"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 #NEKAT
Denting bas yang berdentum rendah dari tata suara kelas atas klab malam Heaven seolah bergetar selaras dengan detak jantung Zevanya Anneliza Sanjaya. Di bawah siraman lampu neon ultra-violet yang berganti warna dari ungu pekat ke biru safir, dunia terasa melambat. Tidak ada tumpukan buku tebal, tidak ada revisi bab tiga yang dicoret-coret tinta merah oleh dosen pembimbing, dan yang paling penting, tidak ada aturan kaku dari kediaman Sanjaya. Malam ini, gadis yang kerap di sapa dengan sebuatan Anya itu, bukan mahasiswi tingkat akhir yang tercekik tenggat waktu. Malam ini, dia adalah dirinya sendiri.
Anya memejamkan mata sesaat, membiarkan rambut panjang kecokelatannya yang bergelombang indah terayun bebas mengikuti ritme musik house yang menghipnotis. Helai-helai rambutnya yang berkilau tampak kontras dengan kulit putih mulusnya yang tanpa noda, seolah memantulkan cahaya temaram di dalam ruangan eksklusif tersebut. Setiap gerakan tubuhnya adalah definisi dari keanggunan yang berpadu dengan keberanian. Malam ini, dia sengaja memilih mini dress ketat berwarna hitam berbahan sutra satin yang membungkus sempurna lekuk tubuh indahnya yang proporsional. Gaun itu mengekspos bahu tegasnya dan mempertegas pinggangnya yang ramping, menciptakan siluet yang membuat beberapa mata di sekitar lantai dansa tak mampu berpaling.
Bagi Anya, gaun ini adalah simbol kemerdekaan kecil. Di rumah, papanya tidak akan pernah mengizinkannya memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh seberani ini. Namun di sini, di bawah perlindungan malam, dia merasa memegang kendali penuh atas dirinya sendiri. Bahkan sepasang heels hitam setinggi 9 sentimeter yang mengikat pergelangan kaki rampingnya sama sekali tidak mengurangi kelincahan gerakan tubuhnya. Anya bergerak dengan penuh percaya diri, seolah lantai dansa ini adalah wilayah kekuasaannya.
"Anya! Gila, kamu seksi banget malam ini! Mikirin materi skripsi benar-benar bikin otakmu meledak ya?" teriak Alena di telinganya, berusaha mengalahkan dentuman musik yang menggelagar. Alena, gadis cantik dengan rambut pendek potongan bob dan gaun peraknya, bergerak heboh di samping Anya, memegang segelas minuman dengan tawa lepas.
Di sisi lain, Bella yang juga tidak kalah cantik dari Anya dan Alena ikut mendekat, mengibaskan rambut hitamnya yang dikuncir kuda. "Biarkan saja! Dia sudah satu bulan mengurung diri di kamar bagai perawan tua demi skripsi sialan itu! Malam ini kita harus merayakannya!" Bella berteriak sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, ikut tenggelam dalam euforia malam.
Anya tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar jernih bahkan di tengah kebisingan. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah kedua sahabat karibnya itu. "Lupakan tugas kampus membosankan itu! Malam ini jangan ada yang berani menyebut kata revisi atau sidang, atau aku akan mencekik kalian dengan tali tas ku!" seru Anya dengan nada bercanda, matanya berbinar jenaka.
Untuk bisa berdiri di sini, Anya harus memutar otak dua kali lipat. Tadi sore, dengan wajah paling polos dan meyakinkan yang bisa dia pasang, dia berpamitan kepada papanya, Tito Sanjaya. Dia beralasan akan menginap di apartemen Alena untuk diskusi kelompok dan menyelesaikan bab skripsi yang tertunda. Tito Sanjaya, yang sangat menyayangi putri tunggalnya itu, langsung mengizinkan tanpa curiga, bahkan sempat mengecup kening Anya sambil berpesan agar tidak tidur terlalu larut.
Maafkan Anya, Pa. Tapi Anya butuh napas, batinnya malam itu saat melangkah keluar rumah. Nyatanya, begitu sampai di apartemen Alena, mereka bertiga langsung berganti pakaian, memulas riasan wajah yang lebih berani, dan melesat ke Heaven, klab malam paling eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan tertentu.
Anya meneguk sisa minuman manis di gelasnya, membiarkan cairan dingin itu membakar tenggorokannya dengan lembut. Dia kembali berputar, menikmati kebebasan yang sudah lama dirindukannya. Lekuk tubuhnya yang indah bergerak sensual namun tetap berkelas, memancarkan pesona magnetis yang alami.
Namun, kesenangan Anya tidak berlangsung lama.
