**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Keheningan yang memekakkan telinga merayap di seluruh sudut Grand Ballroom Hotel Grand Hyatt. Alunan musik jazz yang tadinya mengalun santai seolah lenyap, tergantikan oleh ketegangan pekat yang terpancar dari aura Devan Dirgantara. Langkah kaki Alya dan Devan di atas karpet beludru tebal menghasilkan gema yang membuat jantung setiap orang yang berada di ruangan itu berdegup kencang.
Bram—suami Mita—sudah bercucuran keringat dingin. Sebagai pengusaha properti kelas menengah, wajah Devan Dirgantara adalah wujud dari kaisar bisnis yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan dalam seminar-seminar ekonomi eksklusif. Setiap jengkal dana operasional dan pasokan proyek utama perusahaannya bergantung sepenuhnya pada persetujuan anak perusahaan Dirgantara Group.
"T-Tuan Muda Dirgantara..." bisik Bram dengan suara bergetar, tanpa sadar melangkah maju dan membungkukkan tubuhnya hingga hampir sembilan puluh derajat. "Sebuah kehormatan... sebuah kehormatan yang luar biasa besar Anda berkenan hadir di tempat ini..."
Mita yang berdiri di samping Bram terperanjat hebat. Ia menarik lengan suaminya dengan wajah panik dan bingung. "Mas Bram! Apa-apaan kamu ini?! Kenapa kamu membungkuk begitu pada pria yang datang bersama Alya?! Pria ini paling-paling hanya pria sewaan yang dibayar Alya untuk bergaya!"
*PLAK!*
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Mita. Suara tamparan itu bergema keras, membuat seluruh alumni memekik kaget. Bram menatap istrinya dengan mata melotot merah, napasnya memburu karena ketakutan yang teramat sangat.
"Tutup mulutmu, wanita bodoh!" bentak Bram dengan nada histeris yang ditahan. "Kamu tahu siapa yang sedang kamu hina?! Pria di depanmu ini adalah Tuan Muda Devan Dirgantara! Pemilik tunggal Dirgantara Group! Dan wanita di sampingnya adalah Nyonya Muda Alya Dirgantara!"
*DEEENG!*
Kata-kata Bram bagaikan petir di siang bolong yang menghantam kepala Mita, Maya, dan seluruh alumni SMA Garuda yang tadi sempat tertawa di grup percakapan.
Maya langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya berubah seputih kertas. Sementara Mita memegang pipinya yang panas, matanya membelalak menatap Alya dengan rasa tidak percaya yang bercampur aduk dengan kehancuran mental yang mutlak.
Alya? Alya yang dulu bajunya kusam? Alya yang selalu menundukkan kepala saat dihina karena miskin? Kini berdiri sebagai Nyonya Muda dari dinasti bisnis terbesar di negeri ini?!
> *[HAHAHA! Lihat itu, Ibu! Efek domino yang sangat memuaskan! Suami yang diagung-agungkan Mita itu justru yang memukulnya sendiri demi menyelamatkan lehernya!]*
> *[Tapi tidak semudah itu, Ferguso... Aku, kaisar kecil di dalam rahim ini, tidak akan membiarkan mereka lolos hanya dengan satu tamparan! Ibu, maju satu langkah dan tatap wanita sombong itu!]*
Alya menghela napas halus di dalam batinnya, mencoba menenangkan Baby El yang sedang bersenang-senang di atas penderitaan musuhnya. Namun, ia harus mengakui, keadilan yang datang malam ini memang terasa sangat melegakan.
Alya melangkah maju satu pukulan jarak, jemari cantiknya yang dihiasi cincin berlian platinum melingkar anggun di lengan Devan. Ia menatap Mita dengan pandangan yang sangat tenang—bukan pandangan dendam, melainkan pandangan seorang penguasa yang melihat debu di atas sepatunya.
"Mita," panggil Alya dengan suara yang lembut, merdu, namun sarat akan wibawa yang tak tergoyahkan. "Lama tidak bertemu. Dulu di sekolah, kamu sering bilang kalau orang sepertiku tidak akan pernah bisa melihat kemewahan dunia luar. Dan hari ini... kamu mengundangku untuk menunjukkan 'rezeki suamimu', bukan?"
Mita gemetar hebat. Lidahnya terasa kelu, tidak mampu mengeluarkan satu patah kata pun. Wajah cantiknya yang dipoles riasan tebal kini tampak sangat menyedihkan.
Devan melirik Bram dengan sepasang mata abu-abunya yang dingin bagaikan es kutub utara. "Bram Sentosa," ucap Devan, suaranya yang berat memotong keheningan dengan kejam. "Kamu adalah Direktur Utama dari Sentosa Land, betul?"
