Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Sarapan yang Dingin
Pagi itu langit terlihat cerah. Cahaya matahari menyelinap di antara dedaunan yang tumbuh rapi di taman belakang kediaman keluarga Dimitri.
Udara terasa sejuk, jauh berbeda dengan suasana sesak yang dirasakan Rubi sejak membuka mata.
Sudah satu malam berlalu sejak ia sadar di tubuh Rubi Casandra Dimitri.
Namun sampai sekarang, ia masih sulit menerima kenyataan.
Rubi duduk sendirian di sebuah kursi taman berwarna putih. Di hadapannya tersedia berbagai hidangan sarapan yang tampak mewah dan mahal.
Ada roti hangat, buah-buahan segar, telur, sup krim, hingga segelas susu khusus ibu hamil.
Tapi tidak satu pun yang disentuhnya.
Pikirannya terlalu penuh.
Tangannya menggenggam cangkir teh yang mulai kehilangan uap panasnya.
Tatapannya kosong mengarah ke kolam kecil di tengah taman.
"Jadi aku benar-benar mati..."
Kalimat itu terucap pelan.
Mengingat kejadian kemarin masih membuat dadanya sesak.
Ia masih bisa mengingat suara klakson.
Lampu mobil.
Tubuhnya yang terpental.
Lalu kegelapan.
Semuanya terasa nyata.
Kalau memang dirinya sudah meninggal, lalu bagaimana keadaan tubuh aslinya sekarang?
Apakah sudah dimakamkan?
Apakah anak-anak panti menangisinya?
Apakah ada yang datang ke pemakamannya?
Atau justru tidak ada siapa-siapa?
Memikirkan itu membuat matanya terasa panas.
Seumur hidup, panti asuhan adalah satu-satunya rumah yang ia miliki.
Di sana memang tidak mewah.
Tidak memiliki makanan mahal.
Tidak ada kamar besar ataupun pakaian bermerek.
Tapi tempat itu penuh kehangatan.
Dan sekarang semuanya hilang.
Rubi menundukkan kepala.
Tangannya tanpa sadar mengusap perut yang mulai membesar.
Empat bulan.
Masih sulit dipercaya.
Kemarin dirinya masih gadis yang bahkan belum pernah berpacaran serius.
Hari ini ia bangun sebagai seorang istri.
Bahkan seorang calon ibu.
"Kalau saja ini mimpi..."
Sayangnya ia tahu ini bukan mimpi.
Rasa angin yang menyentuh kulitnya terasa nyata.
Bau bunga di taman terasa nyata.
Bahkan detak jantung yang berdetak di dadanya terasa nyata.
Semua ini nyata.
Terlalu nyata.
Seorang pelayan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Nyonya muda, sarapannya harus segera dimakan sebelum dingin."
Rubi tersenyum tipis.
"Nanti saja."
Pelayan itu terlihat ragu.
"Tapi dokter mengatakan..."
"Aku akan makan."
Pelayan itu akhirnya mengangguk.
Meski begitu, setelah beberapa menit berlalu, makanan di atas meja tetap tidak tersentuh.
Rubi kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia mencoba mengingat kehidupan pemilik tubuh asli.
Namun ingatan yang masuk ke kepalanya masih terasa berantakan.
Ia hanya tahu satu hal.
Pernikahan Rubi Casandra Dimitri dan Alexander Dimitri bukanlah pernikahan yang bahagia.
Mereka menikah karena sebuah kesepakatan keluarga.
Tidak ada cinta.
Tidak ada romantisme.
Hubungan mereka lebih mirip dua orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama.
Karena itu Rubi merasa sedikit lega.
Setidaknya Alexander tidak terlalu mengenal istrinya.
Kalau tidak, ia pasti sudah curiga sejak kemarin.
Rubi menghela napas panjang.
Lalu tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan.
Sampai para pelayan yang berjaga mendadak menundukkan kepala bersamaan.
"Tuan muda."
Rubi langsung menoleh.
Jantungnya sedikit terkejut.
Alexander.
Pria itu berjalan memasuki taman dengan langkah tenang.
Ia masih mengenakan setelan jas hitam yang sama elegannya seperti kemarin.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Wajahnya terlihat lelah.
Sangat lelah.
Di bawah matanya terdapat bayangan gelap tipis yang tidak berhasil disembunyikan.
Rambut hitamnya sedikit berantakan.
Seolah ia tidak sempat beristirahat.
Alexander berhenti di dekat meja.
Tatapan abu-abunya langsung tertuju pada Rubi.
Kemudian bergeser ke makanan yang masih utuh.
Seketika wajahnya mengeras.
"Kenapa belum dimakan?"
Suara datarnya membuat Rubi refleks menegakkan punggung.
"Aku..."
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Alexander mengalihkan pandangannya pada salah satu pelayan.
"Kapan makanan itu disajikan?"
Pelayan wanita itu langsung pucat.
