NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:252.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Hasil Pemeriksaan

Kaivan mengernyitkan keningnya saat menyadari tak ada pergerakan apapun dari Airin. Bibirnya sedikit mengatup seolah sedang menahan rasa tidak sabar. "Airin? Kau di situ, 'kan? Kenapa diam saja?" tanyanya, nada suaranya datar tapi jelas menyiratkan rasa penasaran.

Airin tersentak dari lamunannya. "Eh, iya! Maaf... Aku... Aku di sini," jawabnya tergagap. Wajahnya memerah seperti terbakar, tak tahu harus menjawab apa.

Kaivan memiringkan kepalanya sedikit, mencoba membaca suasana meski tak bisa melihat. "Kalau tidak apa-apa, kenapa kau seperti sedang berpikir keras? Ada sesuatu yang salah?"

Airin memilin jemarinya sendiri, mencoba mencari kata-kata. Pandangannya tak sengaja tertuju pada celana Kaivan yang kotor dan penuh bercak lumpur. "Emm... Sebenarnya, aku cuma ingin bilang... Celanamu kotor sekali. Mungkin... lebih baik kamu menggantinya?" ucapnya tergesa-gesa, suaranya naik turun menahan gugup.

Kaivan diam sejenak, mencerna kalimat Airin yang terdengar terbata-bata. Kemudian, ia mengangkat sebelah alis, meskipun tak bisa melihat, ia tahu Airin pasti merasa canggung. "Hanya itu? Kenapa harus gugup?" tanyanya pelan, nada suara tetap datar, tapi kini disertai sedikit senyum tipis yang nyaris tak kentara.

Airin menghindari tatapan kosong Kaivan, merasa malu tanpa alasan jelas. "A-aah, tidak apa-apa kok! Aku ambilkan pakaian lain untuk kamu!" serunya, lalu buru-buru beranjak dengan langkah kikuk meninggalkan ruangan.

Tak lama kemudian, Airin sudah kembali. "Maaf, mungkin agak sempit," gumamnya pelan sambil menyerahkan baju dan celana sederhana itu kepada Kaivan.

Kaivan meraba kain di tangannya dengan ragu. "Ini... pakaian siapa?" tanyanya, suaranya masih serak, terdengar bercampur kelelahan.

"Punya almarhum ayahku," jawab Airin, menundukkan kepala sebentar, lalu kembali berkata, "kamu bisa berganti pakaian di kamar," ucapnya segera membimbing Kaivan ke kamar. "Gantilah pakaian di sini. Aku akan menunggu di luar kamar. Jangan khawatir, aku akan membantu jika kamu kesulitan."

Kaivan terdiam sejenak, menelan gengsinya. "Baik," katanya singkat, mencoba bergerak perlahan mengikuti arahan Airin.

Setelah beberapa menit, Airin bertanya dari luar kamar, memastikan Kaivan telah selesai mengenakan pakaian. Ia menahan tawa kecil saat melihat pria itu mengenakan pakaian yang tampak terlalu kecil untuk tubuh tegapnya. Lengan bajunya berhenti di pertengahan lengan, sementara celananya terlihat menggantung, memperlihatkan pergelangan kakinya.

"Ini... pakaian ini kekecilan," keluh Kaivan, mencoba menarik-narik kain yang terasa terlalu ketat.

Airin tak bisa menahan senyum melihat ekspresi kesalnya. "Maaf, hanya ini yang ada. Aku tidak punya pakaian lain yang lebih besar," katanya sambil menutup mulut, berusaha menyembunyikan tawa.

Kaivan mendesah, lalu mengerang pelan saat merasakan nyeri di lengannya. "Lupakan soal pakaian, ini... luka-lukaku," katanya, menyentuh salah satu memarnya.

"Oh iya, tunggu sebentar," kata Airin, langsung teringat sesuatu. Ia keluar begitu saja dari kamar itu meninggalkan Kaivan yang belum sempat bertanya.

"Gadis ini," gumam Kaivan.

Beberapa menit kemudian Airin kembali dengan seorang wanita paruh baya, bidan di desanya.

"Ini dia, Bu Warti," kata Airin, memperkenalkan wanita yang membawa tas kecil berisi peralatan medis sederhana.

Bidan Warti menatap Kaivan yang duduk di tepi ranjang dengan sorot mata penuh perhatian. "Wah, luka-lukamu cukup parah, Nak. Untung Airin menemukanmu," katanya sambil memeriksa luka di pelipis Kaivan. Ia sudah tahu tentang Kaivan karena Airin sudah menceritakannya tadi saat di jalan.

Kaivan hanya mengangguk singkat, belum mengenal Bu Warti membuatnya enggan berbicara banyak. Namun, ia merasa sedikit tenang melihat kesigapan Airin.

Airin berdiri di samping dengan cemas, memerhatikan bidan desa membersihkan luka-luka di tubuh Kaivan. "Bagaimana keadaannya, Bu Warti?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.

