Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Selina
"Nggak, aku nggak mau," Vivi menggelengkan kepalanya tegas. "Aku nggak setuju Mikaila di tes DNA,"
"Kenapa? kamu takut kalau kebohonganmu terbongkar?" Althan menatap Vivi seolah menangkap basah. "Sudahlah Vivi, akui saja, Mikaila memang anakku, kan?"
"Mikaila itu anakku," Vivi berkata tegas. "Aku yang berhak memutuskan apa yang harus dilakukan,"
"Dan bisa jadi Mikaila itu juga anakku," Althan mengepalkan tangannya. "Dan semua itu akan bisa kita buktikan dengan tes DNA,"
"Aku tidak mau," Vivi terus bersikukuh. "Sebagai ibunya, aku tidak setuju sama sekali,"
"Astaga, ayolah Vivi, apa masalahnya?!" Althan menghela napas panjang, ia merasa frustasi sekarang. "Kalau Vivi memang bukan anakku, kamu tidak perlu takut, kan?"
"Aku tidak takut," Vivi mengepalkan tangannya, bohong tentu saja. "Aku hanya tidak ingin melibatkan anakku dalam masalah sepele seperti ini,"
"sepele? Vivi, kamu tidak tau betapa menderitanya aku selama ini, dan seenaknya kamu bilang kalau masalah ini sepele?"
"Ya," Vivi menjawab tanpa ragu sedikit pun. "Maaf Pak Althan, saya rasa masalah di antara kita sudah selesai sejak lima tahun yang lalu. Mohon jangan libatkan saya atau anak saya lagi dalam masalah pribadi Anda," Setelah menjawab begitu, Vivi pun pergi menuju kamar tempat Mikaila berada.
"Apa? Hei!" Althan sudah mau mengejar, tapi Roni menahan tangannya.
"Sudahlah, biarkan saja Althan," ucap pria itu.
"Gimana bisa biarkan saja, Bang?! Mikaila itu bisa jadi anakku, aku berhak mengetahui kebenarannya kan?!" tanya Althan dengan nada cukup emosi.
"Aku tau kekhawatiranmu. Tapi tidak ada gunanya memaksa Vivi sekarang. Yang ada, bisa bisa Vivi nanti makin menjauh. Kamu tidak ingin hal itu terjadi, kan? Kamu tunggulah dengan tenang. Kita cari solusinya pelan-pelan,"
Althan mendengus. Perkataan Roni ada benarnya.
Ia pun akhirnya pasrah dan memilih duduk kembali di atas sofa. Memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing.
Sebenarnya apa yang salah? Kenapa Vivi bersikeras tidak mau mengakui kalau aku adalah ayah dari Mikaila?
Tak berselang lama, Vivi muncul sambil menggendong Mikaila. Tampak gadis kecil itu masih setengah sadar, setengah bingung.
"Hei, kamu mau kemana?" Althan yang baru duduk kembali bangkit dari duduknya.
"Karena Anda sudah memecat saya, kami pamit pulang Pak," Vivi memang berkata mau pamit, tapi ia langsung bergegas menuju ke arah pintu depan, sama sekali tidak peduli Althan mengizinkan atau tidak.
"Astaga, setidaknya biarkan Mikaila bangun dulu. Kasian dia," Althan berusaha membujuk. "Kemarilah, biar aku saja yang membawanya,"
"Urus urusan Anda sendiri Pak," Vivi tetap bersikeras.
"Ya ampun, apa kamu mau terus seperti ini, Vivi? Setidaknya, biarkan aku mengantarkan kalian berdua pulang,"
"Tidak Pak, terimakasih," Vivi berkata tegas. Setelah berhasil membuka pintu, ia pun segera berjalan mantap ke arah lift.
"Hei, tunggu! Vivi! Vivi!"
Tapi wanita itu tetap tidak peduli.
"Sudahlah Althan," Roni muncul dari belakang. Menatap mereka berdua sambil melipat kedua tangan. "Percuma memaksanya,"
Althan lagi lagi mendengus kesal. Ia mengacak acak rambutnya karena frustasi.
