NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 15- Kehangatan yang Mencair

Ep. 15- Kehangatan yang Mencair

Suatu hari...

Di sudut meja makan yang tak jauh dari area bermain anak-anak, Kirana duduk dengan kacamata baca yang terpasang tipis di pangkal hidungnya.

Di hadapannya menumpuk beberapa stofmap tebal berisi berkas-berkas tagihan, dokumen asuransi, dan laporan keuangan perusahaan peninggalan Rendra.

Garis-garis halus di dahinya memperlihatkan betapa keras ia berpikir. Sejak Rendra tiada, seluruh beban finansial dan kelanjutan hidup rumah tangga sepenuhnya berada di atas pundaknya.

"Mama! Ayo main sama Keisya! Keisya lagi bikin cake paling enak di dunia!"

Sebuah tarikan lembut namun gigih pada ujung lengan kemeja Kirana membubarkan konsentrasinya. Kirana menunduk dan menemukan Keisya yang tengah berdiri sambil menyunggingkan senyum yang lebar.

Kedua tangan kecil Keisya belepotan tepung mainan berwarna merah muda dan kuning pastel, sementara di dadanya terpasang celemek mainan yang berukur miring.

"Sayang... Mama lagi sibuk sebentar ya," bisik Kirana, seraya mencoba melepaskan jemari Keisya dengan pelan. "Mama harus menyelesaikan tanda tangan berkas-berkas Papa dulu. Nanti kalau sudah selesai, Mama susul Keisya, ya?"

Namun, Keisya menggoyang-goyangkan tangan Kirana dengan lebih kuat, sambil memiringkan kepalanya dengan tatapan memohon yang sangat menggemaskan. "Nanti cake-nya keburu dingin, Ma! Keisya udah bikin kue rasa strawberi sama coklat khusus buat Mama. Ayo, Ma... sebentar aja..."

Kirana memandangi lembar-lembar kertas angka yang rumit di hadapannya, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah polos sang putri.

Rasa lelah yang mendera pikirannya kini berganti dengan rasa iba pada putrinya. Kirana sadar, Keisya telah kehilangan sosok ayah yang dulu selalu punya waktu untuk bermain dengannya. Kini, ia tidak boleh membiarkan Keisya merasa kehilangan perhatian ibunya juga.

"Hufthhh..."

Kirana menghela napas sembari melepas kacamatanya, lalu menyunggingkan senyuman yang hangat. "Baiklah... demi cake strawberi buatan koki Keisya yang paling cantik, Mama libur sebentar."

"Horeeee! Mama ikut main!" seru Keisya gembira sambil melompat-lompat kecil, lalu menuntun Kirana menuju area karpet tempat seperangkat alat masak-masakan plastik dan adonan mainan (playdough) terhampar rapi.

Selama beberapa saat, ruang keluarga itu dipenuhi oleh tawa kecil Keisya. Kirana berpura-pura menjadi pelanggan restoran yang kritis dengan mencicipi kue plastik buatan Keisya, dan memuji kelezatan adonan tepung mainan tersebut.

Rasa sesak yang bertengger di dada Kirana selama berminggu-minggu sejenak melonggar saat melihat binar kebahagiaan terpancar dari mata putri tunggalnya.

Tak lama kemudian, dari arah lorong kamar mandi belakang, terdengar derap langkah kaki dan suara gemericik air yang baru disapu. Tukiyem, salah satu ART muda yang biasa disapa Mbak Yem, berjalan cepat sambil menuntun Aura.

Bocah balita dua tahun itu baru saja selesai dimandikan. Rambutnya yang tipis masih agak basah dan disisir rapi ke belakang, tubuhnya wangi oleh aroma bedak bayi yang lembut, dan ia mengenakan gaun tidur berwarna kuning gading dengan motif beruang kecil.

"Ibu Kirana, ini dek Auranya sudah selesai mandi," panggil Mbak Yem ramah sambil melepaskan pegangan tangannya pada Aura.

Keisya langsung menoleh. Matanya berbinar seketika saat melihat kehadiran adik barunya.

"Aura! Yeeey, Aura udah datang!" panggil Keisya bersemangat seraya menepuk-nepuk karpet di sampingnya. "Sini, Aura! Kita main bareng! Kakak lagi bikin cake sama Mama!"

Aura yang mendengar namanya dipanggil langsung berjalan agak cepat dengan langkahnya yang masih belum terlalu stabil. "Kakaaa... main!" cicit Aura ceria dengan suara cadelnya.

Kirana yang semula duduk bersila di atas karpet menatap kedatangan Aura. Pandangannya beradu sejenak dengan mata bulat nan jernih milik bocah tersebut. Namun kemudian beralih menatap Keisya yang tampak sangat antusias ingin membagikan mainannya.

"Sayang... mainnya sama Aura dulu ya," ucap Kirana sambil mengelus bahu Keisya. "Mama mau rapikan adonan tepungnya sedikit biar tidak berantakan."

"Iya, Mama!" sahut Keisya gembira. Gadis kecil itu langsung merangkul leher Aura yang baru saja duduk di sampingnya dan mengusap pipi Aura yang masih berbedak. "Aura mau bikin kue rasa apa? Biar Kakak buatkan!"

Aura tertawa riang saat merasakan dekapan hangat Keisya. Namun, tatapan mata mungilnya tiba-tiba tertuju pada sosok Kirana yang duduk sangat dekat di samping mereka.

Di mata polos Aura yang tak mengerti rumitnya penderitaan orang dewasa, sosok Kirana adalah tempat perlindungan dan kehangatan yang sama seperti ibunya yang telah tiada.

Tanpa ragu-ragu, Aura merangkak kecil mendekati Kirana.

"Ma... ma..." seru Aura halus.

Dengan gerakan yang sangat alami dan tanpa dosa, balita kecil itu mengulurkan kedua tangan mungilnya, lalu menyandarkan tubuhnya dan ikut memeluk pinggang Kirana dari samping.

DEG.

Tubuh Kirana mendadak membeku sejenak. Kirana merasakan jemari kecil Aura yang mencengkram lipatan bajunya dengan erat, sementara kepala mungil yang beraroma bedak bayi yang harum itu bersandar nyaman di pangkuannya.

Dahulu, sentuhan dari anak ini akan memicu gelombang penolakan dan amarah atas pengkhianatan Rendra. Namun pagi ini, Kirana tidak menegur. Kirana tidak pula menarik dirinya atau melarang anak itu mendekat.

Kirana hanya perlahan menolehkan kepalanya. Ia menatap ke bawah dan memperhatikan wajah mungil Aura yang mendongak menatapnya.

Aura menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat tulus dan polos sambil memperlihatkan deretan gigi susunya yang baru tumbuh sebagian, seolah mengucapkan terima kasih atas tempat perlindungan yang diberikan Kirana kepadanya.

Melihat senyuman tanpa dosa itu, benteng kebencian di dalam hati Kirana yang selama ini bertahan kokoh, mendadak retak dan meluruh secara perlahan.

Kirana membiarkan bocah kecil itu memeluknya. Hingga lima detik kemudian tangan Kirana terangkat secara refleks dan mengusap puncak kepala Aura yang masih agak basah.

"Ma-ma..."

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Lisa: 😊 iya Kak..
total 2 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!