Seharusnya siapapun menginginkan suatu pernikahan yang diawali dengan cinta, dan berakhir dengan kebahagiaan. Kadang pasang surut kehidupan pernikahan begitu rumit, terlebih ada orang ketiga yang hadir. Saat hati mencoba untuk menolak, namun seolah derasnya air menghanyutkan segalanya.
Suatu penyesalan diakhir, akan menjadi bencana yang menghancurkan segalanya. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, mana yang jauh lebih besar, rasa cinta atau sakitnya dikhianati?
“Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Aku yang terlalu egois, seharusnya aku mengerti, aku tak akan bisa memilikimu sepenuhnya.”
“Siapa yang membuat tanda ini? Tanda dilehermu, siapa yang membuatnya?”
"Jika kau memang ingin selingkuh, tidak bisakah kau mencari yang lain dan bukan sahabatku sendiri? Ini begitu menyakitkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1.3. I Can’t Let You Go
Jessica merenggut, hampir lima menit ia menekan bel dan mengetuk pintu apartemen Mike. Namun pria ceroboh itu tidak kunjung membuka pintu apartemennya. Sebenarnya ia mengetahui berapa password pintu apartemen Mike, namun ia ingin bertingkah lebih sopan dari biasanya.
Emosinya sudah diujung tanduk. Dengan kesal ia menekan password apartemen Mike. Ia sangat kesal, pria itu yang menyuruhnya untuk datang pagi-pagi. Namun pria itu juga yang tidak menyambutnya dengan baik. Padahal ia telah membawa bubur yang tadi dimasaknya untuk Matt. Karena makanan kesukaan Matt, sama dengan makanan kesukaan Mike. Ia rasa, mereka berdua memang sangat cocok menjadi miliknya. Jessica tersenyum sedih.
Brak!
Dengan kesal wanita mungil itu membuka pintu kamar Mike dengan keras. Ia dapat melihat Mike yang menutupi seluruh tubuhnya dengan menggunakan selimut. Jessica berjalan cepat menuju pria itu, ia siap memaki-maki pria itu.
“Hei Michael Bellamy!”
Pandangan kesalnya berubah menjadi pandangan iba saat ia melihat Mike yang meringkuk setelah ia membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Apa pria ini sedang sakit? Memang tidak biasanya Mike tidak menyambutnya ketika ia datang ke apartemennya.
“Mike, kau baik-baik saja?”
Perasaannya was-was kala ia memegang kening Mike yang panas. Pria ini demam. Sebenarnya Mike bukan pria yang mudah sakit. Ia akan sakit jika sedang banyak pikiran. Ia menatap wajah Mike yang masih memejamkan matanya.
“Hi honey, wake up!” Ia menepuk pelan pipi tirus Mike yang panas.
Wanita mungil itu membuka tas yang tadi dibawanya dari rumah dan mengeluarkan sekotak makanan yang berisi bubur kesukaan Mike serta mengeluarkan sebotol minuman yang berisi susu putih. Jessica meletakkan botol minum itu dimeja kecil samping tempat tidur Mike dan membuka kotak makanan itu.
“Mike, bangunlah. Aku sudah membuatkan bubur dan susu putih kesukaanmu.” Jessica menatap bola mata hijau Mike yang mengerjap pelan. Mata itu menatap kedalam manik matanya, dan bibir tipis Mike membentuk senyuman tipis.
“Aku sangat merindukanmu Jessie, sangat merindukanmu.”
Jessica tersenyum mendengarnya. Ia meletakkan kotak makan disamping meja kecil Mike dan membantunya untuk duduk diatas kasur king size milik Mike.
“Apa kau ingin aku membawamu ke rumah sakit?” Jessica menatap Mike dalam. Ia sedih melihat Mike yang seperti ini.
“Tidak, aku ingin kau menginap sehari di apartemenku. Apa bisa?”
