NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02.

Saat semua orang masih sibuk mengatur napas setelah aksi kejar-kejaran tadi, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang.

"Permisi... di sini ada yang namanya Alesha?" tanyanya ragu-ragu sambil melihat ke sekeliling.

Beberapa siswa langsung menoleh.

Sindy yang kebetulan berdiri paling dekat spontan menunjuk ke arah Alesha.

"Itu, Kak. Yang lagi gendong bebek."

Orang itu mengikuti arah telunjuk Sindy, lalu berjalan menghampiri Alesha.

"Maaf, Kak... Kakak yang namanya Alesha, ya?"

Alesha yang masih menggendong Pingky mengangguk pelan.

"Iya. Ada apa, ya?"

Siswa itu mengangguk pelan.

"Kak Alesha, Kepala Sekolah minta Kakak datang ke ruangannya sekarang."

Alesha yang masih menggendong Pingky langsung mengernyit, Jelas tak mengerti dengan ucapan itu.

"Hah? Kepala Sekolah?" tanyanya memastikan.

"Iya, Kak. Bu Melly tadi yang nyuruh saya menyampaikan kalau Kakak diminta datang sekarang juga."

Mendengar itu, Alesha dan teman-temannya saling berpandangan.

Rani langsung mendekat lalu berbisik pelan, "Waduh... jangan-jangan Ini gara-gara Pingky."

Reza menelan ludah.

"Fix, kali ini kita tamat."

Sementara Alesha hanya menatap Pingky yang masih anteng di pelukannya, lalu menghela napas pelan.

"Kayaknya... kita bakal dimarahin."

Alesha menghela napas pelan sebelum akhirnya menoleh ke arah Reza.

"Za."

"Hm?"

Tanpa banyak bicara, Alesha langsung menyodorkan Pingky ke pelukan Reza.

"Tolong jagain dulu, ya. Jangan sampai kabur lagi."

"Loh, eh—"

Belum sempat Reza protes, Alesha sudah kabur lebih dulu. Dari kejauhan, suaranya masih terdengar lantAng.

"Makasih, Reza! Titip Pingky, ya!"

"Eh, Les! Tunggu dulu! Gue mana ngerti jagain bebek—"

Reza hanya bisa melongo pasrah. Sementara itu, Pingky justru terlihat anteng di dalam pelukannya, seolah sudah merasa nyaman.

"Ini kenapa jadi gue yang kena tugas, sih?"

Sementara Pingky hanya mendongakkan kepala, lalu mengeluarkan suara pelan.

"Kwaak."

Melihat Reza mendadak menjadi "pengasuh" Pingky, Rani langsung terkekeh geli.

"Selamat ya, Za. Resmi jadi babysitter bebek."

Kini Alesha sudah berdiri tepat di depan ruang kepala sekolah.

Tangannya sempat terangkat hendak mengetuk pintu, tapi urung. Entah kenapa, perasaannya mendadak nggak enak. Ada firasat aneh yang membuatnya ragu untuk mengetuk pintu itu.

"Masuk."

Suara dari dalam ruangan terdengar begitu jelas.

Alesha langsung menghentikan tangannya yang hendak mengetuk pintu. Matanya membulat sesaat, lalu ia mengerutkan kening dengan ekspresi heran.

"Lho... kok bisa tahu aku udah di depan pintu?" batinnya sambil menggaruk pelan pipinya.

Masih dengan wajah bingung, Alesha akhirnya memutar gagang pintu perlahan.

Pintu terbuka sedikit.

"Permisi, Pak..."

Ucapnya pelan sambil mengintip dari balik pintu sebelum benar-benar melangkah masuk ke dalam ruangan.

"Silakan duduk."

Dari balik meja kerjanya, Pak Ridwan mengangkat pandangan ke arah Alesha. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya tetap menunjukkan wibawa seorang kepala sekolah.

"Iya, Pak."

Alesha tersenyum canggung sebelum menarik kursi dan duduk. Tangannya bertumpu di atas lutut, sementara matanya sesekali melirik ke sana-sini.

Pak Ridwan menatap Alesha beberapa saat. Jemarinya bertaut di atas meja, sementara raut wajahnya tetap tenang, membuat Alesha semakin salah tingkah.

"Kamu tahu kenapa saya memanggil kamu?"

Alesha mengedip pelan.

Haduh... mana aku tahu. Emangnya aku punya indra keenam? Gumamannya memang pelan, tapi cukup jelas hingga terdengar oleh Pak Ridwan.

Pria paruh baya itu terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat bicara.

"Hari ini saya dengar kamu kembali membuat keributan."

Alesha langsung mengangkat kepala.

"Keributan apa, Pak?"

"Seluruh koridor sekolah heboh karena ada siswa yang mengejar seekor bebek."

"Oh... yang itu."

"Iya, yang itu."

Alesha langsung nyengir canggung.

"Tapi, Pak... yang ngejar kan bukan saya doang. Tadi banyak kok yang ikut ngejar. Kenapa cuma saya yang dipanggil?"

Pak Ridwan menghela napas pelan. Tatapannya tetap tertuju pada Alesha, seolah sudah menduga gadis itu akan memberikan jawaban seperti itu.

"Karena yang membuat keributan itu kamu."

