NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penangkapan di Pagi yang Dingin

Pagi itu suasana masih gelap ketika Manuel melangkah masuk ke dalam kamar Arthur. Jam dinding menunjukkan pukul 05.40. Arthur masih tertidur pulas di bawah selimut tebal, dengan wajah yang terlihat begitu damai, sebuah pemandangan yang jarang terjadi. Napasnya teratur, seolah-olah ia sedang berada di tempat yang sangat jauh dari dunia pembunuhan dan jeruji penjara.

Manuel berdiri sejenak di ambang pintu, lalu mengetuk kusen kayu dengan keras. "Rutherford. Bangun. Kita berangkat sekarang."

Arthur mengerang pelan, lalu membuka matanya setengah. Rambut hitamnya tampak semakin acak-acakan. "Jam berapa ini? Matahari saja belum muncul, Manuel."

"Charlie Moon. Kita baru saja mendapat informasi terbaru dari tim pengawasan lapangan. Pria itu sedang berkemas di apartemennya. Kalau kita terlambat sedikit saja, dia bisa kabur," kata Manuel cepat. "Ayo, pakai hoodie-mu. Kita berangkat lima menit lagi."

Arthur menghela napas panjang, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap wajahnya yang kasar. "Baiklah, baiklah. Kasus ini benar-benar tidak memberiku waktu untuk tidur nyenyak."

Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil sedan hitam yang melaju cepat menembus jalanan Manhattan yang masih sepi. Arthur bersandar di kursi penumpang dengan mata setengah terpejam, sesekali menguap lebar. Manuel beberapa kali meliriknya, tetapi memilih untuk tidak berkata apa-apa.

Mereka tiba di gedung apartemen Charlie Moon tepat saat langit fajar mulai benderang. Tim buser kepolisian sudah bersiap di posisi masing-masing. Manuel memberikan aba-aba singkat melalui radio genggam. Sementara itu, Arthur tetap berada di baris belakang dengan kedua tangan terbenam di saku hoodie, hanya mengamati situasi secara pasif.

Pintu apartemen didobrak dengan satu entakan cepat. Dalam sekejap, terdengar suara teriakan histeris dan bunyi barang-barang yang terjatuh ke lantai. Beberapa menit kemudian, Charlie Moon digiring keluar dengan tangan terborgol erat di belakang punggung. Wajah pria itu pucat pasi, dengan sorot mata liar yang bergerak gelisah ke segala arah.

Saat berjalan melewati Arthur, langkah Charlie sempat terhenti sejenak. "Kau… kau yang membantu mereka menemukan tempatku?"

Arthur hanya menyunggingkan senyum miringnya yang dingin, lalu menyahut dengan suara rendah. "Sahabat dari kecil seharusnya tidak menggorok leher sahabatnya sendiri, Charlie."

Charlie segera ditarik masuk ke dalam mobil patroli. Manuel kemudian berjalan mendekati Arthur. "Kau mau ikut ke ruang interogasi? Ini kesempatan bagus untuk melihat reaksinya secara langsung."

Arthur menggelengkan kepala pelan. "Tidak. Aku lelah. Kau yang tangani saja semuanya. Aku memilih kembali ke apartemen."

Manuel mengerutkan keningnya, tampak sangsi. "Kau yakin? Ini kasusmu juga."

"Aku sudah memberikan semua potongan teka-teki kecilnya,” jawab Arthur sambil kembali menguap. “Sisanya adalah urusanmu, Detektif. Aku hanya butuh mandi air hangat yang lama dan secangkir kopi yang bisa kunikmati tanpa perlu terburu-buru."

Manuel menghela napas panjang, tetapi akhirnya ia mengangguk setuju. "Baiklah. Aku antar kau pulang terlebih dahulu."

Arthur turun tepat di depan apartemen pengawasan mereka. Ia melangkah masuk sendirian, naik menggunakan lift, lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah membersihkan diri dengan air hangat dalam waktu yang cukup lama, ia duduk bersantai di balkon kecil sambil memegang secangkir kopi hitam manis. Udara pagi itu masih terasa sangat dingin, tetapi ia benar-benar menikmatinya.

Pikirannya kembali melayang memikirkan Charlie Moon, seorang sahabat yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri. Ia juga teringat Stevie yang ternyata hanya terlibat dalam sebuah pertengkaran emosional, serta seluruh lingkaran keluarga Harrington yang hancur berkeping-keping akibat rahasia mereka sendiri.

Arthur tersenyum pahit pada dirinya sendiri. "Aku yang dulu bahkan jauh lebih parah dari mereka semua," gumamnya pelan ke arah langit pagi. "Namun, untuk sekarang, aku hanya menginginkan sebuah kehidupan yang tenang. Keluarga. Rumah yang nyaman. Bukan genangan darah lagi."

Ia memejamkan matanya, membiarkan embusan angin pagi menyapu lembut permukaan wajahnya. Kasus pertamanya sebagai konsultan memang sudah selesai. Namun, sebagai seorang jenius, ia tahu betul bahwa Manuel pasti akan segera datang kembali membawa berkas kasus baru yang jauh lebih rumit.

Untuk saat ini, Arthur hanya ingin menikmati keheningan yang langka ini sejenak, sebelum monster di dalam dirinya, atau yang sedang berkeliaran di luar sana, kembali memanggilnya untuk beraksi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!