Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG KESEMPURNAAN
Di sudut belakang kafe yang tenang, kepulan uap hangat dari secangkir teh menemani lembaran demi lembaran mushaf Al-Qur'an kecil yang terbuka. Maira mengeja huruf demi huruf hijaiyah dengan dahi berkerut fokus. Suaranya yang semula terbata-bata kini terdengar jauh lebih mengalir dan tenang.
“Alhamdulillah ya, Mbak... sekarang Mbak Maira udah agak lancar baca Al-Qur'annya. Makhraj-nya juga pelan-pelan sudah mulai tepat,” puji Aisyah tulus, menutup mushaf setelah menyimak bacaan seniornya itu.
Maira langsung mengembuskan napas lega, menutup Al-Qur’an kecilnya dengan senyum lebar yang merekah. “Hihi, iya Syah... Alhamdulillah banget. Ini semua juga berkat kesabaran Lo yang mau telaten ngajarin gue dari nol. Makasih banyak ya, Syah.”
Maira merapikan letak hijabnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Aisyah dengan raut wajah berpikir. “Oh iya, Syah... mulai besok-besok, gimana kalau les privat ngaji kita dipindah ke halaman belakang kafe ini aja? Jangan di rumah gue lagi.”
Aisyah mengernyitkan dahi heran. “Loh, kenapa begitu, Mbak? Bukannya di rumah Mbak lebih tenang?”
Maira tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan alasan sebenarnya di balik nada suaranya yang kasual. “Biar... biar praktis aja. Lagian kalau di kafe kan kita bisa langsung ngaji setelah sif kerja kelar. Dan yang paling penting... biar Fatih gak perlu jauh-jauh jemput Lo ke rumah gue kalau udah kemalaman. Kasihan kakak Lo, Syah, kerjanya kan udah capek seharian.”
Aisyah tertegun sesaat mendengarnya. Ada secercah perhatian terselubung yang ia tangkap dari ucapan Maira untuk kakaknya. Namun, Aisyah memilih mengangguk setuju demi menjaga suasana. “Iya, Mbak. Senyamannya Mbak Maira saja, di sini juga tempatnya asri kok.”
Di sela-sela obrolan hangat mereka, gemerincing bel di atas pintu masuk kafe berbunyi pelan menandakan kedatangan pengunjung. Aisyah dan Maira spontan menoleh ke arah pintu masuk. Sosok wanita anggun berbalut gamis longgar dan jilbab syar'i yang menjuntai rapi melangkah masuk bersama seorang temannya.
Mata Aisyah seketika berbinar cerah saat mengenali sosok tersebut.
“Ning Halwa?” sapa Aisyah dengan nada riang, segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri tamu istimewa tersebut.
Halwa yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh. Senyuman manis dan meneduhkan langsung terbit di wajahnya yang bersih tanpa riasan tebal. “Aisyah... Alhamdulillah, ternyata benar kamu ada di sini. Aku mampir sengaja ke kafe ini karena kemarin kata Umi kamu bekerja di sini.”
Sementara itu, di balik meja barista, Maira berdiri mematung. Pandangan matanya seolah terkunci pada sosok Halwa, gadis yang sempat dijodohkan dengan Fatih. Ada rasa kagum yang luar biasa mendadak menyergap dada Maira. Halwa terlihat begitu anggun, suci, dan memancarkan aura kesalehan yang teramat nyata,sesuatu yang selama ini dirasa sangat jauh dari diri Maira.
“Iya, Ning. Silakan duduk dulu di sebelah sana,” ucap Aisyah menyambut dengan sangat sopan. “Mau pesan minuman apa, Ning?”
“Aku mau matcha latte hangat saja, Syah,” jawab Halwa ramah.
“Aku samain deh sama Halwa,” sahut Isma, teman santri yang mendampingi Halwa hari itu.
“Baik, ditunggu sebentar ya, Ning... Kak,” ucap Aisyah ramah sebelum kembali ke meja barista untuk menyiapkan pesanan bersama Maira.
Beberapa menit kemudian, dua cangkir matcha latte hangat siap disajikan. Aisyah membawa nampan tersebut bersama Maira yang ikut mengantarkan camilan pendamping.
“Ini, Ning, silakan dinikmati,” ucap Aisyah sembari meletakkan cangkir dengan hati-hati.
Maira memberikan senyuman sopan kepada Halwa dan Isma, yang dibalas dengan anggukan tak kalah ramah oleh keduanya. Kelembutan sikap Halwa benar-benar membuat Maira merasa semakin kecil.
“Mbak Maira, aku izin duduk di sini sebentar ya? Mumpung pengunjung kafe sore ini masih agak sepi,” bisik Aisyah meminta izin pada Maira. Maira hanya mengangguk pelan sembari memberikan isyarat agar Aisyah santai saja, lalu ia melangkah kembali ke balik meja kasir untuk memberi mereka privasi.
Begitu Aisyah duduk di hadapan kedua gadis pesantren itu, Isma—teman Halwa—langsung menyenggol lengan Halwa dengan senyum menggoda yang tertahan.
“Aduh, Aisyah... kamu beruntung banget deh, sebentar lagi bakal punya calon kakak ipar yang secantik dan sesalihah Halwa ini,” ucap Isma dengan nada polos tanpa tahu situasi yang sebenarnya terjadi.
Seketika itu juga, atmosfer di meja tersebut mendadak berubah menjadi canggung. Halwa dan Aisyah saling bertatapan sesaat. Keduanya tahu betul bahwa rencana perjodohan agung itu sudah dibatalkan sepenuhnya beberapa hari lalu, bahkan dibatalkan langsung atas penolakan tegas dari Fatih.
Halwa, dengan kematangan sikapnya yang luar biasa, tetap mempertahankan ketenangannya. Ia tersenyum lembut tanpa ada gurat kekecewaan atau rasa tersinggung sedikit pun di wajahnya.
“Bukan kakak ipar, Isma... Kita berteman baik saja ya, kan, Syah?” sahut Halwa dengan nada suara yang teramat tenang dan bersahaja.
Aisyah tidak menjawab secara verbal. Ia hanya tersenyum dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa kagum yang mendalam melihat bagaimana cara Ning Halwa mengendalikan egonya di hadapan orang lain. Ning Halwa benar-benar berhati mulia, batin Aisyah.
Namun, Isma yang tidak peka justru semakin penasaran melihat perubahan raut wajah kedua temannya yang mendadak canggung. “Loh? Memangnya kenapa? Kan memang benar sebentar lagi kalian akan jadi keluarga ipar?”
“Kami... tidak jadi dijodohkan, Isma,” jawab Halwa langsung dengan jujur tanpa ada niat untuk menutupi.
“Hah? Kenapa bisa begitu? Bukankah kemarin semuanya sudah hampir direncanakan?” tanya Isma terkejut, mencondongkan tubuhnya ke depan karena rasa penasaran yang memuncak.
“Mungkin... memang belum berjodoh,” sela Aisyah mencoba mencairkan ketegangan. “Tapi, semoga saja ke depannya mereka tetap diberikan jalan yang terbaik. Belum menutup kemungkinan juga, kan? Mungkin Mas Fatih saat ini hanya ingin fokus dulu pada pekerjaan yang sedang padat.”
Di balik meja kasir yang jaraknya tidak terlalu jauh, Maira yang sayup-sayup mendengar setiap bait obrolan dari meja tersebut mendadak merasakan desiran aneh di dadanya. Ada rasa kelegaan yang tiba-tiba menyeruak di sudut hatinya saat mendengar kepastian bahwa Fatih benar-benar membatalkan perjodohan itu.
Namun, sedetik kemudian, Maira langsung menepuk pipinya sendiri dengan pelan, merasa sangat bersalah atas ego liarnya.
“Hus! Maira, sadar! Lo gak boleh egois kayak gini!” batin Maira memaki dirinya sendiri. “Tapi... kenapa? Kenapa Fatih bisa-bisanya membatalkan perjodohan itu? Cowok mana pun di dunia ini pasti akan langsung terpesona dan ingin cepat-cepat meminang sosok sesempurna Ning Halwa. Cantik, anggun, berilmu, dan keluarganya jelas terhormat.”
