NovelToon NovelToon
TUNGKU EKSTRASI SURGAWI

TUNGKU EKSTRASI SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.

#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Keping Perak Terakhir

# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI

Pagi harinya, rasa pusing akibat racun ringan semalam sudah hilang, meski perutnya masih kosong dan tenggorokannya kering. Xiao Bai memutuskan pergi ke pasar pagi Kota Qingyun, berharap bisa membeli sepotong roti dengan dua keping perak terakhirnya—uang yang seharusnya ia simpan untuk keadaan darurat, tapi rasa lapar sudah tak bisa ditahan lagi.

Pasar pagi ramai seperti biasa, para pedagang berteriak menawarkan sayur segar, ikan asin, dan kain-kain murah. Xiao Bai berjalan pelan di antara kerumunan, berusaha tak menarik perhatian—sesuatu yang semakin sulit sejak wajahnya mulai dikenali sebagai "murid buangan sekte" di seluruh penjuru kota.

Ia baru saja hendak membeli roti di sebuah kios kecil ketika tiga sosok menghadang jalannya di lorong sempit antara dua toko. Tiga pemuda berbadan kekar, dengan bekas luka di wajah dan gaya bicara kasar—preman kota yang biasa memalak pedagang kecil dan pendatang baru yang tak punya pelindung.

"Nah, kudengar-dengar ada murid sekte yang baru dibuang," kata pemuda paling depan, giginya yang rompal terlihat saat menyeringai. "Yang benar saja, sampai ke telinga kami segala. Sepertinya kau orang yang tepat untuk kami 'bantu'."

Xiao Bai menghentikan langkah, matanya waspada menatap ketiga preman itu. "Aku tidak punya urusan dengan kalian."

"Oh, tapi kami punya urusan denganmu," sambung preman kedua, melangkah maju sambil memutar-mutar sebilah pisau kecil di tangannya—lebih untuk menakut-nakuti daripada niat serius menyerang. "Dengar-dengar kau tak punya qi sama sekali. Artinya kau tak bisa melawan, kan? Orang seperti itu memang pantas dipalak, biar sedikit berguna bagi kota ini."

"Serahkan saja apa yang kau punya," kata pemuda pertama, mengulurkan tangan. "Toh kau tak bisa apa-apa. Anggap saja ini pajak untuk 'sampah sekte' yang berkeliaran di wilayah kami."

Xiao Bai menatap tiga wajah itu bergantian, merasakan amarah yang familiar mulai membakar dadanya—amarah yang sama seperti saat Lin Hai menghinanya di depan seluruh sekte. Tapi kali ini, ia menarik napas dalam-dalam, mengingat pelajaran pahit semalam: emosi yang tak terkendali hanya akan berbalik menyerangnya sendiri.

"Aku hanya punya dua keping perak," katanya, suaranya tenang meski hatinya bergejolak. "Itu untuk membeli makan, bukan untuk pajak kalian."

"Dua keping perak, dua keping darah, sama saja bagi kami," pemuda kedua mendekat, ujung pisaunya kini teracung ke arah leher Xiao Bai. "Cepat serahkan, atau kami yang ambil sendiri."

Xiao Bai menatap mata pemuda itu, menghitung dalam hati. Ia tak punya kekuatan kultivasi untuk melawan tiga orang sekaligus, dan Tungku di dalam dadanya bukan senjata yang bisa langsung digunakan untuk bertarung—setidaknya belum, setelah kegagalan semalam mengajarinya betapa rapuhnya kendali yang ia miliki.

Perlahan, ia mengeluarkan dua keping perak dari sakunya, meletakkannya di telapak tangan yang terulur.

"Ambillah," katanya pelan, meski setiap kata terasa seperti menelan pecahan kaca. "Tapi ingat wajah kalian. Suatu hari, aku akan mengingat siapa saja yang pernah memandang rendah orang yang sedang jatuh."

Pemuda pertama tertawa keras, merampas dua keping perak itu dari tangan Xiao Bai. "Dendam dari seorang tanpa qi? Lucu sekali. Simpan saja omong kosong itu, sampah. Kau seharusnya bersyukur kami hanya mengambil uangmu, bukan nyawamu."

Ketiganya berlalu sambil tertawa mengejek, meninggalkan Xiao Bai berdiri sendirian di lorong sempit itu, tangannya kini kosong—tak ada lagi uang, tak ada lagi roti untuk mengganjal perut yang sudah dua hari kelaparan.

---

Ia berjalan gontai menjauhi pasar, duduk di tepi selokan kota yang mengalir tenang, menatap pantulan wajahnya sendiri di air yang keruh.

> **[Host, aku mendeteksi tekanan emosional yang signifikan. Apakah kau memerlukan analisis?]**

"Tidak perlu dianalisis," gumam Xiao Bai, suaranya datar karena terlalu lelah untuk marah. "Aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku lemah, dan orang-orang lemah selalu jadi mangsa yang paling empuk."

> **[Koreksi: Host tidak lemah. Host hanya belum siap. Ada perbedaan mendasar antara keduanya. Kelemahan adalah kondisi permanen. Ketidaksiapan adalah kondisi sementara yang bisa diubah melalui latihan dan waktu.]**

Xiao Bai terdiam mendengar kata-kata itu, menatap riak air yang perlahan tenang kembali.

"Ketidaksiapan yang sementara," ulangnya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan memastikan waktu itu tidak terbuang percuma."

Ia bangkit berdiri, perutnya masih kosong, sakunya masih kosong, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya kini—bukan lagi tatapan seseorang yang pasrah pada nasib, melainkan tatapan seseorang yang mulai menghitung mundur, menunggu hari ketika ketidaksiapannya berubah menjadi kekuatan yang tak seorang pun bisa remehkan lagi.

Cahaya keemasan Tungku Ekstraksi Surgawi di dalam dadanya berdenyut pelan, seolah mencatat setiap wajah yang telah menghinanya—bukan untuk dilupakan, tapi untuk disimpan, menunggu hari pembalasan yang akan datang.

1
Aisyah Suyuti
seru
Luó Lìxuān: makasih kak jangan lupa bintang 5 nya kak
total 1 replies
Crimson
daftar target baru balas dendam di masukkan./Angry/
Luó Lìxuān: kan bagus bg 🤣
total 5 replies
Crimson
Gw mampir lagi min. seru soalnya. hehehe /Grin/
Luó Lìxuān: makasih bg
total 1 replies
Luó Lìxuān
menurut kalian su yan ada rahasia apa ya kok bisa artefak kelas dewa di sembunyikan
Crimson
bunga untuk mu, min/Good/
Luó Lìxuān: makasih bg
total 1 replies
Crimson
Ciri" kacang lupa kulit ya, ini. Kan, biadab emang.😡🤬
Luó Lìxuān: soal nya perjalanan xiao bai masih panjang bg
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!