Saat Anya memutar tubuhnya ke arah pintu masuk utama lantai dansa, matanya yang tajam menangkap pergerakan dua pria bertubuh tegap di dekat barisan sofa VIP bawah. Mereka mengenakan setelan jas hitam rapi yang terlalu kaku untuk suasana klab malam. Wajah mereka dingin, mata mereka bergerak waspada memindai kerumunan orang.
Jantung Anya seketika mencelos seolah jatuh ke lantai. Musik yang berdentum keras tiba-tiba terasa senyap di telinganya.
"Sial," umpat Anya lirih.
Itu adalah mereka. Dua orang kepercayaan papanya, gorila-gorila kekar yang biasanya berjaga di gerbang rumah Sanjaya. Tito Sanjaya ternyata tidak sepenuhnya melepaskan pengawasannya. Papanya yang terlalu protektif itu diam-diam mengirim mata-mata untuk memastikan apakah putrinya benar-benar belajar atau justru keluyuran.
"Anya, ada apa?" Bella menyadari perubahan drastis pada ekspresi wajah sahabatnya.
Anya tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada dua pengawal yang mulai berjalan membelah kerumunan, bergerak tepat ke arah lantai dansa di mana dia berada.
"Gorila Papa," bisik Anya dengan nada panik yang tertahan. "Dua orang itu mencariku. Mereka ke sini."
Alena dan Bella langsung menegang, ikut melirik ke arah yang ditunjuk oleh tatapan mata Anya. "Hah? Serius? Waduh, kalau kamu tertangkap, kita berdua juga bisa habis diamuk Om Tito!" bisik Alena panik.
"Aku harus sembunyi, kalian selamatkan diri! Tunggu aku di parkiran, jangan sampai mereka melihat kalian bersamaku!" perintah Anya cepat. Tanpa menunggu jawaban dari kedua sahabatnya, Anya langsung berbalik, memanfaatkan tubuh rampingnya untuk menyelip di antara kerumunan orang yang sedang berdansa.
Anya berjalan cepat, setengah berlari, mengabaikan rasa sakit yang mulai menggigit ujung jarinya akibat heels 9 sentimeter yang dikenakannya. Dia menoleh ke belakang sekilas dan melihat kedua pengawal itu mempercepat langkah mereka, menyadari bahwa target mereka sedang berusaha melarikan diri.
"Aduh, lewat mana ini..." gumam Anya panik. Koridor lantai bawah terlalu terbuka. Satu-satunya jalan adalah menaiki tangga menuju area VIP lantai dua yang lebih sepi dan memiliki banyak belokan koridor privat.
Dengan napas yang mulai memburu, Anya menaiki anak tangga satu per satu, tangannya mencengkeram pembatas besi. Gaun hitam ketatnya sedikit membatasi langkah besarnya, namun ketakutan akan tertangkap oleh pasukan papanya memberi Anya adrenalin tambahan. Begitu sampai di lantai dua, suasananya berubah drastis. Musik di sini terdengar lebih teredam, menyisakan koridor panjang berkarpet beludru merah dengan pintu-pintu kayu berukir emas, ruangan VIP eksklusif untuk para konglomerat.
Anya menoleh ke belakang dan melihat bayangan salah satu pengawal papanya baru saja mencapai puncak tangga. Pria itu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaannya.
Panik dan terpojok, Anya tidak punya waktu untuk memilih. Dia meraih knop pintu terdekat yang berada di ujung koridor gelap. Beruntung, pintu itu tidak dikunci. Dengan gerakan secepat kilat, Anya menyelinap masuk dan langsung menutup kembali pintu kayu tebal itu.
Klap...
Anya menyandarkan punggungnya pada daun pintu, mengembuskan napas panjang yang gemetar. Dadanya naik turun tidak beraturan. Dia memejamkan mata, mendengarkan dengan saksama suara dari luar. Terdengar langkah kaki berat yang melintas di depan pintu tempatnya bersembunyi, lalu perlahan menjauh. Anya mendesah lega. Untuk sementara, dia aman.
Namun, kelegaannya hanya bertahan beberapa detik. Sebuah deham berat dan dingin memecah keheningan ruangan tersebut, membuat bulu kuduk Anya meremang.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?"
Anya tersentak dan langsung membuka matanya. Dia baru menyadari bahwa ruangan VIP ini tidak kosong. Ruangan itu cukup luas, didominasi oleh interior mewah berwarna gelap dengan pencahayaan yang sangat minim, hanya menyisakan sorot lampu temaram dari sudut ruangan.
Di tengah ruangan, di atas sofa kulit hitam yang besar, duduk seorang pria.
