Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
Hukuman berdiri di bawah tiang bendera selama empat puluh lima menit sukses membuat dua tumit Naya terasa kebas. Ditambah lagi sengatan matahari pagi pukul delapan yang mulai terik, lengkap sudah penderitaannya. Namun, hal yang paling membakar dadanya bukanlah rasa pegal di kaki, melainkan tatapan mengejek dari beberapa anggota pengurus OSIS yang lalu lalang di koridor utama.
Terutama Arka. Laki-laki itu sempat lewat membawa setumpuk map Ordan tanpa meliriknya sedikit pun. Seolah-olah Naya hanyalah seonggok patung semen yang memang dipasang untuk menghiasi halaman sekolah.
"Gue sumpahin tuh cowok kakinya kesandung kerikil terus masuk got," gumam Naya sengit begitu bel istirahat pertama berbunyi dan ia akhirnya diperbolehkan kembali ke kelas.
"Lagian lo nyari penyakit banget sih, Nay," komentar Saskia saat mereka bertiga—bersama mangkuk bakso masing-masing—duduk di pojokan kantin. Saskia menjejali mulutnya dengan kerupuk kulit sebelum melanjutkan, "Udah tahu Arka Pradipta itu tipe cowok yang jalannya pakai penggaris. Lurus banget, kaku, nggak ada fleksibel-fleksibelnya. Kenapa lo malah nekat lompat pagar di area belakang lab biologi? Itu kan jalur patroli rutin dia."
"Ya mana gue tahu dia bakalan nongkrong di situ kayak wewe gombel!" Naya mendesis, mengaduk-aduk kuah baksonya dengan emosi berlebih hingga cipratannya hampir mengenai seragam Saskia. "Lagian dia itu dendam kesumat sama gue dari kelas sepuluh. Inget nggak waktu kita acara persami terus gue ketahuan bawa snack mie instan mentah? Siapa yang menyita dan malah makan mie itu di tenda pembina? Dia, Sas! Dia!"
"Tapi kan itu dua tahun lalu, Naya..." Saskia menghela napas, menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang masih memelihara dendam purba. "Tapi jujur ya, tadi pagi pas Arka menyeret pergelangan tangan lo ke lapangan... anak-anak kelas dua belas pada heboh. Melisa aja langsung cemberut pas nyaksiin dari koridor lantai dua."
Naya menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya bertaut. "Melisa? Cemberut kenapa?"
"Ya iyalah! Satu sekolah juga tahu Melisa itu naksir Arka dari zaman purba. Dia kan sekretaris OSIS, sering jalan bareng Arka buat urusan kegiatan sekolah. Dengar-dengar sih orang tua mereka juga saling kenal," terang Saskia penuh semangat gosip. "Jadi pas ngeliat Arka yang biasanya antikontak fisik sama cewek tiba-tiba megang tangan lo—walaupun bentuknya kayak polisi nangkep pencopet—jelas aja Melisa kepanasan."
Naya mencebikkan bibirnya, kembali menyantap baksonya dengan kasar. "Peduli setan sama Melisa. Kalau dia mau ambil tuh ketua OSIS kaku, ambil aja sana! Kasih pita pink sekalian di kepalanya biar makin lucu."
Meskipun mulutnya berkata begitu, dada Naya tetap terasa sesak oleh sisa-sisa amarah pagi tadi. Bagi Naya, Arka Pradipta adalah simbol dari segala hal yang paling ia benci dalam hidup: ketertiban yang berlebihan, kesempurnaan yang dipamerkan, dan sikap sok berkuasa yang dibungkus dengan nada bicara sopan.
Rasa kesal itu masih terbawa sampai Naya menginjakkan kaki di pelataran rumahnya sore hari. Rumah keluarga Aurelia bernuansa hangat dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman hias milik ibunya. Biasanya, aroma masakan Ibu sudah menyambut Naya begitu ia membuka pintu depan. Namun sore ini, suasana rumah terasa berbeda. Sunyi.
Naya melepas sepatu ketsnya—yang tali kirinya masih terikat bundut asal-asalan—dan melangkah masuk.
"Ibu? Naya pulang..." panggilnya seraya meletakkan tas sekolah di atas sofa ruang tamu.
