NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Satu per satu kandidat lulusan luar negeri keluar dari ruang kerja utama dengan wajah yang tegang. Keangkuhan yang tadi mereka pamerkan di ruang tunggu perlahan luntur, digantikan oleh raut cemas setelah menghadapi rentetan pertanyaan tajam dari pria yang mereka kenal sebagai Tuan Malik Ibrahim pemilik perusahaan teknologi terbesar di Asia.

Hingga akhirnya, jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. Pintu jati besar itu kembali terbuka, dan Diki melangkah keluar sembari melihat tablet di tangannya.

"Kandidat terakhir, Eliza Daneswara. Silakan masuk," ucap Diki dengan suara baritonnya yang formal.

Eliza menarik napas dalam-dalam, merapalkan doa pendek di dalam hati, lalu berdiri. Membungkuk hormat pada rekan-rekannya yang saat ini sudah tidak berwajah angkuh lagi. Dengan langkah yang anggun namun penuh ketegangan yang disembunyikan rapat-rapat, ia melangkah masuk ke dalam ruangan luas berlantai marmer gelap tersebut.

Di balik sebuah meja kerja besar dari kayu jati, duduklah Tuan Malik. Penyamaran rambut ikal beruban dan kumis tebalnya berpadu sempurna dengan sorot mata tajam di balik kacamata kotak tebal. Aura pria matang berusia 40-an itu begitu mengintimidasi, membuat atmosfer ruangan terasa seolah kekurangan oksigen.

"Silakan duduk, Eliza," ucap Faas. Suaranya terdengar berat, serak, dan penuh wibawa tiruan.

"Terima kasih, Tuan," jawab Eliza santun sembari mendudukkan diri di kursi kulit di hadapan pria itu. Ia melipat tangannya di atas pangkuan, menjaga pandangannya tetap teduh dan sopan, tidak menatap langsung mata atasannya secara lancang.

Faas membalik lembar dokumen Eliza dengan gerakan yang lambat dan ritmis. Sengaja menciptakan keheningan yang menyiksa untuk menguji mental gadis di depannya.

"Saya sudah membaca resumenya," buka Faas, memecah kesunyian. "Lulusan terbaik universitas lokal, tanpa pengalaman kerja satu tahun pun di bidang korporasi. Jujur saja, posisi Sekretaris Utama di Apex Core adalah jantung dari operasional saya. Empat kandidat sebelum kamu memiliki sertifikasi internasional dan portofolio yang mengagumkan."

Faas mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan. Matanya menyipit, bersiap memberikan pertanyaan menjebak yang dirancang khusus untuk menguliti motivasi terdalam seorang pelamar.

"Pertanyaan saya sederhana, Eliza. Jika besok pagi, ada sebuah perusahaan kompetitor yang menawarkan posisi yang sama dengan gaji tiga kali lipat dari apa yang saya berikan, ditambah dengan fasilitas rumah mewah, mengingat kamu sangat ingin mandiri secara finansial, apakah kamu akan mengkhianati kontrak kerja di sini dan mengambil kesempatan itu? Jawab dengan jujur. Saya tidak butuh jawaban klise tentang loyalitas."

Pertanyaan itu adalah jebakan psikologis yang kejam. Jika Eliza menjawab "tidak" dengan menggebu-gebu, itu akan terdengar seperti kebohongan klise di depan pria secerdas Tuan Malik. Namun jika ia menjawab "ya", ia akan langsung ditendang.

Diki yang berdiri di sudut ruangan sempat menahan napas, ikut penasaran bagaimana adik tiri Maudi ini akan lolos dari jerat pertanyaan sang mantan agen rahasia.

Eliza terdiam sejenak. Alih-alih panik atau buru-buru menjawab, ia justru menundukkan kepala dengan senyum tipis yang sarat akan kerendahan hati. Ketenangan yang ia pelajari dari masa-masa sulitnya tiga tahun terakhir terpancar jelas.

"Tuan Malik," Eliza mulai berbicara, suaranya terdengar sangat lembut namun stabil, menggema dengan jernih di ruangan itu. "Saya tidak akan berbohong bahwa uang dan kemandirian adalah apa yang saya cari saat ini. Namun, saudara saya pernah mengajarkan satu hal yang sangat berharga setelah badai besar menimpa hidup kami... bahwa harga diri dan rasa syukur tidak memiliki label harga."

