"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : DI ANTARA BAYANG DAN KEWAJIBAN
Udara pagi yang dingin menyengat kulit Ivan saat ia melangkah keluar dari toko bunga. Di tangannya, seikat mawar putih segar memancarkan keanggunan. Ivan menatap bunga itu dengan kekeh sinis yang tertahan di tenggorokan.
"Mawar putih... untuk meredam kemanjaan adiknya" batin Ivan muak. Riko selalu saja seperti ini bertindak impulsif seenak jidatnya semalam, lalu menyuruh Ivan membereskan semua kekacauan sialan ini di pagi buta.
Rasa lelah yang menumpuk di pundak Ivan perlahan membakar kebencian yang makin pekat. Ia muak terus-terusan menjadi anjing penurut yang merapikan jejak emosi Riko dan melayani keluarga Mahenra yang bergelimang harta itu.
Namun, begitu mobilnya memasuki gerbang megah kediaman Pak Mahenra, wujud Ivan berubah seketika.
Pagi ini, dengan buket mawar putih di tangannya, Ivan memainkan perannya dengan sangat presisi di rumah Pak Mahenra. Ia menyapa keluarga elit itu dengan kepatuhan tingkat tinggi menjadi tameng kesalahpahaman Riko dan mengumbar senyum paling tulus yang bisa ia ciptakan.
"Selamat pagi Ami," Sapa Ivan dengan suara lembut yang begitu menenangkan saat melangkah ke ruang makan kediaman Mahenra. Senyumnya mengembang sempurna memperlihatkan aura sekretaris profesional yang sangat diandalkan.
Ami yang tadinya merajuk sambil menatap piring sarapannya refleks menoleh. Matanya berbinar melihat seikat mawar putih segar di tangan Ivan.
"Bungan ini dari Kak Riko. Beliau menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena semalam terpaksa pulang lebih dulu dan tidak sempat pamit..," Tutur Ivan ramah, menyodorkan bunga itu dengan gestur amat menghormati.
"Aduh, Kak Ivan... Kak Riko itu emang selalu bikin kaget, tapi untung ada Kak Ivan ya.." Sahut Ami sambil tersenyum lebar, menyerap kepalsuan itu bulat-bulat. Mahenra yang duduk di ujung meja pun mengangguk-angguk puas melihat kesigapan Ivan.
"Sudah kewajiban saya untuk memastikan semuanya berjalan baik, Pak, Mia dan juga ibu" Jawab Ivan rendah hati, merapatkan kedua tangannya di depan tubuh.
Di dalam hatinya, Ivan meringis jijik pada dirinya sendiri dan pada keluarga ini.
Menjadi sekretaris Riko adalah pekerjaan paling melelahkan yang pernah Ivan jalani. Tuntutan bosnya yang super banyak, kekanak-kanakan dan kerap bertindak sesuka hati membuat rasa lelah Ivan berubah menjadi ambisi yang berbahaya.
Namun setiap ayunan langkahnya di atas lantai marmer megah tersebut selalu diiringi sumpah batin yang sama. Ivan tidak akan selamanya menjadi pelayan. Ia sedang menghimpun kekuatan, mencatat setiap blunder Riko dan menunggu momen yang tepat untuk menggulingkan posisi bosnya dan mengambil alih kekuasaan perusahaan tersebut secara penuh.
...****************...
Jam di dinding kamar rawat sudah menunjukkan pukul dua siang lewat sedikit. Tidak terasa, hampir dua jam Lulu berada di sana menghabiskan waktu makan buah bersama sambil menertawakan hal-hal konyol mulai dari tingkah pasien di kamar sebelah hingga kelakuan lucunya sendiri saat panik mengambil baju ganti Lastri di kosan tadi.
"Aduh, Lu! Perutku sampai sakit gara-gara ketawa terus!" Ringis Lastri sambil memegangi perutnya yang rileks, raut wajahnya yang tadinya pucat kini tampak jauh lebih segar dan berisi kehidupan.
"Tapi beneran deh, makasih banget udah datang. Bikin aku lupa kalau lagi di rumah sakit"
Lulu terkekeh seraya merapikan sisa-sisa kulit buah ke dalam kantong plastik dan mengecek jam di ponselnya.
"Iya dong, kan obat paling ampuh buat kamu itu gosip dan tawa!" Ujar Lulu bercanda lalu raut wajahnya berubah agak panik.
"Eh, tapi astaga... udah jam dua siang! Aku harus balik ke kantor sekarang, Las. Nanti Mbak Vika nyariin lagi" Ucap Lulu di sambut dengan Lastri yang mengangguk paham dan tersenyum tulus.
