Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Wush.
Sinar matahari pagi perlahan menembus celah jendela kayu di kamar Lin Xiao.
Cahaya hangat itu menyinari sosok pemuda yang masih duduk bersila tanpa pergerakan sejak semalam.
Krak.
Suara tulang yang bergesekan terdengar pelan dari dalam tubuh Lin Xiao.
Dia perlahan membuka matanya yang kini memancarkan kilatan cahaya setajam pedang.
Lin Xiao menunduk dan melihat lapisan kotoran berwarna hitam berbau busuk menutupi seluruh kulitnya.
Itu adalah kotoran dari dalam sumsum dan nadinya yang berhasil dikeluarkan oleh Teknik Penguasa Darah.
'Tubuhku terasa sangat ringan namun penuh tenaga.' batin Lin Xiao sambil mengepalkan tangannya.
'Kekuatan di tahap awal Pembentukan Dasar ini jauh lebih besar dari yang aku bayangkan.'
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar terburu-buru dari luar kamar.
"Tuan Muda, apakah Anda sudah bangun?" panggil Paman Zhou dengan nada panik.
"Ada apa, Paman?" jawab Lin Xiao sambil bangkit berdiri.
"Utusan dari balai utama klan baru saja datang kemari." ucap Paman Zhou dari balik pintu.
"Kepala Tetua memerintahkan Tuan Muda untuk segera datang ke balai utama sekarang juga."
Lin Xiao tersenyum dingin mendengar laporan tersebut.
Keluarga Su ternyata sangat tidak sabar untuk segera menginjak-injak harga dirinya.
"Aku akan mandi dan membersihkan diri sebentar." balas Lin Xiao dengan tenang.
"Tolong siapkan air untukku, Paman."
Setengah jam kemudian, Lin Xiao melangkah keluar dari kamarnya dengan pakaian bersih yang sangat sederhana.
Meski pakaiannya pudar, aura dan cara berjalannya kini sangat berbeda dari Lin Xiao yang dulu.
Langkahnya mantap, punggungnya tegak lurus, dan pandangan matanya lurus ke depan tanpa keraguan.
Paman Zhou yang melihatnya dari belakang merasa sedang melihat bayangan Tuan Lin Tianhai di masa kejayaan.
Mereka berdua berjalan menuju balai utama klan yang terletak di bagian tengah kediaman.
Semakin dekat mereka ke sana, semakin banyak anggota klan yang berkumpul untuk menonton tontonan gratis.
Balai utama Klan Lin dipenuhi oleh para tetua yang duduk di kursi kayu berukir.
Di kursi paling tengah, duduk Kepala Tetua Lin Zhen yang merupakan kakek dari Lin Jian.
Di sisi kanan ruangan, duduk barisan tamu dari Keluarga Su yang mengenakan pakaian sutra mewah.
Di antara mereka, duduk seorang gadis cantik dengan wajah dingin dan anggun bak peri dari khayangan.
Gadis itu adalah Su Yuxin, jenius dari Keluarga Su sekaligus tunangan Lin Xiao.
Tap.
Langkah kaki Lin Xiao terdengar jelas saat dia memasuki ambang pintu balai utama.
Seketika itu juga, ratusan pasang mata di dalam dan luar ruangan langsung menatap ke arahnya.
Tatapan merendahkan, ejekan, dan cibiran langsung menghujani Lin Xiao dari segala arah.
Namun pemuda itu terus berjalan masuk tanpa sedikit pun menundukkan kepalanya.
"Lin Xiao memberi salam kepada Kepala Tetua dan para tetua." ucap Lin Xiao dengan nada datar.
Dia menangkupkan kedua tangannya tanpa membungkuk sedikit pun.
Brak.
Seorang tetua langsung memukul meja di sebelahnya dengan keras.
"Lin Xiao, kau sungguh tidak tahu aturan, beraninya kau tidak bersujud saat menghadap!"
"Pantas saja kau menjadi sampah klan, sikapmu saja sangat tidak beradab!" sahut tetua lainnya dengan nada menghina.
Lin Xiao menatap kedua tetua itu dengan pandangan sedingin es.
"Aturan klan menyebutkan hanya anggota keluarga yang bersalah yang harus bersujud."
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, untuk apa aku bersujud?" tanya Lin Xiao dengan suara lantang yang bergema di balai utama.
Ruangan itu seketika menjadi hening karena terkejut.
Tidak ada yang menyangka Lin Xiao yang biasanya penakut berani membantah ucapan tetua di depan umum.
