Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangat yang Tertinggal
Semburat fajar berwarna keunguan perlahan mulai mengusir sisa kegelapan malam di ufuk timur. Cahaya pagi yang masih malu-malu menyusup masuk melalui celah gorden krem di kamar utama, memantulkan pendar temaram di atas lantai keramik. Suara rintik hujan lebat yang semalam mengguyur atap rumah kini telah mereda, berganti menjadi tetesan air yang jatuh teratur dari ujung genting, menyisakan udara pagi yang luar biasa menusuk tulang.
Di atas ranjang berukuran sedang yang terasa hangat, Naira melenguh pelan dalam tidurnya. Merasakan hawa dingin yang merayap, ia bergerak kecil, membalikkan tubuh yang semula menghadap ke dinding kini berputar ke arah kanan. Di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya, Naira masih mengenakan hijab instan rajut berwarna hitam yang longgar. Walau status mereka sudah halal, Naira sama sekali belum berani menunjukkan apa pun. Rasa malu dan canggung masih membentengi dirinya dengan sangat rapat.
Tepat di hadapannya, dipisahkan oleh sebuah guling putih panjang sebagai pembatas, Satria sudah lebih dulu terjaga. Satria berbaring miring, menatap lurus ke arah wajah tidur sang istri yang begitu tenang.
Pandangan Satria turun ke bawah selimut. Di balik kain tebal itu, ia bisa merasakan jemari lentik Naira yang semalam bertaut erat dengan jemarinya, ternyata masih saling mengunci. Genggaman itu bertahan sepanjang malam, seolah enggan dilepaskan oleh alam bawah sadar mereka.
“Dia bahkan tidak melepas hijabnya saat tidur,” batin Satria berbisik lembut, menatap kain hitam yang membungkus kepala istrinya.
Sama sekali tidak ada rasa kecewa di hati Satria. Sebaliknya, dadanya justru dipenuhi rasa kagum dan hormat.
“Terima kasih, Naira. Kamu sudah mau melonggarkan egomu semalam agar aku tidak kedinginan di kamar sebelah. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.” gumam Satria pelan
Mendengar sayup-sayup suara muazin dari kejauhan yang mulai berdeham mempersiapkan pengeras suara masjid, Satria sadar ia harus segera bersiap. Dengan sangat perlahan, Satria merenggangkan sela-sela jarinya. Ia melepaskan tautan tangan mereka satu demi satu dengan ekstra hati-hati, memastikan bahwa gesekan logam dari cincin kawin mereka tidak sampai membangunkan sang istri.
Begitu tangannya benar-benar terbebas, Satria beranjak pelan tanpa suara. Ia bergegas keluar dari kamar utama dan melangkah masuk ke dalam kamar kosongnya sendiri di seberang lorong.
Di dalam ruangan yang dingin itu, Satria mengambil kain sarung dan baju koko putihnya. Sambil mengancingkan kerah bajunya, matanya menatap kosong ke arah dinding. Pikiran pria itu masih tertinggal di atas kasur sebelah.
“Sentuhan tangannya semalam... kenapa bisa sehangat itu?” Satria tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya sendiri.
“Sabar, Satria. Jangan terburu-buru. Biarkan dia berjalan sesuai dengan kecepatannya sendiri. Tugasmu sekarang adalah menjaganya agar tidak merasa tertekan.” gumam Satria lirih.
Setelah memastikan penampilannya rapi, Satria segera melangkah keluar rumah untuk menunaikan ibadah salat Subuh berjamaah di mushola kompleks.
Beberapa menit setelah kepergian Satria, gema kumandang azan Subuh akhirnya memecah kesunyian pagi. Suara merdu itu langsung menyentuh pendengaran Naira, membuatnya terbangun dan membuka mata.
Naira menolehkan kepalanya ke sisi kanan kasur. Kosong. Sosok jangkung suaminya sudah tidak ada lagi di sana. Hanya ada bekas lekukan di atas bantal putih yang membuktikan bahwa semalam Satria benar-benar tidur di sampingnya.
Naira perlahan bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Pandangannya langsung tertuju pada telapak tangan kanannya sendiri. Seketika itu juga, memori tentang kejadian semalam berputar kembali di benaknya. Sentuhan kulit Satria yang hangat dan bagaimana jemari kokoh pria itu menyelip di antara sela-sela jarinya dengan begitu lembut.
Kedua pipi Naira mendadak terasa memanas. Ia menangkupkan tangan kirinya di atas punggung tangan kanan yang semalam digenggam erat oleh Satria, mencoba mempertahankan sisa-sisa kehangatan yang masih tertinggal di kulitnya.
“Ya Allah... kenapa jantungku berdegup se kencang ini hanya karena sebuah genggaman tangan?” gumam Naira berselimut malu. Sebuah senyuman kecil yang sangat tulus kini terukir di wajahnya. “Tapi... harus kuakui, tangan Mas Satria sangat nyaman.”