Tidak ada jawaban dari dapur. Sebaliknya, pintu ruang kerja Ayah di ujung koridor terbuka. Raka Aurelia keluar dari sana. Pria paruh baya bertubuh tegap itu masih mengenakan kemeja kerjanya, tapi lengan kemejanya sudah digulung sampai siku. Wajahnya yang biasa ramah dan penuh canda sore ini terlihat sangat serius. Ada garis kelelahan yang tebal di bawah matanya.
"Naya? Sudah pulang?" suara Ayah terdengar berat.
"Iya, Yah. Ibu mana?" Naya mendekat, bermaksud menyalami tangan ayahnya.
"Ibumu lagi ke supermarket sebentar, beli bahan makanan buat makan malam." Raka menatap putrinya lama, membuat Naya mendadak merasa jengah. Tatapan itu bukan tatapan marah seperti saat Naya ketahuan mendapat nilai merah di mata pelajaran Matematika. Ini tatapan yang jauh lebih rumit. Datar, cemas, dan sarat akan beban berat.
"Ada apa, Yah? Kok liatin Naya gitu banget? Naya nggak bikin masalah kok di sekolah hari ini," dusta Naya cepat-cepat. Keterlambatan pagi tadi jelas tidak boleh sampai ke telinga ayahnya.
Raka tidak tertawa mendengar gurauan defensif putrinya. Ia hanya mengibaskan tangan pelan. "Masuk ke ruang kerja Ayah sebentar. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan sama kamu."
Firasat Naya langsung tidak enak. Langkah kakinya terasa berat saat mengekor di belakang ayahnya masuk ke ruang kerja berpintu kayu jati tersebut. Ruangan itu beraroma kertas tua, kayu, dan aroma kopi hitam yang sudah dingin. Raka duduk di balik meja kerjanya yang penuh dengan berkas dokumen, lalu mengisyaratkan Naya untuk duduk di kursi kayu berseberangan dengannya.
Naya duduk canggung. "Kenapa, Yah? Soal pendaftaran universitas? Kan Naya udah bilang, Naya mau mencoba jalur mandiri di—"
"Bukan soal kuliah, Naya," potong Raka pelan. Ia menyatukan kedua jemarinya di atas meja, menatap Naya lurus-lurus. "Ini soal masa depan kamu. Dan keluarga kita."
Naya mengerutkan kening. "Masa depan? Maksudnya gimana?"
Raka menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat melelahkan. "Ayah sudah berpikir panjang soal ini. Sudah membicarakannya juga dengan Ibumu sejak bulan lalu. Dan keputusan Ayah sudah bulat."
"Keputusan apa, Yah?" Naya mulai merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang semakin menegang ini.
"Kamu harus segera menikah."
Dua kata itu meluncur dari mulut Raka dengan begitu tenang, namun dampaknya bagaikan hantaman petir di siang bolong tepat di atas kepala Naya.
Naya membeku. Selama beberapa detik, otaknya menolak mencerna susunan kata yang baru saja ia dengar. Ia bahkan sempat mendengus geli, mengira ayahnya sedang melancarkan lelucon bapak-bapak yang gagal.
"Ayah becandanya nggak lucu ah," kekeh Naya garing, sambil membetulkan letak duduknya. "Menikah? Naya masih kelas dua belas, Yah. Umur Naya baru tujuh belas tahun. Ujian nasional aja belum, pendaftaran PTN belum buka. Masa tiba-tiba bahas nikah? Ayah keseringan nonton sinetron sore-sore ya sama Ibu?"
Raka tidak ikut tertawa. Tidak ada sedikit pun lekukan senyum di wajah tegasnya.
"Ayah tidak sedang bercanda, Naya Aurelia," tegas Raka dengan nada suara yang membuat tawa garing Naya langsung terhenti seketika. "Ayah sangat serius. Kamu akan menikah. Segera setelah persiapan dari pihak keluarga laki-laki selesai."