Bram menyapu keringat di dahinya secara kalap, membungkuk semakin dalam. "B-betul, Tuan Muda Devan! Betul sekali! Kami... kami adalah mitra kecil di bawah naungan Dirgantara Properti..."
Devan mengulas senyuman tipis yang sangat mematikan. Ia mengeluarkan telepon genggamnya, menekan tombol panggilan cepat ke Yudha yang berjaga di luar ballroom.
"Yudha," ucap Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari Bram. "Mulai detik ini, batalkan seluruh lisensi proyek Sentosa Land dengan Dirgantara Group. Tarik seluruh suntikan dana investasi sebesar lima ratus miliar rupiah, dan putuskan hubungan kerja sama permanen dengan seluruh anak perusahaan mereka."
"T-TUAN MUDA! JANGAN, TUAN MUDA! SAYA MOHON!" Bram seketika berlutut di atas lantai, menangis histeris seraya memegang ujung celana Devan. "Perusahaan saya akan bangkrut malam ini juga jika Anda menarik investasi itu! Saya mohon ampun, Tuan Muda! Ampuni saya!"
"Salahkan istrimu," jawab Devan dingin, menarik kakinya dari genggaman Bram tanpa setitik pun rasa kasihan. "Dia mengusik Nyonya Muda Dirgantara. Di dunia ini, tidak ada satu orang pun yang boleh menghina istriku dan selamat dari konsekuensinya."
Bram berbalik dengan mata yang dipenuhi kemarahan liar, menatap Mita yang sudah tersungkur lemas di lantai. "KAU! WANITA SIALAN! KARENA MULUT RACUNMU, SELURUH USAHAKU HANCUR! KITA CERAI!" teriak Bram histeris sebelum akhirnya pingsan karena tekanan darah naik mendadak.
Jeritan pisteris Mita pecah di tengah aula, namun tidak ada satu pun alumni yang berani mendekat atau menolongnya. Maya dan teman-teman sekelompoknya mundur teratur hingga menempel di dinding, sangat takut jika pandangan dingin Devan akan tertuju pada mereka selanjutnya.
> *[Hmph! Rasakan itu! Menghina Ibuku sama saja dengan menggali liang kubur untuk seluruh keluargamu!]*
> *[Ibu, energi spiritualku merasa sangat puas sekarang. Tapi... perutmu mulai terasa agak lapar kan? Aku ingin makan es krim vanila premium buatan koki Penthouse Lavender!]*
Alya tersenyum simpul, meremas pelan lengan Devan. Rasa beban masa lalu yang selama bertahun-tahun mengganjal di dadanya kini telah menguap sepenuhnya. Ia tidak perlu lagi merasa minder atau takut pada siapa pun.
"Devan," bisik Alya lembut pada suaminya. "Acaranya sudah selesai bagiku. Bisakah kita pulang sekarang? Bayi kita bilang dia lapar."
Mendengar kata "bayi kita", ketajaman di mata Devan seketika luruh sepenuhnya. Wajah dingin sang CEO mencair menjadi kelembutan yang sangat hangat. Ia merangkul pinggang Alya dengan protektif, menuntun istrinya berbalik arah membelakangi kekacauan di dalam ballroom.
"Tentu saja, *Wifey*. Apapun untukmu dan calon pewarisku," sahut Devan lembut.
Sambil melangkah keluar dari Grand Ballroom diiringi tatapan penuh hormat dan ketakutan dari puluhan alumni SMA Garuda, Devan membungkukkan kepalanya sedikit ke telinga Alya. "Tapi Alya... mengenai es krim itu, kamu hanya boleh makan satu porsi kecil. Dokter bilang tidak boleh terlalu banyak gula di trimester kedua."
Alya tertawa kecil—sebuah tawa lepas yang sangat bahagia—sembari mengelus perutnya yang membuncit manis.
> *[Yah... Ayah Dingin mulai kumat lagi mode cerewetnya. Tapi tidak apa-apa, yang penting malam ini Ratu Dirgantara telah menang mutlak!]*
---
Di dalam mobil Rolls-Royce yang melaju tenang membelah gemerlap lampu malam ibu kota, Alya menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Devan. Jemari mereka saling bertaut erat, memancarkan kehangatan yang tak terpisahkan.
Malam itu, Alya bukan lagi gadis lemah yang bisa ditindas oleh siapa pun. Dengan Devan di sisinya dan janin ajaib yang selalu menjaganya, ia siap menghadapi babak baru kehidupan sebagai Nyonya Muda Dirgantara yang sesungguhnya.