Naira buru-buru menggelengkan kepala untuk mengusir rasa salah tingkahnya. Ia segera beranjak untuk mengambil air wudu dan menunaikan salat Subuh.
Setelah selesai beribadah dan melipat mukenanya, Naira memutuskan untuk segera bergerak. Langkah kakinya membawa tubuhnya menyusuri rumah sederhana mereka. Ia mengambil sapu, membersihkan lantai dari debu-debu tipis, membuka jendela agar udara segar masuk, lalu bergegas menuju dapur mungil di bagian belakang.
Hari ini adalah hari pertama Satria akan kembali bekerja ke kantor kecamatan setelah libur beralih status menjadi suami. Naira ingin memberikan yang terbaik. Di atas meja dapur, ia mulai sibuk memotong sayuran, mengocok telur, dan menyiapkan bumbu.
Bukan hanya sarapan, hari ini Naira punya sebuah rencana kecil. Ia mengambil sebuah kotak makan plastik berwarna hijau dari dalam kardus yang belum sempat dibongkar. Naira berniat menyiapkan bekal makan siang pertama untuk Satria.
Sembari menata nasi hangat dan lauk pauk ke dalam kotak bertingkat itu, jemari Naira mendadak terhenti. Ragam pikiran mulai berkecamuk di dalam kepalanya.
“Eh... apa Mas Satria bakal merasa aneh ya kalau melihat bekal ini?” Naira menatap kotak makan itu dengan dahi berkerut cemas. “Dia kan seorang Kasubag di kantor kecamatan. Apa tidak memalukan kalau dia membawa kotak bekal seperti anak sekolahan? Bagaimana kalau teman-teman kantornya nanti malah mengejeknya? Ah... atau jangan-jangan Mas Satria tipe pria yang gengsian?”
Naira menggigit bibir bawahnya, bimbang. Namun, mengingat bagaimana Satria begitu lahap memakan masakan sederhananya semalam, Naira akhirnya memantapkan hati menepis keraguan itu.
“Tidak apa-apa. Ini kan bentuk perhatianku sebagai istri. Semoga saja Mas Satria tidak keberatan.” Ucap Naira menyemangati dirinya sendiri
Sementara itu, langkah kaki Satria tampak ritmis menyusuri jalanan kompleks yang mulai terang. Selesai berbaur sejenak dengan warga di mushola, ia melangkah pulang. Begitu kakinya melintasi pagar besi putih rumahnya, indera penciumannya langsung disambut oleh aroma harum tumisan bawang merah, gurihnya telur, dan wangi nasi hangat yang menyeruak memenuhi rumah sederhana mereka.
Satria membuka pintu utama dengan sangat pelan.
"Asalamualaikum," ucap Satria tapi ia tidak mendengar balasan apapun, malah pria itu disuguhkan aroma sebuah masakan.
“Aroma ini...” batinnya, memejamkan mata sejenak menikmati kehangatan yang langsung menyergap tubuhnya yang kedinginan setelah jalan kaki.
Rumah kecil yang awalnya terasa mati dan sepi, kini mendadak terasa begitu hidup dan bernyawa karena keberadaan sesosok wanita di dalamnya.
Satria melangkah tanpa suara menuju area dapur. Langkahnya terhenti di ambang batas ubin ruang tengah, matanya terpaku menatap punggung Naira yang sedang membelakanginya.
Naira terlihat begitu sibuk, bergerak ke sana kemari mengenakan celemek kremnya, menata makanan ke dalam sebuah wadah kotak dengan sangat teliti. Rambut dan lehernya tertutup rapat oleh hijab instan yang dipakainya sejak subuh tadi.
Satria berdiri mematung di belakang istrinya, menatap lekat setiap gerak-gerik kecil Naira. Pada detik itu, ada sebuah letupan emosi yang luar biasa kuat menghantam dada Satria. Rasa hangat, rasa memiliki, dan dorongan naluriah seorang pria yang teramat besar mendadak bangkit di dalam dirinya.
“Sungguh, Naira...” batin Satria menjerit lirih dalam diam. Sepasang matanya menggelap, menahan getaran hebat di jemarinya yang mendadak mengepal erat di sisi tubuh.
“Kalau saja tidak ada batasan dan kesepakatan yang mengikat kita saat ini... kalau saja kamu sudah sepenuhnya membuka hatimu untukku... saat ini juga aku ingin melangkah maju, merengkuh tubuh kecilmu dari belakang, dan memelukmu seerat mungkin untuk menyalurkan seluruh rasa terima kasihku.” gumam Satria pelan
Satria menarik napas panjang dan berat, mencoba sekuat tenaga menekan ego dan gejolak di dalam dadanya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya, mengunci rapat-rapat keinginan terliarnya demi menghormati kenyamanan sang istri yang teramat berharga baginya.
"Ehem... harum sekali masakannya, Naira," tegur Satria pelan, sengaja memberi tanda akan kehadirannya agar sang istri tidak terkejut.
Bersambung...