"Iya, gih balik. Jangan sampai kamu disemprot gara-gara kelamaan nemenin aku"
"Nanti malam aku ke sini lagi ya, janji!" pamit Lulu seraya mengusap lembut lengan sahabatnya, melambaikan tangan sebelum melangkah keluar dengan perasaan yang jauh lebih lega dan tenang.
Begitu pintu kamar rawat tertutup rapat dan derap langkah kaki Lulu perlahan menghilang di koridor rumah sakit, senyum lebar yang sejak tadi menghiasi wajah Lastri luntur seketika.
Kamar itu mendadak menjadi sangat sunyi, menyisakan derak halus pendingin ruangan dan bunyi hembusan napasnya sendiri. Lastri memandangi buket buah dan pakaian ganti yang tertata rapi di atas meja bukti betapa tulus dan perhatiannya Lulu padanya. Dan justru karena ketulusan itulah, dada Lastri terasa kian sesak.
Lastri menyandarkan kepalanya ke bantal, menatap langit-langit kamar rawat dengan pandangan kosong. Tawa bahagianya beberapa menit lalu kini berganti dengan kepedihan yang membakar dada.
"Maafin aku, Lu..." Bisik Lastri lirih, tenggorokannya tersumbat oleh rasa bersalah yang mendalam.
Lastri kembali mengingat investigasi yang ia lakukan bersama 2 rekan jurnalisnya. Insting Lastri menuntunnya pada sebuah kasus penyelewengan yang sangat gelap. Namun, penyelidikan itu justru membawanya berurusan dengan sosok pria misterius yang sangat berbahaya dan pria misterius tersebut kini menerornya hingga membuat fisik dan mentalnya ambruk.
Lastri sama sekali tidak tahu siapa nama lengkap pria itu, apa latar belakangnya atau di mana ia bekerja. Yang Lastri tahu, pria itu adalah ancaman nyata yang bisa menghancurkan nyawa siapa saja yang mencoba mengorek rahasianya.
Lulu sangat baik padanya dan selalu ada di sisinya saat ia terpuruk. Namun kali ini, masalah dan rahasia yang dihadapinya terlalu berbahaya dan rumit. Lastri tahu, jika Lulu sampai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya hingga ia berakhir di rumah sakit ini, kehidupan Lulu yang tenang bisa ikut terancam.
Lebih baik ia menanggung rasa sakit ini sendirian dan berpura-pura baik-baik saja di depan Lulu, daripada harus melihat sahabatnya ikut terseret dalam bahaya.
***
Suasana di lobi kantor yang biasanya ramai mendadak terasa begitu lengang saat pintu kaca otomatis bergeser. Lulu yang baru saja melangkah masuk dengan napas sedikit terengah setelah bergegas dari rumah sakit langsung terhentak kaku di tempatnya.
Tepat di hadapannya dan tak jauh dari pintu lift, Pak Angga selaku managernya tersebut sedang berdiri.
Langkah keduanya terhenti bersamaan. Untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang, pandangan mereka saling terkunci. Tatapan mata Angga yang teduh namun tajam bertemu langsung dengan binar mata Lulu yang sarat akan rasa terkejut. Udara di sekitar lobi seolah mendadak membeku, menyisakan derak halus pendingin ruangan dan detak jantung Lulu yang berpacu liar tak terkendali.
Lulu merasakan tubuhnya menegang hebat. Jemarinya mencengkeram erat tali tas kerjanya, mencoba mencari tumpuan agar tidak terlihat goyah. Rasa canggung yang menyergap benar-benar melumpuhkan keberaniannya.
Namun di sisi lain, Pak Angga menunjukkan penguasaan diri yang luar biasa. Meski di dalam dadanya ada getaran halus yang sama, Angga berhasil menyembunyikannya dengan sangat rapi. Raut wajahnya tetap tenang, berwibawa dan dingin seperti biasa hanya ada sedikit kehangatan tersembunyi di balik sorot matanya yang hanya berlangsung sekilas.
Angga mengangguk kecil, memberikan gestur menyapa yang amat profesional seolah tatapan mendalam tadi hanyalah kebetulan belaka.
"Selamat siang, Pak..." bisik Lulu akhirnya dengan suara agak bergetar, berusaha bersikap seformal mungkin sambil menundukkan kepala sedikit.
Angga membalasnya dengan gumaman halus sebelum melangkah melewati Lulu menuju pintu keluar. Bau harum parfum khas Angga yang tertinggal di udara makin membuat dada Lulu makin sesak.