Jantung Naya berdegup kencang, kali ini oleh rasa panik yang nyata. Udara di ruang kerja itu mendadak terasa begitu tipis hingga ia kesulitan bernapas. "Yah! Ini gila! Naya masih sekolah! Kenapa Naya harus nikah?! Memangnya ada masalah apa sama keluarga kita? Ayah kebelit utang? Atau perusahaan Ayah bangkrut?!"
"Jaga bicaramu, Naya!" tegur Raka tajam, walau matanya menyiratkan kepedihan yang berusaha ia sembunyikan. "Ini bukan soal utang atau bangkrut. Ini soal janji. Janji antara Ayah dan sahabat lama Ayah yang sudah seperti saudara sendiri. Ada alasan besar di balik semua ini, alasan yang belum bisa Ayah jelaskan sekarang ke kamu. Tapi percayalah, Ayah melakukan ini demi kebaikan dan perlindungan kamu juga."
"Kebaikan apa?!" suara Naya naik satu oktav. Matanya mulai berkaca-kaca oleh campuran rasa takut, bingung, dan amarah yang meletup-letup. "Menikahkan anak umur tujuh belas tahun sama orang asing itu kebaikan kata Ayah?! Siapa cowok itu, Yah? Bapak-bapak umur empat puluh tahun rekan bisnis Ayah? Atau anak juragan tanah yang mana?!"
Raka memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya sebelum kembali menatap putri tunggalnya itu.
"Dia bukan orang asing. Dan dia bukan bapak-bapak," kata Raka pelan. "Dia anak dari Adrian Pradipta. Sahabat terbaik Ayah."
Naya terpaku. Nama Pradipta berdenging di telinganya bagaikan sirene bahaya.
"P-Pradipta?" bisik Naya, berharap telinganya salah mendengar. "Maksud Ayah... Om Adrian Pradipta?"
"Iya. Om Adrian," Raka mengangguk. "Dan calon suami kamu adalah anak sulungnya."
Dunia Naya rasanya runtuh seketika saat itu juga. Nama itu—nama yang paling ia benci di seluruh muka bumi, nama yang baru saja merusak harinya beberapa jam yang lalu—kini tergantung di udara sebagai takdir barunya.
Anak sulung Adrian Pradipta.
Arka Pradipta.
"Nggak..." Naya menggelengkan kepala secara refleks, berdiri dari kursinya hingga kursi kayu itu terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berderit nyaring. "Nggak mau! Ayah! Naya nggak mau! Siapa aja boleh, Yah! Siapa aja! Tapi jangan Arka!"
"Naya, duduk dan dengarkan Ayah dulu!"
"Nggak mau dengar!" teriak Naya, air matanya kini benar-benar menetes membasahi pipinya. "Ayah tahu nggak siapa Arka?! Dia itu ketua OSIS di sekolah Naya! Dia cowok paling menyebalkan, paling kaku, paling sok suci yang pernah Naya kenal! Naya berantem sama dia tiap hari di sekolah! Dan Ayah mau nikahin Naya sama musuh Naya sendiri?!"
"Arka anak yang bertanggung jawab, pintar, dan sopan—"
"Itu di depan Ayah! Di sekolah dia itu monster!" potong Naya histeris. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya naik turun oleh isolasi emosi yang tidak tertampung lagi. "Naya nggak bakal mau nikah sama Arka! Lebih baik Naya dikirim ke pesantren di luar pulau daripada harus nikah sama dia!"
Tanpa menunggu balasan dari ayahnya lagi, Naya memutar tubuhnya dan berlari keluar dari ruang kerja. Suara panggil keras ayahnya menghantam punggungnya, namun Naya terus berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Brak!
Naya membanting pintu kamar keras-keras, memutar kuncinya, lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia membenamkan wajahnya di atas bantal, meluapkan tangisnya yang pecah.
Bayangan wajah Arka yang datar, suara dinginnya saat mencatat keterlambatan Naya pagi tadi, dan senyum tipis mengejeknya kini berputar-putar di otak Naya bagaikan mimpi buruk terburuk. Bagaimana mungkin laki-laki yang menjadi sumber penderitaannya di sekolah, besok-besok akan menjadi orang yang harus berbagi hidup dengannya?
Naya mengepalkan jemarinya di sprei kamar. "Gue nggak bakal biarin ini terjadi. Nggak akan pernah."