelupain dia."
Nadia berpikir sejenak. "Kenapa nggak kamu pajang aja? Bukan disembunyiin. Tapi... ditampilkan, sebagai bagian dari cerita kamu. Cerita kita."
Esok harinya, Arka membingkai foto itu—foto dia dan Damar kecil, tersenyum lebar, memegang bungkusan makanan—dan menggantungnya di dinding ruang tamu, di antara foto-foto keluarga lainnya: foto pernikahan mereka, foto Kirana saat bayi, foto ibu dan ayahnya.
Kirana, yang melihat foto baru itu, bertanya, "Pa, ini siapa?"
Arka tersenyum, duduk di sebelah putrinya, dan untuk pertama kalinya, menceritakan tentang Damar—bukan sebagai rahasia, tapi sebagai cerita. Cerita tentang seorang sahabat yang pernah ada, yang mengajarkannya banyak hal tentang persahabatan, meski dunia membuatnya hanya bisa mengingatnya sendiri.
"Dia kedengarannya baik," kata Kirana sederhana, menatap foto itu. "Aku seneng Papa punya temen kayak dia."
"Iya," kata Arka, suaranya hangat. "Papa juga."