NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Ambisi untuk mendapatkan warisan dua ratus triliun rupiah kini terasa lebih nyata daripada rasa takut akan tertangkap. Nadira telah mulai memandang cermin bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sekutu yang akan membantunya memerankan peran ini hingga akhir.

Ia menarik napas panjang, menahan udara di paru-paru selama beberapa detik sebelum

melepaskannya perlahan melalui mulut. Latihan pernapasan sederhana ini ia pelajari dari video lama di ponselnya, cara untuk menenangkan saraf yang mulai tegang menjelang pertempuran besar. Bahunya yang sebelumnya menegang turun sedikit, otot lehernya yang kaku mulai melonggar, memberinya ruang untuk berpikir jernih.

Suara gesekan daun jendela yang tertiup angin tiba-tiba terdengar nyaring, membuat

Nadira tersentak dan menutup buku itu dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang sesaat, namun ia segera sadar bahwa itu hanya suara malam biasa.

Ia menarik selimut tipis untuk menutupi kakinya, mencoba mengusir rasa dingin yang mulai merayap masuk dari jendela yang tidak tertutup rapat. Nadira bangkit dari tempat tidur, melangkah pelan menuju lemari besi yang tersembunyi di balik lukisan dinding.

Buku harian itu ia masukkan ke dalam laci paling bawah, mengunci lemari itu dengan kunci kecil yang ia simpan di balik bantal. Penyimpanan yang aman adalah hal yang krusial, karena satu halaman yang terbaca oleh Arga atau pengacara tua itu bisa

menghancurkan segalanya sebelum fajar menyingsing.

Langkah kaki berat terdengar di koridor luar kamar. Nadira membeku sejenak, telinganya

menangkap suara langkah kaki Arga yang khas, langkah lebar dengan sedikit suara

gesekan kain jas yang masih ia kenakan. Pria itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya,

seolah sedang ragu apakah harus mengetuk atau hanya berlalu pergi seperti biasanya.

Pintu kamar sedikit terbuka, cukup untuk melihat sosok Arga yang berdiri dengan wajah muram di bawah cahaya lampu dinding.

"Kamu masih bangun?" tanya Arga, suaranya parau dan terdengar lelah karena berjam-jam berdebat di ruang kerja Pak Herman. Ia tidak

menatap langsung ke arah Nadira, seolah ia sedang berbicara pada bayangan di dinding.

Nadira berjalan mendekati ambang pintu, menjaga jarak satu meter untuk menghormati privasi sekaligus menunjukkan keterbukaan.

"Tidak bisa tidur. Pikiranku masih melayang

pada rapat besok pagi," jawabnya, suaranya dibuat setengah bergetar untuk menunjukkan

kerentanan yang biasanya tidak dimiliki oleh Dirgantara. Ia melihat Arga mengusap

wajahnya dengan kasar, tanda bahwa pria itu sedang memikul beban yang sangat berat.

"Pak Herman tampaknya sudah mengunci surat wasiat itu di brankas pribadinya," bisik Arga, menunduk agar suaranya tidak terdengar oleh staf keamanan yang mungkin masih berjaga.

"Ia tidak mempercayai siapa pun malam ini, termasuk aku. Ia curiga ada yang mencoba menyuap notaris sebelum pengumuman resmi dilakukan."

Nadira menelan ludah keras, rasanya seperti ada batu kerikil yang tertelan. "Apa yang

akan kita lakukan kalau ia memutuskan untuk mengubah surat itu sebelum fajar?"

tanyanya, mencoba memancing reaksi Arga.

Ia perlu tahu seberapa jauh loyalitas pria di

depannya ini terhadap keluarga, atau seberapa besar ambisi pria itu sendiri untuk

mengambil alih kekayaan tersebut.

Arga mendongak, matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah

Nadira.

"Kita tidak akan membiarkannya mengubah apa pun. Aku sudah menaruh salinan

dokumen di tempat yang aman, di luar jangkauan tangannya."

Ia mendekat sedikit, menurunkan suaranya hingga hampir menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Tapi, kamu harus berperan dalam hal ini. Kamu adalah anak kandungnya, atau setidaknya, kamu adalah Dirgantara di matanya."

Nadira merasakan kepalan tangannya mencengkeram sisi gaun tidurnya. Rencana ini mulai menyimpang dari apa yang ia bayangkan. Ia tidak hanya harus berakting sebagai ahli waris yang sah, tapi juga harus terlibat dalam konspirasi yang bisa memasukkannya ke penjara jika ketahuan.