Lin Jian yang berdiri di belakang kakeknya langsung menunjuk ke arah Lin Xiao dengan marah.
"Dasar sampah kurang ajar, kau berani membantah tetua di balai utama?"
"Cukup." ucap Kepala Tetua Lin Zhen dengan suara berat dan berwibawa.
Pria tua itu menatap Lin Xiao dengan tatapan tajam seolah ingin menembus isi kepalanya.
"Kita berkumpul di sini bukan untuk membahas tata krama anak ini." lanjut Lin Zhen sambil beralih menatap tamu dari Keluarga Su.
"Tuan Su Lin, silakan sampaikan maksud kedatangan keluarga Anda hari ini."
Pria paruh baya dari Keluarga Su, Su Lin, berdiri dari kursinya sambil tersenyum bangga.
Dia adalah ayah dari Su Yuxin dan juga pemimpin Keluarga Su saat ini.
"Terima kasih, Kepala Tetua Lin." ucap Su Lin dengan nada merendah yang dibuat-buat.
"Kedatangan kami ke sini hari ini adalah untuk membahas masalah masa depan putriku, Yuxin."
Su Lin kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Lin Xiao dengan tatapan jijik yang tidak disembunyikan.
"Seperti yang kita semua tahu, dunia kultivasi adalah dunia di mana kekuatan menentukan segalanya."
"Putriku Yuxin baru saja membangkitkan roh beladiri pedang es tingkat tinggi." ucap Su Lin dengan suara keras agar semua orang mendengarnya.
"Dia bahkan sudah diterima sebagai murid inti di Akademi Bintang Jatuh."
Terdengar suara decak kagum dari para anggota Klan Lin yang menonton di luar.
Akademi Bintang Jatuh adalah salah satu kekuatan besar yang menguasai wilayah ini.
"Sedangkan keponakan Lin Xiao..." Su Lin sengaja menggantung kalimatnya sambil tersenyum mengejek.
"Semua orang di Kota Jade River tahu tentang kondisinya."
"Kami tidak bermaksud menyinggung, tapi jarak antara Yuxin dan Lin Xiao sekarang seperti langit dan bumi." lanjut Su Lin.
"Seekor naga tidak mungkin hidup bersama dengan seekor katak di dalam sumur."
Tawa tertahan mulai terdengar dari sudut-sudut balai utama.
Lin Jian bahkan tertawa paling keras tanpa repot-repot menutupinya.
"Karena itu, demi kebaikan bersama, kami Keluarga Su bermaksud mengembalikan surat pertunangan ini." ucap Su Lin sambil mengeluarkan gulungan perkamen merah.
"Mulai hari ini, pertunangan antara Su Yuxin dan Lin Xiao resmi dibatalkan."
Ruangan kembali hening menunggu reaksi dari Lin Xiao.
Semua orang berpikir Lin Xiao akan menangis memohon, atau lari karena malu.
Namun, Lin Xiao hanya berdiri diam di tengah ruangan dengan ekspresi yang sangat tenang.
Dia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah gulungan merah yang dipegang oleh Su Lin.
"Tuan Su Lin berbicara terlalu berbelit-belit." suara dingin Lin Xiao tiba-tiba memecah keheningan.
"Jika Anda ingin membatalkan pertunangan karena merasa saya ini sampah, katakan saja secara langsung."
Su Lin mengerutkan keningnya karena tidak menyangka Lin Xiao akan membalas ucapannya setajam itu.
"Setidaknya kau sadar diri dengan posisimu yang sekarang." balas Su Lin dengan nada sinis.
Srak.
Su Yuxin yang sejak tadi duduk diam akhirnya berdiri dari kursinya.
Dia melangkah perlahan mendekati Lin Xiao dengan dagu terangkat tinggi.
"Lin Xiao, kau tidak perlu marah atau merasa terhina." ucap Su Yuxin dengan nada datar yang sangat merendahkan.
"Ini adalah kenyataan pahit yang harus kau terima."
"Duniaku dan duniamu sudah berbeda." lanjut gadis itu sambil menatap mata Lin Xiao.
"Aku akan pergi ke akademi besar, bertarung dengan para jenius dari seluruh penjuru, dan mencapai puncak kultivasi."
Su Yuxin melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap arogan.
"Sedangkan kau hanya akan menghabiskan sisa hidupmu sebagai orang biasa di sudut kota ini."
"Aku butuh seorang pendamping yang bisa melindungiku dan menemaniku mendaki puncak." ucap Su Yuxin tanpa sedikit pun rasa kasihan.
"Dan kau jelas bukanlah orang itu."