NovelToon NovelToon
Aku Memilih Pergi

Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:275.7k
Nilai: 5
Nama Author: Intar

Berawal dari kejadian beberapa tahun lalu, Intan bertekad untuk menjadi seorang pengacara agar dapat membela hak-hak orang tuanya.

Gayung pun bersambut, seorang pengacara terkenal yang dikenalnya 1 tahun lalu menawarkan dirinya untuk menjadi sekretarisnya.



Intanpun menerima tawaran itu dan bekerja di sana. Seiring berjalannya waktu, akhirnya merekapun menjalin hubungan. Hubungan mereka terlihat sangat bahagia hingga akhirnya Intan mengetahui bahwa Pak Hendra sudah mempunyai istri dan anak.

Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan di baca dalam novel "Aku memilih pergi"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 30- Awal mula kebencian

Setelah seharian memikirkan dan mempertimbangkan permintaan ayah mertuanya, akhirnya Pak Hendra memutuskan untuk tetap di Surabaya. Keesokan paginya, diapun menghadap pada ayah mertuanya,

“Yah,” panggil Pak Hendra ketika sudah duduk.

“Iya Nak, apa kamu sudah memikirkan permintaan ayah?” tanya Pak Tito.

“Iya Yah, aku sudah memikirkan dan mempertimbangkannya berulang-ulang dan aku memutuskan untuk tetap tinggal di Surabaya. Maafkan aku Yah,” ucap Pak Hendra merasa bersalah.

“Tidak apa-apa Nak, ayah mengerti dan ayah juga sudah duga kalau kamu akan menolaknya,” balas Pak Tito.

“Maafkan aku,” Ucap Pak Hendra semakin merasa tak enak.

“Kamu tak perlu minta maaf, itu adalah hak kamu untuk menolaknya,” balas Pak Tito.

“Baiklah karena kamu menolak, ayah punya satu permintaan lagi dan kali ini ayah mohon kamu tidak menolaknya, Nak.” ucap Pak Tito dengan wajah serius.

“Apa itu Yah,” tanya Pak Hendra.

“Karena kamu menolak untuk pindah kesini maka kamu harus membawa istri dan anakmu untuk pindah ke Surabaya,” ucap Pak Tito.

Pak Hendra terlihat terkejut beberapa saat dan kemudian.

“Tapi Yah, kalau aku membawa Susan, siapa yang akan menjaga ayah dan ibu di sini,” balas Pak Hendra berusaha menolak secara halus.

“Kamu tak perlu mencemaskan ayah dan ibu. Ada Tedy dan bi Sita yang akan menjaga kami di sini,” balas Pak Tito.

Tedy adalah adik Susan dan Bi Sita adalah pembantu rumah tangga keluarga Pak Tito.

“Tapi Yah, Tedy harus bekerja dan sering keluar kota sedangkan bi Sita harus mengurus rumah. Sementara ayah dan ibu sudah tua. Siapa yang akan menjaga kalian kalau Susan harus ke Surabaya,” ujar Pak Hendra dengan berbagai alasan.

“Ayah kan sudah bilang, kamu tak perlu mencemaskan kami, selain itu juga ada dokter Andri yang selalu datang tiap minggu untuk mengecek keadaan ayah, jadi itu bukanlah masalah,” balas Pak Tito.

“Tapi Yah."

“Hen, apa keluargamu baik-baik saja?" tanya Pak Tito mulai curiga karena Pak Hendra terus berusaha menolak permintaannya.

Pak Hendra kaget mendapat pertanyaan seperti itu. Dia tak ingin ayah mertuanya tahu kalau dia dan Susan sedang tidak baik-baik saja.

“Tidak Ayah, kami baik-baik saja kok,” jawab Pak Hendra.

“Kalau memang kalian baik-baik saja maka buktikan pada ayah dengan membawa mereka ke Surabaya,” ujar Pak Tito.

“Nak, ayah minta maaf karena terlalu memaksamu, tapi ini untuk kebaikan kalian. Terutama Sinta, dia sangat membutuhkan perhatian darimu. Jadi ayah mohon bawalah mereka bersama kamu” ucap Pak Tito lagi.

Beberapa saat Pak Hendra terdiam. Dia seperti kehabisan kata-kata.

“Baiklah Yah, aku akan membawa mereka ke Surabaya,” jawab Pak Hendra dengan berat hati.

“Terimah kasih, Nak,” balas Pak Tito.

“Iya Yah."

Setelah mengobrol, Pak Hendrapun pamit keluar. Dia lagsung menuju kamar mereka. Begitu masuk dalam kamar, dia langsung  membantingkan diri dia atas tempat tidur. Dia menarik nafas panjang. Berbagai pikiranpun mulai bermunculan. Satu persatu kenangan pahitnya bersama Susan mulai masuk merangsek dalam ingatannya.

