Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAWAR YANG MENUMBUHKAN DURI
Luka-lukaa di punggung dan pundak Kirana memerlukan waktu hampir satu minggu untuk mengering. Selama beberapa hari itu, Mami Rosa dengan murah hati membiarkannya mengurung diri di dalam kamar 303—bukan karena rasa kemanusiaan, melainkan karena Mami Rosa tidak ingin aset terbaiknya terlihat cacat di depan para tamu kelas atas Distrik Amethyst. Bilur-bilur merah keunguan akibat cambukan Tuan Robert perlahan berubah menjadi garis-garis tipis kemerahan, yang jika disentuh masih menyisakan rasa perih yang menusuk hingga ke tulang.
Sore itu, Kirana duduk di depan meja riasnya. Ia sedang mengoleskan salep antiseptik herbal yang diselundupkan oleh Bi Surti dari dapur bawah. Di samping cermin, sebuah amplop cokelat tebal berisikan uang bagiannya dari servis jahanam malam itu tergeletak dengan pasrah. Dari total tiga puluh juta rupiah yang dibayarkan Tuan Robert, Mami Rosa memotong dua puluh juta dengan alasan komisi manajemen dan cicilan utang. Sisanya, sepuluh juta rupiah, kini menjadi hak mutlak Kirana.
Tok, tok, tok.
Pintu kamar diketuk dengan ritme yang pelan. Kirana segera menarik dasternya untuk menutupi bagian pundak yang terbuka sebelum bersuara, "Masuk."
Mbak Lastri melangkah masuk dengan wajah yang tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya menyiratkan bahwa wanita itu juga baru saja melewati malam yang panjang mengurus kelab. Namun, saat tatapannya jatuh pada amplop cokelat di meja Kirana, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit lebih lunak.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah bisa pakai baju yang agak ketat?" tanya Lastri sembari bersandar pada tiang ranjang.
"Sudah lebih baik, Mbak. Salep dari Bi Surti sangat membantu," jawab Kirana datar. Ia mengambil amplop cokelat itu dan menyerahkannya kepada Lastri. "Seperti biasa, Mbak. Kirimkan delapan juta untuk Ibu di desa. Masukkan ke rekening Bu Joko. Sisanya yang dua juta... tolong Mbak simpan untuk saya dalam bentuk tunai. Jangan dimasukkan ke pembukuan Mami."
Lastri menerima amplop itu, menimbang beratnya di telapak tangan, lalu menatap Kirana dengan pandangan menyelidik. "Kamu tahu kan, kalau Mami sampai tahu aku membantumu menyembunyikan uang di luar pembukuan, Mami bisa memotong jariku?"
Kirana tidak berkedip. Ia menatap balik mata Lastri dengan ketenangan yang kini terasa mistis. "Mami tidak akan tahu selama Mbak Lastri tetap berada di pihak saya. Lagipula, saya selalu memberikan bagian lima ratus ribu untuk Mbak setiap kali Mbak membantu saya, bukan?"
Lastri terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman tipis dan getir mengembang di bibirnya. Di Kota Valerion, uang adalah bahasa universal yang bisa membeli apa saja, termasuk kesetiaan seorang asisten kelab malam. "Kamu benar-benar bukan lagi gadis lugu yang turun dari bus mikro sebulan lalu, Kirana. Kamu belajar terlalu cepat."
"Kota ini tidak memberi saya pilihan lain, Mbak," bisik Kirana, berbalik menghadap cermin dan mulai menyisir rambut hitam panjangnya yang kini berkilau indah.
"Oh ya, ada satu hal lagi," Lastri memasukkan amplop itu ke dalam saku jaketnya. "Malam ini, kamu tidak ada jadwal di ruang VIP. Tapi Mami memintamu untuk turun ke aula bawah sekitar jam sebelas malam nanti. Ada tamu dari kalangan anak muda kaya, putra-putra pejabat distrik yang sedang merayakan kelulusan. Mereka suka menghamburkan uang untuk memesan menara sampanye. Mami ingin kamu merayu mereka agar mereka menghabiskan sisa isi dompet mereka di meja bar utama."
"Baik. Saya akan turun," jawab Kirana tanpa bantahan.
Pukul sebelas malam, atmosfer di aula bawah The Velvet Rose berada di puncak kegilaannya. Lampu strobo berwarna ungu dan hijau berputar cepat, memotong kegelapan ruangan dan menciptakan ilusi gerakan yang patah-patah di atas lantai dansa. Dentum musik techno berfrekuensi rendah bergetar hebat di dada, membuat obrolan biasa harus digantikan dengan teriakan di dekat telinga.
Kirana melangkah menuruni tangga marmer dengan anggun. Malam ini ia sengaja memilih gaun yang tidak terlalu terbuka namun sangat provokatif—sebuah gaun mini berbahan brokat hitam ketat yang membungkus erat lekuk tubuhnya, dengan bagian punggung yang tertutup rapat untuk menyembunyikan sisa-sisa bilur luka dari Tuan Robert.