Saat langkah kaki Angga menjauh, Lulu menghela napas panjang dan mengepalkan tangannya pelan. Ada rasa kesal yang membakar dalam hatinya kesal bukan pada Angga melainkan pada dirinya sendiri. Kenapa perasaan aneh, canggung dan getaran absurd ini tak kunjung hilang dari dadanya? Kenapa hanya Angga yang bisa mengontrol suasana dengan begitu tenang, sementara ia harus berjuang mati-matian hanya untuk menyembunyikan rasa gugup yang kekanak-kanakan ini?
Dengan perasaan campur aduk dan sedikit gundah, Lulu melanjutkan langkahnya menuju lift, berusaha menata kembali fokusnya yang berantakan sebelum naik ke lantai divisinya.
Di dalam mobilnya, Angga menyandarkan kepala pada kemudi sejenak sebelum menyalakan mesin. Wajah tegang Lulu yang terkejut saat bersitatap dengannya tadi masih berputar jelas di ingatan.
Ada dorongan kecil di dadanya untuk sekadar mengirim pesan atau berbalik menanyakan kabar Lulu. Namun, ego dan akal sehat Angga langsung memadamkan dorongan itu tanpa ampun.
"Untuk apa bertanya? Kamu bukan siapa-siapanya" tegur suara hatinya dingin.
Angga sadar, sekali saja ia menunjukkan perhatian di luar batas pekerjaan, hubungan mereka akan bergeser ke arah yang tidak ia inginkan. Dan ia sama sekali tidak siap atau mungkin tidak mau membuka lembaran baru dengan siapa pun saat ini.
Biarlah rasa canggung itu tetap ada. Biarkan Lulu menganggapnya sebagai atasan yang dingin. Selama Lulu tetap menjadi "orang biasa" di matanya, hidupnya akan baik-baik saja dan tetap dalam kendali.
Deretan bangunan tinggi berputar perlahan di balik kaca mobil yang dikemudikan Angga. Pagi ini, Pak Arya meminta seluruh manajer mengadakan rapat di luar kantor sebuah suasana baru untuk mematangkan strategi besar menyambut kedatangan investor asing dua bulan lagi.
Namun, fokus Angga buyar sepenuhnya saat matanya menangkap siluet seorang wanita yang sangat familiar di trotoar. Rambutnya, cara berjalannya hingga gestur tubuhnya...
"Anna?" Bisiknya.
Jantung Angga berdegup kencang secara mendadak. Tanpa sadar, kakinya menekan rem dan membiarkan mobilnya melaju perlahan membuntuti wanita itu dari belakang.
Ia perlu kepastian....Apakah itu benar-benar Anna wanita dari masa lalunya yang melangkah pergi begitu saja?
Angga mengambil jalur kanan, berniat mendahului dan memotong jalan untuk melihat wajah wanita itu dari depan. Namun...
" CJJJK!"
SUV hitam di depannya mendadak berhenti tiba-tiba. Angga terpaksa menginjak rem dalam-dalam membuat klakson mobil di belakangnya bersahut-sahutan. Di saat bersamaan, lewat pantulan kaca spion, Angga melihat sosok wanita itu menyeberang jalan ke arah gang yang berlawanan dan menghilang di antara kerumunan pejalan kaki.
"Sial"
Angga memukul kemudi pelan, merutuki mobil di depannya yang berhenti sembarangan. Pandangannya liar menembus kaca mobil, berusaha mencari punggung wanita berbalut pakaian rapi yang baru saja memotong jalan ke arah lain.
"Ngga ada waktu buat ragu, Angga!" gumamnya pada diri sendiri.
Ia hampir saja membuka pintu mobil untuk mengejarnya dengan jalan kaki.
Rasa penasaran dan luka lama yang belum tuntas mendorongnya begitu kuat. Namun, bunyi denting pesan masuk dari Mario menghentikan geraknya seketika.
"Ngga, kamu sudah sampai mana? Pak Arya sudah di lokasi. Jangan lambat, kamu tahu sendiri Pak Arya paling benci orang yang tidak disiplin. Kalau rapat investor asing ini berantakan gara-gara kamu terlambat, habis kita" Pesan singkat Mario mengingatkan rekannya tersebut.
"Pak Arya sudah tanya posisi kamu. Ingat, proyek investor asing ini taruhannya besar. Jangan bikin masalah" Tambahnya lagi.
Angga bersandar tegang di jok mobilnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Pak Arya adalah atasan yang sangat menghargai kedisiplinan. Sekali saja Angga melanggar perintah atau datang terlambat di rapat krusial ini, Pak Arya tidak akan pernah memaafkannya.
"Kenapa harus hari ini? Kenapa harus sekarang kamu muncul lagi, Anna?" bisik Angga dingin. Ada rasa sesak yang tidak terjelaskan saat ia terpaksa memutar kemudi dan membiarkan sosok yang diduga Anna itu makin jauh dari jangkauannya.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..