Eliza mendongak, menatap area dasi Tuan Malik dengan penuh hormat. "Jika saya menerima tawaran kompetitor hanya karena materi, artinya saya adalah seorang pekerja yang bisa dibeli. Dan jika hari ini saya bisa dibeli oleh mereka, maka besok saya pun bisa dibeli oleh musuh mereka untuk menghancurkan perusahaan tersebut. Seseorang yang bergerak hanya karena angka, tidak akan pernah memiliki rasa kepemilikan terhadap tempatnya bekerja."

Gadis itu menjeda kalimatnya sejenak, mengambil napas dengan tenang. "Saya memilih Apex Core bukan karena saya mencari tempat dengan tawaran tertinggi, melainkan karena saya mencari tempat di mana integritas dan hasil kerja keras saya dihargai secara adil. Jika Tuan memberikan saya kesempatan, loyalitas saya bukan dibeli oleh gaji, melainkan oleh kepercayaan yang Tuan berikan kepada seorang lulusan baru yang belum punya apa-apa ini. Dan kepercayaan, bagi saya, tidak bisa ditukar dengan rumah mewah sekalipun."

Di balik meja besarnya, sepasang mata asli Faas di balik kacamata tebal itu sedikit melebar. Ada riak kekaguman yang langka bergetar di dadanya. Jawaban Eliza tidak hanya cerdas secara logika bisnis, tapi juga menunjukkan kedalaman jiwa yang bersih dari keserakahan. Gadis ini benar-benar telah berubah total menjadi mutiara yang berkilau di dalam lumpur.

Faas menyandarkan kembali punggungnya ke kursi. Wajah penyamarannya tetap datar, namun ketukan jemarinya di atas meja menandakan kepuasan.

"Jawaban yang menarik," ucap Faas pendek. "Wawancara selesai. Kamu bisa menunggu hasilnya di luar."

"Baik, Tuan. Terima kasih atas waktunya," Eliza berdiri, membungkuk takzim, lalu melangkah keluar dengan keanggunan yang bersahaja....

Sore harinya, setelah melalui rapat evaluasi yang ketat bersama dewan direksi, Apex Core mengumumkan hasil seleksi yang mengejutkan banyak pihak. Dari lima kandidat lulusan terbaik yang tersisa, hanya tiga orang yang akhirnya diterima bekerja, dan mereka ditempatkan di posisi yang berbeda-beda berdasarkan keseriusan dan mentalitas yang dinilai langsung oleh Tuan Malik.

Michele, lulusan London yang sempat meremehkan Eliza, diterima namun hanya ditempatkan di Divisi Hubungan Internasional karena kemampuannya yang condong ke arah diplomasi luar. Kandidat dari Singapura ditempatkan di bagian Analis Risiko.

Sementara posisi yang paling sakral, yang paling dekat dengan pusat kekuasaan korporasi raksasa tersebut...

"Selamat, Eliza Daneswara. Mulai besok pagi, Anda resmi menjabat sebagai Sekretaris Utama Tuan Malik Ibrahim," ucap Diki secara resmi di ruang tengah.

Mendengar pengumuman itu, Eliza menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Air mata haru yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia berulang kali mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta. Langkah pertamanya untuk menebus masa lalu dan berdiri di atas kaki sendiri akhirnya terwujud di tempat yang paling tidak terduga.

Ke empat rekannya ikut senang melihat Eliza di terima, beberapa saat yang lalu semuanya memperhatikan Eliza,cara Eliza yang terus berdzikir,dan ketenangan yang di miliki Eliza, memang mampu untuk menjadi sekretaris utama..

Di balik kaca besar ruang kerjanya, Faas berdiri diam menatap ke bawah, memperhatikan sosok Eliza yang berjalan keluar gedung dengan langkah yang kini jauh lebih ringan dan penuh harapan.

Faas menyunggingkan senyum misteriusnya. Singa tenang itu telah menarik sang mutiara masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. Dan pelan tapi pasti, jalannya untuk menata masa depan bersama Eliza, sembari membiarkan keluarga Jihan terus melonjak sebelum akhirnya jatuh, kini telah resmi dimulai.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!