Dulu, mencintai dan memiliki Susan adalah anugrah terindah bagi Pak Hendra. Apalagi dengan hadirnya Sinta dalam kehidupan mereka. Pak Hendra merasa adalah laki-laki yang sangat bahagia dan beruntung di dunia ini, hingga saat itu datang dan menghancurkan segalanya.

*******

Ketika itu, Pak Hendra akan bertemu dengan seorang temannya di salah satu restoran yang berada di Bandung. Ketika menunggu, dia melihat Susan masuk ke restoran yang sama dengannya. Pak Hendrapun berencana untuk menyapanya. Namun baru saja dia berdiri, Susan langsung menuju ke arah laki-laki yang sedang melambaikan tangannya. Dengan senyum lebar Susanpun menghampirinya.

Melihat itu, Pak Hendra akhirnya mengurungkan niatnya untuk menyapa. Namun dalam hatinya dia bertanya-tanya.

“Siapa laki-laki itu,” gumam Pak Hendra.

Ketika itu, di restoran tersebut sangat ramai karena tepat waktunya makan siang. Pak Hendra terus memperhatikan mereka dengan ekor matanya.

“Mereka terlihat seperti sangat dekat, setahuku Susan tidak punya teman atau keluarga laki-laki yang sedekat itu,” gumam Pak Hendra.

Karena penasaran dan sedikit cemburu, dia akhirnya pindah ke belakang meja yang di tempati Susan dengan teman lelakinya itu. Agar tak mudah di kenali, dia memakai kaca mata hitam.

“Sayang, kapan kamu minta cerai sama suamimu,” tanya lelaki itu pada Susan.

Mendengar itu, seketika darah Pak Hendra langsung mendidih. Rasanya dia ingin langsung menonjok wajah lelaki yang tak tahu diri itu. Namun dia menahannya.

“Sabar sayang, aku juga lagi mencari waktu yang tepat,” jawab Susan.

“Tapi kapan?” tanya lelaki itu.

“Secepatnya, jadi kamu harus sabar yaa. Sebenarnya aku juga sudah ngga tahan dengan suamiku itu,” jawab

Susan.

"Kamu harus secepatnya berpisah dari dia dan tinggal bersamaku. Aku sebenarnya juga tak sudi melihat anakku tinggal bersama orang lain.” ucap lelaki itu

Pak Hendra terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan lelaki itu. Dadanya terasa nyeri dan seketika dia menjadi lemas.

“Sinta bukan anakku!” gumam Pak Hendra sambil memegang dadanya.

Tiba-tiba dua bulir air dari sudut matanya jatuh. Dia tak mampu menahan tangisnya. Dia lalu berdiri dan berlalu dari restoran itu. Dia bahkan sudah lupa bahwa dia sedang menunggu seseorang untuk bertemu.

Pak Hendra sungguh tak menyangka bahwa Susan akan tega melakukan itu padanya. Dia sudah begitu percaya dan mengorbankan seluruh hidupnya untuk keluarganya. Namun apa yang baru saja di dengarnya membuat hatinya remuk. Rasanya sakit hingga seperti nafasnya mau berhenti.

Untuk menenangkan dirinya, dia lalu mengarahkan mobilnya ke arah pantai. Ketika dia merasakan stress pantai adalah salah satu penenang baginya.

Hari itu Pak Hendra tidak pulang ke rumah. Dia menyewa kamar di salah satu hotel yang ada di sekitar pantai itu. Ponselnya sengaja ia matikan agar tak ada yang menganggunya.

Keesokan paginya dia tidak masuk kantor dan langsung pulang ke rumah. Baru tiba di rumah Susan langsung menanyainya karena tidak pulang dan ponselnya mati. Namun dia tak menghiraukannya. Dia langsung menuju kamar mereka.

“Ada apa dengannya,” gumam Susan heran melihat tingkah suaminya yang tak biasa.

Susan segera menyusulnya. Ketika masuk Susan semakin heran. Dia melihat Pak Hendra berdiri di depan keranjang tempat tidur Sinta dan hanya melihatnya. Biasanya ketika sampai di rumah, meskipun lelah dia pasti langsung menggendong Sinta. Namun kali ini dia berbeda.

“Hen, ada apa? apa ada masalah di kantor?" tanya Susan.

Namun lagi-lagi Pak Hendra tak menjawabnya.

“Hen, ada apa sih?" tanya Susan yang mulai jengkel karena Pak Hendra tak memedulikannya.

“Aku ingin bicara denganmu,” ucap Pak Hendra dingin dan tanpa menjawab pertanyaan Susan.