Jessica mengigit bibirnya, sejujurnya ia tidak bisa. Sebenarnya jika ia meminta izin dengan Matt, Matt akan memperbolehkannya. Namun ia takut setelah pulang dari apartemen Mike, ia akan kembali berbohong.
“Aku.. Maaf Mike. Aku tidak bisa.”
Mike menghembuskan napasnya pelan dan menunduk. Ia sangat kecewa Jessica menolak permintaannya. Bahkan disaat ia seperti ini Jessica bisa menolaknya, dan mungkin saja Jessica akan meninggalkannya dan beralih pada Matt.
“Apa aku memang tidak bisa memilikimu?”
Mike menatap Jessica sendu. Wanita mungil itu menunduk dalam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Mike. Pertanyaan itu tidak mungkin bisa dijawabnya dan entah sampai kapan pertanyaan itu terus dilontarkan oleh Mike.
“Apa kau memang tidak mau hidup bersamaku Jessie?”
“Apa kau memang ingin meninggalkanku Jessica? Namun kau terlalu takut mengatakannya padaku, iya kan?!”
Emosi Mike kembali tersulut. Jessica memaklumi sikap Mike. Pria ini suka sangat emosi jika sedang sakit, saat sedang sakit yang Mike minta hanya perhatian darinya. Namun Mike tidak dapat mengerti, mereka bukan seperti dulu lagi. Mereka bukan sepasang kekasih yang perjalan cintanya tidak terhambat oleh apapun. Mereka bukan seperti itu lagi sekarang.
“Mike, mengertilah.”
Ujar Jessica lembut dan memeluk pria itu erat. Namun perlakuan Mike tidak diduga wanita mungil itu. Mike mendorongnya keras membuat ia terduduk dikasur king size milik Mike. Mike memandang Jessica marah, dan Jessica memandangnya takut.
“Aku semakin lelah dengan sikapmu Jessie. Ayo kita berpisah.”
Mike berkata dengan nada lembut. Pernyataan yang tidak pernah diduga oleh Jessica. Ajakan lembut itu membuat hati Jessica sangat sakit. Jessica menunduk dalam, ia memainkan jarinya bagaikan anak kecil yang sedang dinasihati kedua orang tuanya. Menunduk dan merasa takut.
“Jessie.”
Mike memanggilnya lembut, namun Jessica tidak bergeming. Ia tetap menunduk dan masih memainkan jarinya. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu. Terjadi keheningan yang cukup lama. Setelah memanggil wanita itu, Mike tidak bereaksi dan Jessica masih pada posisinya.
Keheningan yang cukup lama itu berhenti kala ada sebuah deringan ponsel. Mike menatap tas yang dibawa oleh Jessica. Suara deringan ponsel itu berasal dari tas wanita itu, dan ia yakin deringan ponsel itu milik Jessica. Jessica tetap tidak bergeming, ia tetap masih menunduk dan memainkan jarinya. Menghiraukan deringan ponsel miliknya.
“Jessica, ponselmu.” Wanita itu tetap diam. Mike mulai merasa bersalah, seharusnya ia tidak berkata seperti itu tadi. Mike merasa menyesal.
“Jessica Villegas, ponselmu berdering.”
Tetap tidak bereaksi. Perlahan terdengar isakan pelan dari bibir Jessica, bibir wanita itu bergetar dan semakin lama kedua bahunya juga ikut bergetar. Mike menghela napas pelan, ia tidak tega melihat ‘wanitanya’ seperti ini.
“Apa memang kita tidak ditakdirkan bersama Mike?”
Perlahan Mike mulai mendekat kearah Jessica dan memeluknya, semakin lama pelukan Mike semakin erat. Jessica menangis dibahu Mike. Keduanya menghiraukan deringan ponsel Jessica yang sedari tadi terus berdering.
