NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / CEO / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat Jalan, Nak!

“Kamu tega, Mas,” ucapnya dengan suara bergetar.

“Kamu biarkan aku berusaha mencintaimu sendirian, sementara hatimu tetap milik perempuan lain.”

Rayyan bangkit dari duduknya, menatap Ayra dari atas ke bawah.

“Justru kamu yang terlalu berharap. Aku tidak pernah berjanji mencintaimu.”

Ucapan itu langsung menancap dalam ke jantung Ayra dan memberi rasa sakit yang luar biasa. Tapi Ayra masih bisa tersenyum, meski getir.

“Kalau begitu,” katanya tegas, menatap lurus ke mata Rayyan sambil menahan rasa sakit di perutnya yang menegang.

“Mulai malam ini, aku juga tidak akan lagi mempertahankan pernikahan yang dibangun dari kebohongan.”

Rayyan terdiam sesaat. Untuk kali ini, ekspresi santainya sedikit goyah.

“Apa maksudmu?” tanyanya tajam.

Ayra mengangkat dagunya, matanya merah tapi sorotnya kuat.

“Aku tidak akan jadi istri bodoh yang menutup mata. Kalau kamu memilih dia, maka aku juga akan memilih diriku sendiri.”

Keheningan menggantung di antara mereka. Udara terasa berat.

Dan kini Rayyan menyadari, perempuan yang selama ini ia anggap lemah, ternyata berani melangkah diluar perkiraannya.

"Tapi kamu sedang hamil Ayra. Hamil anakku dan aku tak ingin terjadi apa-apa sama dia kelak."

Ayra menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya dengan pendengarannya.

"Apa Mas? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah selama ini kamu tidak perduli dengan kehamilanku? Bahkan kamu membiarkan aku menjalaninya sendirian dan memeriksakan kandunganku pun sendirian. Sudahlah, tidak usah sok ingin menjadi ayah yang baik. Itu sangat menggelikan bagiku... argh..." Ucapan lantang Ayra diakhiri ringisan yang ditahan. Tangannya refleks menekan perutnya yang semakin terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang memaksa ingin keluar.

Mendengar ucapan Ayra, Rayyan hanya mengedikkan bahunya sambil mencibir.

"Ya sudah, kalau begitu urus saja dirimu." Lelaki itu berdiri dari duduknya. Ia melangkah melewati Ayra yang mulai terengah. Keringat dingin membanjir di sekujur tubuhnya. Semakin ditahan, rasa sakit itu semakin menjadi dan tiba-tiba, serrr...

Seperti ada sesuatu yang pecah di dalam rahimnya, lalu ada cairan yang merembes ke sela-sela kaki mulusnya.

"Argh..." Ayra memekik, tak kuasa lagi menahan rasa sakit yang luar biasa.

Membuat Rayyan menghentikan langkahnya.

Ia berbalik dan seketika wajahnya menegang. Matanya membelalak saat melihat darah menggenang di lantai, mengalir dari kaki Ayra yang gemetar hebat.

“Ayra…?” suaranya tercekat.

Tubuh Ayra limbung. Tangan kirinya refleks mencengkeram perutnya yang terasa seperti diremat dari dalam. Rasa nyeri itu jauh lebih hebat dari sebelumnya, membuat napasnya terengah dan pandangannya mengabur.

“Argh… sakit, Mas…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar sebelum tubuhnya ambruk.

Refleks, Rayyan menangkapnya sebelum jatuh sepenuhnya ke lantai. Tangannya berlumur darah, Rayyan benar-benar panik.

“Ayra! Ayra, sadar Ayra.. lihat aku!” Ia menepuk pipi istrinya pelan, tapi mata Ayra sudah terpejam rapat, wajahnya pucat pasi.

Jantung Rayyan berdegup kencang. Tangannya gemetar saat meraih ponsel.

“Sial… sial!” gumamnya sambil menekan nomor darurat.

Tak ada lagi nada dingin atau sikap acuh. Yang tersisa hanya ketakutan yang menyesakkan dada.

