NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Dua minggu.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Zain. Dua minggu lagi bukan lagi soal memasang baut, menarik kabel, atau memindai rangka, tetapi pengujian energi penuh.

Hari-hari berikutnya tetap berjalan seperti biasa. Setiap pagi, Zain mengenakan jaket hijaunya, menyalakan aplikasi, lalu berkeliling kota mencari penumpang.

Namun, kini ada satu kebiasaan baru. Setiap selesai bekerja, ia selalu mampir ke laboratorium. Kadang hanya satu jam, kadang dua jam—membantu merapikan kabel, mengambil peralatan, atau sekadar membersihkan bengkel. Meski pekerjaannya sederhana, ia mulai merasa menjadi bagian dari tim.

Suatu sore, Ardi sedang memeriksa laptop ketika Zain datang membawa kopi.

"Nih."

"Terima kasih," Ardi menerima gelas kertas itu. "Kamu bosan?"

"Bosan kenapa?"

"Seminggu terakhir kerjaannya cuma bersih-bersih."

Zain tertawa kecil. "Enggak juga. Dulu waktu jadi mahasiswa, saya juga sering disuruh menyapu bengkel."

Ardi ikut tersenyum. "Bagus. Orang yang tidak sabaran biasanya tidak betah di proyek seperti ini."

...

Di sisi lain ruangan, Profesor masih sibuk memeriksa data. Ia membandingkan angka demi angka, sesekali menggeleng, lalu mencoret sesuatu di buku catatannya.

Zain mendekat. "Masih ada yang salah?"

"Bukan salah," Profesor menunjuk grafik di layar. "Lihat garis ini."

Zain menggeleng. "Saya tidak mengerti."

Profesor tersenyum. "Naiknya terlalu cepat."

"Itu jelek?"

"Belum tentu. Namun, sesuatu yang naik terlalu cepat biasanya sulit dikendalikan."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah kenapa, Zain merasa Profesor sedang berbicara tentang hal yang jauh lebih besar daripada sekadar mesin.

...

Malamnya, saat hendak pulang, Profesor menghentikannya. "Besok jangan datang."

"Lho? Kenapa?"

"Ada pengujian yang tidak boleh dihadiri orang luar."

"Oh..." Zain mengangguk.

Ia tidak kecewa, justru merasa penasaran. Namun, ia tahu kapan harus bertanya dan kapan harus menunggu.

Keesokan harinya, laboratorium ditutup rapat. Hanya Profesor, Ardi, dan dua teknisi senior yang berada di dalam. Di luar pintu terpasang papan penanda: Pengujian Berlangsung. Dilarang Masuk.

Sementara itu, Zain tetap menarik penumpang. Menjelang siang, ia menerima pesanan menuju area kampus. Saat melintasi gedung laboratorium, ia sempat melirik ke arahnya.

Semua pintu tertutup rapat. Tak ada aktivitas, tak ada suara—hanya sebuah gedung beton yang tampak biasa.

Padahal di balik dinding itu, sebuah eksperimen sedang berlangsung. Eksperimen yang akan menentukan apakah proyek yang dibangun hampir tiga puluh tahun tersebut layak dilanjutkan, atau harus dihentikan selamanya.

Zain baru selesai mengantar penumpang terakhir saat hari menjelang sore. Sejak pagi, ia beberapa kali melirik ke arah kampus. Entah kenapa, perasaannya tidak tenang.

Ting!

Ponselnya bergetar. Bukan pesanan baru, melainkan sebuah pesan singkat dari Ardi.

*Kalau sudah selesai kerja, langsung ke laboratorium.*

Hanya satu kalimat. Tanpa penjelasan, tanpa emoji, dan tanpa basa-basi. Zain langsung memutar arah motornya menuju kampus.

...

Begitu pintu lift terbuka, suasana laboratorium terasa aneh. Biasanya para teknisi masih bercanda sambil membereskan peralatan, namun hari ini semuanya diam. Beberapa orang masih menatap monitor, sementara yang lain sibuk mencatat.

Profesor Surya berdiri sendirian di depan motor Zain dengan tangan terlipat dan tatapan kosong. Jantung Zain langsung berdegup lebih cepat.

"Kenapa?"

Tak ada yang menjawab.

"Motor saya rusak?"

Profesor menggeleng pelan. "Bukan."

"Terus?"

Ardi menghampiri sambil membawa sebuah tablet. "Lihat ini."

Di layar tablet terpampang rekaman dari kamera berkecepatan tinggi. Motor Zain tetap diam di atas meja hidrolik—tidak bergerak, tidak pula menyala.

Lalu, pada detik ke-12, bayangan motor itu bergetar.

Hanya terjadi dalam sepersekian detik dan sangat singkat. Kalau diputar dengan kecepatan normal, fenomena itu hampir tidak terlihat. Namun pada rekaman super lambat, terlihat jelas seolah ada dua bayangan motor yang bertumpuk sebelum akhirnya kembali menjadi satu.

"Itu... efek kamera?" gumam Zain.

Ardi menggeleng. "Kami sempat berpikir begitu, lalu kami memeriksa hasil dari tiga kamera berbeda."

Ia menggeser layar tablet. Ketiga kamera menunjukkan hal yang persis sama: motor itu seolah menghilang sepersekian detik, kemudian muncul kembali.

"Berapa lama?" tanya Zain.

Profesor akhirnya menjawab, "Tiga koma dua milidetik."

"Milidetik? Itu singkat sekali." Zain menggaruk kepalanya. "Terus artinya apa?"

Profesor menarik napas panjang. "Itulah masalahnya. Kami belum tahu."

...

Ruangan kembali hening. Salah seorang teknisi menyela, "Semua sensor mencatat penurunan massa sebesar nol koma tiga persen, tapi cuma sesaat."

Ardi menambahkan, "Posisi motor juga bergeser."

"Berapa?"

"Dua milimeter."

"Dua milimeter?" Zain memastikan. "Padahal meja hidrolik dikunci?"

"Iya."

Zain mulai merinding. Motor itu tidak mungkin bergeser sendiri tanpa ada gaya yang menggerakkannya.

Profesor berjalan mendekati motor lalu mengusap setangnya perlahan. "Selama dua puluh delapan tahun... ini pertama kalinya."

"Pertama kali apa?"

Profesor menoleh. "Pertama kali alat ini memberikan hasil yang tidak bisa kami jelaskan."

Tak ada sorak sorai, tak ada tepuk tangan. Semua orang justru terlihat jauh lebih tegang. Bagi seorang ilmuwan, hasil yang tidak bisa dijelaskan sering kali jauh lebih menakutkan daripada sebuah kegagalan.

Profesor menatap seluruh timnya. "Hentikan semua pengujian. Kita periksa setiap data. Jangan ada langkah berikutnya sebelum kita tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Semua mengangguk, tak seorang pun membantah.

Di sudut ruangan, Zain terus memandangi motornya. Motor yang setiap hari ia pakai untuk mencari nafkah itu baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!