Tangisan Jessica semakin keras dan pelukan Mike semakin erat. Mike merasa hatinya sangat sakit kala mendengar tangisan Jessica yang menyayat hatinya. Mike benar-benar sangat menyesal mengatakan hal yang membuat ‘wanitanya’ menangis sesedih ini.
“Jangan menangis My Jessie.” Ujar Mike lembut. Tangisan Jessica semakin lama semakin pelan dan membuat Mike sedikit lega.
Mike mulai meregangkan pelukannya dan menatap wajah ‘wanitanya’ yang masih menunduk. Ia rasa, Jessica takut akan dibentak lagi. Sejujurnya Jessica pernah berkata padanya, ia paling takut dibentak dan itu oleh siapapun. Ia berkata, jika ia dibentak, ia merasa hatinya sangat sakit. Dan semenjak itu ia tidak pernah membentak Jessica, gadis itu terlalu lembut.
“Aku minta maaf okay?”
Jessica tetap menunduk. Setakut itukah Jessica dengan dirinya? Mike menghela napas pelan. Sesungguhnya Mike sangat lelah menunggu wanita mungil ini berpisah oleh suami sahnya. Karena hatinya berkata, semakin lama hati Jessica akan luluh dengan cinta Matt. Dan ia sangat yakin itu akan terjadi.
“Jessica.”
Mike memanggilnya lembut. Jari panjang Mike mengangkat wajah mungil Jessica. Mata diamond Jessica bertemu dengan mata baritone Mike. Mata Jessica berkaca-kaca. Gigi mungilnya menggigit bibir bawahnya. Matanya memancarkan ketakutan yang cukup besar. Mike memandangnya bersalah.
“Aku menyesal, sungguh. Aku minta ma-” Mike menggantungkan kalimatnya, kala ponsel Jessica kembali berdering. Mike tersenyum tipis.
“Angkatlah, aku yakin itu penting.”
Ujar Mike dengan senyuman tipis, Jessica menatapnya ragu. Sejujurnya disaat moment seperti ini, ia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Namun jika ini panggilan dari Matt, Matt akan mencurigainya jika ia tidak mengangkat panggilan darinya.
Jessica mulai mencari ponselnya didalam tas yang tadi dibawanya. Ia menatap layar ponsel bercasing putih itu. Dan dilayar tertera nama yang menghubunginya “My Husband, Matt”. Jessica menghela napas sebentar, berusaha menormalkan suara dan napasnya selesai menangis tadi. Jessica mulai berjalan menjauh dari Mike dan menganggkat panggilan Matt.
“Hallo, Matt.”
“A..Aku tidak apa-apa.”
“Sungguh, aku tidak apa-apa. I’m fine.”
“Benar Matt, ada apa?”
“Umm… Kurasa, aku bisa.”
“Baiklah.”
“See you later, aku juga menyayangimu.”
Mike yang mendengar apa yang Jessica katakan hanya menghela napas pelan. Ia sesak, terutama yang Jessica ucapkan dari akhir pembicaraannya. Ia bohong jika berkata tidak cemburu dengan Matt, ia bohong jika berkata tidak kesal dan marah dengan Jessica, dan ia juga bohong jika berkata bahwa ia tidak bodoh.
Jessica mematikan panggilan dari Matt dan membalikkan badan menghadap Mike. Ia melihat Mike yang sedang tidur menghadap langit-langit. Apakah Mike mendengar percakapannya dengan Matt? Ia harap, Mike tidak mendengarnya. Sebenarnya ia berniat untuk mengecilkan suaranya saat sedang berbicara dengan Matt, namun ia sangat takut Matt akan curiga akan hal itu.
Jessica mulai berjalan menghampiri Mike yang masih dalam posisinya. Ia meletakkan ponselnya pada meja kecil samping tempat tidur Mike, ia mulai menduduki kasur king size milik Mike. Mike masih dalam posisinya.
“Michael-”
“Apa kau bisa dinner denganku malam ini?”
