NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Mobil melaju perlahan menuju Jalan Somba Opu. Semakin dekat ke kawasan pemakaman, suasana makin berubah—angin malam berhembus dingin menusuk tulang, membawa bau tanah lembap yang tajam. Penerangan jalan makin jarang, hanya lampu kendaraan yang membelah kegelapan pekat.

Di kursi belakang, Aldric duduk menempel rapat ke sisi Daxon, telinganya hampir menutup rapat. Di kursi depan, Eric menyetir dengan tangan kaku, matanya bergerak gelisah meneliti setiap bayangan pohon dan nisan yang tampak samar di pinggir jalan.

"Da‑Daxon..." ucap Aldric serak, suaranya bergetar. "Lihat... di sana... bukankah itu tadi ada sosok putih melayang di antara makam?"

Eric menelan ludah susah payah. "Sa‑saya juga melihatnya, Tuan... Bayangan yang berjalan tanpa suara... Kadang berhenti tepat di tengah jalan seolah ingin menyeberang tapi tak punya kaki."

Angin berdesir kencang, membuat ranting‑ranting pohon saling bersentuhan dan mengeluarkan suara seperti orang berbisik‑bisik atau tertawa pelan. Sesekali terdengar suara jatuh batu kecil atau geraman samar dari arah semak belukar yang gelap.

Daxon duduk tenang saja, tatapannya lurus ke depan, namun sesekali ia menyadari kedua orang di sampingnya makin menggigil hebat, keringat dingin membasahi telapak tangan mereka.

"Tetap fokus," ucap Daxon datar, meski pun ia sendiri mengakui udara di sini terasa jauh lebih berat dan dingin dibanding tempat lain.

Mobil terus melaju melewati jalan yang makin sepi dan gelap. Angin malam berhembus kencang, membuat daun‑daun bergesekan berbunyi seperti orang berbisik panjang. Di kejauhan, cahaya lampu jalan hanya tampak remang‑remang, bergoyang‑goyang seolah takut sendiri.

Aldric sudah menempelkan seluruh badannya ke sisi Daxon, bahunya bergetar hebat. Tangannya mencengkeram lengan baju Daxon sampai terasa sedikit sakit.

"Daxon... lihat itu!" ucapnya bergetar sambil menunjuk ke arah jendela. "Bukankah tadi ada sosok tinggi berbalut kain putih berjalan di samping mobil? Cepat sekali... mengikuti kita!"

Di kursi depan, Eric menyetir sambil sesekali melirik kaca spion dengan mata terbelalak lebar. "Sa‑saya juga melihatnya, Tuan... kadang hilang, kadang muncul lagi di belakang, di samping, bahkan seolah mau melompat ke atap!" ucap Eric bergetar.

Tiba‑tiba angin berdesir kencang sekali, membuat ranting pohon panjang menyapu kaca jendela dengan suara seret... seret...

"HUAAA! Dia mau masuk!" teriak Aldric sampai suaranya memecah sunyi, lalu langsung menundukkan kepala dan menutup wajah dengan kedua tangan. "Jangan! Saya cuma ikut saja, jangan ganggu saya!"

Eric sampai hampir memutar setir tiba‑tiba karena kaget, keringat dingin bercucuran deras di dahinya. "T‑Tuan Daxon... suaranya... seolah ada yang berjalan di atas atap mobil ini..."

Daxon duduk tegak, wajahnya tetap tenang meski dalam hati ia menahan tawa melihat tingkah dua orang yang biasanya berani menantang bahaya, kini sampai menggigil kedinginan karena bayangan sendiri.

"Itu cuma ranting pohon dan angin," ucap Daxon datar, tapi suaranya tak cukup menenangkan mereka.

"Ranting mana yang seberat itu, Daxon?!" seru Aldric masih menunduk. "Kalau manusia saya lawan, tapi kalau yang tak terlihat begini... saya pasrah saja!"

Tak lama kemudian terdengar suara.

Krek... Krek...

Dari arah ban mobil melewati ranting kering.

"Kakinya! Dia melompat ke depan roda!" teriak Eric hampir berhenti mendadak.

Aldric makin erat memeluk lengan Daxon, sampai rasanya seperti tidak mau dilepaskan lagi sampai mereka keluar dari jalan ini.

Semakin jauh masuk, kegelapan makin tebal, tapi Aldric dan Eric makin berlebihan menanggapinya.

Tiba‑tiba ada suara.

Hup... Hup...

Karena ban melewati genangan air kecil.

"NAPASNYA! Dia napas tepat di belakang jok ini!" teriak Aldric, kini sudah hampir naik ke atas paha Daxon sambil memeluk erat lengan sahabatnya sampai terasa kesemutan. "Daxon, lindungi aku, aku belum sempat menikah!"