"Se-sekitar tiga puluh menit yang lalu, Tuan."
Alexander menatap meja sekali lagi.
Sup sudah tidak mengeluarkan uap.
Roti mulai dingin.
Buah-buahan pun mulai kehilangan kesegarannya.
Pria itu mengerutkan alis.
"Ganti semuanya."
Pelayan langsung membungkuk.
"Baik, Tuan."
"Yang masih hangat."
"Baik, Tuan."
Dalam hitungan detik para pelayan bergerak cepat membersihkan meja.
Rubi hanya bisa memandangi mereka dengan bingung.
Jujur saja, ia tidak menyangka Alexander akan memperhatikan hal sekecil itu.
Bukankah pria ini seorang mafia?
Kenapa malah mempermasalahkan sarapan?
Setelah meja dibersihkan, suasana kembali hening.
Alexander duduk di kursi yang berseberangan dengannya.
Rubi langsung menjadi canggung.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Untungnya Alexander juga bukan tipe pria yang suka berbicara.
Jadi keduanya hanya diam.
Beberapa menit kemudian makanan baru datang.
Kali ini masih hangat.
Aroma sup langsung memenuhi udara.
Alexander menatap Rubi.
"Makan."
Rubi berkedip.
"Hah?"
"Makan."
Nada suaranya terdengar seperti perintah.
Dan entah kenapa membuat Rubi langsung mengambil sendok.
Alexander memperhatikan sampai ia benar-benar memasukkan makanan ke dalam mulut.
Baru setelah itu pria tersebut terlihat sedikit puas.
Rubi hampir tersedak karena gugup.
"Kenapa Anda melihat saya terus?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Alexander terdiam.
Mungkin tidak menyangka istrinya akan bertanya langsung seperti itu.
"Aku hanya memastikan kau makan."
"Oh."
Jawaban itu justru membuat Rubi semakin bingung.
Menurut ingatan yang dimilikinya, Alexander bukan suami perhatian.
Setidaknya tidak seperti ini.
Alexander mengambil secangkir kopi yang baru diantarkan pelayan.
"Apa demammu sudah hilang?"
Rubi mengangguk.
"Sudah lebih baik."
"Kalau ada yang tidak nyaman, panggil dokter."
"Aku baik-baik saja."
Alexander kembali diam.
Pria itu tampak lelah.
Sangat lelah.
Rubi memperhatikan wajahnya diam-diam.
Baru sekarang ia menyadari betapa tampannya pria itu.
Rahang tegas.
Hidung mancung.
Tatapan tajam.
Namun wajah tampan itu justru terlihat dingin dan sulit didekati.
"Anda tidak tidur semalaman?"
Alexander mengangkat pandangan.
"Kenapa bertanya?"
"Ada lingkar hitam di bawah mata Anda."
Pria itu tampak sedikit terkejut.
Seolah tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
Biasanya orang-orang terlalu takut untuk memperhatikan dirinya sedetail itu.
"Ada pekerjaan."
Jawabannya singkat.
Tapi Rubi bisa menebak pekerjaan itu bukan pekerjaan biasa.
Mungkin urusan bisnis.
Atau urusan mafia.
Memikirkan kata mafia membuatnya bergidik.
Sampai sekarang ia masih sulit percaya dirinya hidup di rumah seorang mafia sungguhan.
Bahkan mungkin di balik pagar megah rumah ini terdapat puluhan pengawal bersenjata.
Alexander tiba-tiba berbicara.
"Kau terlihat banyak berpikir."
Rubi refleks menegang.
"Apakah terlihat jelas?"
"Sangat."
Rubi tertawa kecil.
Mungkin untuk pertama kalinya sejak bangun di dunia ini.
Alexander memperhatikannya.
Tatapan pria itu berubah sedikit aneh.
Seolah sedang melihat sesuatu yang tidak biasa.
Rubi baru menyadari dirinya tertawa.
Ia langsung menunduk.
Jangan sampai Alexander curiga.
Bagaimanapun juga ia bukan Rubi yang asli.
Namun tanpa ia sadari, Alexander justru terus memperhatikannya.
Ada sesuatu yang berbeda dari istrinya.
Biasanya wanita itu selalu terlihat murung.
Pendiam.
Dan dingin.
Tapi pagi ini berbeda.
Senyumnya lebih hidup.
Sorot matanya lebih hangat.
Bahkan cara bicaranya terasa berbeda.
Alexander tidak mengatakan apa-apa.
Meski dalam hati ia mulai merasa aneh.
Sementara itu Rubi kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, perutnya terasa sedikit lebih ringan.
Setidaknya ada satu hal yang ia sadari.
Meskipun hidupnya berubah total...
Meskipun ia kehilangan dunia lamanya...
Ia masih hidup.
Dan demi bayi yang ada dalam kandungannya sekarang, ia harus bertahan.
Apa pun yang terjadi.
Karena mulai hari ini, kehidupan barunya benar-benar telah dimulai.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