Mike memotong pembicaraannya. Jessica menggigit bibirnya, baru saja Matt menghubunginya karena Matt ingin mengajaknya dinner malam ini. Namun sekarang Mike yang mengajaknya. Ia tidak enak jika kembali menolak permintaan Mike, namun ia juga tidak mungkin menolak permintaan Matt. Setidaknya ia masih sadar bahwa ia adalah milik pria Boltom itu.
“Aku…A..Aku-”
“Aku tahu, kau tidak bisa bukan?” Lagi, lagi Mike memotong pembicaraannya dan itu sangat tepat dengan apa yang menjadi jawabannya.
“A..Aku minta maaf, dan mungkin lain kali kita akan bisa dinner Mike. Aku janji.”
Ujar Jessica cukup bersemangat. Ia ingin Mike mempercayakannya kali ini, ia tidak ingin mengecewakan Mike untuk yang kesekian kalinya. Ia sangat bersalah dengan Mike, ia tidak bisa bersama dengan Mike, namun ia juga tidak ingin berpisah dengan Mike. Sebut ia egois, karena ia memang mengakui bahwa dirinya egois.
“Terserah denganmu Jessica.”
Masalah rumah tangga Matt & Jessie di S2 ini kan cm salah paham. Sangat disayangkan kalau rumahtangga mereka bubar karna salah paham..
Yg menang banyak malah si Mark, dpt Boltom's Company, dapetin pula si Jessie
Enak betul si Corrine, Dia udah bunuh anaknya Matt & Jessie, ambisinya buat miliki Matt seutuhnya tercapai.
Malah hidup bahagia lg.
Sumpah kagak rela Corrine dpt bahagia !!!
Kenapa sih ga ada kesempatan kedua buat Matt & Jessie bersatu ?
Mereka udah sama2 berdarah2 lho..
Padahal Aku msh berharap Matt bersatu lg sm Jessie
Dulu Jessie selingkuh Matt yg terluka, skr Jessie yg nuai karma tp Matt juga ikut ngerasain lukanya.
Sangat disayangkan kalo mereka sampai cerai, padahal kan masalah diantara mereka cuma salah paham.
makin seru.. 👍👍
mskpn Jessie prnh berkhianat, tp dia sdh bertobat,, 😓
semangat thor, ku slalu tunggu upmu.
knp harus meninggal Thor ?
kasian Jessie.. hiks
emg sih kepedihan Jessie skr mjd karma kelakuan jalaangnya di masa lalu.
Udah ga ada lg perekat antara Jessie & Matt dong ? kedua anak mereka meninggal semua.
Kayaknya bakal bubar ini Matt & Jessie
smoga happy ending...
semangat thor...
Matt ga bertindak apa2 gitu buat kasih pelajaran si Iblis betina???
Jangan dipulangin dulu ke Perancis sebelum dia hancur sehancur2nya.
Masa udah bunuh calon bayinya Matt + nusuk Jessie, dia masih bebas berkeliaran, harusnya dia membusuk di Penjara. Enak banget udah ngelakuin tindakan kriminal, tapi hukumannya, cuma diasingin ke Luar Negeri, itupun hukuman dari keluarga, hidupnya masih bisa bernapas lega, masih makan mewah, masih tidur nyenyak dikasur empuk.
Corrine harusnya di penjara Thor.
ternyata Lyn anak kandung Matt...
Aku ikut bahagiaaaa....
aku suka dgn alur cerita novel ini, bagus ...tp knapa yg mampir sedikit?
antara Matt dan Jess itu bener2 krisis komunikasi, parah. Masing2 bertindak sendiri2 dan berujung salah paham.
Nikmati aja karma mu Jess
mksh thor upnya..
ayo jess lbh baik minta cerai, drpd terus disakiti...
mksh thor upnya, smoga up tiap hari
semoga kali ini Matt buka mata lebar2 kelicikan Corrine.