Eric menyetir dengan badan tegak kaku, matanya melotot lurus ke depan tak berani menoleh sedikit pun. "T‑Tuan... sepertinya ada yang duduk di atap... mobilnya jadi terasa lebih berat..."

Daxon menggeleng pelan, bibirnya tersenyum tertahan sampai hampir bergetar. Ia sengaja berbisik pelan, "Hati‑hati... katanya di sini suka ada yang menepuk bahu kanan..."

Belum selesai kata itu, Aldric langsung menjerit pendek lalu menekan kedua bahunya sendiri erat‑erat. "JANGAN! JANGAN TEPUK! Saya minta maaf kalau pernah lewat sini tanpa izin!"

Eric sampai menginjak gas lebih kencang sedikit sambil bergumam sendiri, "Cepat sampai... cepat sampai... biar ada orang banyak..."

Hingga akhirnya di ujung sana tampak deretan lampu remang lapak sate di pinggir Jalan Somba Opu. Begitu terlihat cahaya terang, Aldric langsung menghela napas panjang sampai dadanya terasa lega, masih tak melepaskan cengkeramannya. Eric pun mengusap keringat di dahi sampai rambutnya sedikit basah.

"Syukurlah... masih hidup..." ucap Aldric dan Eric bersaman, mereka bernapas lega.

Daxon akhirnya tertawa kecil, suara rendah yang terdengar begitu puas melihat Aldric dan Eric yang terlihat tangguh dan pemberani baru saja lulus ujian ketakutan yang konyol.

Mobil berhenti tepat di pinggir Jalan Somba Opu, di bawah lampu remang yang berkedip‑kedip. Asap mengepul harum dari arang yang membara, bau bumbu kacang langsung menyebar dan menenangkan sedikit rasa takut mereka. Penjualnya, seorang kakek ramah, sedang sibuk membolak‑balik tusukan sate.

Begitu turun, Aldric langsung berdiri menempel di samping Daxon, matanya terus melirik ke arah jalan gelap yang baru saja mereka lewati, seolah takut ada yang ikut sampai ke sini. Tangannya bahkan tak berani menjauh sedikit pun.

Eric bernapas lega sambil mengusap dada, lalu maju sedikit dengan langkah masih agak kaku. "Pak... beli sate ayam... banyak ya," ucapnya agak tergesa, ingin segera selesai dan kembali masuk ke mobil.

Kakek penjual menatap mereka sekilas, lalu tersenyum geli melihat penampilan tiga orang itu—terutama Aldric dan Eric yang tampak seperti baru selamat dari bahaya besar. "Baru lewat sana ya? Wajah‑wajahnya pucat semua," canda kakek itu sambil menyusun tusukan.

Daxon tersenyum tipis, sementara Aldric hanya menelan ludah. "Kita... kita hanya lewat saja, Pak. Cepat dibungkus ya, secepatnya," sahutnya tanpa berani menoleh ke belakang.

Sambil menunggu, Eric terus berdiri di dekat lampu paling terang, seolah cahaya itu saja yang bisa melindunginya. Aldric malah berdiri tepat di samping Daxon sampai bahu mereka bersentuhan.

Tak lama sate sudah siap, dibungkus rapi dengan kertas minyak dan daun pisang. Aromanya sangat menggugah selera. Daxon mengambil bungkusan itu, lalu menoleh ke kedua temannya yang masih tampak was‑was.

"Ayo pulang," ucap Daxon singkat.

Mendengar kata itu, Aldric dan Eric langsung bergerak cepat masuk ke mobil, seolah lupa rasa lelahnya—siap kembali melewati jalan seram itu, asalkan sudah ada tujuan pulang.

...****************...

Sesampainya di rumah, Daxon dan Aldric langsung berjalan masuk ke dalam mansion, sementara Eric segera bergabung kembali dengan rekan‑rekan penjaga yang lain.

Setelah mereka berdua sudah berada di dalam mansion, Daxon bertemu Lisa. "Di mana Azalea?" tanyanya.

"Nyonya muda ada di ruang keluarga, tuan. sedang menonton film," jawab Lisa sopan.

Daxon dan Aldric pun berjalan ke sana. Begitu masuk, mereka mendapati Azalea sudah terlelap nyenyak di sofa, sementara televisi masih menyala. Tepat saat itu muncul adegan seram—seorang Kuntilanak tiba‑tiba tampak jelas di layar.

Daxon sedikit terkejut dan mundur selangkah. Tapi Aldric yang baru saja pulang dari jalan seram, langsung melonjak kaget dan berteriak keras, "AAAKKHHH! Ada penampakan?!" suaranya memecah keheningan, membuat Daxon menoleh sambil menahan tawa.​

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!