Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Suara makian Evander masih terus menggelegar, membelah ketegangan di lapangan terbuka yang kini diselimuti atmosfer kematian.
Cengkeraman empat petugas polisi pada tubuh kekarnya seolah tidak berarti apa-apa dibanding kekuatan raksasa yang didorong oleh kepanikan luar biasa.
Matanya merah, urat-urat di rahang dan lehernya menonjol mengerikan.
"Lepaskan aku, keparat! Kau bukan seorang ayah, hah?!" bentak Evander, suaranya parau, meludahkan kemarahan tepat ke wajah petugas yang menahannya.
"Kau sama sekali tidak mengerti bagaimana kondisi keponakanku di sana! Dia ketakutan! Kau... kau monster sialan yang terlambat! Jika terjadi sesuatu pada Genevieve, aku sendiri yang akan menyeretmu ke neraka!"
Di tengah badai makian yang begitu kasar, langkah kaki yang tegap namun sedikit pincang terdengar mendekat.
Zacheriyya Tengiz melangkah membelah barikade.
Di balik seragam pelindung EOD yang tebal dan berat, tubuhnya yang dipenuhi luka akibat kecelakaan motor tadi terasa remuk, namun fokusnya tidak goyah sedikit pun.
Telinganya menangkap setiap untaian kata makian yang keluar dari mulut Evander.
Cherry sama sekali tidak menggubris. Di dalam hatinya, ia hanya membatin penuh sinis; Kenapa mulut pria itu sekarang semakin lama semakin beracun? Kenapa dia menjadi sekasar ini dan sering sekali mengumpat? Ke mana perginya Evander yang dulu selalu berbicara lembut dan menenangkan?
Evander yang masih dikuasai amarah, melihat siluet petugas EOD bertubuh ringkas yang baru saja tiba di dekat perimeter, langsung mengarahkan sumpah serapahnya ke sana.
Mengira bahwa di balik pakaian pelindung mahabesar itu adalah seorang pria, Evander berteriak dengan suara parau yang sarat akan kutukan.
"Hei, petugas lamban! Kuharap istrimu tidak akan pernah memiliki anak, sialan! Agar di masa depan kau tidak perlu mengalami hal menyedihkan dan ketakutan seperti yang kurasakan saat ini! Kau tidak pantas menjadi seorang ayah!"
Langkah kaki petugas itu berhenti tepat tiga meter di depan Evander.
Suasana mendadak hening seketika. Dan di sinilah mereka, di bawah siraman cahaya lampu sorot yang dingin.
Petugas itu mengangkat kedua tangannya, memegang pinggiran helm pelindung EOD yang berat, lalu dengan satu sentakan pasti, ia membuka helmnya.
Tindakan gila itu membuat semua orang di lapangan, termasuk Cassander dan para polisi, menahan napas serentak.
Membuka helm di zona aktif peledak adalah pelanggaran protokol fatal, sebuah tindakan bunuh diri.
Namun, begitu helm itu terlepas, rambut kecokelatan yang acak-acakan dan basah oleh keringat terurai turun. Di dahinya, robekan luka akibat kecelakaan motor tadi masih mengalirkan darah segar yang kontras dengan kulit pucatnya.
Wajah cantik yang sarat akan luka dan kelelahan itu menatap lurus ke arah Evander. Zacheriyya Tengiz.
Plak!
Evander seketika mematung, matanya membelalak lebar hingga nyaris keluar dari rongganya.
Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika. Detik itu juga, dengan tangan yang bergetar hebat, Evander langsung menampar mulutnya sendiri dengan sangat keras hingga terdengar bunyi tamparan yang kentara di udara.
Pria itu limbung, lututnya mendadak lemas.
Demi Tuhan, Evander Vale-Knight baru saja mengutuk kekasihnya sendiri.
Pria itu baru saja menyumpahi wanita yang paling dicintainya, wanita yang rahimnya pernah ia impikan untuk melahirkan anak-anak mereka. Rasa bersalah yang teramat masif langsung menghantam dada Evander, membuatnya sesak napas bagai dicekik oleh ribuan tangan tak terlihat.
Namun, Cherry tidak memberi Evander waktu untuk bersuara. Ia memalingkan wajahnya dengan dingin, mengabaikan tatapan hancur pria itu, lalu berjalan cepat menuju ke tengah lapangan tempat Genevieve duduk gemetar di atas kursi besi.
Cherry berlutut di atas rumput yang dingin, tepat di hadapan bocah perempuan berusia sembilan tahun yang tubuh mungilnya dipasangi rangkaian bom C4 berkabel rumit.