Alesha langsung terdiam.

"Bebek itu milik kamu, kan?"

"Iya... sih, Pak."

Alesha menjawab pelan. Senyum canggung menghiasi wajahnya, sementara tangannya refleks menggaruk tengkuk yang jelas-jelas tidak terasa gatal.

Pak Ridwan menggeleng pelan sebelum Kembali menatap Alesha.

"Kalau memang ingin memelihara bebek, peliharalah di rumah. Bukan dibawa ke sekolah sampai satu sekolah ikut mengejarnya."

Alesha hanya bisa nyengir tipis.

"Iya, Pak... saya juga nggak nyangka Pingky bakal kabur."

Pak Ridwan menarik napas pelan sebelum kembali menatap Alesha dengan wajah serius.

"Alesha, dalam sebulan ini kamu sudah terlalu banyak membuat ulah. Bapak sampai kewalahan menghadapi tingkahmu. Rasanya hampir tidak ada hari yang berlalu tanpa ada masalah yang melibatkanmu."

Alesha hanya bisa menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia tidak mampu membantah karena semua yang dikatakan Pak Ridwan memang benar.

Dalam sebulan terakhir, ia sudah dua kali dipanggil ke ruang kepala sekolah. Sementara itu, ulah-ulah sebelumnya masih ditangani oleh guru BK dan pengurus OSIS. Awalnya, Pak Ridwan memilih tidak ikut campur dan menyerahkan semuanya kepada mereka.

Namun, lama-kelamaan semua orang mulai kewalahan. Guru BK bahkan sudah beberapa kali mengeluhkan tingkah Alesha setiap kali rapat mingguan. Hampir selalu ada cerita baru tentang ulah siswi itu yang membuat para guru menggelengkan kepala.

"Maaf, Pak..." ucap Alesha pelan sambil tetap menundukkan kepala.

Pak Ridwan menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Mulai hari ini, Bapak menjatuhkan skorsing selama dua hari untukmu, Alesha."

Alesha terdiam.

"Gunakan waktu itu untuk merenungkan semua tindakanmu. Bapak berharap, setelah kembali ke sekolah nanti, kamu bisa berubah menjadi lebih baik."

"Jangan diskors, Pak... Nanti Papa saya marah," pinta Alesha dengan wajah memelas.

Pak Ridwan menatapnya datar.

"Bapak juga sudah pusing menghadapi tingkahmu, Alesha. Orang tuamu sudah beberapa kali dipanggil ke sekolah, bahkan sudah berkali-kali diberi peringatan. Tapi sampai sekarang, kamu tetap saja mengulangi kesalahan yang sama."

Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalau tidak ada tindakan yang lebih tegas, Bapak khawatir kamu tidak akan pernah belajar dari semua ini."

"Baik, Pak..." ucap Alesha pasrah.

Pak Ridwan mengangguk pelan.

"Kalau begitu, kamu bisa kembali. Ambil barang-barangmu di kelas, lalu langsung pulang ke rumah. Skorsingmu mulai berlaku hari ini."

Alesha pun keluar dari ruang kepala sekolah. Sepanjang perjalanan, ia hanya berjalan sambil menundukkan kepala.

"Mati deh aku..." gumamnya lirih.

Dari kejauhan, ia melihat Reza sedang duduk di depan kelas sambil memangku Pingky yang tampak anteng. Rani juga terlihat duduk di sampingnya, sesekali mengajak Pingky bermain.

Begitu menyadari kehadiran Alesha, keduanya langsung menoleh ke arahnya.

Saat Alesha sampai di hadapan mereka, Reza langsung menatap wajahnya lekat-lekat.

"Buset, muka lo lemes amat. Emang dihukum apa sama Pak Ridwan?" tanyanya penasaran.

Rani yang duduk di samping Reza ikut memperhatikan Alesha, menunggu jawaban darinya.

"Diskors," jawab Alesha singkat.

Reza justru mengangkat kedua alisnya.

"Bagus, tuh. Bisa santai-santai di rumah."

Alesha langsung memukul pelan bahu Reza.

"Pala lo santai-santai! Papa gue bisa marah besar kalau tahu gue diskors."

Rani yang mendengar itu hanya menggeleng sambil menahan tawa melihat tingkah mereka.

"Udah, ya. Gue mau pulang dulu," ucap Alesha.

Tanpa menunggu tanggapan, ia melangkah masuk ke kelas untuk mengambil tasnya.

"Lah, cepet banget, Sha?" tanya Rani heran.

"Disuruh Pak Ridwan," jawab Alesha singkat sambil memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya.

Setelah semuanya beres, ia menghampiri Reza dan langsung mengambil Pingky dari pelukannya.

"Nih, majikan lo udah datang," celetuk Reza sambil menyerahkan Pingky.

Alesha menggendong Pingky sambil melangkah menuju pintu kelas. Sebelum benar-benar pergi, ia berbalik menghadap temaN-temannya.

"Jangan kangen sama gue, ya. Bye, semuanya... Bye, kelas!" ucapnya sambil melambaikan tangan.

Beberapa teman langsung tertawa, sementara yang lain hanya menggeleng melihat tingkah Alesha yang masih sempat bercanda meski baru saja kena skorsing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!