Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pintu mobil depan terbuka.
Han segera turun sambil membawa payung hitam besar untuk melindungi tuannya dari hujan.
Namun, sebelum Emran sempat keluar Han lebih dulu menatap Annisa dan menyapanya.
“Nona Annisa..?” Suara itu membuat Annisa langsung menoleh cepat.
Sorot matanya yang semula penuh waspada perlahan berubah bingung saat melihat wajah Han dengan lebih jelas.
Dan di detik berikutnya, tubuh Annisa tiba-tiba limbung. Han yang panik refleks langsung menangkap tubuh wanita itu sebelum jatuh ke jalan basah.
“Nona!”
Annisa jatuh lemah ke dalam pelukan Han dengan tubuh dingin dan napas gemetar. Sementara, di dalam mobil, tangan Emran langsung mengepal erat di atas pangkuannya. Tatapannya berubah tajam menatap pemandangan di depan mata.
Aura dingin di wajah pria itu langsung terasa menekan. Han yang menyadari situasi itu langsung membelalak panik.
“Bukan! Bu-bukan mau saya, Tuan!” katanya buru-buru sambil setengah gemetar. Keringat dingin hampir keluar meski udara malam begitu dingin. Han tahu betul bagaimana perasaan Emran terhadap Annisa.
Selama bertahun-tahun, tuannya tidak pernah benar-benar melupakan wanita itu. Dan sekarang, wanita yang dicintai tuannya justru berada di dalam pelukannya.
“Itu refleks, Tuan!” lanjut Han cepat. “Nona Annisa hampir jatuh!”
Tatapan Emran masih tajam beberapa detik sebelum akhirnya pria itu membuka pintu mobil perlahan. Sepatu mahalnya menginjak jalanan yang basah oleh genangan air hujan.
Hujan yang masih gerimis, langsung membasahi ujung mantel hitamnya. Namun, perhatian Emran sepenuhnya tertuju pada Annisa yang tampak setengah sadar di pelukan Han. Dan saat melihat kondisi wanita itu lebih dekat, hati Emran langsung terasa diremas kuat. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Emran Richard langsung melangkah cepat mendekati Han.
Tatapan matanya dingin saat melihat Annisa yang lemah di pelukan asistennya. Lalu, tanpa banyak bicara Emran merebut tubuh wanita itu dengan hati-hati ke dalam pelukannya sendiri.
Han langsung mundur satu langkah sambil menelan ludah gugup. Annisa yang setengah sadar hanya mengerut pelan dalam pelukan hangat pria itu. Tubuhnya begitu dingin, bahkan jemari tangannya terasa membeku.
Hujan gerimis masih turun membasahi wajah pucat Annisa, sementara rambut panjangnya yang basah menempel di pipi. Emran menatap wajah itu cukup lama.
Rahangnya mengeras dan dadanya terasa sesak melihat kondisi wanita yang dulu selalu terlihat cerah kini begitu rapuh.
“Apa yang mereka lakukan padamu...” gumamnya lirih hampir tak terdengar.
Annisa samar-samar membuka matanya sedikit. Namun, pandangannya sudah kabur karena tubuhnya terlalu lemah. Yang ia lihat hanya sosok pria asing dengan aroma hangat dan suara tenang.
Emran langsung membawa Annisa masuk mobil tanpa memedulikan hujan yang mulai membasahi mantelnya. Han buru-buru membuka pintu belakang. Dengan sangat hati-hati, Emran masuk sambil tetap menggendong Annisa dalam pelukannya.
Begitu pintu mobil tertutup, suasana hangat langsung menyelimuti tubuh Annisa yang menggigil.
“Han,” suara Emran berubah tegas.
“Iya, Tuan!”
“Hubungi dokter pribadi saya sekarang,"
Han langsung mengambil ponselnya cepat.
“Dan panggil beberapa dokter lain juga.” Tatapan Emran tak lepas dari Annisa yang bersandar lemah di dadanya. “Minta mereka datang ke rumah.”
Han mengangguk cepat.
“Siapkan ruang medis.”
“Baik, Tuan.”
Mobil kembali melaju membelah hujan malam.
Sementara di kursi belakang, Emran perlahan menatap wajah Annisa yang pucat dengan sorot mata penuh amarah yang tertahan.
Lima tahun wanita itu memilih hidup bersama pria lain. Namun, yang ia temukan malam ini bukan kebahagiaan.
Mobil mewah itu melaju cepat meninggalkan jalanan kota yang basah oleh hujan. Tak lama kemudian, gerbang besar sebuah mansion megah perlahan terbuka otomatis saat mobil mendekat.
Lampu-lampu taman menyala terang menerangi halaman luas rumah itu. Begitu mobil berhenti tepat di depan pintu utama, Emran Richard langsung kembali menatap Annisa yang masih lemah dalam pelukannya.
Wajah wanita itu pucat, bibirnya bahkan sedikit membiru karena kedinginan. Tatapan Emran menggelap menahan sesuatu dalam dirinya. Lalu tanpa mengalihkan pandangan dari Annisa, pria itu berkata dingin,
“Batalkan pertemuan malam ini dengan Tuan Darto.”
Han yang baru hendak turun langsung menoleh cepat.
“Tapi Tuan—”
“Batalkan,” Nada suara Emran rendah, namun penuh penekanan.
Han langsung diam, Emran kembali melanjutkan,
“Dan jangan ceritakan apa pun tentang Annisa.”
Sorot matanya perlahan berubah tajam.
“Sebelum aku tahu apa yang membuat wanita ini jadi seperti ini.”
Han langsung menelan ludah.
“Baik, Tuan.”
Ia tidak berani membantah sedikit pun. Karena Han tahu, semakin tenang suara Emran, semakin berbahaya amarah pria itu sebenarnya.
Han segera turun dari mobil lalu membuka pintu belakang dengan hormat. Emran keluar sambil menggendong Annisa erat dalam pelukannya.
Beberapa pelayan rumah langsung terkejut melihat tuan mereka membawa seorang wanita masuk di tengah malam dan dalam kondisi menyedihkan seperti itu.
Namun, tak ada yang berani bertanya.
“Siapkan kamar utama,” perintah Emran dingin.
“Dan ruang medis sekarang.”
“Baik, Tuan!”
Langkah pria itu berjalan cepat memasuki mansion megah tersebut.
Sementara, Annisa yang setengah sadar samar-samar mencium aroma hangat dan nyaman yang sudah lama tidak pernah ia rasakan lagi, rasanya cukup nyaman.