Ia berjalan menuju meja bar utama yang terbuat dari kaca bercahaya biru. Di sudut meja bar tersebut, sekelompok pemuda berusia awal dua puluhan tampak sedang tertawa terbahak-bahak di kelilingi oleh tumpukan botol minuman keras kosong. Pakaian mereka bermerek, jam tangan mereka berkilau di bawah lampu kelab, dan gaya bicara mereka sarat akan kesombongan khas anak-anak yang tidak pernah tahu rasanya mencari uang sendiri.
Di tengah-tengah kelompok itu, duduk seorang pemuda dengan kemeja flanel mahal yang kancingnya dibiarkan terbuka setengah. Wajahnya tampan namun tampak kuyu oleh pengaruh alkohol. Namanya Adrian, putra tunggal dari Kepala Dinas Perpajakan Wilayah Barat Kota Valerion.
"Hei, lihat! Itu primadona baru yang dibilang si kacung Broto!" teriak salah satu teman Adrian, menunjuk ke arah Kirana yang baru saja memesan segelas jus jeruk di meja bar.
Adrian menoleh. Pandangan matanya yang agak buram oleh alkohol seketika terkunci pada sosok Kirana. Kecantikan Kirana yang memiliki aura dingin dan berbeda dari wanita malam lainnya di kelab itu langsung menarik perhatiannya. Adrian berdiri dari kursinya, melangkah agak sempoyongan mendekati Kirana, lalu meletakkan tangannya di atas meja bar tepat di samping gelas Kirana.
"Hai, Manis. Sendirian saja?" goda Adrian, menyemburkan aroma alkohol yang menyengat. "Malam sehangat ini tidak cocok dinikmati dengan segelas jus. Bagaimana kalau kita minum sesuatu yang lebih berkelas?"
Kirana menoleh perlahan, memasang topeng senyum manisnya yang paling memikat. "Saya tidak terlalu kuat minum alkohol, Tuan. Tapi jika Tuan ingin memesankan sesuatu untuk saya, saya tidak akan menolak," jawab Kirana lembut, suaranya terdengar merdu di antara bisingnya musik.
Adrian tertawa bangga, merasa di atas angin. Ia menjentikkan jarinya ke arah bartender. "Beri wanita cantik ini Dom Pérignon satu botol! Masukkan ke tagihanku!" serunya sombong.
Saat botol sampanye mewah itu dibuka dengan bunyi POP yang khas, Kirana memperhatikan gerak-gerik Adrian dengan cermat. Ia mencatat dalam benaknya: anak muda ini bodoh, emosional, dan sangat suka pamer. Orang-orang seperti Adrian adalah mangsa yang paling mudah dikuras, namun juga bisa menjadi sumber informasi yang sangat berharga.
Kirana membiarkan Adrian merangkul pundaknya, menahan rasa risi yang bergejolak di dalam dadanya. Mereka duduk di salah satu sofa bar, mengobrol di sela-sela tegukan sampanye. Kirana dengan lihai melemparkan pujian-pujian palsu yang membuat ego Adrian melambung tinggi.
"Tuan Adrian tampaknya sangat hebat. Di usia semuda ini, Anda sudah bisa menikmati kemewahan seperti ini di Valerion," puji Kirana sembari menuangkan kembali sampanye ke gelas pemuda itu.
"Hahaha! Tentu saja, Kirana! Di kota ini, selama ayahmu punya stempel tanda tangan di kantor dinas, uang akan mengalir sendiri ke kantongmu," racau Adrian yang mulai mabuk berat, kehilangan kendali atas lidah dan kewaspadaannya. "Kamu tahu proyek pembangunan jalan tol baru di Distrik Utara? Itu semua lewat meja ayahku. Satu tanda tangan nilainya milyaran, Kirana! Milyaran!"
Kirana mendengarkan dengan mata berbinar penuh minat yang dibuat-buat, namun di dalam kepalanya, ia merekam setiap kata yang diucapkan Adrian. Informasi tentang korupsi, proyek pemerintah, dan nama-nama pejabat distrik mulai tersusun rapi dalam bank data otaknya.
Inilah duri-duri yang sedang ia tumbuhkan. Keindahan tubuhnya hanyalah umpan, namun telinga dan otaknya adalah senjata sejati yang akan ia gunakan suatu hari nanti. Di dalam sangkar derita The Velvet Rose, Kirana tersenyum dalam hati—malam ini, ia tidak hanya mendapatkan pundi-pundi uang dari komisi botol sampanye, tetapi ia juga baru saja mendapatkan kunci pertama untuk membuka borok kekuasaan orang-orang yang menguasai Kota Valerion.