Wajah Genevieve sudah sembab, air matanya terus mengalir tanpa suara karena ketakutan yang mencekam.
"Hey, sayang..." Cherry menyapa dengan nada suara yang berbanding terbalik dengan ketegasannya tadi.
Suaranya melembut, sehangat pelukan seorang ibu, menyembunyikan fakta bahwa dahinya sendiri sedang meneteskan darah. "Siapa namamu, anak manis?"
Bocah itu sesenggukan, matanya yang bulat menatap wajah Cherry yang terluka. "GENEVIEVE... tapi, aku lebih suka nama Geny, Aunty..." bisiknya dengan bibir bergetar.
"Nama yang sangat cantik, Geny," ucap Cherry sambil tangannya yang terbalut sarung tangan tipis mulai bergerak lincah membuka kotak sirkuit pada rompi bom.
Matanya fokus memindai jalur-jalur kabel yang rumit. "Kau punya kakak?"
"Punya. Aku punya saudara kembar," jawab Geny, mencoba mengikuti ritme obrolan Cherry meskipun tubuhnya masih gemetar.
Cherry tersenyum tipis, jemarinya memegang sebuah tang pemotong kecil, bersiap memutuskan kabel pertama. "Apa kakakmu wanita cantik yang sedang bersedekap dada di sebelah sana?" tanya Cherry dengan nada santai, menunjuk ke arah barikade di mana Gwyneth sedang menangis dipeluk supir, sementara Cassander berdiri dengan cemas.
Tek.
Kabel biru pertama terputus. Timer digital di dada Geny berkurang kecepatannya, namun belum berhenti.
"Ya," jawab Genevieve, perhatiannya mulai teralih dari rasa takut berkat pertanyaan Cherry. "Kakakku cukup berani... tidak seperti aku. Aku penakut, Aunty."
Cherry menggelengkan kepalanya dengan lembut, matanya kembali meneliti rangkaian kabel merkuri yang sensitif.
"Tidak, sayang. Kau salah," jawab Cherry dengan suara yang sarat akan ketulusan yang mendalam. "Kau jauh lebih berani darinya. Kau duduk di sini dengan sangat tenang. Kau... sama seperti anakku."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Cherry, membawa serta getaran kerinduan yang melankolis dari sudut hatinya yang paling gelap.
Geny berkedip polos, rasa penasarannya bangkit di tengah situasi ekstrem ini.
"Woahhh... Aunty punya anak? Di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak ikut bersama Aunty?" tanya anak itu dengan kepolosan khas anak-anak.
Dan di sinilah kepolosan yang paling menyakitkan itu terjadi.
Cherry menghentikan gerakan tangannya selama satu detik. Matanya berkaca-kaca, namun ia memaksakan sebuah senyuman kecil.
Dengan tangan kirinya yang bebas, Cherry perlahan menunjuk ke arah perutnya sendiri yang rata dibalik seragam EOD.
"Di sini... Anak Aunty ada di sini, di dalam hati dan ingatan Aunty," kata Cherry dengan suara yang nyaris berbisik, merujuk pada janin 12 minggu yang telah pergi dua tahun lalu akibat badai pengkhianatan.
Genevieve yang tidak mengerti makna mendalam di balik kalimat itu, mengangguk-angguk paham dengan wajah polosnya.
"Ah, di dalam perut... Di California, kami juga akan memiliki adik bayi baru, Aunty. Mommy sedang hamil juga, sama seperti Aunty..."
Tek.
Kabel hijau kedua terputus.
"Oh ya?" Cherry menyahut, tangannya kini beralih ke kabel merah yang terhubung dengan detonator utama.
Ia berusaha menjaga agar suasana tetap santai demi menjaga detak jantung Geny agar tidak memicu sensor tekanan.
"Semoga adik bayimu dan anak Aunty nanti tidak segila dan setantrum seperti paman yang berteriak-teriak di sana itu, ya!" lanjut Cherry sambil mengarahkan pandangannya secara sarkas ke arah Evander yang masih ditahan di tepi lapangan.
Obrolan itu sengaja dilakukan oleh Cherry dengan satu tujuan tunggal; agar Genevieve tidak mengalami trauma psikologis yang mendalam akibat teror ini.
Cherry membagi fokusnya dengan luar biasa—mulutnya mengajak anak itu bercerita, sementara mata dan otaknya bekerja keras mendeteksi setiap komponen baru pada bom rakitan tersebut.
...°°°°°°...