Maira menatap pantulan dirinya di permukaan mesin kasir yang mengilat. Dadanya mendadak terasa sesak oleh rasa minder yang teramat pekat.
“Kalau gadis secantik dan seanggun Ning Halwa saja ditolak dengan mudah oleh Fatih... apalagi cewek kayak gue? Cewek berantakan yang punya masa lalu kelam, kotor, dan penuh noda.” Setitik air mata hangat hampir saja luruh di pelupuk mata Maira, namun ia buru-buru menyekanya kasar.
“Gue harus tahu diri. Gue harap... suatu saat nanti Fatih tetap berjodoh dengan Ning Halwa. Mereka kelihatan cocok banget," gumam Maira dalam hati, mencoba menekan dalam-dalam perasaan asing yang mulai tumbuh subur di dadanya.
Sore pun berangsur berganti senja. Setelah menghabiskan minuman mereka dan mengobrol hangat seputar kegiatan pesantren, Halwa dan Isma akhirnya bangkit berdiri untuk berpamitan. Aisyah mengantarkan mereka hingga ke depan gerbang kafe.
“Syah, kami pamit pulang dulu ya, hari sudah semakin sore,” ucap Halwa lembut sembari membetulkan letak tasnya.
“Iya, Ning. Makasih banyak ya sudah menyempatkan mampir ke kafe kecil ini,” sahut Aisyah dengan senyuman hangat.
“Sama-sama, Syah. Lain kali kalau ada waktu senggang, aku pasti mampir lagi ke sini. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” jawab Aisyah melepas kepergian mereka hingga punggung kedua gadis itu hilang di belokan jalan raya.
Aisyah mengembuskan napas panjang, lalu membalikkan badannya dan melangkah kembali ke dalam kafe. Ia langsung menghampiri Maira yang tampak melamun sembari mengelap meja barista yang sebenarnya sudah sangat bersih.
“Syah... gila ya,” celetuk Maira tiba-tiba, memecah keheningan dengan tatapan mata yang menerawang ke depan. “Gue gak nyangka ada cewek seanggun dan selembut itu di dunia nyata. Kalau gue terlahir sebagai cowok, kayaknya gue udah jatuh cinta berkali-kali deh sama Ning Halwa.”
Aisyah tersenyum tipis, mengangguk setuju. “Iya kan, Mbak? Ning Halwa memang sesempurna itu kepribadiannya. Tapi ya sayang... Mas Fatih malah membatalkan perjodohannya.”
Maira menghentikan kegiatannya mengelap meja, lalu menatap Aisyah dengan dahi berkerut penuh rasa penasaran yang tak bisa ditahannya lagi. “Loh, kok bisa sih? Ih... kakak Lo tuh bego banget ya? Eh—maaf, Syah! Maksud gue bukan gitu... tapi maksud gue, kok bisa-bisanya cowok waras kayak Fatih menolak gadis sesempurna Ning Halwa?”
Aisyah terdiam sejenak. Ia menatap lekat-lekat mata Maira, mencoba membaca apakah ada perasaan lain yang tersimpan di balik rasa penasaran sahabatnya itu. Sebenarnya, di dalam hati Aisyah, kecurigaan bahwa kakaknya menolak perjodohan demi menjaga hati untuk Maira terasa semakin kuat. Namun, Aisyah sadar betul ia harus menjaga rahasia ini demi mencegah timbulnya masalah yang lebih rumit.
Aisyah akhirnya mengulas senyum terbaiknya, menjawab dengan nada suara sebiasa mungkin di hadapan Maira. “Aku juga kurang tahu pasti, Mbak. Kata Mas Fatih kemarin... dia cuma ingin fokus dulu sama karier arsitekturnya yang sedang dirintis dan belum siap membangun komitmen rumah tangga.”
Maira mengangguk-angguk paham, meski ada bagian kecil di dalam hatinya yang masih terasa mengganjal dan meragukan alasan klasik tersebut. Namun, ia memilih untuk menyimpannya rapat-rapat.