Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayembara Rahasia dan Keajaiban di Kamar Bayi
Deru mesin mobil mewah itu meredam suara rintik hujan yang tersisa. Di kursi belakang, Bi Asih dengan cekatan menyelimuti tubuh Aisha yang menggigil hebat menggunakan kain hangat yang tersedia di mobil. Ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Aisha—lemah, namun masih berdetak.
"Pak, lebih cepat lagi! Kasihan wanita ini, badannya panas sekali. Den Kael juga pasti sudah semakin lemas di rumah," desak Bi Asih pada sang sopir, cemasnya berlipat ganda.
Mobil berbelok tajam memasuki gerbang besi tinggi yang menjulang angkuh, menyusuri pelataran luas, dan berhenti tepat di depan pintu utama mansion megah milik Adrian. Beberapa pelayan pria dengan sigap langsung membantu membopong tubuh Aisha yang tak berdaya masuk ke dalam rumah.
---
Sementara itu, di kamar utama lantai dua, atmosfer terasa mencekam. Adrian berdiri di dekat ranjang bayi dengan tatapan mata yang menggelap frustrasi. Kael tidak lagi menangis histeris; suaranya kini beralih menjadi rengkuhan lirih yang serak, pertanda tenaganya sudah terkuras habis. Wajah bayi mungil itu pucat, dan bibirnya mulai mengering.
"Tuan! Tuan Adrian!"
Suara napas terengah-engah Bi Asih memecah ketegangan di kamar itu. Adrian langsung berbalik, matanya menatap tajam asisten rumah tangga seniornya tersebut.
"Mana ibu susu yang aku minta? Mengapa kamu kembali dengan tangan kosong?" tanya Adrian, suaranya rendah namun sarat akan ancaman yang mengintimidasi.
"Bukan kosong, Tuan! Kami menemukannya. Seseorang... seorang wanita pingsan di halte bus depan kompleks. Dasternya basah oleh air susu, Tuan. Dia baru saja melahirkan!" lapor Bi Asih dengan terbata-bata karena kelelahan.
Dokter pribadi Adrian yang masih berjaga di sana langsung menyahut, "Tuan Adrian, kita tidak punya waktu untuk melakukan tes kesehatan menyeluruh. Kondisi bayi Kael sudah di ujung tanduk. Kita harus membiarkan wanita itu mencoba menyusuinya sekarang juga, atau kita akan terlambat."
Adrian terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Ia adalah seorang pria yang terbiasa dengan segala sesuatu yang terencana, steril, dan sempurna. Membiarkan seorang wanita asing yang ditemukan tergeletak di jalanan untuk menyusui putra tunggalnya, pewaris tunggal kekayaan keluarga Arkan, adalah hal yang di luar logikanya.
Namun, pandangannya jatuh pada Kael yang napasnya kian pendek. Ego dan keangkuhannya runtuh seketika demi nyawa sang anak.
"Bawa wanita itu ke kamar sebelah. Bersihkan tubuhnya seadanya, ganti bajunya. Dokter, pastikan tidak ada luka infeksi terbuka pada tubuhnya yang bisa menular pada anakku. Lakukan cepat!" perintah Adrian dingin.
---
Setengah jam kemudian, Aisha dipindahkan ke sebuah ranjang empuk di kamar perawatan darurat. Tubuhnya sudah dibersihkan dan diganti dengan pakaian tidur katun yang longgar dan bersih. Meskipun kesadarannya belum pulih seratus persen, alam bawah sadar Aisha terus memberontak. Ia merasakan dadanya yang semakin membengkak, terasa sangat panas dan nyeri, mendambakan sebuah dekapan.
"Anakkku... di mana anakku..." igau Aisha di tengah deman tinggi, air matanya menetes dari sudut kelopak mata yang terpejam.
Bi Asih menatap iba pada wanita muda di depannya. "Kasihan sekali kamu, Nak. Kamu merindukan bayimu, dan di sini ada bayi yang merindukan ibunya."
Tak lama kemudian, Adrian masuk ke dalam kamar sambil menggendong Kael yang sudah sangat lemah. Dokter mengangguk pada Bi Asih, memberi isyarat agar proses itu segera dimulai. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Bi Asih memosisikan tubuh Aisha agar sedikit menyamping, lalu mendekatkan tubuh mungil Kael ke dada Aisha.
Begitu kulit bayi Kael bersentuhan dengan kehangatan tubuh Aisha, sebuah keajaiban yang tak masuk akal terjadi.
Kael yang sejak satu minggu lalu selalu meronta dan memuntahkan segala jenis dot serta susu formula, mendadak berhenti merengkuh. Penciuman tajam bayi mungil itu langsung mengenali aroma alami seorang ibu. Dengan insting murninya, mulut kecil Kael mulai mencari sumber kehidupan, dan sesaat kemudian, ia mulai menyusu dengan begitu tenang.
Aisha, yang awalnya mengigau panik, mendadak mengembuskan napas lega. Guratan rasa sakit di wajah pucatnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi kedamaian yang mendalam. Jantungnya yang semula berdegup kencang karena trauma, kini berdetak seirama dengan isapan teratur dari bayi yang berada di dekapannya. Air susu yang tadinya menyiksa Aisha karena membendung, kini mengalir lancar, memberikan kehidupan baru bagi Kael.
Adrian terpaku di tempatnya berdiri. Kedua matanya yang biasa menatap dunia dengan dingin kini melebar, tak berkedip menyaksikan pemandangan di depannya. Selama satu minggu ini, ia telah menyewa puluhan dokter dan membeli fasilitas medis terbaik, namun tak ada satu pun yang bisa menenangkan putranya. Dan sekarang, seorang wanita jalanan yang malang, hanya dalam hitungan detik, mampu menyelamatkan nyawa anaknya.
Dokter memeriksa denyut nadi Kael yang perlahan mulai stabil dan tersenyum lega. "Ini keajaiban, Tuan Adrian. Tubuh bayi Kael menerima ASI wanita ini dengan sangat sempurna. Ikatan batin mereka... luar biasa. Bayi Kael telah melewati masa kritisnya malam ini."
Adrian tidak bersuara. Ia melangkah mendekati ranjang, menatap lekat-lekat wajah Aisha yang tertidur pulas dengan Kael yang mendekam nyaman di pelukannya. Detik itu juga, Adrian tahu, hidup wanita ini tidak akan pernah sama lagi.
"Bi Asih," panggil Adrian dengan suara baritonnya yang pelan namun tegas.
"Iya, Tuan?"
"Jaga dia baik-baik. Begitu dia sadar besok pagi, bawa dia langsung ke ruang kerjaku. Aku sendiri yang akan menentukan nasibnya di rumah ini."
---
Bersambung