NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Dilamar Juragan

"Kan beres?!" ujar pria itu seolah menunjukkan pada si gadis akan masalah yang diperdebatkannya adalah hal yang sepele. "That's simple!"

"Idih, apa-apa kamu? Lepas!" Nara gelagapan, antara malu dan tentu saja marah. Seumur-umur baru kali ini ia memeluk seorang pria selain ayahnya, walaupun bukan dalam artian pelukan yang sebenarnya, karena niat awal hanya ingin mendapatkan pegangan. "Lepasss, malu dilihat orang lain. Ini tuh nggak biasa yang kaya kamu kira di kota."

"Masa?!" Sagara sama sekali tidak percaya. "Perkara peluk pinggang doang, apanya yang tidak biasa?"

"Sekali lagi, aku ingatkan. Ini di kampung, bukan di kota. Banyak norma-norma tak tertulis yang harus diperhatikan dan hal seperti ini tidak biasa di sini, " ujar gadis itu menjelaskan dengan menggebu seraya berusaha melepaskan tangannya.

"Yang kita lakukan ini tidak biasa di kampung? Terus yang mereka lakukan itu ...." Tunjuk Sagara dengan dagunya pada pasangan muda yang juga mengendari motor, ceweknya memeluk pinggang cowoknya dengan erat nan posesif.

Mata Nara membulat, langsung dihadapkan pada kenyataan. Sudah lama tidak pulang ke kampung, ternyata banyak yang telah berubah, termaksud gaya pacaran kaum muda.

"Ya tetap saja, mereka kan sedang pacaran. Lah kita, hubungan kita apa? Udah deh, lepasin. Tuh ... tuh ... diliatin sama orang!" Nara sontak menyembunyikan wajahnya di punggung pria itu, sampai Sagara merasakan dahi gadis itu menubruk belakangnya.

Pria itu pun melepaskan tangannya pada tangan Nara, lalu kembali mengendalikan motornya dengan dua tangan. "Kalau begitu pegangan ujung jaketku, aku tidak mau ibu kos ku marah karena anak gadisnya terluka, nanti bisa diusir."

Nara menghela napas, merasa bersyukur pria itu telah melepaskannya. "Hm," dehemnya, memegang sisi kiri dan kanan jaket Sagara untuk pegangannya.

Motor pun melaju menuju rumah Pak RT mengikuti arahan Nara, sebelum nantinya mereka akan menuju ke rumah Pak Bagja.

Tiba di sana, mereka di sambut dengan suasana teras yang ramai. Ada Pak RT yang tengah duduk dengan dikelilingi beberapa tamunya.

Sagara menghentikan motornya di halaman, keduanya turun dengan pengawasan penuh dari orang-orang di sana yang menatap dengan penuh penasaran. Terlihat salah satu dari mereka tengah berbisik tepat di telinga orang di sampingnya.

"Hah! Yang bener, Bu Lela?" tanya orang itu menatap orang yang membisikkan sesuatu padanya, tak lain adalah Nurlela. Si biang gosip, kata Imas sih, pembawa berita tidak akurat.

Nara memicingkan mata melihat keberadaan Nurlela di sana, entah apa gerangan wanita paruh baya itu sudah berkumpul dan stand by di rumah Pak RT sepagi ini.

"Assalamualaikum," salam Nara bersamaan dengan Sagara.

Sudarsana yang menjabat sebagai Pak RT segera menjawab salam tersebut diikuti yang lain. Ada Nurlela, Juragan dan istri ketiganya.

"Sekiranya ada yang bisa saya bantu, Neng Nara dan—" Sudarsana menatap pada Sagara.

"Namanya Sagara, Pak," beritahu Nara.

Pak RT mengangguk, "Kalau begitu ada yang bisa saya bantu Neng Nara dan A Sagara? Tidak perlu sungkan-sungkan sama bapak, mah." Sudarsana menyambut keduanya dengan ramah.

Sagara radar-radar geli dipanggil 'A' oleh sesama jenis, tetapi pria itu tidak terlalu menunjukkannya. Hanya ikut membalas senyuman ramah Pak RT.

Nara menyikut Sagara agar menjawab pertanyaan Pak RT, keduanya sudah duduk di masing-masing kursi yang disiapkan.