"Sejak kapan Vivi menjadi begitu keras? Dia tidak seperti ini sebelumnya. Kenapa sekarang dia jadi susah sekali diajak bicara?!" keluhnya.
"Kadangkala, pengalaman pahit bisa merubah seseorang bukan?" Roni balik bertanya dengan tenang. "Kita tidak pernah tau apa yang dialami dia selama ini. Jadi, aku rasa, kamu harus mulai bekerja ekstra kalau mau kembali mengejarnya, Althan,"
***
Vivi keluar dari lift dengan air mata yang tertahan di ujung pelupuk.
Tadi saat berhadapan dengan Althan, Vivi bisa keliatan begitu tegas dan keras karena ia menahan diri sekuat tenaga. Padahal kenyataannya, saat ini air matanya sudah merebak. Itu juga alasan kenapa sedari tadi dia tidak menatap Althan sama sekali. Ia takut lelaki itu bisa melihat semua kebohongannya dan membuat pertahanan dirinya hancur.
Vivi tau, apa yang ia lakukan saat ini salah besar.
Memang tidak seharusnya dia menghalang-halangi Althan untuk mengetahui kebenaran tentang Mikaila. Dan sejujurnya, Vivi apun merasa bersalah kepada Mikaila karena sudah membuang semua kesempatan untuk mengetahui tentang ayah kandungnya. Tapi, ia tak punya pilihan lain.
Sejak keputusan awalnya meninggalkan Althan lima tahun yang lalu, Vivi sudah memantapkan hati. Ia tidak akan pernah kembali. Tidak untuk menghancurkan karir dan semua kebahagiaan yang dimiliki pria itu sekarang. Biarlah mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa harus bersinggungan satu sama lain, Vivi sudah sangat puas dengan hal itu.
Vivi pun menaiki bus dengan Mikaila tetap berada di gendongannya. Selama perjalanan menuju ke kontrakannya, pikiran Vivi dipenuhi banyak rencana.
Apa lebih baik aku pergi lagi? Tapi kemana? Kalau aku pergi, otomatis Mikaila juga akan pergi. Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Bagaimana dengan teman-temannya? Aku takut Mikaila tidak bisa beradaptasi.
Semua pikiran itu membuatnya kalut, hingga tanpa sadar bus yang ia miliki telah sampai. Mikaila yang menyadarkannya dari lamunan.
"Mama, ayo turun," ucapnya dengan suara setengah mengantuk.
Vivi Tersentak dan langsung melihat sekeliling. Begitu sadar kalau bus sudah berhenti, ia pun bergegas turun. Tapi, begitu langkahnya menapak beton jalanan, hatinya langsung mencelos melihat siapa yang menyambutnya di luar sana.
"Halo," wanita itu melambaikan tangannya kepada Vivi. Wajahnya yang tersenyum membuat Vivi bergidik.
"Apa kabar, Vivi?"
Vivi menelan ludah. Wanita itu, wajahnya masih sama kejamnya dengan lima tahun lalu. Bahkan pakaian branded yang ia pakai dari ujung kepala hingga kaki itu sama sekali tidak memudarkan rasa takutnya.
Wanita itu mendekat beberapa langkah, menatap Mikaila dengan senyum miring.
"Dia anakmu? Sudah besar ya,"
Vivi reflek memeluk putrinya lebih erat.
"A-ada keperluan apa Anda mencari saya, Bu?" suara Vivi terdengar setengah gemetar.
Wanita itu tersenyum. Wajahnya tampak tenang, tapi bagi Vivi tetap... menyeramkan.
"Untuk menagih janji. Bukankah kamu tau apa yang sudah kamu langgar, Vivi?"
Vivi menelan ludah. Wanita ini benar-benar mengerikan.
"Bisa kita bicara sekarang, Vivi?" Selina menatapnya tajam.
semoga aj althan atau Roni tau kelakuan Selina ,,
yg sengaja bikin vivi pergi waktu itu ,,
Vivi² itu selina si ular kadut, dia mengeruk keuntungan banyak dari althan jadi artis. harusnya kamu gak usah mau di ajak ngomong sama selina pergi dan abaikan
rasanya pengin aku guyur aja mukanya selina sama air got😤