"Lukanya tidak fatal, tapi ia perlu istirahat total dan tidak banyak bergerak selama beberapa hari," jawab Bu Warti sambil menatap Kaivan dengan tegas. "Dan kamu, Nak, harus banyak bersabar. Tubuh kamu membutuhkan waktu untuk pulih. Sekarang ibu akan memeriksa matamu, Nak," kata Bu Warti, suaranya lembut tapi tegas. Ia mendekatkan senter kecil ke wajah Kaivan.Ia memiringkan kepala sedikit, memperhatikan respons mata Kaivan yang tidak menunjukkan reaksi terhadap cahaya.

Airin, yang tidak tahan lagi menahan keingintahuannya, bertanya dengan suara pelan, "Bagaimana, Bu? Apa matanya baik-baik saja?"

Bu Warti menghela napas perlahan, lalu menatap Kaivan dengan penuh simpati. "Nak, mata kamu tidak merespons cahaya. Ini bisa jadi akibat benturan keras di kepala saat kecelakaan, yang mungkin memengaruhi saraf penglihatan kamu. Tapi ada kemungkinan lain juga, terutama karena kamu sempat terendam di sungai yang airnya kotor. Air seperti itu bisa membawa bakteri atau zat berbahaya yang memicu infeksi atau iritasi serius pada mata."

Ia berhenti sejenak, memberikan waktu agar informasi itu dapat dicerna. "Ibu tidak bisa memastikan apakah ini hanya sementara atau mungkin lebih serius. Kamu benar-benar perlu diperiksa oleh dokter spesialis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut."

Kaivan mengangguk lemah. "Terima kasih," ucapnya pelan, meski masih terasa getir di suaranya.

Bu Warti mengeluarkan beberapa bungkus obat dari tasnya, meletakkannya dengan hati-hati di atas meja. Ia menatap Airin dengan serius, memberikan penjelasan sambil menunjuk setiap obat.

"Ini salep untuk luka luar, oleskan tiga kali sehari. Lukanya jangan sampai kena air supaya cepat kering," jelasnya sambil membuka tutup salep kecil untuk menunjukkan isinya.

"Yang ini," lanjutnya sambil mengangkat botol obat, "harus diminum sebelum makan, dua kali sehari. Dan ini," ia menunjuk bungkusan tablet, "diminum setelah makan untuk membantu meredakan nyeri dan mencegah infeksi."

Bu Warti membuka botol kecil berisi cairan bening dan menunjukkannya pada Airin. "Ini obat tetes mata. Teteskan dua kali sehari, pagi dan malam. Tapi ingat, pastikan tanganmu bersih sebelum menggunakannya. Ini untuk membantu mengurangi iritasi atau infeksi yang mungkin terjadi akibat air sungai," jelasnya sambil menyerahkan botol itu ke tangan Airin.

Airin memandang botol kecil itu dengan cermat. "Jadi, obat ini bisa membantu menyembuhkan matanya, Bu?" tanyanya, sedikit berharap.

Bu Warti menggeleng pelan. "Ini hanya untuk mencegah masalah bertambah parah. Untuk memastikan kondisi matanya, dia harus segera diperiksa dokter spesialis mata. Tapi, gunakan obat ini dulu, ya. Setidaknya ini bisa meredakan ketidaknyamanannya sementara waktu."

Airin mengangguk patuh, berusaha mengingat instruksi tersebut. "Baik, Bu Warti. Saya akan pastikan semuanya teratur. Saya akan merawatnya sesuai petunjuk," ujarnya mantap meski dalam hati sedikit gugup takut salah memberikan obat.

Bu Warti tersenyum tipis, menepuk bahu Airin dengan lembut. "Kamu anak yang cekatan, Airin. Dengan perawatanmu, Ibu yakin dia akan cepat pulih."

Kaivan yang duduk tak jauh mendengarkan percakapan itu dengan seksama. Meski tak banyak bicara, ia merasa sedikit lega mendengar ada langkah-langkah untuk menangani masalah pada matanya.

Setelah Bu Warti pulang, Airin duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, wajahnya penuh rasa iba saat menatap Kaivan yang masih duduk di tepi ranjang dengan ekspresi kosong. Setelah mendengar penjelasan Bu Warti, pria itu terlihat lebih tenang dari yang ia kira, meski jelas ada kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.

"Emm... Kak Ivan," panggil Airin dengan nada lembut, sembari memilin jemari tangannya sendiri.

Kaivan yang duduk di tepi ranjang mengarahkan wajahnya ke arah suara itu. Meskipun pandangannya gelap, panggilan lembut itu terasa menyentuh sesuatu di dalam dirinya. Sebutan "kakak" dengan nada sedemikian halus membuat hatinya yang biasanya dingin dan terjaga, sejenak terasa hangat.

"Ada apa, Airin?" jawab Kaivan dengan suara yang tetap datar, meski ada sedikit getar emosi yang ia sendiri sulit pahami.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!