"Aku mengerti," katanya singkat, mencoba menutupi kegelisahannya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Suara denting pelan dari arah bawah terdengar, mungkin salah satu staf yang sedang membereskan piring kopi malam.

Arga menoleh ke arah tangga, tubuhnya menegang sesaat sebelum kembali menatap Nadira.

"Istirahatlah. Kamu butuh wajah yang segar dan pikiran yang tajam untuk menghadapi dewan direksi besok. Jangan biarkan mereka

melihat ada keraguan di matamu."

Arga berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar di ujung koridor. Nadira menutup pintu perlahan, memutar kunci pintu untuk memastikan tidak ada yang bisa masuk tanpa izinnya. Ia bersandar pada daun pintu itu, menutup matanya erat-erat. Pernapasan dia mulai tidak teratur lagi, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena

kesadaran bahwa permainan ini sudah menjadi perang yang nyata.

Ia kembali ke tepi tempat tidur, duduk di atas kasur yang lembut sambil menatap keluar

jendela. Bulan sabit masih tergantung malas di langit, memberinya sedikit cahaya untuk

melihat jam dinding di meja rias. Masih ada tiga jam sebelum fajar tiba, waktu yang cukup untuk menyusun taktik terakhir atau sekadar mencoba tidur sejenak sebelum badai datang.

Nadira mengambil ponsel dari meja rias, membuka aplikasi catatan untuk menuliskan

poin-poin penting yang harus ia sampaikan di depan dewan direksi. Ia harus terlihat tegas,

berwibawa, dan paling penting, ia harus terlihat seperti Dirgantara yang selalu

mendapatkan apa yang diinginkannya.

Setiap kata harus dipilih dengan hati-hati agar tidak memicu kecurigaan dari pihak yang pro-Pak Herman. Ia menyadari bahwa tubuh ini, yang dulunya milik wanita yang dibenci, kini adalah satu-satunya senjatanya. Wajah yang dingin dan tatapan tajam Dirgantara adalah aset yang tidak bisa ia buang.

Nadira mulai berlatih ekspresi di depan cermin besar di kamarnya, mencoba meniru kerutan kening dan sedikitnya senyum yang biasa dilakukan oleh wanita jahat itu.

Setelah merasa cukup dengan latihan ekspresinya, ia mematikan lampu meja sekali lagi dan membiarkan kegelapan mengambil alih kamar. Namun, matanya tetap terbuka lebar, menatap langit-langit yang gelap. Pikirannya terus berputar pada jumlah dua ratus triliun itu, angka yang cukup untuk mengubah hidupnya selamanya, atau menghancurkannya jika ia melakukan satu kesalahan fatal.

Suara burung gereja mulai terdengar di kejauhan, pertanda bahwa malam sudah hampir berakhir. Nadira merasakan kantuk yang mulai menarik kelopak matanya, namun ia tetap bertahan untuk bangun. Ia harus mandi dan bersiap sebelum pelayan datang membawa sarapan.

Penampilan adalah segalanya, dan ia tidak akan memberi mereka alasan untuk

meragukan kewarasannya di pagi yang krusial ini. Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah ke kamar mandi mewah yang berdinding

marmer.

Air dingin yang ia siramkan ke wajahnya membantu menghilangkan rasa kantuk dan

memberinya kesegaran instan. Menatap wajahnya di cermin kamar mandi, ia berbisik

pelan pada bayangannya sendiri.

"Ini hari penentuanmu. Jangan biarkan mereka mencium ketakutanmu."

Nadira mulai membalut dirinya dengan gaun kerja berwarna navy yang elegan namun

kaku, warna yang memberikan kesan serius dan profesional. Ia melilitkan scarf sutra di

lehernya, menyembunyikan sedikit leher yang biasanya terlalu menonjolkan kesan rapuh.

Setiap gerakan dipersiapkan dengan matang, dari cara ia mengancingkan manset hingga

cara ia menyematkan bros perusahaan di kerah gaunnya.

Saat ia selesai berdandan, fajar mulai menyingsing, memberikan cahaya keemasan yang menembus celah tirai kamarnya. Nadira membuka jendela lebar-lebar, menghirup udara pagi yang dingin dan bersih. Ini adalah napas terakhir sebelum ia harus memasuki medan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!