Beberapa menit kemudian, suara sirene ambulans memecah keheningan malam. Ayra segera dilarikan ke rumah sakit. Rayyan duduk di samping brankar, menatap wajah pucat itu dengan perasaan yang sulit diartikan.

Tiba di rumah sakit, Ayra langsung dibawa ke ruang IGD.

Sementara Rayyan terduduk lemas. Baju putihnya sudah berubah warna, berlumur darah Ayra. Matanya kosong menatap lantai. Suara ponselnya yang dari tadi berdering tak dihiraukannya. Dia tahu, itu pasti telepon dari Liztha. Tapi dia tak bisa meninggalkan Ayra dalam keadaan seperti ini. Setidaknya ini untuk menebus rasa bersalahnya. Karena sikap bajingannya membuat Ayra pendarahan.

Di tengah kecemasannya, Rayyan teringat ibunya. Diapun segera menelepon wanita yang sudah melahirkannya itu

***

Matahari pagi telah memancarkan sinarnya, memberi kehangatan di bumi. Senyum cerah seharusnya mengawali semangat pagi untuk menyambut harapan agar hari ini bisa lebih baik lagi dari hari kemarin.

Tapi tidak dengan Ayra. Perasaannya sudah hancur berkeping-keping. Harapannya sudah punah oleh pengkhianatan suami dan kehilangan... Jabang bayinya.

"Selamat jalan, Nak, tunggu Mama di sana..." Bisiknya pilu, sambil menahan isak dan mengusap lembut perutnya yang sudah rata.

​Tadi, saat ia tersadar, dokter mengatakan kalau janin di dalam rahimnya tak bisa diselamatkan akibat guncangan batin yang hebat dan kontraksi dini yang memicu pendarahan hebat. Ayra memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit pagi yang biru namun terlihat abu-abu di matanya. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi bantal rumah sakit yang dingin.

​Pintu kamar rawat terbuka pelan. Langkah kaki yang sangat ia kenali terdengar mendekat. Itu Rayyan. Ayra tidak bergerak, bahkan tidak ingin melirik sedikit pun pada pria yang kini berdiri di samping ranjangnya.

​"Ayra," panggil Rayyan lirih. Suaranya tidak lagi tajam seperti semalam. Ada nada parau dan sisa kelelahan di sana.

​"Pergi, Mas," sahut Ayra datar. Suaranya hampir habis, kering oleh rasa sakit dan tangis yang tertahan.

​Rayyan menghela napas berat, mencoba meraih tangan Ayra, namun Ayra segera menariknya menjauh. Penolakan itu membuat Rayyan tertegun. Ia melihat tangan Ayra yang masih terpasang jarum infus, tampak sangat rapuh.

​"Aku tahu aku salah. Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini," gumam Rayyan. Ia menunduk, menatap lantai yang seolah jauh lebih menarik daripada harus menghadapi tatapan terluka istrinya.

​Ayra tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan.

​"Tidak menyangka? Kamu yang mendorongku ke jurang ini, Mas. Kamu yang membunuh harapan kecil yang sempat aku punya untuk pernikahan ini." Ayra akhirnya menoleh, menatap Rayyan dengan mata yang bengkak namun penuh dengan kilatan kebencian.

​"Sekarang setelah anak itu tidak ada, bukankah jalanmu untuk bersama wanita itu sudah terbuka lebar? Tidak ada lagi penghalang dan tidak ada lagi pengikat diantara kita."

​"Bukan begitu, Ayra. Aku tetap merasa kehilangan. Dia juga anakku," potong Rayyan cepat.

​"Anakmu?" Ayra mengulang kata itu dengan nada mengejek.

"Anak yang tidak pernah kamu sapa? Anak yang keberadaannya kamu anggap tidak ada? Jangan munafik! Kamu hanya ingin orang tahu kalau kamu adalah lelaki sempurna. Tapi lihat bajumu yang berlumuran darahnya, itu harga yang harus dia bayar akibat kelakuan bajingan Ayahnya!"

​Rayyan bungkam. Kalimat Ayra tepat sasaran, menusuk langsung ke titik terlemah dalam nuraninya yang baru saja terbangun.

