NovelToon NovelToon
Mantan Komandan Muda

Mantan Komandan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Penyelamat / Fantasi
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

debaran gadis muda

Malam pun datang menggantikan teriknya siang yang sempat membakar sudut-sudut Kota Barat. Waktu sudah berlalu agak lama sejak Bima pamit pulang dan mengendarai mobil jadulnya untuk bergerak meninggalkan kawasan perumahan elite berpagar tinggi tersebut. Di ruang tamu megah yang kini terasa sedikit lengang, Ibu Sanjaya dan Mia masih betah duduk santai di atas sofa beludru mewah mereka. Tampaknya, benak kedua wanita itu masih terbayang-bayang oleh pesona kesederhanaan, wibawa, dan ketegasan prinsip yang ditunjukkan oleh sang penyelamat siang tadi.

Ibu Sanjaya melirik anak gadisnya yang sedari tadi hanya diam membisu sembari mematung menatap tumpukan map sertifikat tanah dan deretan kunci mobil sport yang masih di atas meja kaca. Sebuah senyuman penuh arti yang sarat akan naluri seorang ibu seketika terukir di wajah paruh bayanya yang anggun.

"Nak, bagaimana sebenarnya pendapat pribadi serta penilaianmu tentang sosok Bima?" tanya sang ibu membuka obrolan malam untuk memecah keheningan.

"Kak Bima orangnya sangat baik, Ibu. Dia punya aura yang menenangkan," jawab Mia spontan dengan suara merdunya yang terdengar sangat jujur dari lubuk hati.

"Bukan itu maksud Ibu, sayang," potong sang ibu cepat sembari terkekeh pelan melihat kepolosan anaknya. "Tapi, kalau dari kacamata seorang perempuan muda, menurutmu dia termasuk pria yang tampan atau tidak?"

Pipi Mia seketika bersemu merah merona di bawah temaram cahaya lampu kristal ruang tamu yang mewah. "Sangat tampan, Ibu," cicit Mia dengan suara yang teramat pelan. Pikirannya mendadak melayang membayangkan kembali bagaimana bentuk lekuk tubuh atletis dan bidang milik Bima yang terbungkus dengan sangat pas oleh kemeja santai siang tadi.

"Kalau begitu, kamu mau tidak kalau di masa depan nanti dia maju menjadi suamimu?" tembak Ibu Sanjaya langsung pada sasaran tanpa basa-basi lagi

"Iya, mau," jawab Mia refleks dengan anggukan kepala yang cepat. Namun, baru sedetik kemudian kesadaran penuhnya tersentak total. Sepasang matanya langsung membelalak kaget karena baru mencerna dengan baik pertanyaan jebakan yang dilontarkan ibunya. "Eh?! Apa, Ibu?! M-maksudku bukan begitu! Aduh, Ibu ini membuatku bingung saja!"

"Hahaha!" Ibu Sanjaya langsung tertawa lepas dan renyah melihat respons panik, salah tingkah, serta gestur salah tingkah dari anak gadisnya yang terlihat sangat menggemaskan itu.

Mia mengerucutkan bibirnya sedikit kesal, mencoba meredakan debaran di dalam dadanya yang tiba-tiba saja berpacu dengan sangat liar. "Tapi Ibu... Kak Bima beneran orang yang sangat baik dan tulus. Dia juga sama sekali tidak terlihat serakah atau silau dengan kilauan harta materiil," ujar Mia, berusaha keras mengalihkan arah pembicaraan mereka ke topik yang jauh lebih serius.

"Iya, Nak. Ibu tentu tahu dan menyadari hal itu," sahut sang ibu, raut wajahnya kini berubah melunak penuh dengan rasa kagum yang mendalam pada harga diri tinggi yang dimiliki Bima. Beliau menghela napas panjang yang sarat makna lalu menambahkan, "Jika saja orang lain yang berada di posisi Bima hari ini, bisa saja semua koleksi mobil mewahmu, lembaran sertifikat vila, bahkan mansion megah yang kita tempati ini sudah habis diambilnya tanpa sisa sebagai upah balas budi."

Mia hanya mengangguk setuju dengan pernyataan ibunya. Bima benar-benar sosok pria yang sangat langka di era modern yang penuh dengan keserakahan ini. Keheningan sempat kembali melanda ruangan itu sesaat sebelum Mia kembali memberanikan diri berbisik pelan, "Kira-kira... kapan ya, Bu, Kak Bima mau meluangkan waktu untuk main dan berkunjung kesini lagi?"

Ibu Sanjaya kembali mengembangkan senyum godanya yang khas. Beliau menopang dagu dengan satu tangan sembari melirik tajam ke arah Mia. "Wah... baru juga beberapa jam yang lalu dia pulang ke rumahnya, ternyata kamu sudah merindukannya ya?" goda sang ibu sembari kembali terkekeh pelan.

"Ah, Ibu... apa-apaan sih! Jangan menggoda aku terus!" seru Mia dengan wajah yang sudah matang memerah sempurna bagaikan buah tomat karena malu rahasia hatinya dibongkar begitu saja.

Tanpa menunggu godaan dari ibunya mengalir lebih jauh, Mia bergegas bangkit berdiri dari sofa dan setengah berlari menaiki anak tangga melingkar menuju ke kamarnya di lantai dua. Dia sengaja meninggalkan ibunya sendirian di ruang tamu luas yang masih tertawa renyah melihat tingkah laku anak gadisnya yang sedang dilanda kasmaran instan. Di dalam kamarnya, Mia langsung melempar tubuhnya ke atas kasur empuk. Dia memeluk gulingnya erat-erat sembari menatap kosong ke arah langit-langit kamar, sepenuhnya tidak tahu bahwa pria yang sedang dia rindukan itu sebenarnya menyimpan sebuah rahasia besar tentang kakak laki-lakinya yang telah gugur di medan perang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!