Anya terpaku sesaat. Pria itu memiliki visual yang luar biasa tampan dengan rahang tegas yang bersih tanpa jambang sedikit pun, memberikan kesan rapi, berkelas, sekaligus angkuh. Rambut hitamnya tertata rapi, dan dia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, menampakkan tulang selangkanya yang kokoh. Jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya berkilau samar terkena cahaya minimalis. Aura kemapanan, kekuasaan, dan dominasi yang nyata terpancar dari setiap jengkal tubuh pria itu. Dia sedang memegang sebuah gelas kristal, menatap Anya dengan sepasang mata elang yang dingin dan menusuk.
Bara Fernandez. Pria itu sedang menikmati ketenangannya yang terusik. Dia menatap wanita asing di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan Bara berhenti sejenak pada gaun hitam ketat yang mengekspos kulit putih dan lekuk tubuh indah wanita itu, lalu beralih ke wajah cantik Anya yang tampak terengah-engah.
Bara mendengus sinis. Dia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini. Wanita-wanita cantik yang sengaja menyelinap ke ruang pribadinya, berpura-pura tersesat atau butuh pertolongan, hanya untuk menggoda dan mendekatinya demi uang dan statusnya sebagai seorang Fernandez.
"Pergi," ucap Bara dengan suara baritonnya yang berat, terdengar mutlak dan tidak menerima bantahan. "Aku menyewa ruangan ini bukan untuk berbagi denganmu."
Anya mengerjapkan mata, sedikit terkejut dengan sambutan dingin yang diterimanya. Biasanya, pria akan dengan senang hati menyambut kehadirannya. Namun pria di depannya ini menatapnya seolah dia adalah seonggok sampah yang mengotori ruangan indahnya.
"Maaf, Tuan," kata Anya, berusaha mengatur suaranya agar terdengar sehalus dan sesopan mungkin, berharap pria tampan ini punya sedikit rasa iba. "Saya tidak bermaksud tidak sopan. Saya hanya butuh bersembunyi di sini sebentar saja. Ada orang yang mengejar saya di luar. Tolong, biarkan saya tinggal di sini beberapa menit saja sampai mereka pergi."
Bara sama sekali tidak tergerak oleh wajah memelas Anya. Dia justru meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan ketukan yang cukup keras, menimbulkan bunyi yang mengintimidasi di dalam keheningan.
"Aku tidak peduli apa masalahmu di luar sana," sahut Bara dingin, matanya menatap Anya dengan tatapan merendahkan. "Trik seperti ini sudah basi. Keluar dari sini sekarang sebelum aku memanggil pihak keamanan untuk menyeretmu keluar."
Anya menggigit bibir bawahnya. Sialan, pria ini benar-benar keras kepala dan tidak punya hati. Anya melirik ke arah pintu di belakangnya melaui celah kaca kecil yang samar. Di luar koridor, dia bisa melihat bayangan salah satu pengawal papanya kembali berjalan memutar, tampaknya curiga bahwa Anya bersembunyi di salah satu ruangan VIP.
Jika dia keluar sekarang, dia akan langsung tertangkap. Kebebasannya akan berakhir, dia akan diseret pulang, skripsinya akan diawasi 24 jam, dan yang paling parah, dia tidak akan pernah diizinkan keluar rumah lagi oleh Tito Sanjaya.
Anya kembali menatap Bara. Pria itu sudah meraih ponselnya, bersiap untuk menghubungi resepsionis klab untuk mengusirnya.
Tidak. Aku tidak boleh tertangkap, batin Anya nekat. Adrenalinnya melonjak drastis, memicu sisi pemberontak di dalam dirinya yang selama ini ditekan.
Melihat Bara yang mengabaikannya dan mulai menempelkan ponsel ke telinganya, Anya mengambil langkah besar yang berani. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Anya menerjang maju. Langkah kakinya yang jenjang di atas heels 9 sentimeter itu membawanya langsung ke hadapan Bara dalam hitungan detik.
Sebelum Bara sempat bereaksi atau mengucapkan satu kata pun di ponselnya, Anya sudah menjatuhkan dirinya, naik ke atas pangkuan pria itu.
Bara tertegun, matanya melebar sesaat karena terkejut ketika tubuh ramping dan hangat Anya tiba-tiba duduk di atas paha kokohnya. Aroma parfum yang manis dan memabukkan dari tubuh Anya langsung menyeruak, memenuhi indra penciuman Bara. Sebelum Bara sempat mendorong tubuh wanita lancang itu menjauh, Anya sudah melingkarkan kedua lengan rampingnya di sekeliling leher Bara, mengunci pergerakannya.
Anya menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Bara yang sedalam lautan. "Sorry," bisik Anya lirih, tepat di depan bibir pria itu.
Dan tanpa permisi, Anya mencondongkan wajahnya, membungkam bibir dingin pria asing itu dengan sebuah ciuman panas.
Cup...