​Tiba-tiba, ponsel di saku Rayyan kembali bergetar. Nama Liztha muncul di layar untuk kesekian kalinya. Rayyan menatap layar itu, lalu menatap Ayra. Ada keraguan yang nyata di matanya.

​"Angkatlah," ujar Ayra dingin sambil kembali membuang muka.

"Setelah itu pergilah. Urusan kita sudah selesai sejak kepergian dia. Setelah aku keluar dari sini, sebaiknya Mas cepat urus perpisahan kita."

​Rayyan masih terpaku di tempatnya. Getaran ponsel itu seolah menjadi pengingat akan dunia yang ia pilih, sementara di hadapannya, dunianya yang lain baru saja hancur berantakan karenanya.

Rayyan akhirnya melangkah keluar dengan bahu yang merosot. Awalnya dia bimbang. Tapi jika ia tak memenuhi panggilan Liztha, ia yakin wanitanya itu akan ngambek dan sulit untuk membujuknya. Rayyan tidak mau lagi kehilangan wanita itu.

Dan tanpa memperdulikan bagaimana perasaan istrinya yang baru saja mengalami guncangan, Rayyan lebih memilih menemui kekasihnya.

1
💕⃝🅐🅩🅘🅩🅘④⑨
ayra bebas 🤩
Kadrama17
"GIMANA LANJUTANNYA??? 😱
Penasaran kan Ray bakal ngomong apa ke ibu mertua?
Jangan sampai ketinggalan! Follow dulu + nyalain notif yaa
Besok jam 7 pagi kita lanjut! 🔥"
💕⃝🅐🅩🅘🅩🅘④⑨
pelakor ini makin ngeselin 😒
💕⃝🅐🅩🅘🅩🅘④⑨
sama zavian aja 🤭
Mifta A. R
si Marissa jahat bgt
Kembarr Kembaarr
waaaahhh..... .... kejahatan yg benar2 sangat mengagumkn dn otak licik selicik2 nya dr marisa.
Kale Ganindra Awan
ayra pasti cerdik,,
Kale Ganindra Awan
pantesan sifatnya jauh banget dng stella adik kandung mutiah,,marissa psikopat,,itu klau kluarganya mutiah tau,,jika marissa penyebab mutiah kecelakaan,,buang sja ke kandang buaya
Kale Ganindra Awan
marissa benar"seorang psikopat,,jngnkn orang lain,saudara kandungpun dia lenyapkn,demi ambisi dn obsesinya ke zaivan,,,cinta bertepuk sebelah tangan,,membangkitkn aura jahat dia
Kale Ganindra Awan
artinya istri zavian si muetiah kecelakaan,,marissa otak pembunuhannya,,kalau zavian tau semuanya,,bkln mampus kau marissa
💕⃝🅐🅩🅘🅩🅘④⑨
cerai aja udah 😒
💕⃝🅐🅩🅘🅩🅘④⑨
menyedihkan 😒😒
Kale Ganindra Awan
seandainya ada visual ayra dan zavian😍
Kale Ganindra Awan
zaivan hanya untuk ayra,,bukan untuk si jalang murahan😎
Kembarr Kembaarr
ini laah pelajaran yg sangat berharga bg seseorang yg akan memulai karir kejahatanya. soalnya nyawa sdh beberapa nyawa melayang dn berthn2 lolos dngn sangat2 bgs. gak salahkn klau ada yg menilai sedemikian
Kale Ganindra Awan
menggali kubur diri sendiri si Rayyan dn bumer itu
Kale Ganindra Awan
awal kehancuran Rayyan dn sekutunya👏👏👏
Kale Ganindra Awan
Zaivan jodohnya Ayra,,,bukan milik si jalang betina,,si jalang cukup dng si penghianat Rayyan
💕⃝🅐🅩🅘🅩🅘④⑨
ayra terlalu sabar
Kembarr Kembaarr
ceritanya hampir sama di dunia nyata. kejahatan dn kebengisan seorang yg berduit seolah luput dr hukum. kasus lewat sebegitu indahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!