Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pintu kayu itu terbuka dengan bunyi derit lumayan nyaring.
Ciara melangkah keluar sambil membawa tote bag. Rambut pirang kecokelatannya sudah rapi tergerai. Wajahnya dipulas makeup tipis, hasil perjuangan di kamar mandi yang lampunya remang-remang dan cerminnya buram.
Rasa canggung masih menyelimuti hatinya. Ini pagi pertamanya berstatus sebagai istri orang. Tapi ya ampun... rumah ini bahkan lebih kecil dari lemari pakaian di rumah lamanya.
Indra penciumannya mendadak menangkap aroma tumisan bawang putih, kecap, dan minyak yang lumayan tajam. Jenis masakan yang Nggak pernah ada di meja makannya selama dua puluh tahun. Di rumah keluarga Andrea, sarapannya kalau nggak croissant, ya oatmeal atau salmon benedict bikinan chef pribadi.
Langkahnya membawanya ke meja makan kayu yang cuma muat dua orang. Di sana, Altair sudah duduk santai memakai kaos dan celana hitam. Di depannya tersaji dua piring nasi, telur dadar tebal, tumis kangkung, tempe goreng, sama sambal.
Altair mendongak. Pandangannya meneliti Ciara dari atas sampai bawah, lalu berhenti tepat di bagian tengah.
Ciara memakai crop top putih ketat yang memamerkan perut rata dan pinggang rampingnya. Di luarnya, ia melapisinya dengan blazer krem kebesaran milik Altair. Celana jeans high-waist-nya punya aksen sobek-sobek di bagian paha.
Bagi Ciara, ini baju paling tertutup yang berhasil ia bawa. Tapi bagi Altair, ini masalah.
"Lo nggak punya baju yang lebih tertutup?" tanya Altair datar, tapi rahangnya mengeras.
Ciara santai saja duduk di depannya sambil menyilangkan kaki. "Ini udah paling mendingan yang gue bawa, Al. Sisanya dress. Lagian lo tahu sendiri gue nggak boleh bawa apa-apa dari sana."
Altair menghela napas panjang. Ia merogoh saku, mengeluarkan dompet kulitnya, lalu meletakkan uang satu juta rupiah di meja dan menggesernya ke arah Ciara.
"Nih satu juta. Beli baju yang lebih tertutup," ucapnya ketus. "Gue nggak suka istri gue dandan kayak mau ke klub. Ini kontrakan, Ci."
Kata-kata Altair sukses bikin Ciara tersentak. Bibirnya langsung cemberut. "Enak aja! Gue kan—"
"Sekalian itu uang jajan lo sebulan," potong Altair santai sambil menyeruput teh tawar. "Biar lo belajar atur duit."
Ciara melotot menatap lembaran uang itu. Satu juta? Buat sebulan?! Buat jajan sekaligus beli baju?!
"HAH?!" Ciara hampir melonjak dari kursinya. "Satu juta sebulan?! Al, ini mah nggak cukup buat sekali facial gue! Belum lagi beli skincare! Nanti kalau muka gue jerawatan, lo mau tanggung jawab?! Serum gue aja harganya 800 ribu!"
Altair nggak menjawab. Ia cuma menatap Ciara dengan pandangan dingin dan datar—tatapan khasnya waktu jadi ketua OSIS dulu yang selalu bikin orang kuncup.
Ciara langsung bungkam, tapi otaknya masih muter.
"Jangan-jangan..." Ciara menyipitkan mata, menatap curiga. "Gaji lo kan gede banget sebagai eksekutor. Masa iya nggak ada duit? Uangnya dikemanain? Lo punya cewek simpanan ya?"
Plak!
Altair menoyor kening Ciara. Nggak keras, tapi sukses bikin gadis itu meringis sambil megangin jidatnya.
"Gak usah ngarang," desis Altair. "Uang gue udah kepakai buat hal yang lebih penting. Titik."
"Hal penting apaan? Judi?" tembak Ciara tajam.
"Makan," jawab Altair singkat sambil menunjuk piring Ciara. "Makan cepet, nanti telat ke kampus."
Ciara baru ngeh sama menu di depannya. Nasi putih, telur dadar berminyak, tumis kangkung layu, tempe, sama sambal. Nggak ada roti atau potongan buah cantik.
"Lo... yang masak?" tanya Ciara heran. "Nggak ada roti apa gitu?"
"Mulai sekarang ini makanan harian lo," potong Altair yang mulai makan dengan lahap. "Di sini nggak ada chef. Adanya gue."
"Pelit!" cibir Ciara.
Tapi karena perutnya udah keroncongan dan gengsi mau nolak, Ciara akhirnya menyendok nasi sedikit demi sedikit. Kangkungnya ia tiriskan dulu minyaknya baru dimasukkan ke mulut. Muka Ciara langsung agak kecut, tapi tetap ditelan karena diawasi Altair.
Makan pagi itu berakhir dengan Ciara yang cuma menghabiskan setengah porsi dan minum air putih sampai tiga gelas karena kepedasan.
Selesai makan dan tentu saja Altair yang cuci piring mereka bersiap berangkat. Di luar, suara mesin motor menggeram halus.
Yamaha R1M hitam doff. Mengilap dan kelihatan mahal banget. Satu-satunya barang mewah milik Altair.
Ciara keluar sambil membawa helm, mukanya masih cemberut. "Al, jujur deh," ujarnya saat naik ke boncengan. "Motor lo ini mahal kan? Kenapa nggak dijual aja? Beli matic biasa dua, sisanya bisa buat kita makan enak sebulan."
Altair menyalakan mesin. "Nggak."
"Kenapa? Gengsi?"
"Buka mata lo, dengan motor ini gue bisa cari uang," jawab Altair lirih. "Gue balapan, Ci. Hadiahnya lumayan. Kalau ini dijual, besok kita mau makan apa? Tempe aja nggak kebeli."
Ciara terdiam. Ia baru ingat Altair itu pembalap liar yang langganan juara di kampus. Tangannya yang tadinya ragu akhirnya melingkar pelan di pinggang Altair.
Motor itu melaju membelah gang. Angin pagi bikin rambut Ciara berkibar. Anehnya, Ciara nggak terlalu benci momen ini. Punggung Altair terasa hangat dan wangi sabun cowoknya tercium jelas.
Begitu sampai di gerbang Universitas Garuda, suasana langsung berubah.
Motor R1M Altair terlalu mencolok, ditambah lagi berita kalau Ciara sebenarnya anak angkat yang didepak keluarga Andrea ternyata sudah menyebar luas. Ciara yang biasanya percaya diri mendadak merasa canggung. Semua mata menatap ke arah mereka.
Biasanya kalau mereka ketemu di kampus, ujung-ujungnya pasti adu mulut. Ciara mengejek Altair miskin, Altair menyindir Ciara manja.
Tapi hari ini beda.
Altair mematikan mesin motor. Ciara turun dengan anggun, lalu Altair membantu melepaskan helm dari kepala Ciara dan merapikan rambut gadis itu pelan-pelan.
"Jangan lupa uangnya," kata Altair sambil menyodorkan dompet Ciara. "Beli baju yang panjang. Kalau masih pamer perut, gue bakar."
Ciara cemberut tapi tetap mengambil dompetnya. "Iya, cerewet."
Mereka berjalan beriringan menuju gedung kuliah. Nggak bergandengan tangan, tapi kelihatan akur. Sesekali Altair menoleh memastikan Ciara nggak tersandung gara-gara memakai high heels.
Bisik-bisik mahasiswa langsung kedengaran di sepanjang koridor.
"Anjir, Altair sama Ciara baikan?"
"Demi apa mereka jalan bareng?"
"Helmnya dicopotin dong, manis banget."
Keduanya tetap berwajah datar, pura-pura nggak mendengar. Pernikahan mereka rahasia, cuma keluarga Andrea yang tahu. Di kampus, mereka tetaplah Altair dan Ciara, si ketua geng motor dan si mantan anak konglomerat. Musuh bebuyutan yang sekarang ternyata tidur di kamar yang sama dan sarapan tempe bareng.
Di depan kelas, Altair berhenti. "Gue ke rooftop. Lo masuk."
Ciara mengangguk, tapi baru jalan dua langkah ia balik badan lagi. "Al."
"Apa?"
"Kalau... uangnya kurang gimana?" tanyanya polos. "Baju yang bagus kan mahal."
Altair menatap Ciara agak lama. Kemudian ia merogoh saku dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan lagi. "Nih. Tambahan. Jangan bilang-bilang, dan jangan beli crop top lagi."
Mata Ciara langsung berbinar menerima uang itu. "Siap, Bos!"
Ia berbalik dan masuk kelas dengan langkah jauh lebih ceria. Ada satu juta dua ratus ribu di tasnya, uang pertama yang ia dapatkan dari suaminya.
Altair memperhatikan punggung Ciara sampai menghilang di balik pintu, sebelum akhirnya ia berbalik melangkah menuju rooftop.