"Oh iya, saya Sagara, Pak. Mau melapor untuk tinggal beberapa hari di Desa Bukit Tinggi ini. Soalnya ada beberapa pekerja yang harus saya kerjakan di sini. Kebetulan saya pendatang dari Jakarta," jelas Sagara apa adanya dan mulai berbincang beberapa hal dengan Pak RT.

Sembari Nara mendengar perbincangan keduanya, Juragan terus saja melirik kearahnya, membuat gadis itu sedikit risih. Benar kata ibunya, pria paruh baya dengan 3 istri ini selalu mencuri pandang padanya. Sedangkan Nurlela tengah bergosip ria dengan Puspita—istri ketiga Juragan.

"Eh, Neng Nara. Ndak nyangka kita ketemu di sini. Apakah ini yang dinamakan takdir?" sapa Juragan pada Nara yang tidak menyangka akan diajak bicara. Suaranya pelan, hampir menyerupai bisikan seperti istrinya dan Nurlela, agar tidak menganggu pembicaraan Pak RT dengan tamu yang datang bersama Nara.

"Takdir?" Nara mengernyit, tidak sampai otaknya akan kode gombalan pria baruh baya dengan tiga istri itu.

"Iya, takdir yang berniat menyatukan kita. Eaaa ..." ujar Juragan dengan suara yang masih dikontrolnya.

Wajah Nara segera berubah risih. Namun, tidak terlalu ditunjukkan. Sagara yang tengah mendengar penjelasan Pak RT sedikit menoleh ke arah pria paruh baya itu yang tak lain Juragan, lalu ke arah Nara. Kemudian ia kembali fokus mendengarkan penjelasan Pak RT.

"Hah!" Nara tertawa datar, sama sekali tidak tertarik dengan gombalan tersebut. "Maaf Juragan, saya sudah punya calon suami!" ujar Nara dengan penuh penekanan.

"Loh, baru calon 'kan? Masih bisa ditikung itu, asalkan belum ke pelaminan." Pria itu terkekeh.

"Akang!" tepuk Puspita pada paha suaminya yang sontak meringis karena tepukannya menggunakan tenaga. Semua atensi pun tertuju padanya karena teriakannya tadi, termaksud Sagara dan Pak RT. "Apaan sih kamu ini, ada aku loh disamping mu ini! Lagi pula kamu ndak denger, Nara itu sudah punya calon suami."

"Kamu yang apa-apaan, aku lagi usaha ini,"

balas Juragan, melotot pada istri ketiganya itu.

Wajah Puspita tampak memerah, antara malu dan marah akan kegenitan suaminya yang bak buaya ini. "Ingat aku, istri-istri mu, dan anak-anak di rumah!" tekan wanita itu yang hanya dua tahun lebih tua dari Nara.

"Loh, apa kaitannya? Yang penting kan, aku bisa menafkahi dan memenuhi semua keinginan dan kebutuhan kalian," jawab Juragan. Roman-romannya perang rumah tangga akan terjadi di sini.

"Akang sudah janji sama aku tidak akan menikah lagi setelah aku!" istrinya mulai menagih janji manis suaminya yang diucapkan saat pendekatan dulu. Janji yang pernah diucapkan juga pada istri pertama dan keduanya, yang ujung-ujungnya dilanggar juga.

"Itu sih masa lalu, ucapan yang keluar begitu saja. Ndak ada nilainya. Toh, kamu juga yang paksa aku buat janji. Itu bukan kemauanku!"

Wajah Puspita benar-benar merah sekarang, 100% karena kemarahannya pada sang suami. "Dasar kamu buaya kadal, akan aku lapor kamu sama Teh Imas dan Teh Kartika. Awas kamu! Jangan merengek jika tidur di luar nanti!" ancam Puspita tidak main-main. Ia bangkit dari duduknya, bermaksud akan menjalankan ucapan dengan segera.

Di raut wajah Juragan terbesit sedikit kekhawatiran, tapi ketika melihat wajah Nara, ia kembali memasang senyum tampan.

"Lakukan saja, itu akan menjadi poin tambahan untuk aku mencari istri muda," kekeh Juragan tanpa rasa bersalah, membiarkan istrinya itu pergi tanpa niat menahannya. "Benar 'kan, Neng Nara? Lebih baik mencari istri keempat saja. Nanti akan saya sayang-sayang dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Semua harta saya, dia yang akan mendapatkan bagian paling banyak. Bagaimana Neng, mau kah engkau jadi pendamping ke empat ku?"

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!