“Kamu mau bicara apa?" tanya Susan.

Pak Hendra tak menjawab pertanyaan dan langsung keluar menuju kamar tamu yang berada di depan. Susan mengikutinya dari belakang dengan berbagai tanya di benaknya.

“Kenapa harus di sini ngobrolnya?" tanya Susan begitu sampai di kamar tamu.

“Siapa laki-laki itu?" tanya Pak Hendra menahan emosi.

“Apa sih maksudmu?" tanya Susan bingung.

“Siapa laki-laki yang kamu temui kemarin di restoran xxx?" tanya Pak Hendra masih menahan emosinya.

Susan terkejut mendengar pertanyaan Pak Hendra. Dia mengerti apa maksud Pak Hendra namun dia

berpura-pura.

“Apa maksud kamu, aku di rumah seharian kemarin. Kamu salah lihat mungkin,” elak Susan.

Pak Hendra sudah tak bisa menahan emosinya. Dia tak tahu sejak kapan Susan jadi pembohong seperti

itu.

“Jawab jujur!” teriak Pak Hendra yang membuat Susan ketakutan.

Dia tidak pernah melihat Pak Hendra semarah ini sebelumnya.

“Dia hanya temanku dan kemarin kami hanya kebetulan bertemu,” ucap Susan bohong.

“Sudah berapa lama kamu mengenalnya,” yanya Pak Hendra lagi dengan tatapan dingin.

“Aaaku baru mengenalnya beberapa bulan yang lalu,” jawab Susan gemetar menahan takut.

“Baiklah, kalau dia memang hanya temanmu, aku ingin bertemu dengannya,” ucap Pak Hendra tegas.

“Kamu ngga perlu bertemu dengannya, lagi pula aku juga ngga punya nomor ponselnya jadi pasti

susah untuk mencarinya,” ucap Susan dengan berbagai alasan.

“Baiklah kalau kau tak mau mempertemukan aku dengannya, aku yang akan menemukannya sendiri” ucap Pak Hendra sambil berlalu.

******

Itulah awal mula dia mulai membenci Susan namun hal ini tak pernah dia ceritakan pada mertuanya. Pak Hendra menarik nafas panjang. Setiap mengingat kenangan itu hatinya rasanya seperti tercabik-cabik.

Dia lalu bangkit dari tempat tidur dan mengambil segelas air. Dan ketika itu muncul Susan yang memberitahu bahwa sudah waktunya menjemput Sinta dan mengajaknya jalan-jalan.

Pak Hendra sudah berjanji pada Sinta akan mengajaknya jalan-jalan sebelum pulang ke Surabaya. Dia tak punya alasan untuk menolak apalagi dia juga sedang berada di rumah mertuanya. Dia tak ingin mengecewakan metuanya yang sudah sangat baik padanya.

1
Yulia Wati
aku kok jdi jngkl k s intan ya htinya yg terlalu lemah tinggalin dulu Napa
Yulia Wati
intan htinya terlalu lemah dgombl8nbdkit aza udah seneng dasar bucin
Yulia Wati
mksdnya Hendra udah nikah Fong hadeh 🤦‍♀️🤦‍♀️gmna sana intan
Yunerty Blessa
singkat tapi mantap..aku sangat³ suka sekali dengan alur cerita nya..😘😘
Yunerty Blessa
akhirnya cerita nya pun selesai..singkat,padat dan memang the best..
terbaik kak thor 🥰🥰
mantap.
Yunerty Blessa
Intan pun bodoh.. tunggu dulu dari Hendra baru buat keputusan..
Yunerty Blessa
pasti terbongkar juga kebusukan mu Susan
Yunerty Blessa
jahat sekali kau Susan.. pasti ada balasan nya
Yunerty Blessa
asyik deh..
Yunerty Blessa
moga saja Hendra dan Susan cepat bercerai dan bersatu dengan Intan
Yunerty Blessa
pindah rumah saja Hendra.. Susan sudah tau,,bisa bahaya
Yunerty Blessa
ketemu lagi..
Yunerty Blessa
rasakan Hendra.. itulah akibatnya karna kau tak jujur
Yunerty Blessa
Hendra bodoh betul³ bodoh.. jujur saja pada Intan..
Yunerty Blessa
Hendra pun bodoh tidak mau jujur saja.. daripada bohong karna kalau Intan tau pasti akan sakit hati
Yunerty Blessa
jujur saja Hendra,,itu lebih baik
Yunerty Blessa
mantap Hendra..
Yunerty Blessa
seperti nya ada sesuatu yang disorokkan oleh Hendra dari Intan..
Yunerty Blessa
nikah saja Hendra.....kan halal.
Yunerty Blessa
diam² ada cinta tumbuh diantara mereka berdua..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!