Di kejauhan, Evander berdiri membeku. Jarak mereka yang cukup jauh membuat pria itu sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka obrolkan.
Yang bisa ia lihat hanyalah Cherry yang sesekali tersenyum dan menunjuk-nunjuk, berjuang mempertaruhkan nyawa di depan keponakannya.
Namun, di tengah fokus Cherry yang sedang memilah kabel terakhir, Genevieve tiba-tiba melanjutkan ceritanya dengan riang.
"Tapi bukan hanya Mommy yang sedang hamil, Aunty... Paman Evan juga akan memiliki adik bayi yang sedang dikandung oleh Aunty Gabriella. Kata Nenek, sebentar lagi mereka akan menikah karena bayi itu."
Deg.
Dunia Zacheriyya Tengiz runtuh seketika untuk kedua kalinya dalam hari yang sama.
Tangan Cherry yang sedang memegang tang pemotong mendadak kaku di udara.
Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis. Kata-kata polos dari seorang anak berusia 9 tahun itu bagai belati beracun yang ditusukkan tepat ke jantungnya, lalu diputar dengan kejam.
Tes.
Sebutir air mata yang hangat dan besar menetes begitu saja dari pelupuk mata Cherry, jatuh membasahi sirkuit bom di bawahnya.
Dadanya berdenyut dengan rasa sakit yang begitu masif, begitu melankolis, hingga ia merasa jiwanya sedang dicabik-cabik menjadi serpihan tak berbentuk.
Adik bayi? Evander akan menikah? batin Cherry dengan jeritan yang tertahan di tenggorokan.
Hatinya hancur berkeping-keping. Jadi, Pria yang baru saja mengutuk rahimnya agar mandul, ternyata sedang menantikan kelahiran seorang anak dari wanita lain?
Rasa sakit itu memicu gelombang adrenalin yang liar di dalam tubuh Cherry.
Dengan mata yang diselimuti kabut air mata dan kemurkaan yang tertahan, ia melihat kabel merah terakhir—kabel penentu hidup dan mati. Tanpa keraguan lagi, didorong oleh keputusasaan yang mendalam, Cherry menjepit kabel itu dengan tangnya.
Tek!
Lampu digital merah pada timer seketika padam. Angka yang tersisa menunjukkan waktu 00:04 detik. Detak bom itu akhirnya berhenti.
Cherry dengan cepat berdiri dari posisi berlututnya. Dengan sisa-sisa tenaga dan air mata yang kini mengalir deras membasahi seluruh wajahnya, ia membuka kunci pengait rompi bom pada tubuh Genevieve dengan gerakan kasar, lalu mengangkat rompi seberat belasan kilogram itu dari tubuh sang bocah.
"SELESAI!!!" teriak Cherry dengan suara yang melengking keras, bergema di seluruh penjuru lapangan.
Suaranya sarat akan emosi yang pecah, sebuah teriakan yang menandakan kemenangan atas bom, namun kekalahan total atas hidupnya sendiri.
Para polisi dan Cassander langsung berlari cepat menerobos barikade untuk menyelamatkan Genevieve yang langsung menangis histeris.
Evander pun terlepas dari kekangan, berlari dengan kepanikan yang luar biasa ke arah mereka.
Namun, di tengah keriuhan orang-orang yang menyelamatkan anak itu, Zacheriyya berdiri mematung di tengah lapangan. Ia memeluk rompi bom yang sudah tidak aktif itu di dadanya, membiarkan air matanya bercampur dengan darah yang mengalir dari dahinya.
Jiwanya yang belum selesai. Jiwanya hancur total.
Ia menatap siluet Evander yang sedang berlari mendekat dengan pandangan yang buram oleh air mata.
Di dalam kehampaan hatinya yang paling dalam, Cherry menangis pilu, meneriakkan pertanyaan yang tidak akan pernah ia ucapkan secara lisan.
Kau akan memiliki bayi dengan wanita lain, Evander?! Kau akan menjadi seorang ayah?! Lalu... lalu bagaimana dengan aku?! Bagaimana dengan aku yang harus kehilangan bayiku hanya karena seluruh pengkhianatan dan kebiadaban yang kau lakukan padaku?! Di mana keadilan untuk anak kita yang telah tiada, Evander?!
Cherry memejamkan matanya erat-erat, membiarkan tubuhnya yang terluka berputar perlahan untuk meninggalkan lapangan itu, berjalan menjauh dari pria yang menjadi sumber dari seluruh nafas cinta sekaligus kehancuran abadi dalam hidupnya.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua